
Malam mulai larut. Mak Nairah menanti kepulangan Kemuning dan Malik. Wajahnya terlihat gelisah, langkah kakinya mondar-mandir di teras.
Sudah jam sepuluh, kenapa belum pulang?
Batin Mak Nairah berkata resah. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Dari jauh, Mak Nairah melihat satu mobil.
"Ah, syukurlah mereka sudah pulang." Mak Nairah bergumam lega.
Mak Nairah duduk tenang menanti mobil yang mulai mendekat. Ia tidak memperhatikan, mobil itu berlari dengan kencang. Lalu, hampir saja menabrak pagar halaman. Melihat itu, Mak Nairah langsung bangkit dan melangkah cepat menuju halaman. Mobil itu bukan milik Malik, tetapi mobil pick up miliknya. Bahar turun dari mobil dan berlari mendekati Mak Nairah.
"Maaaaak.....Kemuning...." Bahar terengah-engah menyampaikan kabar.
"Kenapa? Kenapa sama Kemuning?" Mak Nairah mengguncang tubuh Bahar.
"Kemuning dan Malik kecelakaan....." Bahar berkata, dengan terengah-engah.
Deg!
Jantung Mak Nairah berdetak kuat, ia langsung memegang dada. Menahan sakit di jantungnya.
"Di mana mereka?"
"Rumah sakit di kota, Mak."
"Bawa aku ke sana." Mak Nairah langsung naik mobil diikuti oleh Bahar.
Mobil itu melaju kencang menembus jalanan yang berlubang.
"Cepaaaaaat!" suara Mak Nairah bergetar.
Bahar menambah kelajuan, hingga tubuh mereka berdua terguncang-guncang.
Selama satu jam perjalanan, hati Mak Nairah tidak menentu. Perasaan cemas, ketika melepas kepergian Kemuning bersama Malik menjadi kenyataan. Sebelum mobil Malik hilang dari pandangannya, ia melihat bayangan hitam di atas mobil Malik. Bayangan berupa makhluk besar duduk di atas kap mobil.
Bahar dan Mak Nairah tidak bicara sepatah kata pun. Ketika hampir tiba di rumah sakit, Mak Nairah memecah keheningan.
"Di kamar mana Kemuning sama Malik?"
"Saya kurang tau, Mak. Saya tadi dikabari sama kepala desa." Bahar berkata pelan.
Tiba di rumah sakit, Mak Nairah berlari secepat kilat menuju ruang informasi.
"Di mana Anak saya?" Mak Nairah berkata kuat. Tiga perawat jaga terlihat kaget, salah seorang perawat bertanya.
__ADS_1
"Siapa nama anak Ibu?"
"Kemuning, nama anak saya Kemuning." Mak Nairah berkata tidak sabaran.
"Sebentar ya, Bu." Perawat itu memeriksa buku, "Anak Ibu sedang dioperasi."
Tubuh Mak Nairah menjadi lemah, hampir saja ia jatuh kalau tidak dipegang Bahar. Tiga perawat menatap Mak Nairah, dengan wajah iba.
"Di mana dioperasi?" tanya Bahar.
"Mari ikut saya." seorang perawat yang lain berkata.
Sambil memapah tubuh lemah Mak Nairah, Bahar mengikuti perawat masuk ke dalam bangunan rumah sakit. Mereka tiba di depan kamar operasi.
"Ibu dan Bapak nggak bisa masuk. Silahkan duduk dulu, dokter nanti akan menemui Bapak dan Ibu." Perawat itu tersenyum.
"Terima kasih, Bu." Bahar mengucap terima kasih, lalu membawa Mak Nairah menuju bangku panjang.
Mereka duduk di sana, menanti kabar dengan dada berdebar. Hampir dua jam kemudian, seorang dokter keluar bersama dua perawat. Melihat kehadiran dokter, Mak Nairah langsung bangkit dan menemui dokter.
"Bagaimana anak saya, Dok?" Mak Nairah bertanya
Wajah dokter terlihat lesu dan muram.
Kalimat dokter membuat Mak Nairah tercenung, perlahan air matanya turun membasahi pipi. Tubunya jatuh terduduk di lantai. Bahar berlutut di samping majikannya.
"Kemuning, Anakku....." Mak Nairah berkata pelan. Hanya Bahar yang bisa mendengar.
#####
Mobil pick up itu berjalan diantara derasnya hujan. Bahar mengemudikan mobil, dengan hati-hati, sementara Mak Nairah duduk di sampingnya, seraya memeluk Kemuning.
