Deletorian School

Deletorian School
Catrine


__ADS_3

Akhirnya, *** pun selesai. Aku menunggu hal ini. Aku bosan selama ***. Sangat bosan. Selain itu, aku lebih memerhatikan Helen dari pada materi pelajaran.


Aku bersiap kembali ke asrama. Ku rapihkan buku-buku di laciku. Begitu juga bukuku. Ku susun dengan rapih di dalam ranselku.


“Viollet, kamu sudah selesai?” tanya Helen.


“Belum, kamu duluan saja, Helen,” ujarku.


“Apa? Tapi…”


“Tak perlu khawatir. Aku akan menyusul. Lagi pula, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”


Sebenarnya, aku tak begitu yakin. Hehehe...


Helen mengangguk. “Baiklah.”


Helen mulai melangkah meninggalkan kelas. Setelah beberapa saat, aku pun selesai. Kamu pasti bertanya-tanya apa yang aku lakukan sehingga membutuhkan waktu yang lama. membereskan alat-alat tidak selama itu. sebenarnya, aku pura-pura melakukan kesibukan agar Helen pergi lebih dulu. Aku tahu, itu tak baik. Tapi mau bagaimana lagi. Aku rasa hanya itu agar dapat membuat Helen pergi. Aku rasa.


Aku sengaja untuk tetap di kelas, agar dapat berbicara dengan Monalisa. Aku masih penasaran apa yang terjadi pada Helen saat kegiatan Seni Rupa tadi.


Aku pergi menemui Monalisa. Dia sedang membersihkan kelas. Dia piket hari ini. Tiba di depannya.


“Hai, Mona,” sapaku. Belakangan ini, aku sering memanggilnya Mona. Begitu juga teman kelasku yang lainnya.


“Hai, ada apa?” tanyanya.


“Aku hanya ingin bertanya. Apa yang terjadi pada Helen sebenarnya saat kegiatan Seni Rupa tadi?”


“Oh itu,” Monalisa menggeleng. “Aku juga tak begitu mengerti. Saat itu, Helen tampak ketakutan. Dia mengepalkan kedua tangannya. Tangannya juga bergetar. Dan dia, terus memanggil namamu, Viollet.”


“Benarkah?” aku terkejut.


“Yup.”


“Tapi… mengapa aku tidak mendengarnya?” aku masih tidak percaya.


“Suaranya memang kecil. Hanya aku yang bisa mendengarnya,” jelas Monalisa.


Aku masih tidak mengerti. Kenapa Helen memanggil namaku? Ada apa dengan Helen?


“Aku tahu itu, itu sulit di mengerti. Aku juga bingung. Dia juga berkata lain selain memanggil namamu,” kata Monalisa.


“Apa?” tanyaku.


“Dia memanggil namamu berkali-kali. Hingga dia berkata, “Viollet, tolong aku. Ku mohon. Tolong aku, Viollet. Aku membutuhkanmu” setelah itu dia kembali memanggil namamu berkali-kali. Lalu dia berkata kembali, “Tidak, jangan, lepaskan aku. Tolong aku, Viollet” lalu dia berteriak, dan selanjutnya kamu tahu kejadiannya, kan?” jelas Monalisa.


Aku mengangguk.


“Karena itu aku membuatnya duduk di sampingmu. Karena aku yakin, dia akan tenang di dekatmu,” ujar Monalisa.


Aku mengangguk paham.


Lenggang sejenak. Aku berpikir sejenak. Kejadian yang terjadi pada Helen, sama persis seperti kejadian yang menimpa Alicia. Aku takut selanjutnya… uurgh, aku menggeleng kan kepala. Tidak! Aku harus berpikir positif. Aku mengepal kedua tangan ku dan mengangkat nya. Tidak! Aku yakin semuanya baik baik saja. Baik-baik saja. Ya kan?


“Aku tahu kamu khawatir. Kamu adalah teman terbaiknya,” ujar Monalisa yang sedikit heran dengan tingkah laku ku.


Aku menatapnya.


“Tidak juga. Kami hanya teman biasa,” kataku datar.


“Bagitukah? Tapi aku rasa Helen dan…” Monalisa berhenti. “Yeah, kau tahu siapa dia, kan?”


