
Dengan lambaian tangan benda benda itu menghilang, membuat Silvana diam terkejut sedengkan Ardhius yang mengetahui jika Silvana melihatnya hanya diam dan pergi dari ruangan. Silvana mengikutinya setelah menarik napas panjang, setiap orang memiliki rahasianya dan jika memang dia akan memberitahu dia pasti sudah pasti akan memberi tahunya
" Kita sebaiknya kesana "
" iya "
mereka berdua masuk keruang selanjutnya namun sebuah pintu menghalangi keduanya, namun itu tak menyurutkan Ardhius dengan dua kali pukulan pintu itu hancur menampakkan sebuah ruangan pintu diruangan itu terbuka menampakkan dua sosok
" sialan kau sungguh mengejutkanku Ardhius yang dapat menggunakan kekuatan diri dengan sempurna "
" kalajpun kamu dapat melewatiku kamu tidak dapat dengan mudah masuk karna... " katanya menunjuk sesuatu yang bergelantung dia atas banyak kristal disana yang entah mengapa seperti di tatap olehnya. Jumlahnya yang banyak tentu akan memebinasakan mereka ketika jatuh seperti air hujan.
" Itu tak mudah melewatinya dan Houli mati " katanya menunjuk sebuah mayat yang tergeletak penuh luka tusukan dari krista
Menurut darah yang mengalir keluar menandakan baru saja dia mati.
" benda itu tidak boleh sampai terpicu oleh getaran, karna ketidak hatiannya dia seperti itu. Dan mengenai bagaimana aku selamat adalah karna aku tidak bodoh..." lanjutnya percaya diri
__ADS_1
Ketika ketiganya melangkah memasuki ruangan tanpa buru buru mereka pun menemukan sebuah jembatan sudah setengah perjalanan namun kristal di atas kepala mereka belum terpicu yang membuat Lin Yintan mengerutkan kening, karna sebelumnya ketika dia dan Houli baru beberapa langkah sudah memicu kristal dan hingga akhir kristal itu tidak terpicu
" Syukurlah itu tidak terpicu sebaiknya kita masuk kedalam."
keduanya hanya diam menjaga jarak dari Lin Yintan bagi keduanya orang di depannya adalah orang yang licik. Ketiganya memasuki Doom yang nampak seperti ruang istanah. Banyak mayat yang tergeletak begitu saja tanpa sedikitpun luka dan darah seolah olah sedang tidur. Prof Lin Yintan menekan kegembiaraannya setelah melihat mayat mayat itu dan dengan penuh kehati hatian mulai melangkah menghampiri karna kematian mereka sungguh aneh ada yang duduk berdiri. Tubuhnya tiba tiba berubah menjadi emas keduanya yang sudah menjaga jarak hanya memandanginya ditangannya ada kristal berwarna merah
" i...itu tak mungkin bagaimana mana kamu dapat memilikinya " kata Silvana menggeleng terkejut tak percaya
Supaiyada, sebuah keahlian yang memiliki fungsi sebagai pertahanan mirip dengan Dhimosukin dan merupakan keahlian kelas atas tak semua orang dapat menguasainya serangannya dengan pedang Dokuen sedikitpun tidak melepas genggamannya pada kristal merah bahkan Lin Yintan berhasil mendaratkan sebuah pukulan keras di pipi kirinya melontarkannya jauh darinya. Sedangkan kalung yang di pakainya kembali terasa hangat bereaksi dengan kristal merah itu sebabnya dirinya menyerangnya. Yang tampak mirip dengan bahan yang di gunakan liontin symbolnya. Lin Yintan hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Silvana
" Mungkinkah..." kata Silvana memiliki tebakan yang buruk
namun serangan itu gagal membunuh Silvana di depannya muncul Ardhius yang menyilang tangannya dia telah menggunakan armor Dhimosukin miliknya
" Sungguh sebuah kejutan itu adalah kamu Ardhius si penjagal..."
