Dasar Duda

Dasar Duda
BAB 9


__ADS_3

~Kuatkanlah hatimu seperti batu agar terus bisa bertahan walaupun selalu di hadang puluhan air hujan~


Belanda.


Nia,


Matahari terlihat bersinar terang memancarkan seluruh cahayanya menerangkan sebagai benua Eropa. Awan putih yang berkelabut menghiasi luasnya langit berwarna biru yang dilengkapi burung-burung yang berterbangan kesana kesini berhasil membuat dunia bak dalam negeri dongeng.


Huuuufffffff.... Suara hembusan angin yang menerjang sejuk di kulit.


Ini adalah hari pertama Nia dan Kevin menginjakkan kaki mereka di Belanda. Pesawat jet yang mereka naikin baru saja landing di bandara internasional Belanda tepat pukul delapan pagi.


Kevin dengan segera membawa Nia ke hotel yang sudah dia pesan sebelum keberangkatan mereka melalu akun Googling miliknya. Mata Nia yang sayup-sayup mengantuk sembari berjalan membuat Kevin cekikan melihatnya.


"Sayang! apa kamu tadi malam tidak tidur...??" akhirnya Kevin mulai bertanya sembari memampang tubuh istrinya itu.


"Aku sangat mengantuk mas, badanku juga terasa sakit." keluh Nia membenamkan wajahnya di bahu Kevin.


"Kalau begitu sini aku gendong." sahut Kevin sembari benar-benar mengendong Nia erat.


"Eh mas! malu di lihat orang." protes Nia yang seketika melek mencoba memberontak agar Kevin menurunkannya tapi tangan Kevin sudah lebih dulu mengunci tubuh Nia agar tidak bisa bergerak.


"Maaassss ....."


"Suuttttt ..... kamu mau aku dikirain penculik?"


"Ya, enggak,"

__ADS_1


"Kalau enggak mau diam! katanya tadi ngantuk ya udah tidur terus. Aku akan menurunkan kamu nanti pas sampai di hotel." tutur Kevin tersenyum menyeringai.


"Tapi mas, malu dilihat orang." gerutu Nia.


"Untuk apa malu, emang kita berbuat salah haru malu."


"Tapi mas ini tempat ra..." belum sempat Nia melanjutkan kata-katanya Kevin sudah lebih dulu membungkam mulu Nia dengan cara menyatukan bibir mereka berdua.


"Suuttttt, dia! sekali lagi berbicara maka aku tidak akan mengampunimu nanti selepas kita sampai di hotel." ancam Kevin penuh maksud berhasil membuat wajah Nia menciut.


****


"Mas turunkan aku." protes Nia saat mereka telah tiba di hotel bersebelahan dengan bandara. Hotel yang terdiri dari sepuluh lantai itu merupakan hotel berbintang empat. Yang biasanya di khusus untuk para turis berkunjung.


Sama seperti Nia dan Kevin sekarang yang merupakan turis dari Indonesia. Nia dan Kevin seketika di sambut ramah oleh pihak hotel.


Keduanya langsung saja diantarkan ke kamar yang sudah di pesankan. Kamar yang paling mewah dan elegan dari pada yang lain dan tentu saja dengan bayaran begitu fantastis.


Sesampainya kamar Nia terasa tak kuat lagi menahan rasa kantuknya apalagi saat bertatap dengan ranjang. Rasa kantuknya semakin bertambah. Dengan kasar Nia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tanpa memperdulikan Kevin dan beberapa pelayan hotel melihat kejadian itu.


Kevin hanya tersenyum kecil melihat kelakuan istrinya itu, tidak di pukiri dia sebenarnya juga merasakan ke-lelahan seperti apa yang rasakan Nia. Namun Kevin berusaha menguak kan rasa kantuknya agar terus bisa menjaga Nia.


"Terimakasih, kalian boleh pergi." tutur Kevin kepada para pelayan.


"Baik, Tuan. kami permisi, kalau tuan membutuhkan sesuatu silakan secepatnya menghubungi kami." ujar salah satu pelayan hotel lalu setelah itu meninggal kamar.


"Hem'em." Kevin menyahut tanpa berpaling sorot matanya tak berpaling menatap kearah Nia yang sekarang sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Hati Kevin terasa bahagia melihatnya, wanita satu-satunya yang paling ia cintai kini telah hidup semati dengan dirinya. Kevin sudah berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia tidak akan pernah menyia-nyiakan Nia sampai mau memisahkan mereka berdua.


Tangan Kevin penuh lembut dan kehati-hatian menggosok-gosokkan rambut hitam Nia. Sesekali ia menciumi kening istrinya itu lalu membenamkan tubuhnya agar bisa merapat dengan Nia. Ikut tertidur sembari memeluk istrinya tercinta.


Hingga kejadian itu terus berulang dan tanpa terasa kini mereka telah seminggu di Belanda.


Keduanya merasa sudah cukup menghabiskan waktu mereka untuk berbulan madu, kini sudah saatnya mereka kembali Indonesia.


Seminggu terasa begitu singkat tapi cukup leluasa bagi Kevin dan Nia untuk membuat mereka saling mengenal. Hari-hari yang dilalui terasa berbeda terutama bagi Nia.


Yang harus siap melayani Kevin secara lahir dan batin itulah kewajiban utama yang harus di lakukan oleh seorang istri. Kebutuhan Kevin kini tiap hari harus disiapkan terlebih dahulu oleh Nia. Mulai dari pakaian, memasak, mencuci, menggosok, membersikan rumah dan lainnya itulah yang tiap hari dilakukan Nia.


"Halo, mas kamu dimana? cepat pulang! katanya mau pulang ke Indonesia hari ini." ucap Nia melalui sambungan telepon, nada bicaranya berdecak kesal kepala Kevin. Sudah lebih setelah jam dia menunggu sang suami pulang apartemen tapi tidak kunjung juga.


Ya, selepas satu hati tinggal di hotel Kevin menyewa sebuah apartemen yang terbilang mewah.


Dengan sangat terpaksa Nia meraih ponselnya lalu menghubungi Kevin.


"Iya, sayang. Ini lagi mau pulang sebentar lagi juga sampai." jawab Kevin.


"Jangan lama-lama, nanti kita ketinggalan pesawat." gerutu Nia, sudah tau kalau mereka akan pulang mengunakan pesawat internasional karena pesawat jet pribadi telah lebih awal pulang ke Indonesia. Tapi Kevin lagi-lagi berulah atas keterlambatannya.


Nia mengakhiri panggilannya. Dengan penuh sabar Nia kembali menunggu Kevin sampai tiba di apartemen. Semua pakaian sudah ia memasukan kedalam koper termasuk oleh-oleh yang segaja ia siapkan untuk ponakannya Alfin.


Waktu pun berlalu cukup lama, Nia kembali menunggu Kevin sampai setengah jam lamanya tak kuasa menunggu lagi akhirnya Nia kembali hendak menghubungi Kevin tapi sebelum niatnya terlaksana sebuah panggilan dari masuk nomor tidak dikenal menghubungi Nia.


Nia yang penasaran pun akhirnya memilih untuk mengangkat panggilan itu, namun hanya dalam sekejap ponsel yang di genggaman Nia terjatuh kelantai nyaris hampir terkena kakinya.

__ADS_1


"Kevin ....."


bersambung .....


__ADS_2