
Kevin mengemudikan mobilnya dengan cepat matanya memicing menatap fokus kedepan. Setelah perbincangan tadi dengan Fina dia tidak berbicara atau menyahut sepatah katapun selain kata pamit mohon diri untuk pulang.
Suasana jalan yang sepi membuat Kevin leluasa dalam mengebut mobilnya. Tak menghiraukan lampu merah hijau yang memenuhi jalan raya.
Tiba di apartemennya Kevin memarkirkan mobilnya cepat, setelah itu dengan tergesa-gesa dia memasuki rumahnya. Mengambil charger hp lalu menyambungnya dengan ponsel. Ya, ponsel Kevin lowbat karena sudah dua hari ini dia lupa mengisi daya.
Untuk sesaat Kevin berdecak kecil karena ponselnya yang sudah di cas tak kunjung hidup. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi.
Tak berlalu lama ponselnya pun hidup dan menampakkan belasan panggilan dari Tania.
Kening Kevin berkerut tidak biasanya Tania menghubunginya sampai sebanyak ini. Kevin yang penasaran pun dengan cepat menghubunginya balik.
Panggilan pertama tak terjawab namun di panggilan kedua barulah terdengar suara Tania dari sebrang sana.
"Halo, Kevin." suara Nia terdengar buru-buru.
"Aku ingin bertemu denganmu sekarang!" desak Kevin.
"Sekarang,"
"Iya, apa kau takut?"
"Tidak, tapi dimana kita akan bertemu?"
"Di taman anak-anak yang biasa kamu kunjungi."
"Baiklah,"
Tuttttt .... Kevin lebih dulu memutuskan sambungan telpon. Tak melakukan apapun lagi Kevin kembali berlari keluar menuju mobilnya.
***
Di taman Nia duduk di salah satu bangku yang memang biasa ia duduki. Sorot matanya melirik kanan dan ke kiri melihat jalan terlihat sepi tidak ada satupun orang yang berlalu.
Nia sebenarnya takut, ini sudah hampir jam dua belas malam. Kenapa Kevin tiba-tiba mengajaknya bertemu? apa telah terjadi sesuatu yang buruk? kening Nia naik sebelah memikirkannya.
__ADS_1
Untuk membuat dirinya agar tidak takut lagi Nia pun mencoba memainkan ponselnya, memainkan game cacing yang lagi viral di dunia Facebook.
Hingga beberapa saat kemudian pandangan Nia teralih saat melihat mobil yang sangat ia kenali siapa pemiliknya sedang memasuki area taman. Hati Nia merasa lega karena sekarang dia tidak sendirian lagi.
"Mas ...!" seru Nia sembari tersenyum lebar.
Kevin yang berjalan membalas senyuman Nia. Tangannya yang kekar menarik Nia membawa wanita yang sangat ia cintai ini kedalam pelukannya. Membenamkan wajah Nia untuk waktu yang lama.
Nia yang diseperti itukan juga membalas pelukan Kevin, sudah lama dirinya tidak memeluk Kevin seperti ini.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Kevin penuh manja di telinga Nia. Memberikan kecupan beberapa kali.
"Aku juga," balas Nia.
Mereka pun saling melepaskan kerinduan bersamaan hingga tanpa mereka sadari waktu telah berlarut cukup cepat. Jam telah menunjukkan setegah satu pagi. Nia merenggangkan pelukannya.
"Mas, ini sudah malam sebaiknya mas pulang nanti masuk angin," tutur Nia menyibakkan rambut poni Kevin kearah samping yang sempat di terjang karena hembusan angin malam.
"Iya, kamu juga. Jangan sampai kamu sakit di hari kebahagiaan kita," sahut Kevin setelah itu mencium kening Nia lembut.
"Pasti." Nia mengangguk cepat. Keduanya pun pulang tapi sebelum itu Kevin mengantarkan Nia terlebih dahulu.
***
Sore haru di universitas ternama Indonesia. Khususnya di ruang 123 jurusan sistem teknologi bisnis. Terlihat semuanya sedang sibuk menyiapkan tugas mereka masing-masing.
Tak terkecuali bagi Nia dan Devan, dua sepasang kekasih pura-pura itu berusaha dengan sangat baik agar bisa lulus dalam tugas ini. Mendapatkan nilai terbaik itulah yang di harapkan keduanya.
Apalagi mulai besok Nia mengambil cuti karena hari pernikahannya.
Sementara di lain sudut hanya berjarak empat bangku dari Devan, terlihat sosok wanita anggun yang tak pernah memalingkan wajahnya menatap Devan dari samping.
Bulu matanya yang lentik mengedip penuh pesona membuat siapa saja bisa terpukau terkena pesonanya yang luar biasa.
"Kemanapun kamu pergi aku akan selalu mengikuti mu Dev, kamu tidak bisa kabur dariku karena kamu hanya milikku seorang." gumamnya.
__ADS_1
Tring .... Bunyi kelas telah berakhir. Semua mahasiswa mengumpulkan hasil tugas mereka masing-masing. Di saat hampir bersamaan Nia berpapasan dengan Clara yang juga mau mengumpulkan tugasnya.
"Jauhilah Devan, dia tidak pantas untuk perempuan seperti mu." desis Clara merapatkan kedua giginya, sorot matanya menatap membunuh kearah Nia.
"Apa urusanmu. Kalau aku tidak layak berarti kamu juga tidak pantas untuknya. Hanya istrinya-lah yang lantas," tukas Nia menekankan kata istrinya lalu berlalu pergi.
"Sialan," decak Clara. "Rupanya dia ingin bermain-main denganku."
"Fani, kamu lihat Devan enggak?" tanya Nia melihat Devan sudah tidak ada di bangkunya lagi.
"Cie-cie enggak bisa jauh-jauh ya dari pacar baru." ledek Fani tertawa kecil.
"Fani," Nia melototi Fani.
"Iya-iya, dia udah keluar tadi. Habisnya kamu sih kelamaan padahal tadi aku lihat dia udah nungguin kamu disini tadi!" jelas Fani.
Mendengar itu Nia segera melangkah pergi mencari Devan.
"Eh, Nia tunggu." Fani menarik tangan Nia.
"Apa?"
"Gue masih heran, emang benar kamu udah putus sama kak Kevin?" tanya Fani lugunya tanpa melihat ke kanan dan ke kiri.
"Ehhhh ssuuuuuttttttt.... Kamu bisa diam enggak sih,"
"Diam bagaimana ceritain dong sama aku. Kali aja aku bisa menggantikan posisi kamu di hati kak Kevin."
"Tidak akan," balas Nia sewot
"Serakah amat si Lo,"
"Fani nantinya, sekarang bukan saatnya bercanda. Kalau ada waktu luang aku akan ceritakan semuanya kepada kamu bagaimana hubunganku dengan kak Kevin tapi sekarang tidak bisa. Aku harus pergi dan satu lagi jangan bahas apapun tentang Devan dan kak Kevin mengerti!" desis Nia setelah itu pergi meninggalkan Fani sang sahabat yang merasa dicuekin.
Bersambung ........
__ADS_1
jangan lupa likenya kakak-kakak