
"Kamu baik-baik saja, Viollet? Sedari tadi kamu terus melihat ke belakang," ujar Ketua kelas.
"Oh, aku-"
"Viollet!" Panggil seseorang memotong.
Aku menoleh. Itu Alex.
"Ingin kemana?" Tanya Alex.
"Mm, ke kantin," jawabku.
"Oh, mau ke sana bersamaku?" Tanya Alex lagi.
"Ehem," Ketua kelas berdehem. "Maaf, bagaimana kamu bisa kenal dengan, Viollet?"
Alex menoleh. Menatap lawan bicaranya.
"Oh, kami tidak sengaja bertemu beberapa hari lalu, dan di situlah kami berkenalan," jelas Alex.
Ketua kelas hanya mengangguk. Seperti... Kesal? Entahlah.
"Oh ya, namaku Alex," Alex mengulurkan tangan.
Ketua kelas mengambil raihan itu. "Bryen."
Inilah pertama kalinya aku tahu kalau nama Ketua kelas adalah Bryen.
Selesai jabatan itu. Alex kembali berbicara.
"Bagaimana, Viollet? Kamu mau ke kantin bersama ku?"
"Em-"
"Memangnya kamu siapa berani mengajak Viollet untuk ke kantin bersama?" Bryen memotongku.
Alex hanya tersenyum. "Kalau begitu, siapa anda dari Viollet, sehingga tidak mengizinkanmengizinkanku untuk bertanya seperti itu kepada Viollet?"
Mereka saling tatap. Bryen dengan mata kesal. Dan Alex menatapnya dengan senyuman. Senang karena bisa menjawab pertanyaan Bryen.
Mereka saling menatap cukup lama. Melihat mereka berdua, aku jadi tidak nyaman. Aku seperti orang yang direbutkan. Seperti di novel saja.
"Ehem," aku berdehem. "Cukup, ada apa dengan kalian?" Tanyaku polos.
"Hanya masalah kecil," Alex yang menjawab dengan senyuman.
Bryen masih sangat kesal. Karena Alex bisa menjawab pertanyaannya. Dia menyilang kan kedua tangannya di dada.
Aku menghela napas panjang.
"Aku akan pergi ke kantin duluan," kataku. Pusing dengan mereka berdua. Aku rasa aku tau sekarang rasanya di antara dua laki-laki merebutkan satu wanita. Tapi apa itu benar? Mereka merebutkan ku? Lupakan saja.
Aku melangkah menuju kantin. Dengan senyuman yang masih menatap Bryen, dia pergi menyusulku.
__ADS_1
"Viollet, tunggu. Aku ikut!" kata Alex.
Bryen tampak sangat kesal. Walau aku tak melihat nya, tapi aku rasa begitu. Entah kenapa Bryen tak menyusul. Bukannya mau, cmn... Gmn ya, dia seperti tidak setia. Hehehe... Ya, pikiran ku sekarang mulai rada-rada aneh.
Selama perjalanan kembali ke kantin, terlintas kembali di benak ku tentang Monalisa dan Helen. Apa yang mungkin akan terjadi? Tatapan kesedihan dari Monalisa, itu menggangguku. Mungkinkah… mungkinkah Monalisa yang diincar kali ini? Tapi, bagaimana dengan Helen? Dia yang mengalami hal yang sama seperti yang terjadi pada Alicia. Tapi mungkin saja, sebenarnya makhluk itu mengincar Monalisa. Dia menggunakan Helen untuk membuat perhatian, dan diam-diam makhluk itu melakukan hal yang sama pada Monalisa.
Tapi yang aku herankan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa makhluk itu mengincar banyak orang? Kalau dulu, hal yang terjadi pada teman Monalisa, terjadi karena makhluk yang sama, kenapa saat itu, dia hanya mengincar satu? Dan, kenapa selama ini makhluk itu hanya mengincar perempuan? Apakah dia memang belum mengincar anak laki-laki? Mungkinkah lain waktu? Terdapat banyak pertanyaan yang muncul di benak ku. Jawabannya, memang harus dicari tahu. Namun, kali ini, aku harus mencari jawaban pertanyaan yang satu ini. Sebenarnya, makhluk itu mengincar Helen atau Monalisa? Aku harus mencari tahu jawabannya. Mungkin, jika aku tahu, aku bisa melakukan sesuatu agar tak terjadi hal yang sama menimpa pada orang lain. Benar, aku harus cari tahu. Dan…
“Ada apa? Kamu tampak serius?” tanya Alex.