Aku mengangguk. Yang di maksudnya adalah Alicia. Seperti yang kukatakan. Tak ada yang berani menyebutkan nama Alicia. Semenjak kejadian itu.


“Yeah, Helen dan dia, aku rasa mereka berpikir berbeda,” kata Monalisa meyakinkan.


“Benarkah?” aku masih tidak begitu percaya.


“Yeah, itu benar. Aku melihat, Ali… eh, maksudku, dia, tampak berbeda kepadamu dengan yang lainnya. Dia seperti dekat denganmu. Sama dekatnya seperti dia dengan kakaknya,” jelas Monalisa.


“Begitu ya.” Mendengar hal itu, aku jadi memikirkan sesuatu.


“Yeah, oh ya, aku jadi teringat,” Monalisa seperti tampak mengingat-ingat.


“Apa itu?” tanyaku penasaran.


“Apa kamu pernah mendengar siswi sebelumnya yang bernama Catrine juga?” tanya Monalisa.

__ADS_1


Aku menangguk.


“Yeah, dan apakah kamu tahu, pernah terjadi hal yang sama seperti Ali… eh, maksudku dia,” Monalisa hampir saja menyebutkan nama “Alicia” lagi. Sebenarnya bagiku tak apa. Aku tak keberatan dan merasa baik-baik saja jika nama itu disebutkan. Tapi mungkin tidak dengan siswa-siswi lain. Masih ada siswa-siswi lain yang masih berada di kelas. Terutama yang piket hari ini.


Aku yang mendengar jelas perkataan Monalisa, langsung terdiam. Benarkah? Jadi pernah terjadi hal seperti ini juga? Tentu saja aku penasaran. Aku langsung serius mendengarkan. Aku sangat antusias untuk mendengarkan cerita itu. Tapi rasa antusiasku tidak langsung terpasang di wajahku. Di wajahku, terpasang wajah yang begitu serius.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanyaku serius.


“Aku akan menceritakan dari awal saja. Karena jika aku menceritakan dari situ, kamu mungkin akan bingung. Tidak masalahkan? Karena cerita ini mungkin cukup panjang. Ini akan memotong jadwal istirahatmu,” Monalisa memberi tahu dengan wajah yang santai.


Aku mengangguk. Masih dengan wajah yang serius.


“Baiklah aku akan memulainya. Empat tahun yang lalu, itu berarti saat aku kelas enam SD. Ada anak yang bernama Catrine. Dia masuk saat awal-awal kelas lima. Dia cukup pendiam. Namun, dia itu pandai. Semua guru senang padanya. Karena dia selalu mendapatkan nilai yang sempurna. Namun, ada saja yang cemburu akan hal itu. Terdapat dua anak laki-laki yang tak senang padanya. Karena dia pendiam, anak-anak itu menyimpulkan kalau Catrine yang di saat itu menyombongkan diri karena dia tak mau berbicara ada teman seangkatan nya. Yeah, begitulah sikap anak yang iri pada seseorang,” kata Monalisa dengan nada kesal.


Aku diam saja. Menunggu cerita itu dilanjutkan.


“Dua anak yang iri itu atau bisa dikatakan cemburu, yeah, itu sama sajakan,” Monalisa bertanya padaku.


Aku menangguk. Astaga, aku lagi serius mendengarkan, dia malah bertanya. Tapi tak apa, aku selalu menunggu.


“Yeah, dua anak itu, dia selalu mengejek dan membuli Catrine, pada saat itu. Mungkin, dipikiran mereka, jika mereka mengejeknya, Catrine saat itu akan keluar dari Deletorian School, tapi aku tak tahu yang pastinya. Namun, Catrine saat itu, tak mempedulikan dua anak yang membulinya. Dua anak itu kesal. Jadi, mereka membuat rumor tentang Catrine, di saat itu, agar semua orang tak senang dengannya. Itu berhasil, tapi hanya sebagian anak saja. Sebagiannya tak percaya. Yang tidak mempercayai mereka, memarahi anak-anak itu, dan membela Catrine di saat itu. Terutama salah satu teman sekamar Catrine saat itu. Dia sangat membelanya. Walau, Catrine saat itu, selama dia di kamar itu, tak pernah mempedulikan anak yang membelanya itu, dan tak pernah berbicara padanya. Karena hal itu, Catrine saat itu menjadi teman dekat dengan teman sekamar yang sangat membelanya.


