Dasar Duda

Dasar Duda
BAB 3


__ADS_3

Indonesia


Suasana terlihat mendung setelah beberapa Minggu terakhir ini tidak turun hujan sama sekali. Awan hitam yang mengelilingi langit berkumpul siap menjatuhkan rintikan air yang sudah dibendung.


Tiupan angin kencang yang menerjang membuat jalan sedikit macet tidak seperti biasanya. Menerbangkan apapun yang berada di sekitar tempat terbuka.


Nia yang kala itu sedang duduk di taman tak jauh dari mansion utama keluarganya terpaksa harus berlari kecil mencari tempat teduh. Rintikan air yang menerjang akan membuatnya basah kuyup jika terlalu lama beranda di sana.


Ya, setelah pulang dari kantor Devan Nia menyempatkan sedikit waktunya duduk di taman kecil yang memang terkhusus untuk anak-anak. Untuk menyendiri Nia tidak butuh tempat eksotis segala itu terlalu berlebihan menurutnya.


Namun karena terlalu cepat berlari tidak hati-hati Nia hampir nyaris tergelincir tak kala dirinya baru menginjak halte busway samping taman.


Seorang wanita paruh baya berhasil menarik tangan Nia, membawakan Nia kedalam pelukannya agar tidak membuat Nia berhasil jatuh.


"Aaaaaaa ...."


"Maafff .... Maafff ...." Nia dengan cepat mengusurkan tubuhnya kebelakang sembari menundukkan kepalanya menatap dress yang ia kenakan basah terkena percikan air hujan.


"Lain kali hati-hati," sahut wanita itu membuat Nia segera menoleh.


"Tante ..." kening Nia seketika naik sebelah sangat jelas matanya melihat siapa wanita paruh baya yang menolongnya tadi.


"Kita bertemu lagi," tutur wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Mama Devan. Wanita tuan yang barusan tadi Nia temui di kantor.


"Kenapa Tante ada disini?"


"Tadi Tante habis dari yayasan panti asuhan, rencananya mau membelikan eskrim." tunjuk Mama Devan kearah penjual eskrim tak jauh dari tempat mereka sekarang. "Fina sangat menyukai eskrim jadi Tante tadi mau membelinya eh malah turun hujan."


"Oooooo" Nia manggut-manggut pertanda mengerti.


"Kamu sendiri kenapa ada disini?" tanya balik Mama Devan.


"Nia tadi mampir ke taman anak-anak itu."


"Kamu sudah memiliki anak?"


"Tidak," Nia menyahut dengan cepat "Nia hanya mampir untuk mencari udara segar saja." nyali Nia menciut merasa takut salah berbicara.


"Oooooo, apa itu karena Fina?" sorot mata Mama Devan mengintimidasi.

__ADS_1


"Bu-bukan Nia sudah biasa kok mampir ke taman." nafas Nia memburu serasa seperti diinterogasi saja.


"Nia, apa Tante boleh menanyakan sesuatu?"


"Ah, iya. Boleh-boleh kok Tante."


"Tante hanya ingin tau, Apa tunanganmu tidak marah kamu membantu Fina?" pertanyaan itu membuat Nia tersentak mulutnya mengatup dengan sempurna.


"T-Tidak, maksud Nia. Nia belum memberitahukan masalah ini kepada Kevin." pandangan Nia meredup menatap kebawah.


"Kenapa kamu belum memberikannya? Apa kamu merasa takut?" pertanyaan terdengar sangat lembut tapi begitu mendesak. Nia tidak tau harus menjawab apa.


Ya, benar, Nia merasa takut jika memberitahukan masalah ini kepada Kevin. Walau Nia sudah hapal betul bagaimana reaksi Kevin nantinya ketika dia memberitahukannya tapi tetap saja Nia merasa tak kuasa mengatakannya.


"Tante dengar lusa hari pernikahanmu dengannya, apa itu benar?"


"Iya." Nia menjawab tanpa menoleh.


"Hem'em, Tante sangat berterimakasih kamu mau membantu Fina. Tapi kamu juga tidak boleh mengabaikan orang yang kamu kasihi. Kalau dia merasa keberatan dengan apa yang kamu lakukan tidak apa, Tante akan berusaha membujuk Fina." timpal Mama Devan.


"Nia-"


"Mas Kevin, maafkan aku. Aku tidak bermaksud ingin menyakiti perasaanmu tapi-"


Nia menghembuskan nafas panjang, dua hari ini belakang ini kepalanya terasa pusing memikirkannya.


****


Malam hari di mansion utama keluarga Adiningrat.


Tepat pukul setengah sepuluh malam Nia baru tiba mansion. Wajahnya yang di tekuk menatap kebawah, Nia berjalan gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Suara tangisan Alfin yang begitu keras membuat langkah Nia terjeda untuk beberapa saat. Pandangannya langsung teralih kearah kamar Kevin yang tak jauh berada dari kamarnya.


Nia pun memutuskan untuk melihat.


Dikamar Alfin Ratih sudah mondar-mandir mengelilingi ruangan sembari mengendong Alfin. Anak itu semakin mengeraskan suara tangisannya.


"Cup ... Cup ... Sayang jangan nangis. Mama disini, bersama Alfin." Ratih dengan talenta mengayun-ayunkan Alfin.

__ADS_1


Nia yang melihat itu segera menghampiri kakaknya dan ponakannya itu.


"Kak Ratih." panggil Nia berjalan mendekati.


"Nia, kamu baru pulang?" tanya Ratih sedikit terkejut melihat keberadaan adiknya tiba-tiba datang.


"Iya, kenapa Alfin menangis keras seperti itu? Apa dia lagi sakit?" Nia menempelkannya telapak tangannya di kening Alfin mencoba mengukur suhu tubuh keponakannya.


"Dia tadi mimpi buruk, dia melihat Kevin dengan seorang wanita berada di atas awan sedang melambaikan tangan kepada. Katanya wajah Kevin sangat menyeramkan maka dari itu dia sangat takut dan menangis terus," tutur Ratih menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Apa?" tiba-tiba saja pikiran Nia teringat akan Kevin.


"Kamu habis dari mana? Kevin dari tadi menunggu kamu pulang, katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan."


"A-Aku tadi ketiduran di cafe tempat biasa kita mampir kak."


"Apa kamu bertengkar dengan Kevin?" timpal Ratih.


"Tidak, aku dan kak Kevin baik-baik saja."


"Kakak perhatikan wajahnya terlihat murung tadi, kakak pikir kalian bertengkar."


"Tidak, kapan kak Kevin pulang?"


"Tidak lama, palingan dua puluh menit yang lalu."


"Aku akan mencoba menghubunginya." tanpa sabar Nia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dengan perasaan campur aduk Nia melekatkan benda tipis itu kearah daun telinganya.


Nomor yang ada tuju sedang sibuk mohon hubungi beberapa saat lagi.


"Bagaimana?" tanya Ratih.


"Tidak di angkat." Nia sudah mulai khawatir, nafasnya terasa panas dingin memiliki calon suaminya itu.


"Nanti kamu coba hubungi lagi, kakak mau menidurkan Alfin dulu. Ini dia sudah tidur takut bangun lagi," ucap Ratih.


"Hem'em."


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2