Dasar Duda

Dasar Duda
BAB 18


__ADS_3

Di sinilah mereka berada sekarang di salah satu Cafe terkenal yang menyajikan banyak makanan lezat. Setelah memesan tadi sembari menunggu Yuna tak henti-hentinya bercerita apapun kepada sosok wanita yang berada di sampingnya itu.


Bahkan anak kecil itu terlihat kegirangan sendiri. Devan sangat takjub bagaimana nyamannya Yuna dengan Nia.


"Tante, apa Tante sudah menikah?" tanya Yuna manik-manik menatap lekat wajah Nia.


Nia yang tadinya fokus cerita Yuna pun terkejut tak kala mendengar pertanyaan anak kecil di sampingnya itu. Ekor matanya melirik ke arah Devan, terlihat laki-laki itu juga ikut terkejut atas pertanyaan anaknya itu.


"Kata Deddy orang dewasa harus menikah untuk terikat satu sama lain," lanjut Yuna.


"Iya, kamu benar!" jawab Nia ekor matanya sekilas melirik Yuna lalu kembali ke arah Devan.


"Apa Tante mau menjadi Mommyku, menikah dengan Deddy!"


Dan lagi-lagi perkataan Yuna membuat Nia terkejut berbeda yang awal untuk perkataan Yuna barusan sungguh membuat ia hampir tidak percaya.


"Sayang?" panggil Devan ia merasa tidak enak dengan Nia.


"Benar kan Deddy! Yuna mau punya Mommy teman-teman Yuna semuanya memiliki Mommy cuma Yuna enggak, Yuna mau punya Mommy juga."


Devan rasanya ingin pergi saja dari tempat ini rasa malunya semakin meningkat. Bisa-bisanya Yuna berkata demikian.


"Sayang!"


Perkataan Devan terhenti tak kala pelayan Cafe datang membawa menu makanan yang dipesan kan.


"Ini makanannya," pelayan Cafe itu berkata sembari menaruh apa yang ia bawa di atas meja, juga beberapa pelayan lainya ikut membantu sang temannya itu.


Tak banyak makanan yang dipesan kan hanya beberapa makanan kesukaan Yuna ternyata sama seperti makanan kesukaan Nia.


Pelayan yang membawa makanan pun pergi. Kini suasana terasa sunyi tak ada suara apapun untuk beberapa saat hingga Devan berdehem memecahkan keheningan.


"Hemmm .... Jangan dilihat, kamu juga makan Nia," ucap Devan.


Yuna bahkan sudah memulai memakan sejak tadi. Anak kecil itu terdiam tidak banyak berbicara lagi tujuannya saat ini adalah menghabiskan makanan didepannya.

__ADS_1


"Iya." Nia menyahut singkat setelahnya mulai memakan namun pikirannya entah kenapa masih kepikiran atas perkataan Yuna tadi.


Suasa kembali hening cukup lama sampai makanan benar-benar habis dipiring masing-masing. Yuna terlebih dahulu menghabiskan makanannya.


"Deddy, setelah ini kita nonton ya. Yuna ingin nonton film masha end the bear." Kata Yuna. Bocah kecil ini akan film baru favoritnya yang sudah tayang di bioskop.


"Boleh." Devan mengangguk lagi pula tidak ada yang terlalu penting di perusahaan ia bisa menyelesaikannya di rumah atau besok saja.


"Tente juga ikut kan?" ekor mata Yuna melirik Nia.


Perkataan Yuna spontan membuat mata Devan dan Nia saling pandang.


"Boleh," jawab Nia.


***


Disini lah mereka berada sekarang di sebuah mall besar berencana nonton film kesukaan Yuna. Bagaimana keluarga yang lengkap Yuna sangat senang berjalan ke arah studio bioskop dengan tangan sebelah kanan memegang tangan Devan sedangkan sebelah kiri memegang Nia. Sangking senangnya Yuna selalu tersenyum terlihat bahagia.


Devan merasa hatinya begitu menghangat selama hidup buah hatinya itu baru ini melihat Yuna sesenang ini. Sebelumnya ia belum berpikir untuk menikah lagi membawa ibu sambung bagi Yuna. Tapi sekarang Kehadiran Nia yang bahkan sangat membuat Yuna cerita bahagia sedikit membuat hatinya membuka.