Aku menoleh ke arahnya. “Hah? Oh, itu, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja,” ujarku.
“Tak perlu berbohong. Aku tahu kamu khawatir, Viollet,” kata Alex.
“A… apa maksudmu?” tanyaku. Pura-pura tidak mengerti.
“Aku tahu, kamu khawatir, hal yang menimpa Alicia, terjadi pada yang lainnya. Aku tahu, kamu sangat peduli dengan orang lain. Itu keren. Luar biasa. Tapi, jangan membebankan dirimu akan hal itu, Viollet,” kata Alex. Wajahnya tampak khawatir.
Ya, memang semua di satu sekolah ini tahu kejadian yang menimpa Alicia. Tapi, kalimat, kamu sangat peduli dengan orang lain. Kalimat itu seakan dia sudah lama mengenalku. Aneh. Padahal kami baru bertemu satu kali. Dua kali dengan yang ini. Selain itu, semua kalimat yang diucapkan Alex, sangat manis di telinga ku. Mengapa? Namun saat itu aku tak memikirkan nya. Aku lebih fokus ke satu hal. Makhluk yang mengincar orang-orang.
Mendengar hal itu, sepertinya aku tak bisa menghindar.
“Jangan sampai kamu lelah, terlalu khawatir, dan hal yang kamu pikirkan membebankan dirimu, Viollet. Aku tak ingin kamu mengalaminya,” lanjut Alex.
Aku tersenyum. “Aku tak membebankan diriku, Alex. Semuanya ini karena pilihanku sendiri. Bukan karena di paksa. Jadi, kamu tak perlu khawatir.”’
Tunggu apa yang kukatakan barusan? “Jadi kamu tak perlu khawatir?” itu kata yang aneh, apa lagi kepada laki-laki. Tapi, apa peduliku saat itu. aku hanya menganggap kalau kami teman dan itu tak masalah. Yeah, begitulah.
“Yeah, kamu benar. Aku rasa, aku yang terlalu membebankan diriku,” ujar Alex.
“Ah, itu, hehehe, buka apa-apa,” wajah Alex tampak mmm… terkejut? Ah, tidak, mungkin seperti panik? Karena tak sengaja keceplosan? Ya, aku rasa begitu. Atau mungkin yang lain. Mungkin kamu bisa menebaknya.
Aku hanya tersenyum kecil, dan mengangguk-angguk. Lalu. Hah? Aku berhenti.
“Ada apa?” tanya Alex.
Aku seperti merasakan sesuatu. Tak sempat menjawab pertanyaan Alex, aku berbalik arah dan bergegas lari menuju ruang kelas. Alex yang melihat akan hal itu.
“Viollet!” panggil Alex, dan berlari menyusulku.
Aku berlari dengan cepat. Wajahku panik. Begitu tiba di depan pintu kelas, aku lekas membuka pintu. Tak bisa. Aku berusaha membuka. Tetap tidak bisa. Alex tiba di belakangku. Dia masih bertanya.
“Apa yang terjadi?”
Aku tak menjawabnya. Ku gedor pintu kelas berkali-kali dengan tanganku.
“Buka pintunya. Buka pintunya!” teriakku berkali-kali. Tetap tak dapat terbuka. Aku merasakan aura yang begitu pekat. Tidak!
“Buka pintunya, ku mohon, BUKA PINTU NYA!” teriakkanku kali ini lebih lantang. Aku gedor-gedor pintu kelas dengan tanganku. Tetap tak kunjung terbuka.
Alex yang masih tak mengerti apa yang terjadi, tapi merasa kalau hal ini darurat dan serius.
“Viollet, bisa kamu menepi sebentar?” tanyanya.
__ADS_1
Aku mematuhinya. Alex bersiap. Seakan ingin berkelahi. Dia memasang kuda-kuda, dan... menendang pintu itu.
Bruk!
