
Dayu menatap takjub, ketika mobil berhenti di salah satu rumah. Rumahnya sangat besar, dengan halaman luas mengelilingi seluruh rumah.Model rumah itu seperti rumah zaman Belanda. Dayu pernah lihat model rumah almarhum Ayahnya di kota, bangunan itu dijadikan kantor salah satu dinas pemerintahan.
"Ini rumah almarhum Ayah kamu. Rumah ini sekarang udah menjadi milikmu." Bahar berkata, kemudian keluar dari mobil diikuti oleh Dayu.
"Iya, Pak. Besar sekali rumahnya, ya?" Dayu berkata kagum.
Bahar hanya mengangguk, kemudian melangkah menuju rumah. Dayu berjalan di belakang Bahar, tatapannya tidak lepas melihat seluruh pekarangan luas, yang dihiasi rumput taman, pohon rindang dan bermacam jenis bunga.
Dengan perasaan yang gembira, Dayu melangkah memasuki teras rumah. Matanya menatap setiap sudut teras.
Besar sekali....aku selalu mimpi punya rumah besar. Tapi, rumah ini lebih besar dari impianku.
Batin Dayu berkata takjub. Ia sungguh tidak menyangka, almarhum ayahnya memiliki rumah sebesar ini. Dan, kini rumah ini menjadi miliknya. Senyum terukir di bibir Dayu, kakinya pun melangkah menuju pintu depan. Tetapi, tubuhnya seketika meremang merasakan aura mistis.
Bahar membuka pintu dan masuk ke dalam. Ketika Dayu akan melangkah masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti. Aura mistis semakin dirasakannya. Tiba-tiba, angin dingin menghantam tubuh Dayu, hingga ia sedikit terdorong ke belakang.
"Ahhhh!" hantaman itu membuat Dayu berteriak kaget.
Bahar yang akan duduk kaget. Melihat Dayu yang sempoyongan, ia langsung berjalan cepat mendekati Dayu
"Kenapa?" Bahar bertanya.
"Nggak, Pak. Nggak ada apa-apa. Tadi ada angin kencang, saya terkejut." Dayu menggeleng berkali-kali.
__ADS_1
Bahar menatap ke sekitar, mata batinnya menangkap satu bayangan hitam berdiri di sudut teras. Perlahan, bayangan itu berubah wujud menjadi, satu makhluk bertubuh hitam dan besar. Mulut makhluk itu yang bertaring panjang, serta runcing menyeringai padanya. Dayu mengikuti arah pandang Bahar, tubuhnya gemetaran saat melihat kehadiran makhluk yang mengerikan itu. Reflek, tubuhnya bersembunyi di belakang Bahar, menghindari melihat makhluk itu lebih lama. Bahar menatap tajam makhluk menyeramkan itu.
"Pergilah dari sini, sebelum aku menghajarmu." suara Bahar pelan, namun tajam.
Makhluk itu kembali menyeringai, kedua matanya yang merah menyala menunjukkan kemarahan.
"Aku tidak akan pergi! Ini rumahku!" mulut makhluk itu tidak bergerak, namun suara yang terdengar menggelegar kuat.
"Bukan! Ini bukan rumahmu! Kau nggak punya hak tinggal di sini. Pergilah!" Bahar memasang kuda-kuda. Kedua tangan Bahar terkepal dipinggang. Lalu, tangan kanannya mengarah ke depan, dengan telapak tangan terbuka. Dan, selarik sinar kuning keluar, lalu meluncur akan menghantam tubuh makhluk itu. Namun, makhluk itu berhasil menghindar. Lalu, makhluk itu menyerang Bahar, dengan mencakar berulang-ulang. Bahar menangis, lalu menghindar. Kemudian, menendang tubuh makhluk itu yang membelakanginya. Makhluk itu terdorong ke depan, lalu membalik tubuh bersiap, dengan kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing. Makhluk itu berlari ke arah Bahar, lalu mengarahkan kedua tangannya pada Bahar. Bahar bersiap, kedua tangannya bersidekap di dada. Ketika, Makhluk itu tepat berada di depannya, kedua tangan Bahar terbuka. Telapak tangan Bahar mengeluarkan sinar kuning dan, menghantam badan makhluk itu.
Aaaarrrrrggggghhhhh!
