
Setelah mendapat telepon dari orang yang tak di kenal, Nia tampaknya panik sendiri. Ia masih belum tau apakah penelpon itu berbicara apa adanya atau tidak. Keinginan dan ke penasaran Nia pun melunjak tinggi. Nia tidak bisa membiarkan mobil sport yang baru kemaren malam di rental untuk kepentingannya selama di Belanda rusak begitu saja.
Ya, setiba di Belanda Nia menyuruh Dira untuk mencarikan mobil rental untuk dirinya agar bisa pergi ke mana saja secara bebas.
Nia bukannya tidak sanggup membayar atau menggantikan dengan mobil baru, cuma Nia merasa tidak enak saja dengan empunya mobil. Pasti mereka akan sangat mengira kalau Nia adalah tipe orang yang tidak bisa di percaya.
Bagi Nia kepercayaan adalah nomor satu,
"Aku harus membicarakan ini dengan Dira." gumam Nia lalu bergegas pergi ke kamar Dira yang bersebelahan dengan kamarnya. Namun sudah lebih dari lima kali Nia berteriak memanggil nama asistennya itu tak satupun dari panggilannya terjawab. Hingga membuat Nia serasa seperti kehabisan kesabaran.
Tak menunggu lagi Nia pun memilih membukakan pintu kamar Dira, dilihatnya kamar kosong tak ada tanda-tanda kalau ada orang di dalam. Nia-pun menghidupakn kembali ponselnya yang sempat padam mencoba menghubungi Dira, mungkin saja wanita itu keluar terka Nia.
Satu, dua bahkan tiga kali sudah Nia mencoba menghubungi Dira tapi hasilnya tetap sama malah di akhir panggilan Nia tersadar kalau Dira teryata tidak membawakan ponselnya. ponsel milik Dira berdering kecil di atas nakas.
"Ckkkk ....." Nia berdecak kecil dengan terpaksa dia harus pergi sendiri ke basemen untuk melihat apa yang terjadi.
Karena lantai kamar Nia dan basemen tidak terlalu jauh, jadi tidak membuat wanita itu terlalu lama sampai di basemen.
Ting ....
Pintu lift terbuka dengan tergesa-gesa Nia melangkah melewati jejeran mobil yang ada, kedua manik-manik matanya tak terfokus berkelana mencoba menemukan mobil sport miliknya diantara banyaknya jejeran mobil.
Nia mendengus saat ia rasa dia telah tiba di mana tadi sore ia memarkirkan mobilnya di sana dan tidak melihat keberadaan mobil itu.
"Di mana mobilku? perasaan aku memarkirkannya di sini?" gumamnya. "Kenapa tidak ada?"
Perasaan Nia semakin tidak tenang, rasa ketakutan tiba-tiba saja melanda, apalagi kini Nia berada di tengah-tengah jejeran mobil.
Karena rasa takut dan melihat mobil sport itu tidak ada Nia pun memilih pergi, dia ingin segera memberitahukan pihak hotel tentang hilangnya mobil sport itu.
Namun baru dua langkah Nia berjalan, secara tiba-tiba saja seseorang membius Nia dari belakang. Yang sontak saja membuat Nia pingsan seketika, badan Nia langsung lemas. Ponsel yang ia genggam pun terjatuh ke lantai.
*
Tak jauh dari keberadaan Nia terlihat Devan, Yuna dan asisten pribadi Devan sedang berjalan hendak melewati parkiran.
"Deddy, Una mau esklim." rengek Yuna kepada Devan kala itu hendak ke mobil yang sudah di parkir, anak kecil itu terus saja bersemangat merengek kepada Devan agar membelikan apa yang inginkan. Hingga tanpa di sengaja karena kelincahannya dalam berjalan Yuna nyaris saja terjatuh karena tersandung dengan sesuatu.
"Sayang kamu tidak-tidak apa? Hahhhh .... Tuh kan apa yang Deddy bilang nanti kamu terjatuh, makannya jangan cepat-cepat jalannya." ucap Devan.
Yuna tidak menyahut, anak kecil hanya menampakkan gigi putihnya melirik Devan sekilas lalu sorot matanya langsung tertuju pada apa yang telah membuatnya tersandung.
"Hp, Deddy Yuna temu HP balu." teriak Yuna kegirangan sembari meloncat-loncat. Dengan segera Yuna mengambil hp itu dan menyerahkannya kepada Devan.
"Sayang ini punya orang? bukan punya Deddy." ucap Devan hendak kembali meletakkan benda tipis itu di atas lantai namun tanpa segaja tangan Devan menekan tombol kecil yang berada di bagian samping ponsel itu, hingga membuat ponsel menyela seketika dan memperlihatkan foto seorang wanita yang terasa sangat familiar di mata Devan.
Karena rasa penasaran Devan-pun mencoba memerhatikan ponsel itu.
