
Pagi yang cerah. Sebenarnya, tidak terlalu cerah bagiku. Bagiku, ini hari yang biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Padahal, hari ini adalah hari di mana aku pertama kali masuk sekolah di sekolah baruku. Entah kenapa, ini biasa saja untukku. Aku sama sekali tidak merasa gugup, takut, atau hal lainnya yang biasa terjadi pada ummumnya saat pertama kali masuk sekolah.
Sebenarnya, pertama kali masuk sekolah sudah menjadi hal yang biasa untukku. Karena, aku sudah sering pindah sekolah. Ayahku sudah memindahkanku ke banyak sekolah. Ia selalu berkata kepadaku kalau aku tak cocok di sekolah yang ia pilih sebelumnya.
Sejujurnya, aku tak mengerti. Aku baru saja sekolah di sana beberapa minggu, bahkan pernah hanya dua hari aku sekolah di sana, ayah sudah mengatakan kalau aku tidak cocok dengan sekolah itu. bagaimana ia bisa berkata seperti itu padahal aku belum lama sekolah di sana? Saat aku bertanya, ayah berkata “Firasat ayah yang mengatakannya”. Firasat? Apa itu tidak bisa muncul sebelum ayah memasukanku ke sekolah yang dipilih? Yeah, entahlah. Sebaiknya aku berhenti berkata bagaimana perasaanku tentang ini. Akan panjang jika di jelaskan.
Selama perjalanan, aku hanya memandang pemandangan di luar mobil. Masih sangat pagi saat itu. Jadi tak banyak kendaraan di jalan. Sepi di luar mobil. Juga di dalam. Tak ada ayah dan bunda yang sering mengajakku berbincang. Mereka tak bisa ikut untuk pindah sekolah kali ini. Mereka sibuk. Hanya supir mobilku yang ada. Dia pun hanya terus fokus dengan jalan di depan sana. Yeah, begitulah.
Sudah banyak waktu yang terbuang. Hanya dengan menyusuri jalan yang kosong. Tapi tidak lagi. Sekarang kami memasuki jalan yang kecil. Luasnya hanya cukup untuk kami. Jalan ini juga menanjak. Disekeliling hanya ada pepohonan. Lebat sekali pohonnya. Mataku sama sekali tak bisa menembus pepohonan itu. Aku rasa letak sekolah baru kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Jalanan sudah mulai mendatar kembali.
Ayah berkata, sekolah kali ini seperti asrama. Aku akan tinggal di sana selama… ayah tidak berkata berapa lama. Katanya, nanti akan diberi tahu kalau sudah waktunya pulang. Entah kenapa ayah tidak memberi tahu. kalau ayah beri tahu, aku bisa mengira-ngira berapa baju yang harus ku bawa. Mudah-mudahan saja baju yang ku bawa cukup.
“Kita hampir tiba,” kata pak supir mengejutkanku.
“Apa? Hah? Eh, maksudku, ya, baiklah,” kataku. Lalu menyiapkan koper, juga tas yang ada di sampingku, dan bersiap untuk turun.
Di depan sana, sebuah pintu besi besar terbuka lebar. Kami masuk ke sana. Di dalam, sudah banyak kendaraan dan juga siswa-siswi baru bersama orang tua mereka. Supirku memakirkan mobil,dan berhenti.
“Baiklah, kita sudah sampai,” katanya.
Aku membuka pintu mobil.
“Hati-hati ya, belajar yang rajin. Jadi anak yang pintar. Mudah-mudahan saja sekolah ini memang sesuai untukmu,” kata pak supir saat aku mau turun dari mobil.
Aku tersenyum “Terima kasih, pak, tentu aku akan melakukan apa yang tadi bapak katakan.”
“Apa mau bapak bantu untuk menurunkan kopernya?” tanya pak supir.
Aku menggeleng. “Tidak perlu, pak. Saya bisa sendiri. Terima kasih sudah mengantarkan saya ya, pak.”
“Sama-sama. Hati-hati, ya,” kata pak supir.
