Darah Warisan

Darah Warisan
Bab 9 Jangan Datang Lagi


__ADS_3

"Malik!" ayah Malik memanggil. Tetapi, lelaki itu tidak perduli dan terus melangkah keluar rumah.


Ibu Malik sedang membersihkan halaman kaget. Ia melihat anak lelaki satu-satunya itu melangkah menuju mobil. Ibu Malik berpaling dan menatap suaminya yang memberi isyarat, agar dia menghentikan Malik. Ibu Malik meletakkan sapu, lalu berjalan cepat mendekati putranya


"Jangan datang lagi ke sana, Nak." Ibu Malik berkata.


Malik yang sudah berada di samping mobil menatap ibunya.


"Kenapa, Bu? Izinkan Malik ke sana. Malik mau pamit, Bu."


"Kamu nggak perlu pamit. Percuma kamu datang ke sana, dia nggak akan tau kedatangan kamu, Nak. Lagipula, Mak Nairah pasti nggak akan izinkan kamu bertemu dia." ibu Malik berkata lembut


"Dia pasti tau Malik datang, Bu. Kalau bertemu dia, Malik bisa merasakan dia melihat Malik." Malik mengatakan hal yang sebenarnya. Perasaannya bisa merasakan, ketika mengunjungi Kemuning, gadis itu seakan melihat dan tersenyum padanya. Hatinya merasa senang sekali, menatap wajah cantik, serta senyum gadis yang sangat dicintainya.


"Hhhhh, ibu sedih melihat kamu seperti ini. Kamu harus sadar, Nak. Kamu nggak akan pernah lagi bisa bersama Kemuning." ucapan ibu Malik lirih.


"Iya, Bu. Malik sudah menyadarinya, tetapi Malik harus bertemu dengannya hari ini. Malik mau pamit, Malik tidak akan pernah bertemu lagi dengannya."


Ibu Malik terdiam sesaat.


"Kalau kamu bersikeras juga. Pergilah, tapi kamu harus segera pulang. Jangan lama-lama di sana. Ibu takut, Mak Nairah akan melakukan sesuatu yang buruk padamu." akhirnya, Ibu Malik mengizinkan. Meski, ia memiliki perasaan takut atas kepergian Malik.


"Iya, Bu. Malik pergi dulu, ya?"


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan."


Malik mengangguk, lalu naik ke mobil


Ibu Malik menatap kepergian anaknya, dengan hati cemas.


"Jangan kau sakiti anakku, Nairah. Kalau kau menyakitinya, aku nggak akan membiarkanmu." Ibu Malik berkata tajam. Ibu Malik tidak main-main, dengan ucapannya. Ia tahu, gimana sifat Mak Nairah, wanita yang pernah jadi teman bermainnya itu, akan melakukan apa saja demi mewujudkan keinginan.


Ibu Malik berjalan menuju rumah. Suaminya sedang duduk di teras, ia pun mendekati lelaki itu dan duduk di hadapannya


"Kenapa kau biarkan dia ke sana."

__ADS_1


"Biarlah, Bang. Ini terakhir kali dia ke sana. Biar dia pamit sama Kemuning."


"Kamu ini ada-ada saja. Bagaimana bisa dia pamit sama anak gadis si Nairah itu? Kamu sama anakmu sama saja!" ayah Malik berkata keras, lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah.


Ibu Malik hanya menghela napas, seraya bergumam.


"Abang, jangan kuatir, aku akan lakukan apa saja demi melindungi anak kita."


Malik mengendarai mobil melewati jalanan berlubang. Kondisi jalan di dusun tempat tinggalnya memang memprihatinkan. Namun, kondisi jalan tidak pernah mematahkan keinginannya untuk bertemu Kemuning. Sama seperti, waktu mereka berpacaran Jalan ini menjadi saksi, setiap satu Minggu dua kali mengunjungi Kemuning. Tapi, kali ini adalah kali terakhir bertemu, dengan gadis kekasih hatinya itu.


Setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Mobil berhenti di rumah paling megah di dusun itu. Rumah dukun paling disegani, Mak Nairah.


Mak Nairah sedang duduk menikmati minuman di teras rumah. Melihat kedatangan Malik, wajah wanita itu terlihat tidak suka.


Mau apa dia datang lagi? batin Mak Nairah.


Lalu, wanita itu berdiri, ketika Malik turun dari mobil dan melangkah mendekatinya.


Malik tersenyum, mendapat sambutan wajah dingin Mak Nairah.


