Deletorian School

Deletorian School
Kembali Terjadi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali berjalan menuju kelas bersama Helen. Sebenarnya, tidak terlalu pagi. Tepat pukul tujuh pagi. Bagiku itu sangat pagi karena kelas mulai tepat pukul delapan.


“Ah, kenyangnya. Makanan untuk sarapan tadi enak sekali rasanya,” ucap Helen.


“Tentu saja kamu kenyang. Kamu makan sangat banyak tadi. Hati-hati, jangan makan terlalu banyak. Nanti kamu jadi gemuk loh,” ujarku, dengan tawaan kecil.


Helen tampak kesal.


“Iya. Hm, Viollet. Kamu tidak merasa kita bertukar?” tanya Helen.


Aku menggambarkan ekspresi bingung.


“Bertukar gimana?” tanyaku balik.


“Ish, kamu mah, bukannya menjawab malah bertanya balik,” ucap Helen kesal.


“Aku belum mengerti pertanyaan kamu. Kalau mau menjawab itukan harus mengerti pertanyaannya dulu,” kataku.


“Iya, iya. Jadi seperti ini, maksudnya bertukar itu, kamarin bukankah kamu makan banyak? Nah, sekarang aku yang makan banyak. Apa kamu tidak merasa kita bertukar?” ulang Helen. Sekarang lebih jelas.


“Tidak. Itu karena kamu lagi nafsu makan saja,” ujarku.


“Tapi aku merasa kita bertukar,” kata Helen.


“Sudahlah, jangan mengada-ada,” kataku.


Bruk! Tiba-tiba ada yang menabrak kami dari belakang. Tabrakannya itu tidak membuat kami terjatuh. Hanya bergeser satu langkah. Adalah Catrine yang menabrak kami. Dia terus berjalan tanpa meminta maaf. Bahkan tak mengatakan apapun. Menoleh saja tidak.


“Heh, kalau jalan pakai mata dong,” tegur Helen kepada Catrine dengan nada tinggi. Tapi yang di tegur sama sekali tidak mempedulikan.


“Puh, menyebalkan,” kata Helen kesal.


“Sudahlah, aku rasa ia terburu-buru,” kataku.


“Viollet, walau terburu-buru, sopan santun harus tetap diterapkan. Teburu-buru? Itu bukan alasan untuk tidak menerapkannya,” kata Helen.


“Sabar, Helen. Kamu tahu Catrine orang nya seperti apa,” kataku samabil melanjutkan melangkah.


Helen menjajari langkahku.


“Yeah, aku rasa dia bukan anak baik,” ucap Helen.


“Helen!” tegurku. Aku berhenti melangkah dan menatapnya dengan marah.


“Apa? Aku benarkan? Sopan santun saja tidak diterapkan.”


Aku menghembuskan napas. Lalu melanjutkan melangkah. Helen menjajari langkahnya lagi denganku.


“Kamu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Orang tuanya sibuk. jadi, tidak ada yang memperhatikannya, dan mengajarkannya untuk memiliki sikap yang baik. Aku tahu bagaimana rasanya. Itu sangat menyedihkan,” jelasku.


“Benar, itu menyedihkan,” kata Helen. Menyadari kesalahannya. “Mm, Viollet.”


Aku menoleh. Ya?


“Monalisa pernah bercerita kepadaku. Bahwa, saat kelas lima, ada siswa bernama Catrine. kemudian, siswi itu keluar dari sekolah ini saat tengah-tengah kelas enam. Saat kelas delapan, juga ada siswa bernama Catrine. Ia keluar saat kelas delapan berakhir. Dan kelas sepuluh, sekarang, ada siswi yang bernama Catrine lagi. Tidakkah menurutmu itu aneh?”


Aku berfikir sejenak. Lalu menggeleng.


“Apa? Serius? Menurutmu itu tidak aneh?” ucap Helen dengan suara dan gaya yang terlalu berlebihan untukku.


Aku mengangguk.


“Kenapa?”


“Karena tidak hanya satu yang bernama Catrine. Itu hal yang biasa. Aku yakin, pasti di luar sana ada yang namanya sama sepertiku. Namamu juga,” terangku.