Aku mengangguk. Lalu turun dari mobil. Setelah menurunkan koper, pak supir melaju pergi meninggalkan. Aku berjalan masuk lebih dalam. Sambil berjalan, sambil melihat sekeliling. Sepertinya, bangunan ini sudah cukup tua. Namun, bangunan nya cukup bagus-menurutku. Mungkin kalau dipikiran orang lain, sekolah ini sangat bagus. Aku rasa.
BRUK!
Aduh! Aku bergeser satu langkah.
“Oh, ya ampun, maafkan aku,” kata seorang gadis yang menabrakku. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Maafkan aku, aku tidak melihat jalan,” katanya.
“Tidak apa,” kataku.
“Ee, kamu juga siswi baru, ya?” tanyanya.
Aku mengangguk dengan senyuman.
“Ah, namaku Helen. Aku suka panggilan itu,” katanya, sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
Aku raih uluran itu. “Namaku Viollet.”
“Viollet? Wah, seperti nama bunga,” kata Helen.
Aku tersenyum. Aku memang jarang berbicara. Hanya membalas dengan ekspresi wajah, dan gerakan kepala.
“Ayo, kita berjalan ke aula bersama,” ajak Helen.
Aku mengangguk. Kami pun pergi ke aula bersama. Di sana, adalah tempat berkumpul siswa dan siswi baru. Aku masuk ke sekolah ini saat penerimaan siswa dan siswi baru. Untunglah. Jadi aku bukan satu-satunya siswi baru di sini. Seperti di sekolah sebelummnya.
***
Penyambutan siswa dan siswi baru di aula sudah di mulai. Aku duduk di sebelah Helen. Di dalam aula cukup luas. Tidak, bukan cukup luas. Melainkan sangat luas. Sepuluh kali lebih luas dari aula di sekolah yang pernah ku sekolahi sebelumnya. Bahkan, ruangan ini tak mirip sama sekali dengan aula. Ruangan ini seperti studio. Iya, aku tak berbohong.
Di depan sana, tampak kepala sekolah sedang menjelaskan tentang sekolah ini. Dan kegiatan yang akan di lakukan di sini. Kegiatan di sini, kedengarannya cukup menarik. Akan ada beberapa kegiatan yang akan di lakukan di luar ruangan. Sehingga, kita lebih dekat dengan alam. Yeah, kedengarannya seru juga.
Aku mendengarkan dengan tenang dan biasa saja. Tak seperti siswa dan siswi lainnya. Mendengarkan dengan penuh antusias. Terutama Helen. Sepertinya, dia anak yang sangat bersemangat. Dari raut wajahnya, setiap kepala sekolah menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, dia seperti tak sabar untuk melakukannya. Yeah, sangat berbeda denganku.
Kami berada di aula cukup lama. Mungkin sekitar dua jam. Setelah kepala sekolah menutup pembicaraannya mengenai sekolah ini, ada seorang kakak perempuan dengan rambut sebahu, menghampiri kami. Aku rasa, dia adalah senior kami.
“Kertas ini yang akan menunjuk kan di mana letak kamar kalian,” katanya ramah, sambil menyerahkan selembar kertas kepada ku dan Helen.
Aku tersenyum, sambil mengambil selembar kertas yang diberikan. Begitupun Helen, ia mengambil selembar kertas yang diserahkan, sambil mengucapkan ‘terima kasih’.
“Baiklah, sekarang kalian sudah boleh pergi dan menuju kamar kalian,” kata kakak perempuan itu sambil tersenyum. Kemudian, ia pergi meninggalkan kami, dan menuju kursi lainnya.
Kami pun pergi meninggalkan aula dan menuju kamar kami.
“Di mana letak kamarmu, Viollet?” tanya Helen.
“Benarkah, kalau begitu kamar kita bersebelahan. Kamarku ada di 16 G,” katanya senang.
Aku hanya tersenyum. Aku kira, aku dan Helen akan sekamar. Karena, biasanya kalau di dalam cerita novel yg pernah kubaca, jika bertemu seperti ini, kami akan sekamar. kami berjalan menuju kamar kami. Kamar kami cukup jauh. Kami perlu melintasi 3 gedung untuk menuju kamar kami. Kami pun hampir sampai ke kamar kami. Tampak nomor kamar kami di depan sana. Helen tampak senang. Ia berlari menuju kamarnya.
