Dasar Duda

Dasar Duda
BAB 14


__ADS_3

"Yuna, sayang. Kamu tidak apa-apa?" ucap seorang laki-laki bertubuh atletis nam tinggi. Dengan sigap laki-laki itu mengambil alih anak kecil itu. Menggendongnya.


Sedangkan Nia tertegun, dia begitu terkejut saat melihat teryata gaunnya sudah basah terkena tumpahan jus. Sedikit berdecak namun Nia berusaha menenangkan hatinya.


"Lain kali kalau berjalan tolong perhatikan jalan Anda. Disini banyak anak kecil." tutur laki-laki itu dengan nada tegas.


Nia yang mendengar itu mengerutkan keningnya. "Dia menyalahkan ku!" batin Nia.


"Hey! kenapa anda menyalahkan saya?" sahut Nia cepat sembari berdiri tegak menatap kearah pria itu.


Hanya dalam hitungan detik keempat pasangan mata itu berhenti berkedip, diikuti kelopak mata membulat.


"Kau ...!"


Mata Nia membulat sempurna, sangat jelas bagi Nia mengetahui siapa sosok laki-laki yang sedang beradu pandang dengan dirinya. Walau mereka sudah beberapa tahun tidak pernah ketemu, tapi memory masa lalu masih terbayang jelas di ingatan Nia.


"Devan!"


"Nia!" Devan berdecak kecil diikuti senyuman tipis tersungging begitu saja di area sudut bibirnya. Seperti biasa dia begitu kaku dan dingin.


"Hahaha .... Bagaimana kabarmu? lama sekali kita tidak bertemu ya! aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu di sini." cibir Nia tersenyum kecil.


"Sayang, ayo kita pergi! bukankah tadi kamu ingin memakan roti lapis?" ucap Devan dingin tatapannya segera ia alihkan kearah Yuni.


"Ye, roti lapis." teriak Yuna sontak antusias mendengarkan makanan kesukaannya. Tanpa sabar Yuna segera menunjuk kearah jejeran makan yang terhidang. "Deddy mau yang itu." tunjuknya ke salah-satu roti lapis yang sudah di taburi coklat dan mayones di atasnya.


Devan pun tersenyum menyeringai lalu beranjak mengambil apa yang di tunjukkan anaknya.


"Hey! aaagggrrr .... Dasar laki-laki tidak punya sopan santun!" ketus Nia menghela nafas panjang.


"Bagaimana ini, gaunku!" rengek Nia berdecak kesal hilang sudah rencananya membuat semua orang kagum kepadanya. Mau tidak mau Nia harus memilih salah satu dari dua idenya. Menggantikan dengan gaun lain atau kembali pulang ke hotel.


"Huuffff ...." Nia menarik nafasnya, setelah ia meraih ponselnya yang di selipkan dalam tas branded.


Dari pada kembali pulang dan tidak mendapatkan apa-apa lebih baik Nia menghubungi Dira, memintanya membawakan gaun lain.


"Halo, Dira," ucap Nia ketika panggilannya terhubung.


"Iya, Nona."

__ADS_1


"Apa kau sudah tiba di acara?"


"Belum, saya lagi bersiap-siap, sebentar lagi!"


"OOO, Dira apa kamu mempunyai gaun ganti, kalau ada tolong bawakan! aku membutuhkannya!"


"Baik Nona. Akan saya bawakan."


"Hem'em."


****


Di ruang ganti.


Karena Nia menghadiri acara fashion show tentu saja tersedia banyak ruang ganti, jadi tidak merepotkan bagi Nia harus pergi ke toilet untuk mengantikan gaunnya.


Dira datang setelah dua puluh menit kedepan, dia langsung ke ruang ganti tempat Nia berada.


"Nona apa yang terjadi dengan anda? kenapa gaun anda bisa basah?" tanya Dira heran.


"Itu, tadi ada anak kecil, tidak sengaja dia menabrak ku." jawab Nia sembari mengambil gaun ganti yang di bawa Dira.


"Aku tidak apa-apa jangan khawatir!"


"Syukurlah. Mari Nona saya bantu." tawar Dira.