"Nia ...." gumam Devan tak kala menyadari teryata foto yang berada di layar ponsel adalah foto Nia.
"Deddy itu Tante ...." panggil Yuna menarik-narik celana Devan sembari tangannya sebelah lagi menunjuk kearah Nia yang kala itu sedang diseret hendak di masukkan kedalam mobil.
"Nia ..." ucap Devan sedikit terkejut setelah mencoba melirik kearah yang di tunjukkan Yuna.
Untuk sesaat Devan terdiam laki-laki itu memicingkan tatapannya menatap kearah Nia semakin di seret menjauh. Kedua manik-manik mata Devan berhasil menangkap siapa sosok laki-laki serba hitam yang sedang menyeret Nia.
"Bukankah itu anak buahnya tuan Arloji." batin Devan laki-laki itu ingat betul siapa saja anak buah tuan Arloji, karena memang Devan sering bertemu dengan para anak buahnya tuan Arloji, seketika dia-pun teringat tentang kejadian tadi di acara fashion show. Nia telah bertindak kasar kepada tuan Arloji.
"Nia ...." teriak Devan lalu segera berlari, tapi sayang Nia sudah berhasil dimasukkan kedalam mobil dan mobil itupun melaju dengan cepat.
"Aggrrrr ....." pekik Devan geram, dengan terburu-buru dia segera melangkah pergi ke mobilnya.
"Bima, bawa Yuna pulang, aku akan mengejar Nia." teriak Devan kepada asistennya.
"Baik pak," sahut Bima mengangguk cepat.
"Deddy ...."
*
Mobil yang di tumpangi Nia, mobil itu segera melaju dengan sangat cepat menembus jalan raya, setelah berhasil keluar dari basemen mobil itu langsung di tekan pedal gas agar mengebut dengan sangat cepat.
__ADS_1
Sedangkan Devan yang melihat itu tidak tinggal diam, laki-laki bermata biru itu juga menekankan pedal gas mobilnya mengejar mobil yang di tumpangi Nia.
Dengan lincahnya mobil Devan menyelip diantara mobil-mobil di depan. Begitu juga dengan mobil yang membawa Nia, mobil itu terus saja mengebut melewati perkotaan hingga kini telah berada permukiman warga, terus melaju dan berhenti di sebuah rumah minimalis modern.
"Hati-hati bawa gadis itu, tuan tidak akan mengampuni kalian kalau kalian sampai membuatnya terluka." perintah seseorang laki-laki berpostur tubuh tinggi baru saja keluar dari rumah itu saat mendengar suara mobil.
"Baik bos." sahut para laki-laki memakai pakaian sebelum hitam. Lalu dengan penuh kehati-hatian laki-laki itu membawa Nia masuk kedalam rumah itu.
Disisi lain Devan sudah berulang kali menjabat rambutnya dengan kasar, laki-laki itu sepertinya kehilangan jejak. Sudah berulang kali berkeliling di jalan yang di lalui mobil membawa Nia tapi tak juga ia menemukan mobil itu.
"Arloji, brengsek. Bisa-bisanya kau menculik rekan bisnismu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nia aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." gumam Devan sembari memukul stir mobil yang entah keberapa kalinya.
Pikiran Devan serasa buntu percuma mencari karena itu akan membuang-buang waktu, dia harus berpikir secara logika agar bisa menemui Nia secepat.
"Ayolah, pikir, pikir." gumam Devan memainkan jemarinya.
"Lacak, ya. Kenapa aku tidak kepikiran." Devan meraih ponselnya yang dia selipkan dalam saku jasnya. Untung saja Devan dulu sempat save nomor pribadi tuan Arloji saat mereka bekerja sama. Ya, pada saat itu Devan tidak sengaja melihat nomor ponsel tuan Arloji atas meja kerja tanpa pikir panjang Devan langsung seve.
"Ayolah cepatlah ..." karena Devan kini berada di pedesaan jadi sedikit sulit baginya mengunakan jaringan akses internet. "ayolah agrrrr ..." rasanya Devan sudah kehabisan kesabaran menunggu.
*
Sementara di rumah itu suara tawa seseorang terdengar menggelegar keseluruh penjuru ruangan, tawanya seperti memenangkan sebuah pertandingan yang sangat besar.
"Hahahaha .... Bravo, dengan mudahnya kalian mengerjakan apa yang aku inginkan. Hahaha ... aku sangat senang, wanita arrogan ini sebentar lagi akan menjadi milikku hahahaha ...." ucap tuan Arloji tidak henti-hentinya tertawa.
"Kalian sekarang pergilah, aku sudah tidak sabar ingin mencicipinya. Kalau aku sudah puas aku pasti akan memberikan kalian juga jatah nantinya. Kita akan memuaskannya secara bergiliran hahahaha ....." sambung tuan Arloji lagi.
