Dasar Duda

Dasar Duda
BAB 6


__ADS_3

"berhenti," Clara menarik tangan Nia dari belakang hingga membuat Nia sedikit tersentak dan menatap kearah Clara.


"Ini peringatan terakhir buatmu. Jauhi Dev, jangan dekati dia. Hanya aku, aku satu-satunya wanita yang bisa bersamanya. Kamu mengerti!"


Clara mencengkram erat tangan Nia, menggenggamnya tak membiarkan Nia pergi walau selangkah.


"Seharusnya kamu yang mengerti, Devan itu sudah memiliki istri. Dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Seharusnya kamu sadar itu, dia bukan laki-laki yang baik buat kamu! masih banyak diluar sana laki-laki yang bisa kamu dapatkan, Clara." tukas Nia menghempaskan kasar tangan Clara.


"Aku tidak mau, yang inginkan adalah Devan! dan satu lagi! Aku jauh lebih baik dari pada Fina, aku juga bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anak Dev."


"Kamu sudah gila Clara, kamu sudah dibutakan oleh cinta yang tidak semestinya berada di hatimu. Devan tidak mencintaimu dia mencintai Mbak Fina bukan kamu." desis Nia dengan membentak.


"Diam!"


Clara yang mendengar itu merasa emosi dia hendak melayangkan tangannya memukul Nia,"Beraninya kamu!" tangan Clara sudah lebih dulu di pegang erat sebelum sesaat sampai melayang.


"Clara hentikan!" suara Devan membentak keras. Mencengkeram kasar tangan Clara, hanya hitungan detik Clara sudah merintis kesakitan.


"Aaaauuu .... Dev, kamu menyakitiku." pekik Clara berusaha menarik tangannya tapi tidak bisa karena tentu saja kekuatan Dev jauh lebih kuat ketimbang dirinya.


Semua pasang mata mahasiswi yang berlalu-lalang melihat kejadian itu hanya bisa diam menyaksikannya sembari saling berbisik-bisik. Tak ada dari mereka yang berani maju termasuk Fani sahabat dekat Nia, Dia hanya bisa menatap bengong dari kejauhan.

__ADS_1


"Sudah cukup, kau selalu saja melewati batasanmu. Kalau bukan mengingat kamu pernah menjadi adik tiriku mungkin aku sudah lama memberikan perhitungan kepadamu!" Devan semakin mencengkram erat tangan Clara tak peduli wanita itu merintis kesakitan.


"Dev, sudah! kamu bisa membunuhnya." Nia yang merasa khawatir segera menghentikan aksi itu.


"Apa kamu tidak lihat yang akan dia lakukan barusan?"


"Iya aku lihat tapi tidak seharusnya kamu menyakiti dia seperti itu nanti kamu bisa dipanggil keruangan dosen." jelas Nia sembari menarik tangan Devan, membawa laki-laki itu pergi.


****


Di kantin,


Nia yang baru datang segera mencari meja bangku kosong. "Kita duduk saja disitu." tunjuk Nia kearah bangku kosong paling pojok.


Nia memesankan makanannya seperti biasa, jus apel dan nasi goreng buatan Mak Erot. Itu adalah makanan favorit Nia di kampus. Biasanya dia selalu makan berdua bersama Fani tapi kali ini untuk pertama kalinya Nia makan berdua dengan laki-laki lain selain Kevin.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Nia melihat Devan tidak memesan makanan apapun.


"Aku tidak lapar," jawab Devan.


"Ya sudah, tapi setidaknya kamu pesan-lah minuman."

__ADS_1


"Aku bilang tidak itu berarti tidak. jangan memaksaku! urus saja dirimu sendiri. Kalau bukan karena Fina yang memaksaku untuk berdekatan denganmu mana mau aku duduk bersebelahan denganmu. Jangan pernah bermimpi."


"Ahhhhh, apa kamu bilang? Kamu pikir aku suka berdekatan denganmu! dari awal kita bertemu aku sudah sangat membencimu. Kamu sangat aneh, pertama kamu mengangkut-ngaku kesemua orang kalau aku adalah kekasihmu. Kedua kau bersikap dingin seolah-olah tidak mengenal diriku sama sekali. ke-tiga pertemuanku dengan istrimu yang sangat tidak masuk akal. Awalnya aku berpikir kalau kita bertemu secara kebetulan tapi sepertinya sekarang aku paham kalau selama ini kalian memata-matai ku bukan. Kalian sengaja mencari informasi tentangku bukan? kalau tidak mana mungkin mbak Fina bisa mengenal diriku sementara kami tidak pernah ketemu sebelumnya." tutur Nia.


"Jangan bawa-bawa nama istriku!" bentak Devan.


Dug ....


Jantung Nia berdetak kencang bentakan Devan sungguh membuat ia tersentak, hingga beberapa orang yang berada di samping mereka menatap kearah Devan seketika.


"Ma-maaf." Nia sedikit menundukkan pandangannya menatap sekilas Devan terlihat dingin kepadanya.


Untuk beberapa saat keheningan melanda tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua kecuali suara ributnya orang-orang kantin.


"Besok hari pernikahanku," ucap Nia sembari mengeluarkan undangan yang memang sudah dibawanya dari rumah.


Ya, itu adalah undangan yang dipersiapkan oleh Ibu Susi. Wanita tua itulah yang mengatur semua pernikahan Kevin dan Nia. Mulai dari resepsi, gedung, pakaian, dan perlengkapan lainnya. Semuanya atas pantauan Ibu Susi.


Tapi luput dari itu ibu Susi hendak memesan gedung pernikahan, ia ingin membuat pernikahan Nia semewah mungkin bahkan lebih mewah dari pernikahan Ricko sebelumnya. Namun sayang, semua impian itu di tolak oleh Nia.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2