*


Di ruang acara, terdengar suara tepukan tangan bergumuru keras. Sepertinya acaranya sudah dimulai. Terlihat para model sedang melanjutkan aksi mereka di atas pentas, menampilkan gaun-gaun terbaru dari perusahaan masing-masing. Devan yang kala itu sedang menikmati acara pun teralih saat melihat putri semata wayangnya berlari kearah belakang panggung.


"Yuna ...." seru Devan terkejut, padahal tadi Yuna berada di sisinya. Tidak menunggu lagi Devan pun berlari mengejar Yuna semakin menjauh.


"Deddy kejal Una ...." teriak anak kecil itu. Dengan gemasnya ia berlari tanpa menoleh kearah kanan dan kiri hingga tanpa sengaja Yuna menabrak seorang Model yang kala itu baru turun dari pentas.


"Aaauuu ...." pekik model itu terkejut.


"Sssss ...." Yuna mengelus-elus kepalanya karena terkena lutut sangat model lumayan keras.


"Kau ...." ucap model itu merapatkan giginya menatap kearah Yuna. Tatapan itu semakin menajam saat model itu menyadari kalau bajunya terinjak oleh kaki Yuni.

__ADS_1


"Bajuku." dengan kasar model itu mendorong tubuh Yuna, hingga membuat Yuna tergusur kelantai.


Dari arah berlawanan Nia sedang berjalan menuju ruang acara dirinya sudah terlambat 10 menit, ckckck padalah tadi ia berencana ingin memperlihatkan gaun hasil rancangannya terlebih dahulu. Tapi karena keterlibatan Nia harus menunggu di bagian terakhir, hal itu sungguh membuat ia kesal.


Nia terus berjalan hingga di saat ia hendak melewati panggung pentas tanpa sengaja matanya berhasil menangkap Yuna tergusur ke lantai.


"Hikkkkkk .... Deddy." tangis Yuna.


"Bukankah itu anak yang tadi." batin Nia memicingkan tatapannya agar bisa melihat lebih jelas.


"Deddy ...."


"Dasar bocah tengil! beraninya kau menabrak dan menginjak gaunku. Apa kau tidak punya mata heh ...." teriak model itu, tangannya hendak ia layangkan mencengkram baju Yuna tapi Nia terlebih dahulu menepis tangan wanita itu.


"Hentikan! beraninya kamu menyakiti anak kecil." gerutu Nia tak kalah tegasnya dengan sang model.


"Yuna, kamu tidak apa-apa?" tanya Nia sembari membungkuk membawakan Yuna kedalam pelukannya.


"Oh, jadi kamu ibunya. Tepat sekali, sekarang juga aku minta kamu mengantikan harga gaun ini, dia telah merusaknya." oceh model itu.


"Ante Una takuttttttttt!" ucap Yuna semakin mempererat pelukannya.


"Tenang, Tante ada disini. Tante tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu," sahut Nia mengelus lembut punggung Yuna.


"Hey, kenapa diam saja. Apa kamu tidak mempunyai uang, hahhhhh .... Bajumu terlihat mewah tapi ternyata kamu orang miskin." sinis model itu memerhatikan Nia dari ujung kaki hingga rambut.


"Kau bilang apa barusan!" tukas Nia segera membalikkan badannya menghadap sang model.


"Kau pikir aku tidak sanggup membayar gaunmu ini. Cihhhh .... Aku bahkan bisa menafkahi mu sampai tujuh turunan." sambung Nia tegas.


"Maksudmu ...."


"Medel rendahan sepertimu seharusnya tidak dipekerjakan di tempat sebagus ini. Kalau aku jadi ambassador malam ini sudah pasti aku akan mengeluarkanmu saat ini juga. Tapi kau beruntung." tegas Nia berhasil membuat model itu gemetar seketika saat mendengar kata ambassador.


"Lain kali berlakulah sopan terhadap anak kecil kalau kamu memang masih ingin bekerja disini." sambung Nia lagi. Sontak membuat wajah sang model menciut.


"Ma-maaf kan saya Nona." tutur model itu dengan gemetar, seharusnya ia sadar kalau dia sedang berbicara dengan siapa.


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2