
~Sayang, jagalah dirimu baik-baik. Aku selalu merindukanmu, maaf karena aku sekarang tidak bisa berada di sini mu lagi. Tapi percayalah aku mencintaimu lebih dari apapun~
Kevin.
Belanda.
Sebuah senyuman manis yang belum pudar sadari tadi terus saja mengukir indah di sudut bibir berwarna merah gelap, apalagi saat membayangkan sesuatu yang akan ia belikan ini. Terasa senang penuh kebahagiaan tersendiri.
"Berapa harga bunga ini?" tunjuk Kevin ke salah satu buket bunga mawar berwarna merah tua, yang menurut pandangan matanya begitu indah dipandang.
Nia pasti akan sangat menyukainya, Kevin kembali tersenyum hampir empat tahun mereka menjalani hubungan tapi belum pernah sama sekali ia membelikan Nia buket bunga. Ia merasa tidak percaya ini bisa-bisanya dia tidak pernah bersikap romantis sedikitpun kepada kekasihnya sendiri.
Hahaha ... Akhirnya Kevin tertawa kecil, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Kenapa baru sekarang dia kepikiran membelikan buket bunga. Sungguh konyol!
"Itu harganya dua ratus lima puluh ribu tuan." sahut pelayan toko ramah sembari mengambil buket bunga mawar itu dan memberikannya kepada Kevin.
"Ini ..." Kevin menyerahkan kartun kredit-nya.
"Maaf! anda harus membayar kes Tuan." tolak pelayan itu.
"Oh, baiklah. ini." Kevin kembali memasukkan kartu kreditnya dan menggantinya dengan beberapa uang dolar.
"Terimakasih Tuan." penuh senang pelayan itu menerimanya.
"Tua, ini terlalu banyak?" berucap pelayan itu lagi ketika baru menyadari uang pemberian Kevin teryata lebih dari harga buket bunga.
"Tidak apa-apa, ambil saja untukmu! anggap saja itu uang tips," sahut Kevin tersenyum kecil lalu pergi meninggalkan toko bunga.
"Terima kasih banyak tuan." penuh haru pelayan toko itu berucap. Hampir lima tahu ia bekerja di toko bunga ini tidak satupun orang pernah memberikan dia tips.
Di sepanjang jalan saat langkah kakinya menuntun untuk mengambil mobil sewaan, Kevin tidak henti-hentinya tersenyum sembari mencium harumnya bunga mawar yang ia belikan barusan. Sebagai tanda cintanya untuk Nia.
Rasanya Kevin sudah tidak sabar ingin segera pulang dan memberikan buket bunga mawar ini. Ingin sekali ia melihat bagaimana reaksi Nia nantinya saat menerima buket bunga tersebut.
Rasa senang yang dialami Kevin tiba-tiba saja terjeda, begitu juga langkah kakinya yang terhenti begitu saja. Tak kala kedua manik-manik matanya yang kecoklatan dengan tanpa sengaja menatap seseorang yang sangat ia kenali sedang berjalan kearahnya.
__ADS_1
Senyuman yang dilayangkan oleh orang itu berhasil membuat Kevin juga ikut tersenyum senang.
"Fina!"
"Kevin!"
Kedua berpelukan singkat.
"Kau di sini?" penuh terkejut Kevin bertanya. Kenapa tiba-tiba dia melihat sahabatnya itu. Jelas-jelas Fina berada di Indonesia sewaktu pernikahannya dan sekarang Fina berada tepat di depannya, di Belanda. Oh, kenapa dunia ini seperti kecil saja.
"Hey.... Kenapa kau terkejut seperti itu?" celutus Fina "Seperti baru pertama kali melihatku saja." sambungnya lagi.
"Bagaimana aku tidak terkejut, kau tiba-tiba ada di Indonesia dan sekarang kau tiba-tiba ada di Belanda. Kamu ini seperti hantu tau enggak."
"Hahahaha .... Emang kamu pikir aku ini siluman. Aku ke Belanda mengikuti suamiku, dia merintis perusahaannya sendiri di sini. Karena ada hal kecil jadi kami kembali ke Belanda untuk beberapa hari. Mungkin lusa kami akan kembali ke Indonesia."
"Ya, ya. Aku lupa kalau kau sekarang sudah menjadi nyonya besar." tukas Kevin.
"Kau mengejek ku!"
"Siapa yang mengejek-mu aku berbicara fakta. Buktinya di setiap negara pasti ada saja perusahaan suamimu."
"Ya, sama saja. Ujung-ujungnya semua itu pasti akan jatuh kepada suamimu juga kan."
"Serah ah, udah aku enggak mau berdebat denganmu. Dari dulu sampai sekarang kamu tidak akan pernah mau mengalah denganku!" desih Fina serasa jengkel.
"Hahaha .... inilah yang aku sukai dari mu, dari dulu sampai sekarang kau selalu saja mengalah."
"Hem, ngomong-ngomong ngapain kamu ada di sini? itu buket untuk siapa? Oh tidak, sekarang aku tau! kamu selingkuh dari Nia kan? ngaku?" tukas Fina sembari memicingkan tatapannya menatap Kevin penuh intimidasi.
"Sembarang kalau ngomong. kami dini sedang berbulan madu! dan ini buket untuk Nia karena hari ini kami akan kembali ke Indonesia. Jadi aku ingin membuat hati Nia senang. Apa itu salah." jelas Kevin.
"Ooooo mana aku tau. Lagian aku lihat kamu dari tadi sendirian, Tania dimana?"
"Dia lagi ada di apartemen?" jawab Kevin. "Kamu sendiri ngapain di sini sendirinya, suamimu mana?"
__ADS_1
"Suamiku lagi kerja, dia enggak malas-malasan enggak kayek kamu." ketus Fina dengan nada sombong.
"Heleh, kalau bukan karena bulan madu aku juga kerja kali."
"Udah ah, aku mau pergi kesana dulu. Mau membeli tahu goreng." tutur Fina sembari berjalan meninggalkan Kevin masih berdiri diam di tempat.
"Ya sudah hati-hati, jangan sampai berojol di situ. Ingat itu hahaha." ledek Kevin tertawa lepas.
"Hey, awas kau ya. Tunggu saja istrimu hamil aku pasti akan membalasmu." teriak Fina tanpa melirik ke kanan dan ke kiri saat hendak memotong jalan hingga tanpa di sadari Fina sebuah mobil mini bus sedang mengebut dengan kecepatan sangat tinggi.
Sementara Kevin yang melihat itu terkejut bukan main!
"Fina awas!" teriak Kevin sekeras mungkin.
" Apa? Aaaaaaaaa ....." sontak Fina menjerit sekeras-kerasnya.
"Brukkk ......"
Buket bunga mawar itu terlempar kuat keatas, melayang di udara sebelum sesaat kemudian terjatuh di jalan koridor.
Sayup-sayup mata Kevin melihat buket tersebut, diiringi senyuman kecil. Matanya yang hendak terpejam sekuat tenaga ia buka demi melihat buket tersebut.
'Sayang, hey kamu dimana? Aku tidak bisa melihatmu! sayang jangan bercanda!'
'Aku sini! ayo cepat kejar aku'
"Mas kamu dimana? jangan lari aku tidak bisa mengejar mu! Kembali!'
"Ayolah kemari! disini sungguh indah.'
"Mas tunggu jangan pergi, jangan tinggalkan aku mas...."
"Tania Kapoor! satu yang harus kamu ketahui, aku sangat mencintaimuuuuuu ....'
"Kevin ....."
__ADS_1
Bersambung ......
Maaf kalau banyak typo 🙏