
"Yuna, Tante udah marahin kok kakak itu. Tante jamin kakak itu enggak akan berani lagi marahin Yuna." bujuk Nia terus saja menggosok punggung Yuna sembari menurunkan anak kecil itu dari pangkuannya.
"Ante enggak pukul kakak tadi, dia jahat marahin Yuna. kata Deddy siapapun yang marahin Yuna Deddy bakal pukul orang itu sampai beldarah." sahut Yuna dengan polosnya seperti mengadu kepada Mamanya.
"Oh ya, Deddy bilang begitu?" tanya Nia mendapatkan anggukan cepat dari Yuna.
"Hem'em Deddy-mu ya benar-benar bagus mendidik anak. Dengar ya Yuna, sayang, kita itu enggak boleh jahat sama orang apalagi sampai mukul orang dan keluar darah. Kalau orang itu jahat sama kita, kita tegur aja, jangan main kasar nanti kita bisa di tangkap polisi. Yuna mau kalau Deddy di tangkap polisi?"
"Endakkkk .... Yuna atuttttt sama polisi." sahut Yuna cepat seraya menggeleng-gelenggkan kepalanya, rambutnya yang di kuncir kuda juga ikut menganyun mengikuti pergerakan arah kepala.
"Nah itu Yuna tau, bilangin ya sama Deddy kalau kita itu enggk boleh jahat-jahat apalagi sampai mukul orang!"
" Yuna enggak mau Deddy masuk penjala, Yuna harus kasi tau Deddy." seru anak kecil itu mengangguk cepat suaranya yang menggemaskan membuat Nia rasanya sangat ingin mencubit pipi putih itu.
"Nah sekarang Deddy dimana? kenapa Yuna bisa jalan sendiri?" tanya Nia lagi sembari melirik kearah kanan dan ke kiri tapi tidak juga menemukan kebenaran Devan.
"Yuna ...."'teriak Devan dari arah samping pentas, secara hampir bersamaan saat Nia bertanya di mana keberadaannya.
"Deddy ...." seru Yuna melambaikan tangannya.
"Yuna."
"Ya ampun sayang. kamu ngapain disini?" gerutu Devan segera memeluk anaknya itu.
"Kamu hampir saja buat Deddy gila tau enggak?"
"Maaf Deddy tadi Yuna alan-alan. Habisnya Yuna bosen duduk di situ terus." keluh anak kecil itu seraya memeluk Devan erat membenamkan kepalanya di bahu sang ayah.
"Kenapa kau ada di sini?" pertanyaan Devan membelah keheningan yang sempat terjadi. Kedua mata laki-laki itu memicing menatap heran kearah Nia.
"Bukan urusanmu!" ketus Nia.
"Untuk apa bersikap baik kepadanya dia saja sangat dingin kepadaku." batin Nia matanya kembali melirik kearah Yuna sekilas lalu setelah itu kembali menuntun jalan.
***
Acara pun di mulai dengan sangat meriah, suara tepukan tangan tidak henti-hentinya bergemuruh. Para model dan ambasador kini telah selesai dalam ajang fashion mereka. Nia terkagum-kagum melihatnya, betapa hebatnya orang luar dalam merancang sebuah gaun. Nia begitu terpesona melihat desain dari para desainer, ia berharap bisa mengajak kerjasama dalam perusahaan yang dia rintis saat ini.
Tak terasa acara pun selesai, mengabiskan waktu kiranya dua jam. Kini semua para pembisnis sedang menikmati jamuan yang telah dihidangkan sembari berbicara seputar bisnis mereka masing-masing.
__ADS_1
Tak terkecuali Nia, ya wanita itu sepertinya sangat senang sekali karena ada beberapa perusahaan besar Belanda ingin mengajaknya kerja sama. Bagi Nia ini adalah peluang besar mencapai dalam sebuah kesuksesan.
"Bagaimana Tuan Arloji apakah anda tertarik dengan apa yang saya ajukan?" tanya Nia antusias, merasa sangat tidak sabar mengajak tuan Arloji kerjasama.
"Hem'em ...." laki-laki berusia lebih dari empat puluh tahun itu memicingkan tatapannya. Kedua bola matanya membulat penuh nafsu melihat Nia dari atas sampai bawah apalagi saat melihat betis putih Nia. Mata keranjang laki-laki itu rasanya ingin keluar.
Nia yang merasa di perhatikan pun mulai merasakan risih. "Bagaimana tuan? anda setuju atau tidak?" ujar Nia sekali lagi dirinya sudah mulai tidak nyaman dengan tatapan tuan Arloji.
"Bisa saja, Saya bahkan kan memberikan dua puluh persen saham saya kepada Anda Nona Tania, asalkan Anda mau ...."
"Tolong jangan bertele-tele, kalau Anda mau yang katakan saja, kalau tidak maka permisi saya masih punya urusan lain." tukas Nia beranjak bangkit dari sofa yang ia duduki.