" mungkin kamu tak tahu mengenai hal itu karna Mis Yu telah membuat laporan mengenai dirimu. Yang dia hanya mengatakan seseorang menggagalkan rencana di pulau " itu " tapi aku harus berterima kasih karnamu dia gagal " katanya membungkuk
__ADS_1
Group Redmoon yang di pimpin oleh mis Yu di pulau yang memiliki sarang dan Ardhiuslah yang memanen hampir semua yang ada. Lalu apa hubungannya dengan Group Redmoon dengannya
" kamu tidak akan bisa mengalahkanku, walaupun aku seorang peneliti tapi aku juga seorang letarung " katanyanya tersenyum
Lin Yintan muncul di hadapan Ardhius dan memotong lehernya namun itu hanya meninggalkan bekas sayatan yang cukup dalam jika Ardhius tidak bereaksi mundur. Ardhius tak menyangka jika orang di hadapannya memiliki nilai kebugaran kebih dari seratus dan dia memiliki pedang tingkat Seinaru di Ryosusheruta kedua walaupun dirinya memiliki senjata tingkat Supa namun itu hanya sedikit membantunya. Diam diam dia mendesah pelan dan Lin Yintan kembali melesat berubah dari memotong menjadi menusuk dengan cepat tanpa jeda sehingga menyebabkan Ardhius kesusahan dalam membalas serangan dan hanya dapat menghindarinya. Melihat hal ini membuat Silvana menggenggam erat belati militernya dan bermaksud untuk membantu Ardhius, walaupun dirinya tidak dapat memenangkan pertempuran setidaknya dia tidak akan melihat orang yang di cintainya mati di depannya.
" kalian berdua akan mati dengan serangan pedangku " katanya tersenyum mengejek dan penuh percaya diri
Berkat kesabaran dan keuletannya akhirnya Ardhius tidak terlali terbebani dengan serangan Lin Yintan bahkan sesekali dirinya melancarkan serangan, hal ini membuat Lin Yintan mengerutkan kening. Lin Yintan percaya dengan kemampuannya dalam berpedang bahkan seseorang evolved yang lebih kuat darinya tidak dapat bertahan dengan serangan pedang ganda miliknya bahkan dirinya tidak percaya jika ada orang yang menahan ratusan serangan darinya namun faktanya di hadapannya bahkan dia merasa semakin sulit pedangnya melukai Ardhius. Bahkan armornya memiliki banyak retakan dan lubang bahkan beberapa ada di beberapa bagian menampakkan tubuhnya dan lengannya namun tidak ada luka yang serius. Ardhiua kembali menggunakan gerakan anehnya untuk membawa Lin Yintan melakukan banyak kesalahan dan membalas sedikit serangannya nampak jika orang yang ahli dia akan mengatakan jika Ardhius sedang bermain main dengan Lin Yintan. Semakin lama Lin Yintan semakin kesal ini baru pertama kalinya mendapatkan lawan yang bertahan banyak dari serangannya dan Ardhius semakin tak terduga menggoyahkan kepercayaan dirinyadan membuatnya semakin sulit membunuh Ardhius, seperti yang di ketahui jika kebugaran keduanya memiliki perbedaaan dan Lin Yintan merasa dia kehilangan kendali
" i...i... ini...m...m...mustahil... "
Tiba tiba situasinya berubah dan serangan pedang Lin Yintan masih sama ganasnya dengan yang sebelumnya namun untuk beberapa alasan yang tidak di ketahui dia berada di posisi yang kurang menguntungkan. Pikirannya dan kepercayaan dirinya hancur dirinya karna tidak bisa membayangkan jika dengan kemampuannya berpedang bahakan tidak dapat menahan serangan yang di gunakannya bahkan Supaiyada yang di banggakannya tidak dapat menyelamatkannya, dalam keputus asaannya dia tertawa terbahak bahak. Diambilnya kristal merah,
" kalian akan mati.. " katanya sambil meletakkan kristal merah di daginya
transformasi itu merubahnya menjadi sosok yang mengerikan, nampak kebengisannya dengan lambaian tangan kristal kristal yang menggantung mulai berjatuhan dan terbang kearah Ardhius dan sesuatu yang aneh terjadi. Kristal kristal itu menembus Ardhius dan mulai menghampiri Lin Yintan, dia pun berguling guling kesakitan mencoba menjauhkan kristal dari dirinya namun seolah olah lebah yang menyukai madu itu terus berdatangan dan memenuhi Lin Yintan, menyisakan kristal merah. Keduanya menghampiri Lin Yintan yang sudah mati dan Ardhius mengambil kristal merah dan nampak berreaksi dengan kuat, setelah meletakkan keduanya bersebelahan tidak ada yang terjadi padahal tadi berreaksi namun kali ini hanya diam seolah olah tadi itu hanya ilusi. Ardhius ingat apa yang di lakukan oleh Lin Yintan tadi dan mengikutinya, Silvana yang mengingatkannya namun terlambat. Sesuatu yang berbeda terjadi kristal itu tenggelam dj dahinya dan ketika di cobanya untuk merainya sia sia karna berubah menjadi cairan dan masuk kedalam otaknya. Liontin yang hangat kini seperti lionton biasa setelah kristal itu terserap
__ADS_1
" Aku baik baik saja " kata Ardhius merogoh kantong mili Lin Yintan
disaku milik Lin Yintan juga terdapat kartu akses yang sama dengan liontin miliknya