"Nia apa kamu nyaman? atau kamu merasa risih atas anakku?" tanya Devan terus terang ia takut keinginan Yuna membuat Nia merasa tidak nyaman.


Perkataan Devan memang pelan terdengar berbisik tapi cukup jelas didengar Nia.


"Tidak, aku malah merasa senang." Nia menjawab sembari menggelengkan kepalanya lalu ekor matanya kembali berfokus kedepan.


Devan tersenyum kecil dibibirnya. Dalam hati ia berucap syukur karena Nia tidak merasa risih teryata.


Film diputar selama satu jam setegah tanpa terasa waktu pun habis. Bersamaan dengan itu Yuna ternyata sudah tertidur di pangkuan Deddy-nya. Entah sejak kapan sudah bocil itu tertidur Nia dan Devan tidak sadar mungkin karena terlalu asik menonton.


"Sayang bangun, filmnya sudah selesai." Devan mencoba membangun Yuna.


"Jangan di bangunin, lihat dia tertidur seperti koala pasti sangat mengantuk. Mungkin dia belum tidur siang," ucap Nia.


Devan mengangguk menyetujui. Mungkin benar Anaknya itu belum tidur siang, mengingat kebiasaan Yuna tertidur jam 10 siang dan tidak akan tertidur lagi setelahnya sampai waktu malam tiba.

__ADS_1


"Apa kamu merasa pegal? Kalau begitu biarkan aku saja yang mengendong Yuna," kata Nia yang langsung mendapatkan penolakan dari Devan.


"Aku masih kuat kok, lagian Yuna sepertinya berat badannya bertambah nanti kamu yang tidak akan sanggup."


"Kamu meremehkan ku?" Nia merasa tidak terima .Apa dia selemah itu masak mengendong anak kecil saja dia akan kelelahan. Lagian ia tidak akan mengendong Yuna sampai berjam-jam juga.


Devan tersenyum kecil setelahnya tidak menjawab lagi beranjak bangkit meninggalkan bioskop.


Nia merasa di acuhkan mengerucutkan bibirnya kesal. Padahal ia berniat baik tadi agar Devan tak merasa kelelahan.


"Apa kita akan langsung pulang?" tanya Nia sembari berjalan disamping Devan. Mereka terlihat pasang rumah tangga yang serasi apalagi dengan Devan mengendong Yuna. Membuat mereka serasa keluarga cemara. Banyak pasang mata melihat kagum terhadap mereka.


"Iya, kan filmnya sudah ditonton Yuna juga sudah tidur. Apa kamu ingin membeli sesuatu?" tanya Devan menghentikan langkahnya.


"Tidak, kita pulang saja."


Devan pun mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya diikuti oleh Nia namun babaru beberapa langkah seketika langkah kembali berhenti saat ia melihat siapa sosok yang sudah berdiri didepan.


"Clara!" gumam Devan tidak dipukiri dia cukup terkejut bertemu dengan wanita satu ini.


Tak hanya Devan ternyata Nia juga sama pasalnya Nia juga sudah sangat lama tidak bertemu dengan wanita itu.


"Oh jadi gini kamu Dev dibelakang aku, kamu kembali dekat-dekat dengan dia," tukas Clara sudah memasang wajah permusuhan kepada Nia.


Nia tidak paham mengerutkan keningnya.


"Jangan keras-keras anakku lagi tidur." Devan berkata tegas namun suaranya masih pelan.


"Aku tidak terima Dev. Sudah lama aku menunggu kamu tapi kamu malah jalan sama dia." Clara tidak perduli juga atas orang-orang yang kini melirik kearah dirinya.


Devan menghirup nafasnya kasar untuk sesaat lalu menyerahkan Yuna kepada Nia.


"Bawa Yuna keluar di luar ada sekretaris ku menunggu. Tunggu disana!" kata Devan.


Nia yang bingung hanya bisa patuh dan melakukan apa yang dikatakan Devan.

__ADS_1


"Ikut aku!" pinta Devan kepada Clara


Bersambung ....


__ADS_2