
"Sus dimana suami saya? Sus?" dengan tergesa-gesa Nia bertanya. Perasaan yang Nia rasakan berkecamuk tak menentu, Nia tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Rasanya seluruh darahnya naik ke ubun-ubun sebelum dia bisa melihat sendiri bagaimana keadaan Kevin sekarang.
"Nona, atas nama siapa?" tanya salah satu suster yang duduk di bagian resepsionis.
"Kevin, Kevin Anders Tan." jawab Nia secepat mungkin. Air mata terus saja mengalir tak berhenti bersambung terus saja bersambung.
"Maksud Nona, bapak Kevin yang habis kecelakaan tadi?" tanya suster itu menebak membuat Nia mengangguk cepat.
"Bapak Kevin masih diruang UGD. Silahkan Nona, ruang UGD bersebelahan dengan ruang persalinan." ucap sister itu dengan ramah sembari menunjuk ke salah satu lorong di sebelah barat.
Dengan tergesa-gesa Nia menuju kearah yang di tunjukkan, langkah kakinya semakin ia percepat agar segera sampai. Hingga beberapa saat kemudian Nia pun sampai tepat berada di ruang UGD.
Dengan penuh ketabahan Nia menunggu di luar, Nia tau kalau Kevin masih dalam pemeriksaan Dokter saat Nia memperhatikan lampu merah masih menyala di depan pintu masuk UGD.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan mas Kevin, hikkk .... Ku mohon ya Tuhan lindungilah mas Kevin beri dia kesembuhan." berdoa Nia terduduk lemas di bangku tunggu. Air matanya terus saja mengalir tak berhenti sedetikpun.
Tangannya bergetar, entah kenapa Firas buruk mengelilingi pikirannya.
"Fina ...." teriak seseorang laki-laki tiba-tiba datang sembari berlari sekuat tenaganya. Laki-laki itu tak lain tak bukan adalah Devan.
Nia sontak terkejut saat mendengar teriakkan itu apalagi saat dirinya melihat Devan. Sungguh membuat ia tidak habis pikir dengan keberadaan laki-laki itu namun untuk beberapa saat kemudian pun Nia teringat kalau Fina sedang mengandung. Mungkin saja wanita itu sedang melahirkan tebak Nia berasumsi.
__ADS_1
"Dok bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" tanya Devan panik seakan tidak sabar melihat salah satu dokter mengunakan plastik buru membaluti tubuhnya keluar dari ruang persalinan.
Untuk sesaat dokter itu tidak menjawab pertanyaan Devan, terlihat dokter itu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berkata.
"Kondisi pasien untuk saat ini kritis, beliau mengeluarkan banyak sekali darah dan keretakan di lengan sebelah kanannya. Untuk bayi pasien puji Tuhan kami berhasil melakukan operasi Caesar. Hanya saja tubuh anak anda masih dalam kondisi lemah." jelas dokter itu.
"Aaahhhh, syukurlah." akhirnya air mata Devan pun tumpah membasahi pipinya, ada rasa senang dalam lubuk hati Devan saat mendengar kalau bayinya selamat tapi rasa gundah masih menghantuinya mendengar kondisi Fina.
"Apa saya boleh masuk menemui istri saya Dok?"
"Tentu! silahkan." sahut dokter itu tersenyum ramah lalu pergi.
Nia tersenyum senang mendengarnya.
"Permisi apa anda keluarga pasien?" tanya salah dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"I-Iya Dok, saya istrinya! Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Nia sontak terperanjat berdiri.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tubuh pasien saat ini dalam kondisi sangat kritis. Pembuluh darah pasien pecah itu sangat berakibat fatal dan juga ada beberapa benturan di kepala pasien. Kami hanya bisa berharap semoga saja pasien bisa segera melewati masa kritisnya dalam waktu 12 jam kedepan." jawab dokter itu prihatin.
"Apa? hikkk .... Dok, tolong katakan kalau suami saya baik-baik saja kan Dok. Dia pasti akan segera sadar kan Dok." Hati Nia seraya rapuh mendengar keadaan Kevin. Selaku mantan fakultas kedokteran Nia tau betul bagaimana kondisi Kevin sekarang.
__ADS_1
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Nona." sahut dokter itu lalu pergi meninggalkan Nia sendirinya di sana.
*****
Di dalam ruangan UGD
Secara perlahan-lahan Nia menjulurkan langkah kakinya kedepan berusaha tegar dengan apa yang ia lihat. Manik-manik matanya tak berpaling melihat bagaimana tubuh Kevin terbaring lemas di sana. Nia kembali memejamkan matanya untuk kesekian kalinya ia menumpahkan air matanya lagi.
Serasa kantung matanya sudah bengkak karena terus saja menagis.
"Mas, aku disini. Cepat bangun! Ibu, kak Ricko, kak Ratih dan Alfin menunggu kita rumah. Katanya kamu akan membawaku pulang ke Indonesia hari ini hikkkkkk .... Aku tau kamu pasti kuat mas, kamu pasti akan memenuhi janjimu," ucap Nia pilu menciumi tangan Kevin berulang kali. Perasaan Nia tidak menentu tenang atau tidak yang pasti untuk saat ini begitu sedih melihat kondisi sang suami.
Sementara di Indonesia suasana tiba-tiba saja mencengkram meliputi seluruh penghuni mansion. Berita mengenai Kevin tertabrak pun sudah terdengar di telinga penghuni mansion. Terutama Ratih yang merupakan pemberi kabar pertama kepada semua orang.
Ya, Ratih. Dia mendapatkan pesan singkat dari Tania beberapa waktu lalu. Yang mana di sana Nia mengabari kalau dia menunda penerbangan karena Kevin mengalami kecelakaan hebat.
Tentu saja pesan itu menggemparkan semua orang. Ibu Susi yang mendengar berita itu seketika shok berat, tubuhnya melemah hampir nyaris pingsan di tempat. Sedangkan Ricko masih berada di kantor. Ratih segera menghubungi suaminya itu untuk mengabarkan tentang apa yang terjadi sama Kevin.
Sekalian Ratih menentukan jadwal penerbangan ke Belanda secepatnya.
Bersambung .....
__ADS_1