“Oleh sebab itu, dua anak yang iri, atau cemburu pada Catrine saat itu, mereka sangat kesal. Jadi mereka melakukan hal yang sangat aku tidak suka. Pada keesokan harinya, semua anak kelas enam SD, tercengang melihat kelas mereka. Begitupun di kelas Catrine pada saat itu. Ada aku dan teman dekat Catrine saat itu. Kami teman sekelas dengan Catrine-jika kamu ingin tahu. Kami semua terkejut. Kecuali Catrine, saat itu. dia tampak biasa saja. Menurutku, dia tak peduli dengan hal yang terjadi. Ketua kelas berteriak marah. “SIAPA YANG MELAKUKAN INI? DIA AKAN MENDAPATKAN HUKUMAN YANG BERAT!!” teriak ketua kelas. Dengan senyuman yang licik, kedua anak itu berkata, “Catrine.” Semua anak terkejut dan menoleh padanya. Catrine saat itu, wajahnya langsung pias. Dia membela diri kalau bukan dia yang melakukannya. Banyak yang percaya akan tuduhan dua anak menyebalkan itu. Jadi mereka tak mempedulikan pembela-an diri Catrine di saat itu-“


“Tunggu!” aku memotong. Astaga, ada-ada saja, kenapa aku harus memotong cerita Monalisa. Padahal itu adalah bagian terserunya. Aku memang aneh.


“Ya? Kenapa?” tanya Monalisa.


“Ehm… bolehkah kamu hanya menyebutkan nama Catrine di saat itu, ‘Catrine’ saja? Karena, hal itu sedikit ehm... menggangguku, dan aku tahu kalau itu adalah Catrine yang saat itu. Bukan yang saat ini,” tanyaku. Berusaha untuk mengucapkannya dengan sopan. Kalau aku boleh jujur, aku menyesal sudah bertanya. Maksudku, hal itu memang sedikit menggangguku, tapi kenapa aku harus bertanya di bagian yang paling penting? Astaga, ugh.


“Baiklah, kalau begitu,” wajah Monalisa tampak santai. Tak keberatan. “Boleh kulanjutkan ceritanya?”


Aku mengangguk.


“Baiklah, um… sampai mana tadi ya? Oh ya, Banyak yang tak percaya pada dua anak menyebalkan itu, dan-“


“Bukankah sebelumnya kamu bilang, “Banyak yang percaya"? Pada kedua anak itu?” tanyaku. Memotong lagi. Ya ampun.


“Yup, benar. Memangnya tadi aku bilang apa?” tanyanya.


“Tak percaya,” jawabku.


Aku mengangguk. Tidak apa-apa.


Okey, aku minta maaf pada mu, pembaca. Aku seharusnya tak mengetikkan hal itu di sini. Karena itu memotong kembali, bagian terpentingnya. Mungkin kalian sedang penasaran apa yang terjadi. Tapi, mau bagaimana lagi? Hal itulah yang terjadi. Tak mungkin aku akan berbohong. Oh, maaf saharusnya aku tak mengatakan terlalu lama. Itu akan membuat lama ceritanya kembali diceritakkan. Kamu pasti penasaran. Oh lagi, maaf, seharusnya aku tak berbicara terlalu lama. Kamu mungkin penasaran dengan hal yang terpenting terjadi saat itu. Astaga, lagi? Lupakan. Kata “Maaf” untuk yang terakhir kalinya. Baiklah, kembali ke cerita.


“Bisakah kita kembali ke cerita?” tanyaku.


Monalisa mengangguk. “Baiklah, ayo mulai kembali. Mereka yang percaya dengan dua anak menyebalkan itu, tak mempedulikan apa yang dikatakan Catrine saat… oh ya, maaf. Yang dikatakan Catrine. Jadi, Catrine bertanya pada dua anak menyebalkan. “Apa kalian punya bukti?” tanyanya. Mereka berdua tersenyum jahat. Dengan santai, mereka menunjukkan beberapa foto. Di foto itu, terdapat anak yang menghancurkan semua ruangan kelas enam, dengan wajah yang tersenyum jahat. Dan, anak itu… kamu bisa menebaknya, bukan? Aku tak kuat untuk mengatakannya,” Monalisa memberitahu. Wajahnya tampak sedih.