“Masalahnya, nama lengkap pun juga sama. Yeah, aku juga berpikir sepertimu. Tapi, walau namanya sama, tidak mungkin kan nama lengkap juga sama?”


“Dari mana kamu tahu?”


“Monalisa. Dia yang bercerita kepadaku. Asal kamu tahu ya, Monalisa selalu tahu nama lengkap teman sepantarannya.”


“Tidak mungkin. Ada banyak sekali siswa-siswi di kelas sepuluh. Bagaimana cara dia melakukan nya?”


“Entahlah.”


Aku terdiam. Menatap nya dengan sedikit sinis.


Helen menyengir.


“Jadi, bagaimana menurutmu?”


“Mmm, mungkinkah dia keluar dari sekolah ini dan masuk kembali?”


“Tidak mungkin. Penampilan mereka berbeda,” Helen mengelak.

__ADS_1


“Dari mana kamu tahu? Kamu kan siswi baru sama sepertiku.”


“Monalisa menunjukan foto Catrine yang sebelumnya kepadaku. Awalnya aku juga tidak percaya. Sama sepertimu. Tapi, setelah melihat foto itu, aku jadi merinding,” ujar Helen. Wajahnya menjadi ketakutan.


Aku berpikir sejenak.


"Tunggu, kamu bilang penampilan mereka berbeda. Bagaimana dengan wajah mereka?" tanyaku. Sungguh, aku seperti detektif. Benarkan? Hehehe...


Helen tampak mengingat-ingat.


"Hm, kalau di ingat-ingat," ia berhenti sejenak. "Ah, ya. Wajahnya cukup mirip."


"Baiklah, terpecahkan. Mereka orang yang sama. Bisa jadi dia merubah penampilan nya," aku berlagak seperti detektif yang sudah menyelesaikan kasus.


"Tidak, Viollet," Helen masih mengelak.


"Sudahlah. Kalau bukan dia, mungkin saja itu kembaran nya. Konon, setiap orang memiliki tujuh kembaran. Walau tidak bersaudara," kataku.


"Tapiii, walau kembaran, tak mungkin kan nama lengkap juga sama," Helen masih tak mau kalah.


"Hm, terserah apa katamu, Helen. Tapi, aku tetap berpikir Catrine, em, Catrine yang sekarang, dia memiliki sesuatu hal yang serius. Dan, aku tetap yakin. Dia keluar dari sekolah ini dan kembali lagi. Kalau kamu masih tidak percaya, aku akan tanya kepadanya.”


“Astaga, Viollet. Huh, yeah, aku rasa, aku tahu tentangmu,” kata Helen.


Aku menatap tidak mengerti.


Helen menatapku serius. “Kamu keras kepala.”


Aku tersenyum, dan tertawa. Entah kenapa, aku sama sekali tak marah.


Setelah beberapa langkah kemudian, kami sampai di kelas. Kami pun menuju kursi kami masing-masing. Aku duduk di kursiku. Di sebelahku sudah ada Alicia. Melihatnya, aku jadi teringat akan ceritanya.


“Alicia,” panggilku.


Ia menoleh. “Iya?”


“Bagaimana sekarang? Apa kamu masih melihat hal yang sama kepada Catrine?” tanyaku.


“Oh,” Alicia menggeleng. “Entah kenapa, setelah aku menceritakan semuanya kepadamu, aku sama sekali tak melihat, merasakan, dan mendengar suara makhluk itu. Aku juga tidak melihat hal yang sama kepada Catrine. Aku rasa, itu hanya kekhawatiranku saja. Dan, kamu benar, Viollet. Mungkin itu hanya halusinasiku saja.”


Alicia tersenyum manis kepadaku. Ku balas senyuman itu.


“Aku senang, Alicia. Melihatmu yang terus ketakutan, itu membuatku khawatir. Tapi aku senang sekarang. Kamu sekarang jauh lebih baik. Sekarang, kalau ada sesuatu lagi yang mengganggumu katakan saja padaku. Aku tak peduli itu halusinasimu atau bukan. Aku tetap akan membantumu,” kataku penuh meyakinkan.