“Baiklah, sampai jumpa lagi Viollet,” katanya, sambil melambaikan tangan.
Ku balas lambaian itu sambil tersenyum. Setelah tiba di depan kamarku, ku buka pintu. Di dalam sana, ada dua gadis yang sedang duduk di salah satu kasur. Mereka menatap ke arahku. Aku tersenyum ramah. Mereka membalas senyumanku.
“Hai, kamu siswi baru yang akan tinggal bersama kami, ya?” tanya salah satu dari mereka.
Aku mengangguk.
“Oh, hai! Namaku Alice. Ayo, masuk!” kata seorang gadis yang bertanya padaku sebelumnya.
Aku mengangguk. Kemudian, aku menarik koperku masuk ke dalam.
“Kamu bisa letakkan kopermu di dekat lemari sebelah sana!” ujar Alice.
Aku mengangguk. Lalu meletakkan koper seperti yang ia perintahkan.
“Kasur tingkat di sana, adalah tempat untuk kamu tidur nanti,” jelas Alice tanpa kutanya.
__ADS_1
Aku mengangguk.
“Nanti, akan ada siswi baru lain yang akan tinggal di kamar ini juga. Dia juga akan tidur di kasur tingkat sana. Nanti, kamu atur saja dengannya, siapa yang mau di atas, dan di bawah,” terang Alice.
Aku mengangguk kembali dengan senyuman. Alice menatapku heran.
“Mm, kamu bisa bicara, kan?” tanyanya dengan nada hati-hati.
Aku mengangguk.
“Ah, ku kira kamu tidak bisa bicara. Karena sejak tadi kamu hanya mengangguk dan tersenyum,” ujar Alice dengan cengiran.
Aku tersenyum. Lagi.
“Oh ya, perkenalkan, di sebelahku ini adikku. Namanya Alicia. Kami kembar. Namun, kami bukan kembar yang identic,” ucap Alice.
Aku menatap Alicia. Ia tersenyum manis. Benar, wajah mereka sangat berbeda. Dari wajah mereka, sudah tampak jelas sifat mereka berbeda. Dari wajah Alice, ia tampak berani, percaya diri, dan pandai bergaul. Sedangkan Alicia, ia tampak sedikit pemalu, dan manis. Rambut Alice pendek sebahu. Sedangkan Alicia, rambutnya sedikit panjang. Sepanjang punggung.
“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanya Alice.
“Eh, namaku, Viollet,” ujarku.
“Wah, nama yang bagus. Itu nama bunga, kan?” kata Alicia.
Aku tersenyum, lalu mengangguk.
Kreeek!
Suara pintu terbuka. Tampak seorang gadis si luar. Dia tampak cantik. Rambutnya bergelombang dan panjang. Sepanjang pinggang.
“Halo, selamat datang. Ayo, silahkan masuk,” kata Alice mempersilahkan.
Dia masuk tanpa sedikit pun senyuman. Dia meletakkan kopernya di sebelah koperku. Melihatnya, firasatku jadi tidak enak.
“Hallo, namaku Catrine,” katanya setelah meletakkan kopernya.
“Hai, selamat datang, aku Alicia. Dia Viollet. Dia siswi baru, sama sepertimu,” kata Alicia, memperkenalkan diri dan diriku.
Aku tersenyum, sambil melambaikan tangan.
“Hai, maaf, aku sedikit canggung. Karena pertama kali masuk sekolah,” kata Catrine.
“Ah, tidak apa-apa. Santai saja,” ujar Alice.
“Apa aku akan tidur di kasur ini?” tanya Catrine.
“Yup, kamu akan tidur di kasur tingkat itu bersama Viollet,” ucap Alice.
Catrine menoleh ke arahku. “Apa kamu tidak keberatan jika aku tidur di atas?”
“Oh, iya, aku tidak keberatan,” kataku.
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa. Tapi perasaanku jadi tidak enak.
-Bersambung