Aku mengangguk. Aku mengerti. Aku pun merasa sedih. Entahlah, tak tahu kenapa, aku hanya sedih. Rasanya... Huuh, rasanya seakan tak kuat untuk mendengar lanjutan cerita nya. Oh ya, anak itu adalah Catrine masa itu. Seharusnya, itu sudah ketebak, bukan? Huuh...


“Yeah, tentu sudah jelas. Catrine yang melihatnya terkejut tak terkira. Dia berkata kalau itu bukan dirinya. Lalu salah satu anak itu berkata, “Penjahat mana mungkin akan mengaku,” ujar anak itu. “Coba tanyakan saja pada teman sekamarnya. Apa saat malam hari Catrine keluar?” anak yang lain menimpali. Wajah Catrine tampak cemas. Aku melihat sendiri dengan mataku. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Teman sekamarnya-bukan teman baik Catrine. Teman sekamarnya itu berkata “Catrine keluar kamar, dan lama tidak kembali. Aku memerhatikannya.” Semua siswa-siswi langsung menoleh ke arah Catrine dengan raut wajah marah. Catrine meremas jemari. “Aku tidak melakukannya,” teriak Catrine. dia terus berkata itu, bahkan sampai dia menangis. Namun, apa daya, semua tidak percaya dengan semua apa yang dikatakan Catrine. Mereka selalu menganggap, kalau penjahat tidak akan pernah mengaku.


“Catrine menatap, teman dekatnya. “Kamu percaya padaku, kan? Aku tidak bersalah, kan?” ujarnya pada teman dekatnya. Temannya itu, raut wajahnya marah. Warna wajahnya merah. “BAGAIMANA MUNGKIN KAMU BISA MELAKUKAN HAL ITU!?! TEGANYA KAMU MELAKUKANNYA!!!” temannya itu berteriak marah kepada Catrine. Air mata Catrine mengucur deras. Tak percaya teman dekatnya itu percaya pada dua anak menyebalkan. Dua anak itu tersenyum jahat. Mereka telah menguasai permainan. Catrine menoleh pada dua anak itu. Dia menunjuk dua anak itu. “Lihat, mereka tersenyum. Mereka pasti memfitnah diriku!” teriak Catrine. “Setelah kamu melakukan hal ini, BAGAIMANA MUNGKIN KAMU BISA MENUDUH ORANG LAIN!?! MEMANG TIDAK PUNYA HATI KAMU!!!” bukan kedua anak itu yang berkata. Bukan mereka yang membela diri. Bukan mereka yang berteriak. Melainkan…” Monalisa berhenti sejenak. Baru kusadari, ternyata mata Monalisa telah mengeluarkan air sejak tadi. Aku seperti menebak siapa yang berteriak. Aku menunduk. Hati ku bergetar.


Monalisa membuka mulutnya. “Melainkan… melainkan teman Catrine sendiri. Teman terdekatnya. Melihat hal itu, air mata Catrine membasahi pipinya. Air matanya mengucur deras. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Wajahnya masih teringat jelas di kepalaku. Aku mengingatnya dengan jelas.


“Ketua kelas dengan beberapa siswa lainnya, membawa Catrine ke ruangan kepala sekolah. Entah apa yang terjadi di sana. Aku tidak ikut pergi. Aku tak tahan melihat Catrine yang terus menangis. Setelah itu, terdengar kabar kalau Catrine di keluarkan dari Deletorian School. Catrine pergi, dan…" Monalisa menggeleng-gelengkan kepala "dan setelah itu tak ada kabar tentang Catrine,” wajah Monalisa di penuhi air mata, yang mengucur deras.


Mataku mulai basah. Tak bisa menahan air itu. Hatiku telah bergetar hebatnya.


“Mona, kenapa kamu tidak membelanya? Kamu tahu kan, kalau dia tidak bersalah, saat itu? Kenapa kamu tidak membelanya!?” ujarku. Sedikit dengan nada teriak, tapi suaraku stabil. Tak ingin siswa-siswi yang lain mendengarnya.


