Dasar Duda

Dasar Duda
BAB 8


__ADS_3

Nia.


~Tersenyumlah sebelum tersenyum itu berubah menjadi kesedihan yang tak akan terlupakan~


Indonesia.


***


Secara perlahan-lahan sudut bibir yang awalnya berkerut kini mulai mengembang dengan sendirinya, mengukir indah disana apalagi bibir yang merah merona yang sudah di taburi lipstik berwarna. Terlihat seksi dan begitu menggoda iman.


Sangat kakak yang berada di samping juga ikut tersenyum senang, keduanya terlihat bahagia saat kata sah menggema di telinga mereka berdua. Kini status secara hukum telah berganti.


Nia yang awalanya hanya seorang gadis kini berubah menjadi seorang istri. Tentu saja perubahan akan berbeda dari biasanya. Kedua mata Nia berbinar bahagia hampir nyaris menjatuhkan air mata.


Ratih selaku satu-satunya kakak yang Nia punya meluapkan kebahagiaan dengan setetes air mata sembari memeluk sang adik begitu dalam.


"Nia, selamat. Akhirnya kamu dan Kevin menikah juga." tutur Ratih setelah merenggangkan pelukannya.


"Chahhh, makasih. Makasih karena kakak selalu ada buat Nia, makasih juga karena kakak yang selama ini menjaga Nia." akhirnya Nia tidak bisa menahan air matanya lagi.


"Hei, kenapa menagis? pengantin baru tidak boleh menangis pamali nantinya."


Hupppp. ( menarik isak tangis )


"Nia enggak nangis kok kak, Nia cuma terharu aja." dengan cepat Nia mengusap air mata yang terjatuh tadi.


"Permisi, apa aku boleh masuk?" tutur seorang wanita berbadan dua tiba-tiba datang, wajahnya yang putih mengembangkan senyumnya hangat kearah Nia dan Ratih. Diikuti kakinya yang mulus menganyun masuk kedalam kamar.


"Mawar" ucap Ratih sedikit terkejut sekaligus bahagian atas kedatangan adik iparnya itu.


"Apa aku boleh masuk?" Mawar kembali bertanya tapi kakinya malah semakin cepat melangkah mendekati mereka berdua.


"Iya-iya, tentu saja. Kapan kamu tiba kenapa tidak memanggil Kakak?" tanya Ratih yang langsung saja memeluk Mawar singkat.


"Udah dari tadi, kakak aja yang entah kemana?" celutus Mawar.


"Hehehe maaf, maaf kakak tidak bisa menyambut kedatangan kalian. Habisnya kakak dari tadi disini terus nemenin Nia."


"Kakak pilih kasih! masak Nia selalu di temenin Mawar enggak?"


"Hei? jangan berbicara seperti itu. Kakakmu ini selalu membagikan waktu untuk kalian berdua."

__ADS_1


"Hahaha .... Mawar cuma bercanda lo kak." tawa Mawar.


"Dasar adik nakal." gerutu Ratih menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nia, selamat ya. Akhirnya hubungan kalian sekarang sudah berubah? Aku turun bahagia." ucap Mawar pandangannya teralih kearah Nia yang sadari tadi hanya diam mematung


"Makasih ..." sahut Nia sekilas matanya menatap kearah Mawar lalu turun ke area perut buncit Mawar.


"Wah, sebentar lagi sepertinya keponakanku akan keluar ya." ucap Ratih dengan nada menyindir.


"Hahaha, masih lama. Kata dokter akhir bulan kemungkinan besar." sahut Mawar mengelus lembut perutnya.


"Amin .... semoga sehat walafiat. Pokoknya kami sudah tidak sabar menunggu."


"Hahaha .... Iya, Tante kami aku juga sudah tidak sabar ingin melihat wajah Tante." seru Mawar menirukan suara anak kecil.


Keduanya pun tertawa bersama kehadiran Mawar mencairkan suasana lebih baik dari pada sebelumnya.


*****


Sementara di ruangan keluarga semuanya terlihat gugup tidak sabar menunggu kedatangan sang pengantin wanita. Tak terkecuali bagi Kevin yang merupakan sang pengantin pria. Tentu saja dia sudah gugup sendiri.


Hatinya terasa lega sekarang setelah ijab Kabul tadi yang cukup menegangkan telah ia lalui. Sedikit ragu takut melakukan kesalahan tapi akhirnya bisa terlewati. Huuffff ..... Entah berapakah kali sudah Kevin membuang nafas kasarnya.


Hingga tak berapa lama semua orang sudah dikejutkan dengan turunnya pengantin wanita. Tak terkecuali, kedua tangan pengantin di gandeng erat oleh Ratih dan Mawar. Sampai akhirnya mereka tiba di depan Kevin.


Nia langsung saja menyalami tangan suaminya itu, memberikan kecupan hangat. Setelah itu matanya menatap manik-manik mata Kevin begitu lembut.


"Mas ..." ucapnya tersenyum simpul.


"Akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya." tutur Kevin penuh hati-hati menciumi kening Nia.


******


Berangkat ke Belanda.


Malam hari.


"Kamu yakin mau berangkat ke Belanda malam ini, tidak besok pagi saja. Ini malam pertama kalian Lo." tanya Ratih lagi serasa berat dalam hatinya membiarkan adiknya pergi jauh walupun ia tahu kalau ada sosok pria yang berada di sisinya. Tapi tetap saja perasaan seorang kakak tidak bisa tenang.


"Iya, benar apa yang di bilang kakakmu Nia. besok saja kalian berangkat ke Belanda." timpal Mawar.

__ADS_1


"Tidak bisa, kami harus berangkat malam ini juga karena lusa aku harus mengerjakan deskripsi online untuk kelulusan ku." tutur Nia sudah tetap pada pendiriannya.


"Sudah-sudah biarkan dia pergi. Lagian ada Kevin yang akan menjaganya, ibu percaya sepenuhnya kepada Kevin." potong Ibu Susi.


"Terimakasih Bu, hanya Ibu satu-satunya yang paling mengerti Nia." ucap Nia dengan manjanya memeluk Ibu Susi.


"Gadis nakal, jangan menyusahkan suamimu nanti ya." ucap Ibu Susi sembari meladeni manjakan Nia.


"Iya, Nia janji. Kalau begitu Nia pamit dulu, Kakek Nia pamit ya Kek." kini pandangan Nia terakhir kearah Kakek Ami.


"Cucuku, hati-hati dijalan. Ingat jangan jauh-jauh dari Kevin, kalian harus akur tidak boleh bertengkar mengerti!" tutur Kakek Ami.


"Sip Kek." jawab Nia cepat yang membuat Kakek Ami hanya bisa menggelengkan kepalanya.


*****


Kediaman Devan.


"Apa!" suara Devan terdengar terkejut hingga membuat Fina yang berada disampingnya sontak saja menatap kearah sang suami.


"Sialan, kamu urus itu dulu. Malam ini juga aku akan terbang ke sana!"


"Mas ada apa?" tanya Fina.


"Bajingan, keluarga Clara mencoba mengusir apa yang sudah aku rintis dari kecil. Sayang, sepertinya malam ini aku harus berangkat ke Belanda."


"Aku ikut?"


"Tidak, kamu tidak boleh ikut. Ingat kondisi kamu saat ini."


"Pokoknya aku mau ikut, jangan tinggalkan aku sendiri."


"Sayang di sini kan ada Mama?"


"Enggak mau, aku mau ikut" rengek Fani tetap pada niatnya.


Huuffff ....


"Baiklah, tapi ingat sampai kita di rumah kamu harus cek up ke dokter mengerti!"


"Sip."

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2