"Ayo Dira kita pergi dari sini?" sambung Nia lagi menarik tangan asistennya.
"Cihhhh sok suci. Tunggu Nona Tania!" seru tuan Arloji lalu melirik kearah anak buahnya memberikan kode mata supaya menghentikan langkah Nia.
"Minggir." desih Nia sudah dihadang oleh tiga bodyguard tuan Arloji.
"Ayolah Nona Tania, jangan jual mahal. Saya tau anda juga pasti sebenarnya menginginkannya bukan. Saya jamin kamu akan sangat puas dengan permainan saya." tutur tuan Arloji memaksa, secepat kilat tangannya yang sudah mulai kerupuk memegang pergelangan tangan Nia. menggenggam erat.
"Hey ...."
Sontak reflek Nia menampar tuan Arloji dengan sangat kasar. Seketika itu juga semua orang terdiam menatap terkejut kearah Nia. Perlakuan ketidak sopa-nan Nia membuat kening semua orang berkerut terheran-heran apa yang terjadi.
"Jangan sekali-kali anda berbuat kasar apalagi menyentuh saya, saya tidak akan segan-segan melaporkan pelecehan ini kepada pihak berwenang." tukas Nia lalu mengambilkan sapu tangannya yang ia selipkan dalam tas branded, menempelkan sapu tangan itu mengelap jejak tangan tuan Arloji. Setelah puas Nia melemparkan sapu tangan itu ke sembarang arah.
"Saya tidak sudi berkerjasama sama dengan laki-laki mata keranjang seperti anda." sambung Nia, setelah kembali menarik tangan Dira dan pergi meninggalkan ruang acara.
"Cihhhh beraninya dia mempermalukan ku!" desih Tuan Arloji. "Aku ingin kalian menangkap ****** itu segera, aku akan memberikannya pelajaran yang setimpal." ucap tuan Arloji memanas kepada para bodyguardnya.
*
"Dasar laki-laki tua bangka tidak tau malu, bisa-bisanya dia berpikir kotor tentangku. Pria gila!" oceh Nia sepanjang jalan menuju kamarnya.
"Nona, apa kita perlu melaporkan masalah ini kepada pak polisi?" tanya Dira di sela-sela ocehan Nia.
"Aku rasa tidak perlu, sudah cukup aku mempermalukannya tadi. Dia pasti akan berpikir dua kali kalau ingin berusaha dengan ku lagi." sahut Nia dengan pedenya.
"Tapi Nona bagaimana kalau tuan Arloji akan membalas perlakuan anda tadi. Saya khawatir ini akan berdampak buruk bagi perusahaan."
__ADS_1
"Memangnya apa yang akan dia lakukan. Kita tidak berkerja sama dengannya."
"Saya hanya merasa khawatir tentang anda Nona."
"Terimakasih, tapi sepertinya dia tidak akan berani macam-macam lagi!"
****
Di kamar Nia menghempaskan tas branded ke sembarang arah tidak peduli akan lecetnya barang mahal itu, lalu dengan kasarnya Nia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, diikuti dengan hembusan nafas gusar.
Nia mulai membayangkan kejadian tadi, yang mana dia refleks menampar tuan Arloji.
Sebenarnya Nia merasa takut sendiri atas apa yang telah ia lakukan, tuan Arloji. Nama itu kini mengelilingi kepada Nia.
Menurut informasi yang di dengar Tuan Arloji merupakan salah satu pengusaha berpengaruh di Belanda. Kekuasaan dan kekuatan tuan Arloji sangat lah kuat, hingga sulit bagi musuhnya untuk menghancurkan perusahaannya.
Nia merasa was-was akan itu apalagi tuan Arloji merupakan tipe orang tidak belas kasian. dia bisa saja menghancurkan siapapun orang yang menentangnya.
"Hahhhhh ...."
Dringgg ....
suara bunyi ponsel Nia berbunyi, segera wanita itu mengambilnya. Namun beberapa saat kemudian kening Nia berkerut saat melihat panggilan masuk dari nomor tidak ia kenal.
Awalnya Nia tidak mau mengangkatnya tapi ponselnya terus saja berdering dari nomor yang sama. Akhirnya dengan malas wanita itu mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, ini siapa?" ucap Nia.
"Maaf benar ini dengan Nona Tania Kapoor?" suara seorang wanita muda dari sembarang sana.
"Iya, anda siapa? kenapa menghubungi saya di larut malam seperti ini." tukas Nia.
"Mobil sport dengan nomor plat xxx xx apa benar itu milik anda?"
"Ya, kenapa dengan mobil saya?" tanya Nia antusias takut terjadi apa-apa dengan mobil barunya.
"Untuk lebih jelas silahkan anda ke pergi melihatnya sendiri di basemen. Mobil anda hampir saja hancur." seru wanita itu mendesak Nia. Lalu panggilan pun terputus.
Bersambung .....
__ADS_1