Air mata Monalisa terus mengucur deras. “Aku tahu. Seharusnya aku membelanya. Namun, saat itu aku berpikir. Apa daya aku membelanya, hal itu pun tidak akan diterima. Aku bukan wakil ketua kelas saat itu. Jika diantara semua perdana menteri yang menghadiri sidang, aku adalah rakyat jelata yang tak ada artinya bagi mereka. Semua yang ku katakan tidak akan ditanggapi,” ujarnya.


“Tapi setidaknya kamu mencoba,” kataku. Menyentuh kedua pundak Monalisa Dengan kedua tanganku. Dengan wajah yang basah dipenuhi air mata.


“Aku tahu. Aku menyesal, aku menyesal sekarang, Viollet,” Monalisa terus menangis. Ia menundukkan kepalanya.


“Siapa ketua kelas saat itu? Di mana dia?” tanyaku. Rasanya, aku ingin bertemu dengannya, dan menamparnya habis-habisan. Walau aku tak yakin benar itu yang ingin aku lakukan padanya. Intinya, aku marah besar pada ketua kelas itu.


“Dia sudah keluar,” Jawab Monalisa. Yang masih menunduk.


Ugh, dasar. Nasib menguntungkannya. Tapi, suatu saat nanti, jika bertemu, aku akan menamparnya. Mungkin. Oh ya, ngomong-ngomong, ini lah sifat asliku. Ini jawaban untukmu, jika kamu heran bagaimana aku bisa berbeda dengan yang sebelumnya. Aku berbeda, karena aku sama sekali tidak mengenali teman-temanku, dan sekolah-sekolah yang aku sekolahi. Karena aku sudah mengenalnya, timbul lah sifat asliku ini. Yeah, begitulah.


Aku mengusap air mata di wajahku.

__ADS_1


“Ayo, lanjutkan."


Monalisa mengangkat kepalanya. Menatapku heran. Dalam pikiran nya, ia sudah menceritakan semuanya.


"Kamu bilang, dulu juga pernah ada hal sama yang menimpa, diiaa,” kataku-seolah tak terjadi hal apapun sebelumnya. Dan, aku melambat saat aku berkata “Dia” yang maksudku, Alicia.


“Oh ya, benar,” ujar Monalisa. Dia mengusap air mata yang telah membasahi wajahnya.


Aku sabar menunggu, sampai Monalisa sudah siap untuk bercerita.


“Baiklah, aku akan mulai bercerita. Setelah kejadian itu, dua tahun kemudian, itu berarti saat aku kelas delapan, ada anak yang bernama Catrine kembali. Dia bukan teman sekelasku saat itu. Namun, ada teman sekamarku yang sekelas dengannya. Dia memberi tahuku, kalau rupa wajah anak itu, Catrine, mirip dengan Catrine yang sebelumnya. Hanya saja yang membedakan rambutnya pendek sebahu, dan memakai kacamata.


"Dan, wajah anak itu sama seperti Catrine sebelumnya, hanya penampilan nya yang berbeda. Nama lengkap nya juga sama. Selain itu, sikap anak itu juga sama, mirip. Pendiam, namun pintar. Selama awal kelas delapan, semuanya baik-baik saja. Oh ya, by the way, kedua anak yang memfitnah Catrine saat kelas enam, mereka jatuh dari atas sekolah ini dan tidak bisa diselamatkan. Mereka telah pergi ke alam baka,” ujar Monalisa datar.


Astaga! Aku terkejut. Dan, sebenarnya cukup kasihan. Tapi, sedikit, ehm… maksudku, sangat, sangat, sangat sedikit senang. Tapi, aku tahu itu jahat. Walau mereka telah memfitnah Catrine. Jadi, aku cukup kasihan dengan mereka.


Monalisa melanjutkan ceritanya dengan santai. “Yeah, begitulah yang terjadi pada kedua anak itu. Baiklah, kita kembali ke cerita. Awal-awalnya baik-baik saja. Hingga, tengah-tengah semester dua kelas delapan, hal itulah terjadi. Hal yang sama menimpa dia, kamu tahu bukan maksudku?” tanyanya.


Aku mengangguk.


