
Seorang pemuda tergeletak diam air matanya membasahi pipinya seekor beast diam naik di dadanya sesekali melihat sekelilingnya mengawasi itu yang telah di lakukannya. Pemuda itu adalah Ardhius sedangkan beast yang di dadanya adalah Xialang, di jilati wajah Ardhius nampak kesedihannya di sorot mata Xialang. Akhirnya Ardhius sadar
" apa itu sebenarnya? "
" entah mengapa aku mendapatkan rasa sakit yang luar biasa ketika melakukan pemanggilan soul beast sejak aku mendapatkan soul beast tingkat Supa "
Ardhius terkejut melihat punggungnya entah bagaimana di punggungnya muncul sepasang sayap dengan kehendaknya sayap itu mengecil dan menghilang dari punggungnya. Dia mendesah lega ketika sayap itu menghilang dari punggungnya tentu akan menjadi aneh jika dirinya tiba tiba pulang dengan sepasang sayap di punggungnya karna sayap itu muncul dari pada terpasang.
Tiba tiba Xialang menggeram menunjukkan giginya, nampak sebuah beast tunggangan berwarna hitam yang tubuhnya tertutupi armor hitam di atasnya duduk seseorang memakai baju zirah hitam pekat membiarkan tunggangannya minum di danau. Ardhius yakin itu bukan manusia beast humanoid, merasakan ancaman darinya, Ardhius diam mengeluarkan panahnya dan menyerang walau jaraknya dua ribu lima ratus itu tak masalah baginya untuk melepaskan anak panah namun sesuatu yang mustahil terjadi dengan kibasan tombaknya dia memotong anak panah menjadi dua. Ardhius menggeleng pelan dia mengambil tiga anak panah dan mulai menembak beast humanoid itu terpental dia tunggangannya mengampirinya di saat bersamaan dia melempar tombaknya. Tunggangannya membawanya melewati danau, di panggilnya armor beast miliknya, Dhimosukin. Tombak itu tidak berhasil menusuknya, dan tiba tiba muncul di tangan kiri beast humanoid. Dengan bantuan Xialang Ardhius mulai menyerang dirasakannya kesulitannya, Dhimosukin retak di beberapa bagian, di putuskannya dia menyerang dari langiy setelah menyimpan Xialang.
Selama tiga bulan dirinya sesekali melakukan serangan dan dengan bantuan sayapnya Ardhius dapat selamat, beast humanoid sangay kuat dan dapat membuat Ardhius bingung berulang kali dirinya tertipu walau tidak dalam kondisi kritis namun berbahaya. Seolah olah gerakan Ardhius telah di prediksinya, dirinya masih memikirkan pertempurannya dengan beast humanoid itu. Sebuah kesimpulan menakutkan terlintas di benaknya beast humanoid itu dapat melihat pikirannya, karna beast humanoid itu dapat membuat keputusan untuk membalas serangan atau bertahan dari serangan Ardhius. Jika dirinya ingin mengalahkannya maka dirinya harus menggunakan Dhimosukin martial art secara maksimal namun untuk mencapainya tidaklah mudah karna dirinya belum benar benar dapat menggunakannya. Sudah lama Ardhius disana begitu pula dengan beast itu dia tak pernah pergi meninggalkan tempat itu. Seolah olah ada sesuatu yang diinginkannya atau di lindunginya
diputuskannya dirinya akan kembali melakukan penyerangan, sebuah tombak menyerang ke arah titik fital leher Ardhius. Ardhius menghindarinya kesamping dan melancarkan sebuah pukulan, dengan tombaknya di tangkisnya pukulan Ardhius namun sebelum mengenainya tangan Ardhius ditariknnya dan melakukan pikulan di dadanya. Ardhius segera mengangkat tangan kanannya karna dua kaki depan tunggangannya terangkat mencoba menubruk Ardhius,
bang tangannya masih utuh namun armor tangannya retak dua kali mendapa t serangan seperti itu lagi maka dapat di pastikam armor tangannya hancur. Secepatnya tangan kirinya yang memegang anak panah melesat cepat ke mulut tunggangannya yang terbuka gas racun Chibikuyu muncul. keduanya saling melihat dan tiba tiba beast itu memutahkan seteguk darah. Sebuah senyum mengukir di bibirnya akhirnya dirinya dapat membunuh tunggangannya, beast humanoid itu pun terjengkang jatuh. Ardhius melompat menubruknya kemudian menggenggamnya tangannya memukul dadanya berulang kali hingga armornya retak
[ membunuh beast Jinokuma tingkat supa mendapatkan soul beast tipe tunggangan memakan dagingnya untuk mendapatkan poin evo tingkat Supa secara acak dari 1 hingga 10 ]
[ membunuh beast Akajikushi tidak memperoleh soul beast memakan dagingnya mendapatkan poin evo tingkat Supa secara acak dari 1 hingga 10 ]
__ADS_1
" Ah keberuntungan " gumannya memuntahkan darah
setengah penutup wajahnya hancur terkena benturan tombak,
[ host terluka parah melakukan secara otomatis penyembuhan ]
cahya hijau menyelimuti tubuhnya menyembuhkan luka lukanya, Ardhius tersenyum lega.