“Thanks, Viollet. You are the best friend,” ujar Alicia.


***


Hari demi hari berganti. Aku senang, sekarang keadaan menjadi lebih baik. Begitupun Alicia, ia menjadi jauh lebih baik. Ku pikir, keadaannnya akan terus seperti ini. Namun, aku salah. Hal yang terjadi di hari-hari sebelumnya, terjadi kembali. Semuanya berawal saat aku melakukan tugas pelajaran Bahasa Inggris.


Kami disuruh untuk berpasang-pasangan. Nanti, salah satu dari kami akan bertanya hal yang ingin kami ketahui tentang pasangan kami. Hal itu akan dilakukan secara bergantian. Tentunya pembicaraan harus dalam Bahasa inggris. Kami akan di berikan waktu lima belas menit untuk berbincang. Nanti, hasil perbincangan, akan di tulis di kertas lembar dalam bentuk paragraf. Minimal paragraph yang ditulis adalah lima paragraf.


Oh ya, tentu kalian tahu siapa yang ingin ku ajak. Aku selalu ingin tahu tentang dirinya. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Catrine, benar?


“Viollet, apakah kamu mau berpasangan denganku?” tanya Helen.


“Erk, maaf, aku sudah memiliki pasangan. Dengan Alicia saja, dia belum memiliki pasangan,” ucapku lalu pergi dengan terburu-buru.


“Eh, tapi..." Helen berkata, namun aku sudah pergi meninggalkan. "Baiklah. Hm, aku belum pernah melihat dia seperti itu,” Helen menoleh ke arah Alicia. “Ada apa dengannya?”


Alicia mengangkat bahu.


“Ya sudah, apa kamu mau berpasangan denganku?” tanya Helen.


Alicia mengangguk.


Aku segera menghampiri Catrine. Begitu sampai di depannya, aku langsung mengatakan tujuanku.


“Catrine, apakah kamu sudah mendapat pasangan?” tanyaku.


Dia menggeleng. Tentu dengan wajah yang polos dan biasa saja. Seperti biasanya.


“Kalau begitu, maukah kamu berpasangan denganku?” tanyaku kembali.


Catrine terdiam. Lalu mengangguk setelah lama kemudian. Dengan perasaan senang, aku langsung bertanya kembali.


“Mau kamu yang bertanya lebih dulu atau aku?” tanyaku.


“Kamu saja,” ucapnya singkat.


“Baiklah,” aku membuka buku tulisku untuk mencatat jawaban Catrine. “So, what’s you long name?”


“Catrine Angelina,” ia menjawab singkat.


“Catrine Angelina? Wow, it’s a beautiful name,” pujiku. Aku pun mencatanya. “Okey, next question. What’s your father’s and your mother’s name?”

__ADS_1


“My father’s name is Jack, and my mother’s name is Leona,” jawab Catrine.


Aku mengangguk. “Okey, next, what’s your hobby?”


Catrine menggeleng. “I don’t have it.”


“Really?” aku terdiam. “Alright. Now, I want to ask you something. Do you have a wish?”


“A wish?” Catrine bertanya.


“Yeah, it’s like something you want or get,” jelasku. Ku pikir, dia tak tahu apa itu “Wish.” Mungkin?


“I don’t know. But, perhaps, I would like to receive attention from others. And I want them to understand me,” Catrine menunduk. Dia tampak sedih, walau itu tak terlalu terlihat terdapat kesedihan dalam dirinya. Wajahnya cukup datar. Namun, aku tahu kalau dia sedih. Aku melihat kesedihan itu. Sedikit.


Aku terdiam. Mendengarnya, aku juga merasa sedih. “Why do you want to get it?”


“I don’t know. I just, want it and… need it. Maybe because my father and my mother are busy working. So, they don't have time for me,” mata Catrine berkaca-kaca. Namun, wajahnya tak terlihat sedih. Tampak datar kembali.


“Oh, I'm sorry to hear that. Maybe, I shouldn't have asked. I am sorry,” ujarku.