Tubuh makhluk itu terlempar menabrak dinding, kemudian jatuh tersungkur. Tubuh makhluk itu menggelepar berkali-kali, sebelum akhirnya lenyap meninggalkan asap hitam. Bahar menghela napas lega, lalu menatap Dayu yang masih memejamkan mata, dengan tubuh gemetaran.
Perlahan, Dayu membuka mata dan melihat di mana makhluk tadi berada. Perasaannya menjadi lega, makhluk itu telah pergi.
Alhamdulillah...takut kali aku tadi. Untung ada Bapak itu.
Batin Dayu mengucap syukur. Ia pun memutar tubuh dan berjalan masuk. Bahar duduk santai di ruang tamu, sambil menikmati rokok daun.
"Kamu lihat-lihat saja seluruh rumah ini." ujar Bahar.
"Iya, Pak." Dayu mengangguk.
__ADS_1
Dayu berjalan memasuki ruang keluarga. Banyak bingkai foto tersusun rapi di dinding, sebagian bingkai foto berjejer di atas meja. Dayu menatap satu demi satu, foto dirinya bersama ibu dan almarhum ayahnya. Ada juga foto keluarganya, bersama beberapa orang yang tidak dikenalnya. Mungkin itu sudara dari ibu atau almarhum ayahnya. Kata ibunya, mereka tidak memiliki saudara di daerah ini. Semua saudara berada di luar pulau. Mungkin, foto-foto yang ada diambil, ketika kedua orang tuanya pulang ke kampung halaman masing-masing. Baru saja Dayu meletakkan satu bingkai foto yang tersusun di atas meja. Dayu mencium aroma bunga kantil. Buku kuduknya seketika berdiri, udara terasa dingin, hingga membuat tubuhnya menggigil.
"Hhhh, dingin kali..." Dayu menggumam. Lalu memeluk tubuhnya, dengan kedua tangan. Ia menyukai rumah ini, tapi perasaannya tidak nyaman setelah berada di dalam.
"Kalau suasana dan keadaannya kayak gini. Bagaimana, aku bisa tinggal di sini? Ibu sama Mita pasti ...." Dayu menghentikan ucapannya saat menyebut nama Mita, "Mita...ah, iya, aku lupa tanya tentang Mita sama Bapak itu. Kata dia, Mita udah ada di sini. Tapi, aku kok nggak liat Mita dari tadi? Harusnya, dia tau kalau aku udah datang." Dayu menatap ke seluruh ruangan, "Mungkin, Mita nggak tau kalau aku udah datang. Aku cari sajalah dia."
Kemudian, Dayu memasuki salah satu kamar. Memperhatikan setiap sudut kamar, kemudian keluar dan beralih pada kamar kedua, lalu kamar ketiga. Tetapi, Mita tidak ada di dalam ketiga kamar tersebut
Dayu berjalan menuju ruang makan. Ruangan itu diisi meja makan yang panjang. Kursi-kursi dengan bantalan empuk, tersusun rapi menghiasi meja makan. Dayu mencoba duduk di salah satu kursi, merasakan kenyamanannya.
"Empuk kali kursinya." Dayu bergumam, lalu ia teringat harus mencari Mita, " Eh, aku harus cari Mita dulu." Baru saja punggungnya menyentuh kursi, Dayu bangkit lagi.
Dayu telah menelusuri seluruh ruangan. Mulai dari lantai satu, hingga lantai dua. Namun, Mita tidak ada.
"Kenapa Mita nggak ada? Apa mungkin, Bapak itu bohong?" Dayu berpikir, " Jangan-jangan, Mita masih di dusun Bunian." Memikirkan hal itu, Dayu langsung turun dari lantai dua, kemudian berjalan melintasi setiap ruangan di lantai satu.
Matanya menatap kursi di mana Bahar duduk. Tetapi, lelaki itu tidak ada.
"Pak...!" Dayu memanggil, seraya mencari Bahar, "Pak...! Bapak di mana?" Dayu keluar rumah dan mencari di seluruh halaman depan. Namun, Bahar tidak terlihat dan, ia menyadari mobil lelaki itu pun tidak ada lagi.
"Pak...Bapak di mana?" Dayu terduduk beralaskan rumput. Kalau lelaki itu pergi, berarti ia sendirian di rumah ini.
"Aku nggak berani masuk ke dalam." Dayu bergumam menatap rumah besar itu. Aura mistis menyelimuti rumah, hingga Dayu merasa bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1