
Belanda.
Nia
Hari-hari demi hari terus saja berlanjut. Kesibukan Nia sebagai direktur utama PT Modeling Grup sungguh membuat ia lelah mengurusnya. Tiada hari bagi Nia meluangkan waktunya untuk mencari udara segar di luar sana. Karena kesibukan yang teramat membuat Nia serasa seperti mimpi bisa beristirahat walau hanya satu hari.
Hampir setiap Minggu Nia keluar negeri untuk mengikuti ajang fashion week yang di adakan di antar negara. Sebagai perusahaan ternama tentu saja Nia harus ikut serta dalam ajang tersebut. Sekaligus dia bisa mempromosikan produk-produk terbarunya.
Membangun bisnis di usia muda tidaklah mudah, setidaknya sudah berpengalaman atau belajar terlebih dahulu. Karena ketekatan yang sudah menelusuri seluruh aliran darah Nia, sebisa mungkin dia berusaha mengembangkan bisnisnya. Walau Nia sempat mengalami depresi teramat setelah kematian sang suami.
Cuaca cerah di sekitar pusat kota Amsterdam terlihat panas karena cerahnya sinar matahari. Ya, Nia sekarang sedang berada di Belanda. Dia lagi mengikuti acara fashion week di kota Amsterdam. Ini adalah pertama kalinya Nia dapat berkesempatan mengikuti fashion week di Belanda.
Beruntung bagi Nia, karena Nia berpikir sekalian ia ingin menjenguk makam suaminya. Sudah dua tahun lebih Nia tidak ziarah. Rasanya ia begitu merindukan suaminya itu.
Dengan penuh hati-hati Nia menaburkan bunga melati di atas makan Kevin, diikuti isak pilu karena bayang-bayang Kevin kembali terlintas didalam benak Nia.
Ia tidak menyangka kalau Kevin akan secepat ini meninggalkannya, padahal dulu mereka berjanji akan selamanya bersama. Tapi apa boleh buat ini sudah takdir dari yang maha kuasa yang harus diterima Nia.
Sebuah rintikan air mata akhirnya tertumpah dari kelopak mata Nia. Penuh pilu Nia berucap memohon maaf kepada sang suami.
"Maafkan aku mas, andai saja waktu itu aku menghentikanmu untuk tidak pergi dari rumah. Pasti saat ini kita masih bersama-sama. Berjuang dan merintis karir."
"Mas tau, aku sudah berhasil menjadi seorang pengusaha. Ya hahaha. hikkkkkk ..... Itu semua berkat mas Kevin. mas Kevin yang selalu antar-jemput Nia saat kuliah, mas Kevin yang selalu membantu Nia mengerjakan tugas deskripsi. Mas Kevin yang bergadang cuma buat gambar hasil kerja Nia. Hikkkkkk semua yang mas Kevin lakukan sangat berjasa bagi Nia. Terimakasih mas, terimakasih sudah pernah singgah di hati Nia. Terimakasih sudah menjaga Nia. Terimakasih buat semuanya." ucap Nia dengan Isak tangisnya.
Kepergian Kevin benar-benar membuat hati Nia bagaikan batu tertutup tidak ada celah untuk masuk. Hanya Kevin-lah sosok laki-laki yang sampai sekarang mengisi hatinya. Nia bahkan tidak berencana untuk menikah lagi.
__ADS_1
Satu tahun yang lalu Nia sempat di jodohkan dengan anak teman dari ibu Susi, tapi Nia dengan cepat menolak perjodohan itu. Bagi Nia hidupnya sekarang hanyalah sebagai wanita karir tidak lebih dari itu. Masalah rumah tangga Nia sudah membuat jauh-jauh.
***
Hotel Sofitel legen Belanda.
Sepulang dari pemakaian Nia langsung menuju hotel, dia harus bersiap-siap karena sebentar lagi acara fashion week akan di mulai. Sebagai seorang Presdir dari perusahaan ternama tentu saja Nia harus berpenampilan cantik dan elegan.
Sebisa mungkin Nia berusaha menjadi bintang sorot pada malam ini agar dia bisa lebih mudah untuk membuat orang terkesan kepadanya, maka dengan seperti itu Nia lebih mudah menjual produk-produk barang miliknya, pikir Nia.
"Apa kamu sudah menyiapkan gaun yang aku perintahkan?" tanya Nia kepada Dira, sang asisten.
"Sudah Nona. Saya sudah menyiapkan gaun yang di rancang khusus buat anda Nona, agar Nona bisa berpenampilan memukau pada malam ini." sahut Dira sembari memperlihatkan gaun dress yang ia siapkan.
"Bagus, kamu memang pintar memilih gaun." puji Nia.
"Terimakasih Nona atas pujiannya."
"Hem'em, kalau begitu cepat bantu aku bersiap-siap." pinta Nia.
***
Setengah jam telah berlalu kini Nia sudah sepenuhnya siap dengan penampilannya sekarang. Dress hitam pekat yang di taburi manik-manik berkilauan sungguh membuat Nia bagaikan bidadari tanpa sayap, apalagi di lengkapi kalung mutiara putih yang beberapa Minggu yang lalu Nia belikan sewaktu mengikuti ajang fashion week di Prancis, sungguh benar-benar membuat Nia sangat cantik.
Apalagi dress hitam sangat cocok dengan tubuh Nia, tentu saja dia pasti akan menjadi pusat perhatian nanti di sana.
__ADS_1
Acara fashion week di adakan tetap di hotel tempat Nia menginap tapi bukan di lantai 20 melainkan di lantai teratas gedung pencakar langit tersebut. Setelah Nia merasa sudah cukup Nia pun bergegas pergi menuju lift.
Di ruang acara terlihat semua tamu sudah delapan puluh persen terkumpul semuanya, hanya tinggal menunggu beberapa tamu lagi dan acaranya langsung di mulai.
Nia yang kala itu baru tiba di lantai tersebut melanjutkan langkahnya memasuki area acara.
Dengan penuh elegan dan karismatik Nia berjalan memasuki area acara sembari tangan sebelah kanannya menenteng tas branded bermerek Gucci. Tak lupa dengan senyuman ramahnya Nia terus saja berjalan menuju ruang kursi kosong.
Semua pasang mata tentu saja takjub sekaligus terpesona dengan Nia. Tak hanya hanya laki-laki, perempuan pun ikut terpesona melihat Nia begitu memukau.
"Wau so beautiful!" ucap salah satu tamu undangan terpana melihat Nia.
"Ya, beautiful! ini mah bukan manusia tapi dia Dewi." sahut tamu undangan satunya lagi.
Tidak peduli entah berapa banyak pujian yang terdengar. Nia tetap melanjutkan langkah. Dengan elegan Nia terus berjalan hingga tanpa di sengaja seorang anak kecil yang sedang menenteng jus buah di tangannya menabrak Nia.
"Yuna, sayang, jangan lari-lari nanti kepeleset."
Brukkk .....
Dengan sigap Nia merangkul anak kecil itu agar tidak terjatuh karena telah menabraknya. Tidak peduli tumpahan jus telah mengenainya.
"Yuna ..."
Bersambung ......
__ADS_1