"Baik Bos, kami pergi dulu. silahkan bersenang-senang" ucap kelapa anak buah tuan Arloji juga ikut tertawa kecil, lalu setelah itu pergi meninggalkan kamar.
"Nona Nia, aku ingin lihat apa sekarang kau bisa melawan Hem. Kau sudah membuatku tergila-gila dengan tubuhmu yang cantik ini. Aku tidak bisa melupakanmu walau sedikit saja." ucap tuan Arloji mulai mendekati Nia. Namun sebelum itu, tuan Arloji terlebih dahulu mengambil cangkir yang sudah diisikan dengan air putih.
"Rasanya tidak puas jika aku menyentuhmu tanpa ada perlawanan hahaha .... Aku ingin kita sama-sama menikmati kenikmatan itu."
Byurrrrrr .... tak menunggu lagi, tuan Arloji segera menyirami Nia.
"Khukkkk .... khukkkk ...." Nia tersadar seketika.
"Aku di mana?" lirih Nia saat melihat ruangan tampak asing baginya.
"Kau sedang berada di rumah kita, sayang." sahut tuan Arloji tersenyum kecil.
"Tuan Arloji." kening Nia berkerut dalam saat melihat tuan Arloji, lalu sontak Nia hendak mengusurkan tubuhnya ke samping namun tidak bisa karena kedua tangan Nia sudah di bentang di ikat dengan sangat kuat.
"Apa-apaan ini, lepaskan aku? " gerutu Nia masih berusaha memberontak tapi.
"Percuma kamu melawan sayang, itu akan membuang-buang tenagamu saja. Lebih baik kamu rileks saja, nikmati permainan yang aku mainkan. Aku berjanji akan melakukannya secara pelan-pelan." ucap tuan Arloji sembari tertawa kecil, kini laki-laki tua itu sudah mulai membukakan kancing kemejanya satu-persatu.
"Bajing**, tolong ..... tolong ...."
"Percuma saja sayang. Rumah kita ini kedap akan suara, tidak akan ada yang mendengarmu."
"Pria brengs** lepaskan aku. Lepaskan? aku tidak sudi bersama mu." teriak Nia.
plakkkk ..... sebuah tamparan keras berhasil dilayangkan oleh tuan Arloji.
"Disaat seperti ini kamu masih arrogan. Cihhhh, wanita Pela*** seperti mu aku bisa mendapatkan banyak diluar sana. Beraninya kamu menolak seorana Arloji. Apa kamu tidak tau, kamu adalah wanita beruntung bisa menyentuh seorana Arloji, diluar sana banyak sekali wanita yang sangat ingin bermimpi aku sentuhi." desih Tuan Arloji.
"Aku bahkan bisa menafkahi mu sampai tujuh turunan, kamu masih menolak ku." sambungnya.
"Aku tidak butuh uangmu. Lepaskan aku, aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki tua sepertimu." rintis Nia kembali berusaha untuk melepaskan diri.
Plakkkk plakkkk ..... dua tamparan secara berangsur-angsur kembali dilayangkan oleh tuan Arloji. Tamparan itu berhasil membuat Nia merentis kesakitan. Kedua pipinya sudah memerah bagaikan api yang membara.
"Hahahaha ..... tugasmu sekarang adalah melayani ku sampai puas." bisik tuan Arloji. tanpa pikir panjang laki-laki tua itu merobek gaun Nia. hingga memperlihatkan gunung kembar yang di baluti bra merah terlihat sangat jelas bergoyang mengikuti arah goncangan.
glukkkk .... tuan Arloji menelan salivanya kasar, kemolekan tubuh Nia benar-benar bisa di ajukan jempol. tuan Arloji serasa tidak bisa lagi menahan nafsunya saat melihat itu. Dengan segera laki-laki tuan itu menjilati lekuk leher Nia.
"Bajingan, lepaskan aku." lirih Nia dengan suara parau dia sudah kehabisan tenaga untuk melawan tuan Arloji. Rintikan air mata demi rintikan Nia jatuhkan.
Brakkkkk .....
__ADS_1
"Siapa itu?" terkejut para anak buah tuan Arloji ketika pintu utama di dobrak kasar oleh Devan.
"Tuan Devan," ucap ketua bodyguard terkejut hebat.
"Di mana si tua bangka itu, cepat katakan sebelum aku kehabisan kesabaran." ucap Devan sorot matanya memerah menahan amarah, kedua tangannya sudah di genggaman erat tak memberi celah sedikitpun.
"Maaf tuan Devan, tidak seharusnya anda berada disini. Tuan besar berada di mansion utama." sahut ketua bodyguard itu, sembari melangkah mengikuti Devan.