[ memakan daging beast Akajikushi mendapatkan dua poin evo tingkat Supa ]
[ memakan daging beast Akajikushi mendapatkan satu poin evo tingkat Supa ]
[ ... ]
[ ... ]
Nama Ardhius L Nose
Status Tidak ada
__ADS_1
Poin evolver yang di butuhkan 100
Soul beast yang di peroleh Soul beast tingkat Supa tipe armor Dhimosukin, Soul beast tingkat Supa tipe senjata panahan Chibikuyu, Soul beast tingkat Seinaru tipe sayap Thecikasi, Soul beast tingkat Supa tipe tunggangan Jinokuma
Poin evo yang di dapatkan Tingkat Tai 100 poin evo, Tingkat Chu 100 poin evo, Tingkat Ko 100 poin evo, Tingkat Seinaru 83 poin evo, Tingkat Supa 62
Sebentar lagi Ardhius memenuhi poin evo tingkat Seinaru, sudah setengah untuk poin evo tingkat Supa. Ardhius memotong daging beast Jinokuma dan mulai mendapatkan poin evo, kini poin evo tingkat Supa telah menembus angka tujuh lima. Di keluarkannya Xialang ketika melihat banyak daging di menerkam, Ardhius membiarkannya untuk menghabiskannya karna kedua daging itu sudah tidak dapat meningkatkan poin evo. Sambil menanti Ardhius memanggil soul beast Jinokuma dan naik keatasnya pergi mencari sebab kedua beast itu tak mau meninggalkan tempat jauh jauh. Dengan Jinokuma Ardhius menyeberangi danau dan mulai mencari sekeliling dengan belati Ardhiua melakukan pembantaian tiap beast yang temuinya namun tak satu pun dari beast itu tingkat Seinaru yang membuat dirinya kecewa
" Sebenarnya kenapa beast itu tak mau pergi dan sejak kedua beast itu mati banyak beast yang datang berkeliaran " gumannya
Tiba tiba matanya tertuju di kelompok bunga teratai yang membuatnya tertarik bukan bunga tertainya melainkannya sebuah terlur yanga besar dengan ketinggian setengah pingggan manusia, di sebelahnya ada sebuah batu besar mungkin tingginya dua meteran dan terbakar oleh api perwarna putih. Tiba tiba Jinokuma menjadi agresif dan mulai berlari kearah batu itu dengan sigap Ardhius menarik tali kekangnya jarak keduanya hanya sepuluh meter. Dengan sayapnya Ardhius pergi setelah menyimpan Jinokuma, api yang ada di batu itu terus menerus menuju telur di sebelahnya
sayapnya mulai terbakar dari jarak empat meter karna itu langsung terhubung dalam daging Ardhius bau daging terbakar mulai terciup rasa sakit karna terbakar dan rasa nyaman dari kesembuhan otomatis yang di milikinya terus menerus silih berganti
[ mendapatkan 1 poin evo Shinkina esensi inti kehidupan Jiraokunu ]
Ardhius terjatuh sayapnya kirinya hilang untuk mencegah kehilangan Ardhius menyimpan sayapnya. Ardhius mulai terbakar walau dirinya sudah memakai armornya, suara retakan mulai bermunculan. Segera dengan pikiran Ardhius menyimpan kedua item,
[ host diambang kematian dilakukan penyembuhan otomatis membutuhkan waktu satu hari ]
__ADS_1
Ardhius sudah pingsan tak sadarkan diri