
Nia
~Cintailah dia sepenuh hatimu, sama seperti dia mencintaimu segenap jiwanya ~
Indonesia.
Nia keluar dari mobil Devan sesaat setelah laki-laki itu keluar terlebih dahulu, menjulurkan kaki mungilnya mengikuti kemana Devan melangkah.
laki-laki berwajah Eropa tersebut tidak berpaling atau menatap Nia, dia bersikap acuh tidak peduli.
Sedangkan Nia mendengus kesal, rasanya ingin sekali ia berteriak memanggil nama Devan sekeras mungkin, sudah membawanya pergi sejauh ini tapi mendiaminya begitu saja.
Sepanjang melangkah Nia masih tetap saja mengumpat kekesalannya dalam hati sembari melangkah mengikuti Devan dari belakang. Walau sedikit susah namun Nia tetap berusaha mengimbangi langkah Devan.
Hingga langkah mereka berdua berhenti seketika saat mendengar suara panggilan sedikit keras memanggil Devan.
"Devan!" seorang wanita tuan yang umurnya kisaran empat puluh tahun berjalan mendekati Devan.
"Mama ...." sahut Devan yang langsung terkejut melihat kedatangan sang ibu yang melahirkannya sedang berjalan menuju kearahnya dan juga Nia.
"Kapan Mama sampai? kenapa tidak memberitahuku." tanpa sabar tangan Devan merangkul tubuh wanita tua yang baru saja dia panggil Mama.
"Sengaja, Mama ingin memberikan kamu kejutan," balas wanita tua itu tak luput mencium kening Devan.
"Siapa dia?" pandangan wanita tua itu teralih kearah Nia yang sadari tadi diam mematung.
"Namanya Nia," jawab Devan sekilas matanya yang hijau menatap Nia tanpa ekspresi.
"Hey, Nia salam kenal." dengan penuh karisma Mama Devan menjulurkan tangannya.
"Oh, salam balik Tante." Nia tersipu menyambut hangat tangan Mama Devan.
"Kamu temannya Fina kan?"
__ADS_1
"Ah... Iya," Nia seketika teringat istri Devan bernama Fina Laksya wanita hamil yang tadi pagi ia temuin di parkiran.
"Tolong jaga menantu saya, dia gampang sekali sedih mungkin efek dari kehamilan pertamanya. Oh ya, dia menunggumu di ruang keluarga." tutur Mama Devan ramah.
"S-saya tidak tau dimana ruangannya," Nia menampakkan gigi putihnya, memang benar ini pertama kalinya bagi dia berada di kantor yang entah dia tidak tau sama sekali. Tapi kantor yang ia pijak sekarang sama besarnya dengan kantor kakak iparnya Ricko.
"Ada di lantai 55 lima. Lina," panggil Mama Devan kearah wanita paruh baya berada dibelakangnya.
"Iya nyonya," sahut Lina memajukan langkahnya.
"Kamu antar Nia ke ruangan Fina." perintah Mama Devan.
"Baik, nyonya." Lina dengan penuh hormat menuntut Nia, membawa Nia kearah lift khusus keluarga.
"Mama mengenal Nia?" tanya Devan kedua biji bola matanya tak berpaling menatap punggung Nia hingga beberapa saat kemudian lenyap karena pintu lift sudah tertutup.
"Fina sudah menceritakan semuanya kepada Mama, Mama rasa dia anak baik dia bisa menjaga kepercayaan Fina." sahut Mama Devan.
"Tapi Fina baru mengenalnya satu hari Mah,"
"Dia mempunyai tunangan Mah, namanya Kevin. Asisten pribadi kakak iparnya sendiri."
"Itu bagus, jadi dia tidak berharap lebih dari hubungan palsu kalian." tukas Mama Devan.
"Sudah Mama ingin rehat sejenak, nanti malam kita bicara lagi." sambung Mama Devan.
****
Di lantai 55, Nia baru saja tiba di sana. Nia langsung saja kembali di tuntun oleh Lina masuk keruangan keluarga yang tak jauh dari pintu lift.
Lantai yang memang dikhususkan untuk keluarga Devan saja.
Setelah mendapatkan izin masuk barulah Lina memberanikan diri membuka pintu berlapis kaca putih yang berdiri tegak didepannya dan setelah itu mempersilahkan Nia masuk ke dalam.
__ADS_1
"Silahkan Nona,"
"Terimakasih."
Kedua mata Nia membulat sempurna manik-manik matanya langsung saja di sambut oleh desain ruang keluarga yang begitu indah, desain mengunakan Romawi kuno berhasil membuat mata Nia tak berkedip menatap keindahan ruangan.
Untuk sesaat Nia tertegun matanya masih terkagum-kagum dengan desain ruangan hingga di persekian detik akhirnya Nia tersadar karena mendapat pukulan kecil dari bahunya.
"Tania." Fina yang sontak senang melihat kedatangan Nia pun menepuk bahu Nia lembut.
"Ahhhhh .... Nona,"
"Jangan bicara formal, panggil saja aku Fina. lagian umur kita setara," ujar Fina sembari mempersilahkan Nia duduk sofa keluarga.
"Aku udah dari tadi menunggu kamu tau enggak, untung tadi Mama sempat kabarin kalau kamu udah tiba di kantor kalau tidak mungkin aku sudah ke kampus." tutur Fina layaknya sahabat dekat, tanpa segan dia berbicara dengan Nia.
"Ahhhhh ...."
"Bagaimana? apa Klara menyakitimu, apa dia mengancam mu? Dia pasti ingin mencoba mendekati suamiku bukan?" tanya Fina bertubi-tubi sorot matanya memperhatikan setiap lekuk tubuh Nia dengan teliti.
"Saya tidak apa-apa, kami hanya bertemu dengannya tadi di parkiran."
"Sudah kuduga, dia pasti tidak akan pernah berhenti mengejar suamiku walau badai menghadang. Dasar wanita tidak tau malu, sudah tau Devan sudah memiliki seorang istri tapi masih tetap saja mengincarnya. Aku sudah kehabisan akal membuat dia mengerti agar bisa menjauhi suamiku." desih Fina dengan nafas memburu karena rasa kesal.
"Mungkin dia sangat mencintai Devan." Nia sedikit memelankan suaranya takut merasa salah berbicara.
"Ya aku tau itu. Dia juga lebih dulu mengenal suamiku tapi tidak seharusnya bukan dia mengejar suamiku terus-menerus." Fina memijit pelipisnya pelan. "Tania, ku mohon jangan pernah jauh-jauh dari suamiku. Aku sangat takut kalau wanita itu menjebak suamiku lagi. Selama ini dia selalu berusaha melakukannya cuma gagal karena aku selalu menghalanginya tapi sekarang aku tidak bisa, dengan keadaan ku yang seperti ini." pandangan Fina meredup menatap perutnya kian membesar.
"Mbak Fina tenang saja, saya tau bagaimana perasaan Mbak kok. Sesama perempuan saya akan berusaha melindungi suami Mbak." Nia menarik nafas panjang. Besok lusa adalah hari pernikahannya dengan Kevin masalah ini juga belum ia beritahukan.
Nia hanya merasa takut kalau masalah ini menjadi besar dan membuat hubungannya dan Kevin renggang.
"Terimakasih..." Fina yang senang mendengarnya segera memeluk Nia erat. Entah kenapa perasaan Fina senang sendiri jika melihat Nia selalu berada di sisi Devan. Rasanya ia tidak takut lagi akan kehilangan suaminya.
__ADS_1
Bersambung.....