"Jangan coba-coba menipuku. Aku ulangi sekali lagi katakan di mana tuan Bangka itu, beraninya dia menculik calon istriku." gerutu Devan tanpa pikir panjang lagi.
"Calon istri anda."
Brukkk .... Tak menunggu lagi Devan langsung melayangkan tinju kearah para bodyguard. Perkelahian pun terjadi. Dengan santainya Devan melumpuhkan satu-persatu anak buah tuan Arloji. Ilmu karate yang dimiliki Devan teryata ia gunakan saat itu juga.
Sedangkan dengan ketua bodyguard Devan sedikit kewalahan melawan laki-laki bertubuh besar itu.
"Tuan Devan lebih baik anda pergi dari sini sebelum saya benar-benar menghabisi anda disini." ancam ketua bodyguard.
"Benarkah, laki-laki bajingan seperti kamu mau membunuhku." sahut Devan menantang.
"Kita lihat siapa yang akan mati di antara kita." sambung Devan lagi, lalu kembali melanjutkan perkelahian sengit itu.
Brukkk .... brukkk .... Devan tidak memberikan sedikitpun celah untuk ketua bodyguard itu, sebaliknya ketua bodyguard itu malah tergusur kasar dibatas lantai. akhirnya Devan berhasil melumpuhkan laki-laki tinggi itu.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada calon istriku aku bersumpah tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang di dunia ini hahhhhh hahhhhh ...." ancam Devan dengan suara nafas terengah-engah sembari menyapu darah segar yang sempat terjatuh di sudut bibirnya.
"Hikkkkkk .... tolong ...." tangis Nia, rasanya seluruh anggota tubuhnya ingin rontok tak berdaya lagi, seluruh kekuatannya sudah habis. Nia sudah pasrah akan apa yang terjadi sekarang.
Krekkkk ..... Gaun yang digunakan Nia kini sepenuhnya terlepas. tidak ada kain apapun yang menutupi tubuh putih Nia sekarang kecuali ****** ***** saja, sedangkan bra sudah di hempaskan oleh tuan Arloji.
Brakkkkk ....
Hanya sekali dobrak Devan berhasil membukakan pintu yang terbuat dari kayu itu.
Kedua tanga Devan sudah digenggam begitu erat bahkan lebih erat dari yang tadi. Sorot matanya seketika seperti mengeluarkan api, tak ada lagi manik-manik matanya yang biru. Rahang yang mengeras diikuti dengan rentakan gigi kuat seraya berteriak.
"Bajingan ...."
Brukkkk.... Hanya sekali tenda tuan Arloji yang kala itu berapa di atas tubuh Nia seketika tergusur ke lantai.
Brukkk ... brukkkk .... Pukul Devan secara bertubi-tubi di wajah tuan Arloji. Brukkk ... Di pukulan terakhir Devan seperti mengeluarkan seluruh tenaganya memukul tuan Arloji. Hingga saat itu juga tuan Arloji kehilangan kesadarannya.
"Devan ..." suara Nia terdengar begitu pilu dan lirih. Air mata terus saja keluar tak berhenti sedetikpun.
"Nia," gumam Devan segera memeluk erat Nia, membawakan wanita itu kedalam pelukannya.
"Hikkkkkk .... hikkkkkk .... Aku sangat takut, hikkkkkk ...." tangis Nia.
"Iya, aku ada disini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." sahut Devan semakin mempererat pelukannya memeluk Nia.
***
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Devan, laki-laki itu masih merasa khawatir terhadap Nia, walau kini ia tahu kalau Nia sudah aman bersamanya.
"Makasih kamu telah datang menyelamatkanku." lirih Nia.
"Sini berikan tanganmu, agar aku bisa melepaskan tali itu." ucap Devan.
Nia-pun menyodorkan kedua tangannya. dengan kehati-hatian Devan melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangan Nia, setelah itu Devan-pun melepaskan jas dan kemejan ya. Lalu meletakkan jas dan kemeja itu ke tubuh Nia.
"Lain kali kalau ada apa-apa segera hubungi aku, mengerti!" tutur Devan.
"Ayo kita pergi dari tempat terkutuk ini." ajak Devan sembari membantu Nia berdiri lalu tanpa aba-aba Devan-pun mengendong Nia.
Nia tentu saja terkejut akan itu, tapi sesaat kemudian dia terdiam seraya membenamkan wajahnya di bidang dada sixpack polos Devan. Ya, tidak ada satupun kain yang menutupi tubuh Devan karena kemeja dan jas Devan sudah di berikan kepada Nia.
Kehangatan dan bau harus maskulin tubuh Devan membuat Nia semakin nyaman membenamkan wajah, entah Nia sadar atau tidak Nia sudah berapa kali mencium dada sixpack Devan.
Sedangkan Devan yang menyadari itu tersenyum kecil di sudut bibirnya.
Bersambung .......
__ADS_1