Tak terbuka. Dia menendang pintu kelas kembali. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
BRUK!
Belum terbuka. Sekali lagi dia menendang pintu kelas, tenaganya kali ini lebih kuat lagi.
BRUK!!
GUBRAK!
Pintu terbuka. Aku senang sekali. Aku menoleh pada Alex.
“Terima kasih.”
Alex mengangguk sambil tersenyum. Aku segera masuk ke dalam ruangan kelas. Ruangan nya gelap. Semua cahaya dari jendela ditutupi gorden. Tak ada sedikit cahaya pun yang masuk. Kecuali dari pintu yang selepas di buka atau di tendang oleh Alex. Di sini, juga tak ada siapa-siapa. Sepertinya semua siswa-siswi yang piket sudah pergi meninggalkan kelas.
“Kenapa ada kabut ungu pekat di sini?” tanya Alex.
Setelah kuperhatikan, memang ada kabut asap ungu pekat, ada di mana-mana. Tunggu! Kabut asap ungu? Kabut asap ini juga ada saat Alicia… mungkinkah? Aku mulai khawatir. Perlahan kabut asap ungu menghilang. Aku mulai tajam melihat sekeliling. Aku melihat sesuatu. Di paling belakang ruangan ini.
“Alex, kamu melihat itu?” tanyaku. Memastikan kalau itu bukan halusinasiku.
Alex menoleh ke arah tatapan ku. “Ya, aku melihatnya.”
Seoarang perempuan berdiri di meja. Dengan rambut tergerai panjang. Dia menunduk. Hah? Mungkinkah itu? Aku berlari mendekat. Alex menyusulku. Tiba di sana. Aku masih belum melihatnya dengan jelas. Perlahan aku mendekat. Tiba-tiba, tubuh itu jatuh dari meja. Aku menangkapnya. Aku menyeka rambut panjang di wajahnya yang menutupi. Kini, aku melihat wajahnya dengan jelas.
“HAH!?!” teriakku. Aku melepas tubuh itu. Kini tubuhnya tergeletak di bawah.
Alex juga tampak terkejut melihat wajahnya. Aku terduduk. Mataku mulai basah. Aku terlambat. Aku tak bisa menyelamatkannya. Dia, Monalisa. Keadaannya sama seperti Alicia. Matanya terbuka. Sama sekali tak berkedip. Bola matanya berwana ungu pekat. Sekeliling bola matanya seperti ungu tercampur putih. Wajahnya tirus dan tampak pucat. Aku menangis tersedu-sedu. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Aku tidak bisa menyelamatkannya.
Alex mengerti kesedihanku. Dia duduk di sebelahku. Dia menatap tubuh Monalisa.
“Aku tahu perasaanmu. Itu pasti menyakitkan.”
Aku menangis lebih keras. Alex menoleh kepadaku.
“Viollet, tenang. Mungkin kita masih bisa menyelamatkannya. Dia masih hidup. Kita bawa tubuhnya ke UKS, ya?” ujar Alex selepas dia mengecek dengut nadi Monalisa.
Aku mengangguk. Aku meraih tubuh Monalisa, dan membawanya. Air mataku trus mengguyur wajahku. Bersama Alex, aku pergi ke UKS.
***
Aku melihat Monalisa sedang diperiksa. Dia berada di ranjang sebelah ranjang Alicia. Melihat mereka berdua, aku tak tahan menahan air yang membasahi mataku. Sudah banyak air yang kukeluarkan. Alex di sebelahku, melihatku dengan tatapan sedih. Wanita yang memeriksa Monalisa berhenti. Monalisa sudah selesai diperiksa.
Aku menyeka air di ujung mataku.
“Bagaimana keadaannya?”
Wanita itu menggeleng. “Sama seperti sebelumnya. Ibu tak tahu keadaannya. Dia masih bisa bernapas. Tapi, ibu rasa kesadarannya hilang, dengan mata terbuka seperti itu. Ibu tak yakin dia baik-baik saja. Sama seperti Alicia. Kita doakan saja, ya, semoga mereka lekas membaik.”
__ADS_1
Aku menangguk. Aku menatap mata Monalisa. Tiba-tiba... hah?
-Bersambung