
Nia
~Jalanilah hidup ini seperti biasa yang kamu lakukan. Berusahalah untuk tegar karena semuanya pasti akan baik-baik saja~
***
Selama di kampus Nia tidak henti-hentinya berusaha menjauhkan Devan dari Clara. Tubuhnya dengan Devan seakan seperti magnet tidak bisa jauh atau luput dari pantauan.
Walau Clara terus berusaha untuk mendekat Devan tapi Nia lagi-lagi berhasil menghentikan Nia Clara. Hal itulah yang membuat Clara semakin geram dengan Nia.
"Tania Kapoor, aku bersumpah akan membuat kamu membayar semuanya atas apa yang telah kamu lakukan. Sepertinya kamu sangat ingin bermain-main denganku kan. Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu" gumam Clara mendesis kesal.
"Nia, Lo kenapa enggak kampus besok?" tanya Fani sembari mengimbangi langkah mengikuti Nia yang kala itu hendak ke parkiran untuk pulang. Kedatangannya sudah di tunggu oleh Kevin.
Fani yang selaku ketua sekretaris dalam kelas tentang saja tau kalau Nia tidak pergi kampung besok. Kabar itu di beritakan oleh Bu Ani.
"Karena besok hari pernikahanku dan kak Kevin," jawab Nia santai tapi sebelum berkata Nia sempat melirik ke kanan dan ke kiri memastikan kalau tidak ada orang di sekitar mereka.
"Apaaaaa?" mata Fani sekitar membulat sempurna. Kau akan menikah dengan kak Kevin, sementara kau berpacaran dengan Devan." otak Fani belum bisa mencerna dengan jelas apa maksud dari perkataan Nia barusan. Bagaimana bisa seorang wanita memiliki dua pria sekaligus, kening Fani mengerut dalam sembari memicingkan tatapannya kearah Nia .
"Suuttttt .... Jangan keras-keras, bukankah sudah aku bilang ceritanya panjang, aku tidak bisa jelaskan sekarang. Yang jelas besok adalah hari pernikahanku dengan kak kevin, Fan? kamu datang ya. Kamu satu-satunya teman yang paling aku percayai di kampus ini," ucap Nia memasang mimik sedih.
"Emmm .... Baiklah, aku akan datang besok. Tapi kamu harus berjanji dulu akan menjelaskan semuanya nanti jangan buat aku mati penasaran!"
__ADS_1
"Iya-iya," sahut Nia sembari memeluk Fani singkat.
*****
Di perjalanan pulang Kevin tidak henti-hentinya mengajak bicara Nia, bertanya tentang rencana bulan madu mereka. Awalan Nia sempat menolak, dia ingin menunda bulan madu dulu, bukan tanpa alasan karena beberapa Minggu lagi Nia akan memasuki trimester terakhir dalam kampusnya tentu saja dia harus mempersiapkan deskripsi terakhir yang begitu melelahkan.
Tapi Kevin berhasil membujuknya dengan rayuan kalau dia yang akan mengerjakan deskripsi terakhir Nia nanti selepas bulan madu mereka.
"Kira-kira kamu mau bulan madu kemana? sayang?" sekilas mata coklat Kevin melirik kearah Nia lalu pandangannya kembali terfokus kearah jalan jalan.
"Kemana aja suka ati mas," jawab Nia singkat.
"Kalau ke London bagaimana, kamu kan belum pernah pergi kesana!"
"Baiklah, kalau begitu bagaimana bkalau kita bulan madu ke Italia. musim di sana cukup bagus." tawar Kevin lagi.
"Enggak suka, di Italia terlalu banyak orang! Nia pengen suasana sepi."
"Huuufffff ...." Kevin manarik nafas panjang "Sayang, katakan saja tempat atau negara mana yang kamu inginkan, aku pasti akan membawamu kemana pun tempat yang kamu inginkan di dunia ini aku berjanji."
"Aku pengen ke Kanal Amsterdam. Kemaren salah satu temanku pergi kesana dan dia bercerita kepadaku kalau di sana banyak tempat-tempat indah yang perlu di kunjungi aku pengen pergi kesana." rengek Nia layaknya anak kecil.
Hahhhhh dasar wanita, sungguh sulit sekali di mengerti pertama suka ati, kedua sepi, tapi sekarang malah kebalikan dari keduanya. Kevin hanya bisa mengarukkan kepalanya tak gatal. Percuma berdebat tentu saja dia yang harus mengalah.
__ADS_1
"Mas, apa Kakek sudah tiba di Indonesia?" tanya Nia di sela-sela keheningan.
"Sudah, paman sudah sampai tadi malam. Begitupun juga dengan Mawar dan juga Rahul." jawab Kevin sedikit memelankan suaranya ketika menyebut nama Mawar. Sorot mata Kevin mencoba melirik kearah Nia melihat ekspresi yang di tunjukkan kekasihnya itu.
"Oooooo ...." Nia tersenyum menyeringai.
"Pasti di rumah sudah ramai sekarang," ucap Nia lagi.
"Tidak, hanya para dekorasi saja. Paman dan yang lainnya menginap di hotel."
"Kenapa?" tanya Nia seketika menatap kearah Kevin.
"Aku tidak tau," sembari mengangkat kedua bahunya.
***
Malam pun berlarut berganti kembali dengan hari, suasana semakin riuh dari percakapan yang terjadi. Mansion utama keluarga Adiningrat perlahan-lahan penuh akibat datangnya para tamu undangan.
Termasuk Kakek Ami, Rahul, Tania dan beberapa keluarga dari India sudah tiba di mansion. Nampaknya mereka sudah tidak sabar menyaksikan detik-detik Kevin menyebutkan ijab Kabul, mensahkan Nia sebagai istrinya.
Sementara di lain sudut Nia sedang mempersiapkan dirinya yang di bantu oleh perias pengantin ternama.
Bersambung ....
__ADS_1