"Kita pulang, ya? Sampai rumah, kamu harus mandi biar segar. Nanti, biar Mamak yang mandikan kamu." Mak Nairah membetulkan selimut yang membalut tubuh Kemuning.
Bahar hanya diam mendengar ucapan Mak Nairah. Ia tahu, majikannya itu pasti merasa sangat sedih. Kemuning adalah anak satu-satunya dan kini telah tiada. Mak Nairah ingin menyalahkan Malik, tetapi pemuda itu masih terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Bahar teringat, ketika orang tua Malik datang ke rumah sakit, mereka bertemu Mak Nairah yang diam seribu kata.
"Saya turut berduka cita, Mak." ayah Malik berucap, seraya mengulurkan tangan.
Mak Nairah menatap tangan itu, lalu berlalu masuk ke dalam ruangan di mana mayat Kemuning berada.
"Kalau ada yang tanya Kemuning, kamu bilang dia cuma sakit. Saya akan mengobatinya di rumah. Rumah sakit ini nggak akan bisa menyembuhkan Anakku." Mak Nairah berkata pada Bahar yang melangkah di sampingnya.
Meski bingung dengan ucapan Mak Nairah, Bahar menjawab patuh.
__ADS_1
"Iya, Mak."
Guncangan keras mobil menyadarkan Bahar, pikirannya yang sempat melayang kembali lagi. Matanya pun fokus menatap jalan yang mulai diselimuti malam.
Sesampainya di rumah Mak Nairah, mereka disambut kepala desa dan lima orang lelaki yang menjadi perangkat desa. Bahar turun dari mobil, lalu mengambil Kemuning dari pelukan Mak Nairah. Tubuh Kemuning diangkat Bahar,. melihat itu kepala desa meminta bawahannya untuk membantu.
"Kalian tolong Pak Bahar." Kepala desa menatap kelima bawahannya. Namun, Mak Nairah berujar kuat
"Jangan! Nggak usah, biar Bahar saja yang bawa Kemuning." Mak Nairah menatap dingin pada kepala desa dan bawahannya, "Bahar, bawa Kemuning masuk!"
Bahar mengikuti perintah Mak Nairah dan melangkah menuju rumah.
Mendengar kata-kata Mak Nairah, kelima bawahan kepala desa berhenti bergerak, lalu menatap kepala desa. Kepala desa menghela napas.
"Saya bersama warga mengucapkan turut berduka cita."
"Untuk siapa kalian berduka cita? Ucapan kalian itu nggak cocok. Anakku cuma sakit, aku sendiri yang akan mengobatinya, sampai sembuh."
Kepala desa terlihat kaget.
"Tapi, saya dengar Kemuning sudah..."
"Kalian pulang saja, bilang sama warga yang lain. Kemuning cuma sakit biasa, nggak usah datang menjenguk." Mak Nairah melangkah meninggalkan kepala desa dan bawahannya yang saling menatap
"Gimana ini, Pak?" tanya lelaki berbaju hijau.
"Kita pulang saja." Kepala desa berucap.
"Apa yang akan dilakukan Mak Nairah sama Anaknya?" lelaki bertopi bertanya.
"Saya tidak tau. Semoga saja, Mak Nairah tidak melakukan hal yang bertentangan, dengan agama."
"Kalau Mak Nairah melakukannya, apa yang harus kita lakukan, Pak?" lelaki berbaju kuning terlihat bingung.
"Kita lihat saja nanti. Kita tidak tau, apa yang akan terjadi." balas kepala desa.
"Saya takut, Pak. Kalau Mak Nairah melakukan hal yang nggak baik. Seluruh warga pasti akan mendapat akibatnya." lelaki berbaju kemeja berkata cemas.
"Sudahlah, kalian semua tidak usah mencemaskan hal yang belum terjadi. Kita berdoa, semoga tidak ada kejadian yang akan membuat warga kita mendapat musibah."
"Iya, Pak. Tapi, kita harus berjaga-jaga, sebelum hal buruk terjadi. Bapak ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu? Jangan sampai, kejadian itu terulang kembali." lelaki bertopi mengingatkan.
"Kita berdoa, semoga itu tidak terjadi lagi. Sekarang, sebaiknya kita pulang ke rumah masing-masing." kepala desa mengajak bawahannya pergi dari rumah Mak Nairah.
__ADS_1
Rombongan kepala desa keluar dari halaman rumah, diiringi tatapan dingin Mak Nairah yang melihat dari depan pintu.