Dasar Duda

Dasar Duda
BAB 17


__ADS_3

"Devan, sekali lagi terima kasih ya, kamu sudah menolong ku, kalau tidak aku tidak tau bagaimana nasibku selanjutnya," ucap Nia kini mereka dalam perjalanan menujuk kediaman Nia.


"Iya sama-sama," sahut Devan sekilas melirik Nia.


"Lain kali hati-hati, jangan mudah percaya sama orang karena kita tidak tau orang itu baik atau tidak," lanjut Devan lagi.


"Iya aku akan lebih hati-hati kedepannya,"


"Aku akan melaporkan tuan Arloji atas tuduhan penculikan dan pemerkosaan, perbuatannya tidak bisa di maafkan dia harus diberi pelajaran," ucap Devan lagi ia benar-benar geram atas tindakan pebisnis tua itu.


"Apa kamu yakin?" Nia masih fokus menatap Devan.


"Kenapa tidak yakin, apa kamu pikir aku takut dengan pak tua itu?" tanya Devan keningnya sedikit mengeryit dengan pertanyaan Nia barusan.


"Bukan begitu maksudku, aku tau kamu pasti bisa tapi bukannkah dengan melakukan itu kamu akan mendapatkan musuh," jelas Nia.


Devan terkekeh kecil "Dunia bisnis tidak ada namanya kata damai, semuanya berebut satu sama lain, kalah akan menjadi iri dan iri akan menjadi musuh. Tanpa harus dengan tuan Arloji pun aku sudah banyak musuh dari pembisnis. Yang aku kalahkan,"


Nia kagum dengan Devan tak takut apapun, pria ini disampingnya bener-bener keren, Ah Nia sampai lupa, bukan kah sejak awal ia kenal pria di sampingnya ini memang keren, tidak mudah percaya sama orang dan sangat profesional.


Ya walau pada pertemuan mereka beberapa saat lalu pria disampingnya ini sangat dengan nyebelin tapi sepertinya sekarang ia tarik kata-kata itu.


***


"Deddy, hikkk, kenapa Deddy lama sekali pulang," kesal Yuna memayunkan bibirnya menatap Devan baru saja tiba dirumah.


Devan tersenyum lembut, "Maafkan Deddy ya sayang, tadi Deddy ada keperluan," jelas Devan mencium kening Yuna beberapa kali.

__ADS_1


"Baiklah, Yuna maafin Deddy, tapi Deddy harus kabulkan perkataan Yuna, Yuna pengen ketemu Ante tadi," ucap Yuna kedua bibirnya masih mayun.


Sesaat kening Devan mengerut mencerna perkataan anaknya gadis kecilnya itu.


"Maksud kamu Tante Nia?" tanya Devan, Yuna mengangguk mantap.


"Baiklah tapi besok ya, sekarang Yuna harus istirahat dulu, Deddy juga baru pulang badan Deddy capek, besok saja ya." Devan merasa lelah sekarang.


Yuna pun mengangguk pasrah, "Tapi Deddy janji," Yuna menunjukkan jari kelingkingnya pertada Deddy-nya harus janji menempati.


"Iya sayang, Deddy janji, ya sudah sekarang Yuna ke kamar dulu ya istirahat Deddy mau bicara sama Om Bima sebentar," ujar Devan.


Yuna mengangguk patuh lalu setelahnya benar-benar pergi menuju kamarnya.


Setelah kepergian Yuna ekor mata Devan langsung berpindah ke arah Bima, laki-laki itu hanya diam disana tak jauh darinya.


"Baik tuan, akan saya lakukan,"


"Hm, terimakasih sudah menjaga putriku dengan baik, sekarang kamu bisa istirahat." Devan pun berlalu menyusul Yuna yang sudah terlebih dahulu tiba di kamarnya.


***


Pagi ini tugas niat cukup banyak, dia sibuk memeriksa laporan juga rapat penting yang ternyata rapat dengan perusahaan Devan.


Rapat di adakan di kantor Nia tepat pukul 10 siang membahas banyak agenda tentang perencanaan kontrak kerja sama serta kemajuan kedua belah pihak perusahaan.


Devan mangut-mangut mengerti, diam diam dia kagum dengan kepintaran Nia yang sangat kompeten dalam bidang menjelaskan dan rancangan.

__ADS_1


Ia sangat puas akan hasilnya rapat ini. "Selamat Nona Tania, kami sangat senang dengan hasil kerja ini semoga kedepannya perusahaan kita saling menguntungkan dan berjalan baik," ujar Devan.


"Sama-sama pak Devan," balas Nia dengan sedikit tersenyum.


"Nia," panggil Devan tak kala wanita berstatus janda itu hendak melangkah pergi keluar.


"Iya," Nia menjawab sembari menoleh.


"Aku ingin bicara secara pribadi denganmu," ucap Devan.


Nia terdiam untuk beberapa detik selanjutnya ia mengangguk mengiyakan, ekor matanya berpindah menatap sang asistennya. Seakan mengerti sang asisten pun segera pamit pergi begitu juga dengan asisten Devan.


"Pertama aku ingin minta maaf kepadamu, karena kemarin aku cuek, aku tidak bermaksud hanya saja--"


"Tidak apa-apa, saya maklum kok. Seharusnya saya yang berterima kasi atas kebaikan pak Devan menolong saya, kemarin," sahut Nia memotong perkataan Devan.


"Hm, Yuna ingin bertemu denganmu, dia bahkan tadi pagi sempat mogok makan karena ingin memaksa bertemu denganmu. Sepertinya anak gadisku menyukaimu. Karena sangat jarang dia menyukai wanita dewasa apalagi yang sok dekat denganku," jelas Devan apa adanya.


Memang benar, beberapa wanita mencoba dekat dengan Devan tapi Yuna malah menangis tak suka, seolah-olah papanya akan direbut darinya.


"Oh ya," Nia terlihat sedikit terkejut. "Kenapa kamu tidak mengabariku,"


"Aku tidak ingin menganggu waktu pagimu, kalau kamu tidak sibuk aku ingin mengajakmu makan siang nanti, Soalnya aku janji sama Yuna mengajakmu makan siang," kata Devan entah mengapa bibirnya seakan sedikit kaku mengatakan hal itu.


"Kebetulan aku tidak acara apapun, boleh sekalian aku yang traktir kalian sebagai rasa terimakasih ku karena sudah menolongku,"


Devan mengangguk mengiyakan, setelahnya ekor matanya melirik jam tangan yang melingkari di tangan kekarnya itu. "Ini sudah waktunya jam makan siang, mau bareng?" tawar Devan yang langsung di iyakan Nia.

__ADS_1


***


__ADS_2