"Selamat sore, Mamakku yang cantik." Malik tersenyum manis, lalu mengambil tangan Mak Nairah untuk menciumnya. Namun, Mak Nairah menepis tangan Malik.


"Untuk bertemu sama tunangan saya, Mak. Sudah hampir sebulan saya tidak bertemu kekasih saya." Malik tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih Lelaki tampan itu tidak perduli, dengan nada bicara Mak Nairah.


"Aku udah pernah bilang, kau jangan pernah datang ke mari lagi. Kau udah nggak diterima lagi di sini." nada bicara Mak Nairah tidak berubah.


"Tidak bisa, Mak. Saya harus ke mari, saya harus bertemu tunangan saya. Saya rindu sama dia, Mak." Malik memasang wajah sedih .


"Nggak, kau nggak boleh bertemu anakku lagi."


"Tolonglah, Mak. Saya merindukan dia, saya rindu Kemuning kekasih hati saya." suara Malik memelas


Mak Nairah terdiam, membuang wajah dan menatap lurus ke depan, dengan kedua tangan bersidekap di dada.


"Kemuning bukan lagi tunanganmu. Hubunganmu dengan dia udah putus." Mak Nairah berkata, tanpa menatap Malik.

__ADS_1


"Tidak, saya tidak akan pernah memutuskan hubungan dengan Kemuning," Malik berlutut di depan Mak Nairah," Jangan siksa saya dengan memutuskan hubungan kami, Mak. Apa salah saya sampai Mamak melakukan ini pada kami?" Malik memohon, dengan wajah sedih.


"Salah kau, kau menjadikan Kemuning sebagai calon isterimu. Kalau saja kau menjauhi Kemuning, anakku pasti masih ada di dunia ini." Mak Nairah terlihat marah.


Mendengar ucapan Mak Nairah, Malik menunduk.


"Iya, Mak. Saya tau, saya salah. Karena, sayalah Kemuning meninggalkan dunia ini." Malik menyalahkan diri, "Kalau saja, saya tidak membawanya pergi malam itu, dia pasti masih ada di samping saya saat ini. Dan, kami pasti sudah menjadi suami isteri dan hidup bahagia." air mata perlahan menetes di kedua pipi Malik.


Mak Nairah menatap Malik, dengan penuh kebencian.


"Karena kau, aku harus melakukan hal, yang bisa membuatku berada di neraka saat kiamat nanti!" Mak Nairah berteriak.


Malik mendongak dan memandang wajah kaku Mak Nairah.


"Maafkan, saya. Semua memang salah saya. Tapi, Mamak tidak seharusnya menyiksa Kemuning." Malik berkata lirih.


Mendengar ucapan Malik, mata Mak Nairah melotot.


"Menyiksa katamu? Aku nggak mungkin menyiksa anakku. Aku sangat menyayangi Kemuning." suara Mak Nairah pelan, tapi tajam dan dingin.


Malik menghela napas, lalu bangkit dan berdiri berhadapan dengan Mak Nairah.


"Mamak tau kalau perbuatan Mamak bisa membuat Mamak masuk neraka. Tapi, kenapa Mamak lakukan juga? Mamak bilang, karena menyayangi Kemuning. Tapi, Mamak tidak sadar kalau itu menyakiti Kemuning?"


"Diam! Kau nggak usah menasehati aku. Aku tau apa yang aku lakukan. Lebih baik kau pulang!" Mak Nairah membentak Malik.


"Baiklah, Mak. Saya akan pulang, tapi izinkan saya melihat Kemuning sekali ini saja. Ini yang terakhir kalinya. Karena, saya akan pergi dari dusun ini." Malik kembali memohon.


Mak Nairah tidak berkata lagi, wajahnya tetap dingin.


Melihat Mak Nairah diam membisu. Malik merasa wanita itu mengizinkan dirinya, untuk bertemu Kemuning. Malik pun langsung masuk ke dalam rumah. Kakinya melangkah ringan menuju kamar Kemuning. Setelah membuka pintu, matanya menatap satu sosok gadis cantik terbaring di tempat tidur


Sambil mengurai senyum, Malik mendekati pembaringan.


"Sayang, tunanganmu datang......." Malik berkata, dengan wajah gembira.

__ADS_1


Malik duduk di samping tempat tidur, lalu membelai wajah pucat Kemuning.


"Aku rindu sekali padamu, Ning? Kamu pasti rindu juga. Iya, kan? Tapi......." ucapan Malik terhenti, wajahnya menjadi sedih, "


__ADS_2