“It’s okey. Do you have any question again?” mata Catrine tak berkaca-kaca kembali.


Aku mengangguk. “I want to ask you. In the future, what do you want to become?”


“I didn’t think about it,” jawab Catrine. “Maybe, I want to run a business. Like my parents.”


Aku mengangguk. “Run a business? Wow, it’s good.”


“What else?”


Aku menggeleng. “It’s enough.”


“Alright. Now, I will ask you,” kata Catrine.


Hal yang di tanyakan Catrine adalah hal yang biasa di tanyakan orang-orang. Seperti umur, cita-cita, tempat tanggal lahir, memiliki berapa saudara, alamat rumah, dan pekerjaan orang tua. Tak lupa nama orang tuaku.


Waktu pun habis. Aku segera pamit kepada Catrine. Lalu berjalan menuju kursiku. Saat aku duduk, Alicia bertanya kepadaku.


“Viollet, siapa pasanganmu?”


“Catrine,” jawabku santai.


Mendengar itu, Alicia terlihat terkejut dan terdiam.


Aku melihatnya dengan heran. “Ada apa?”


Alicia segera menggeleng. “Tidak, tidak ada.”


Walau begitu aku masih heran. Ada apa? Tak lama, aku mulai membuat paragraf dari hasil yang aku bincangkan dengan Catrine di buku tulisku. Setelah selesai, aku mengumpulkannya di meja guru. Seperti biasa, sebelum pelajaran usai, nilai tugas di berikan kepada kami. Aku mendapat nilai yang cukup sempurna. Tidak tertalu sempurna, tapi juga tidak jelek. Cukup sempurna. Nilai Alicia sangat sempurna. Dia memang pandai berbahasa inggris. Nilai Helen tak jauh dari milikku. Catrine, entahlah, aku tidak melihatnya. Namun, aku khawatir nilainya tidak terlalu bagus. Entahlah, firasatku mengatakan seperti itu. Dan aku juga tak tahu kenapa aku khawatir. Aku tak mengerti.


“Yeah, syukurlah, tidak mendapat nilai yang rendah,” ujar Helen.


Aku tersenyum. Lalu melihat ke arah Alicia. Dia tampak murung.


“Ada apa, Alicia?” tanyaku.


Alicia menoleh.


“Kamu tampak murung? Kenapa? Bukankah kamu mendapat nilai yang sangat sempurna? Saharusnya kamu senang,” ujarku denga senyuman yang hangat.


Namun, Alicia tak membalas senyuman itu. Tak seperti biasanya. Justru, dia menjadi tampak sedih. Aku heran.


“Ada apa, Alicia?” kini suaraku menjadi lembut.


Alicia mulai meneteskan air mata.


“Alicia, kamu kenapa?” Helen yang melihat hal itu, terkejut.


“Alicia,” kataku lembut sambil mengelus bahunya.


Alicia terus meneteskan air mata.


“Aku tidak tahu, Viollte. Aku seperti merasa kesakitan. Aku seperti merasa akan kehilangan kalian,” ia menatapku, dan Helen bergantian. Lalu, ia kembali menatapku. “Aku merasa kesakitan. Sangat menyakitkan. Dan aku merasa sedih karena aku merasa... akan kehilanganmu, Viollet,”


Aku menatap Alicia heran.


“Kenapa? Bagaimana bisa? Aku tak mengerti.”


“Aku juga. Aku juga tidak mengerti,” Alicia menangis dengan kepala tertunduk.


Tak lama.


“Hah!” ia terkejut. Alicia melihat sekeliling. Aku tak tahu apa yang dia cari atau apa yang dia lihat. Tak lama kemudian, ia tertunduk kembali. Ia menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Nafas Alicia terdengar tak beraturan. Seperti terkejut, dan ketakutan yang tercampur. Dari wajahnya, dia juga seperti ketakutan.


Aku menatap Helen. Dia juga menatapku tak mengerti. Aku terdiam, mulai khawatir. Hal ini, terjadi kembali kepada Alicia.

__ADS_1


-Bersambung


__ADS_2