“Yeah, hal sama yang menimpa dia, terjadi pada teman sekamarku, yang memberi tahu Catrine saat itu kepadaku.”


Ya ampun, aku sama sekali tak menduganya. Itu terjadi pada teman sekamar Monalisa.


“Yeah, itu lah yang terjadi. Aku tak mengerti kenapa teman sekamarku yang diincarnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa, mengatakan “Semua baik-baik saja.” sama sepertimu. Temanku, kondisinya sama seperti dia. Temanku, selalu tampak cemas, ketakutan, sama seperti dia. Hingga, hal itu terjadi. Hingga, 3 bulan kemudian, dia pergi meninggalkan.”


Ya ampun! Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku sama sekali tidak menduga. Apakah? Mungkinkah hal itu juga akan terjadi pada Alicia?


By the way, mohon ganti kata dia di atas dengan Alcia. Itu maksudnya.


“Aku tak tahu, Viollet. Tapi, aku berharap kita bisa menyelamatkannya,” ujar Monalisa. Seperti bisa membaca apa yang aku pikirkan.


Aku menangguk. Aku melihat wajah Monalisa. Dia menunduk. Raut wajahnya dipenuhi kesedihan. Tunggu! Aku seperti melihat wajah itu. Astaga, raut wajah itu… itu adalah raut wajah yang ku lihat di jendela kelas saat pagi tadi. Jadi, tadi pagi, aku melihat Monalisa? Tapi, tak mungkin. Dia ada bersamaku saat itu. Aku berbicara dengannya saat itu. Bagaimana bisa? Tidak mungkin. Mungkinkah…


“Kalian sedang apa?” tanya seseorang dari belakang.


Aku menoleh. Monalisa mengangkat kepalanya. Itu adalah ketua kelas. Dia melangkah mendekati kami.


“Bukan apa-apa,” Monalisa yang menjawab.


“Tapi… kenapa kamu tampak sedih Mona?” tanya ketua kelas.


“Aah, ini... Ehm, aku hanya rindu pada keluargaku,” jawab Monalisa.


“Ooh, yeah, benar. Sudah lama sekali kamu tidak bertemu dengan orang tuamu,” ketua kelas mulai prihatin.


“Yeah benar,” kata Monalisa.


“Jangan khawatir, suatu saat, mereka pasti akan mengunjungimu kembali,” ujar ketua kelas menghibur.


Monalisa mengangguk. Ketua kelas itu menoleh padaku.


“Kamu tidak makan siang?” tanya ketua kelas padaku.


“Baru ingin,” kataku singkat.


“Baiklah, aku juga ingin ke kantin. Mau ke sana bersama-sama?” tanya ketua kelas.


Aku sedikit terkejut. Karena ketua kelas mengajak ku. Jujur saja, aku mulai merasa ini agak aneh.


“Em, eh, yeah, boleh.”


Ketua kelas tersenyum. Lalu menoleh pada Monalisa.


“Kamu mau pergi bersama, Mona?” tanya ketua kelas.


Monalisa menggeleng. “Aku masih ingin membersihkan kelas.”


Jujur saja. Aku kesal. Kenapa Monalisa berkata seperti itu. Bukankah jika seperti itu, aku tak perlu jalan berdua bersama ketua kelas? Membayangkan nya saja aku sudah merinding.


“Baiklah, kami pergi duluan, ya,” ucap ketua kelas sopan.


Monalisa mengangguk. Setelah ku perhatikan, raut wajah Monalisa redup. Tak ada cahaya di sana. Tak ada kecerahan di wajahnya.


“Ayo, Viollet!” ajak ketua kelas.


Aku sedikit terkejut. “Oh, iya.”

__ADS_1


Ketua kelas itu lebih dulu melangkah. Aku menyusul. Saat jarakku dengan Monalisa mulai menjauh, aku menoleh kebelakang. Menatap Monalisa dengan serius. Dia melihatku dengan tatapan yang sedih. Wajahnya di selimuti dengan kesedihan. Hal itu, semakin aku yakin, kalau dialah yang aku lihat di jendela sekolah pagi tadi. Tapi bagaimana bisa? Aku mulai menjauh, dan telah keluar meninggalkan kelas.


-Bersambung


__ADS_2