
Lenggang. Semuanya tampak sedih. Kecuali Alex yang asik menikmati makanannya. Dia duduk di sebelah kananku.
Aku menatap teman-temanku. Aku tahu. Mereka pasti sangat sedih. Masih lengang.
“Kamu benar-benar ingin keluar, Viollet?” tanya Helen. Memecahkan kelenggangan. Dia duduk di hadapanku.
Aku mengngguk. “Yeah, pak kepala sekolah baru saja memberi tahuku.”
“Ku pikir kamu akan terus sekolah di sini, Viollet,” Alicia mulai berbicara. Dia duduk di sebelah kanan Alice, yang duduk di sebelah kanan Helen.
Aku menoleh ke arahnya.
“Tadinya ku pikir juga begitu. Namun, ternyata ayahku masih seperti dulu. Masih terus mengira kalau sekolah yang aku sekolahi tidak sesuai untukku.”
“Ini semua salahku,” Cherlin mengangkat bicara, yang duduk di sebelah kiriku.
“Apa maksudmu?” tanya Monalisa. Yeah, semenjak kejadian itu, kami berteman dekat dengan Monalisa. Ia duduk di sebelah kanan Cherlin.
Cherlin tersenyum getir. “Pasti ayah Viollet mengeluarkan Viollet, karena mendengar kejadian yang telah menimpa sekolah ini. Semua ini salahku yang sudah membawa Catrine kemari.”
“Tapi, pak kepala sekolah sudah memberi tahu kalau itu kebohongan belaka,” Alice memberitahu.
“Benar, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, seperti itu,” ujar Alicia.
"Yeah, itu benar. Tapi, kalau dipikir-pikir, mungkin memang karena itu ayah Viollet mengeluarkan Viollet dari sekolah ini," Helen tampak berpikir.
Cherlin langsung tampak merasa bersalah. Semuanya menatap Helen seperti tatapan sinis. Termasuk Alex, yang tadi sedang asik memakan makanan nya. Aku hanya tersenyum tipis.
"Apa?" tanya Helen tanpa merasa bersalah.
Monalisa menepuk dahi.
"Astaga, Helen! Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?" Alex bertanya dengan suara yang cukup lantang.
Helen menghela napas.
"Baiklah, baiklah. Namun Cherlin, bagaimana pun juga, kejadian itu membuat kita bisa bersama seperti ini. Itu juga karenamu. Walau kejadian itu juga menyebabkan Viollet keluar, tapi aku senang bisa berteman dengan mu. Dan, aku tak lagi takut saat melihat mu," ujar Helen dengan polosnya.
Cherlin tersenyum tipis. Aku tertawa kecil. Semuanya menatap Helen dengan kesal. Kata-katanya sangatlah menyebalkan.
"Yang dikatakan Helen benar. Kejadian itu terdapat hal buruk dan hal baiknya. Dan hal baiknya, kita bisa bersama disini," kataku dengan senyuman.
Semuanya tersenyum. Dan mengangguk-angguk.
“Benar hal dampak baik untukku, aku bisa bertualang bersama Viollet,” kata Alex.
Mendengar itu, Helen menatap kesal.
“Dan aku, bisa bertemu dengan Carine dan meminta maaf padanya,” ujar Alice.
“Sedangkan aku, kejadian ini sangat membuatku senang, karena sekarang aku memiliki banyak teman,” sahut Alicia.
“Aku juga,” ucap Monalisa.
Cherlin tersenyum.
“Kejadian ini, membuatku bisa berubah. Menjadi peduli terhadap lingkunganku. Aku sangat senang, terutama berteman denganmu, Cherlin,” aku tersenyum manis.
Cherlin menatapku senang. Matanya mulai basah. Namun, bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan.
“Aku juga senang bertemu dengan mu, Viollet. Kamu adalah teman terbaik yang pernah ku dapat,” kata Cherlin. Lalu menoleh ke yang lain nya. “Begitu juga kalian.”
Kami tersenyum, dan tertawa bersama. Begitu tawa itu berakhir. Lengang sejenak.
"Tapi, sekarang bagaimana? Viollet, akan benar-benar akan pergi," Alice mengingatkan.
Semunya terdiam. Tampak sedih kembali.
"Ya ampun, kenapa kalian ini menjadi dramatis sekali, sih," Alex berujar.
"Heh, memang nya kau tak sedih apa, Viollet akan pergi?" Helen tampak kesal. Perkataan nya menjadi berbeda pada Alex dari pertemuan pertama kami.
"Tidak, biasa saja. Lagi pula, aku akan pergi bersama Viollet," Alex mengatakan nya dengan datar.
"Apa?" Helen terkejut.
Semuanya menoleh kepadaku. Aku mengangguk.
Helen berdiri. "Bagaimana bisa anak menyebalkan ini ikut denganmu?"
"Heh, kau panggil aku apa barusan?" Alex tak menerima dia di panggil anak menyebalkan.
Aku tersenyum ramah. Aku menyuruh Helen untuk duduk kembali. Dia mematuhi ku.
"Alex, sebelum aku diberi tahu kalau aku akan pulang, Alex memberi tahu ku kalau aku-"
"Adalah adikku," Alex memotong kalimatku.
"Apa?" semuanya terkejut. Bahkan mengatakan nya secara bersamaan.
Aku mengangguk.
"Dia juga memberi tahu ku, kalau aku adalah anak angkat dari orang tuaku yang sekarang," jelasku.
"Benarkah?" Mereka kembali terkejut.
Aku mengangguk.
"Ternyata, orang tua asliku sudah lama tiada. Karena kecelakaan mobil. Saat itu mereka sedang bekerja. Ayah dan ibuku mengendarai mobil yang sama, dan kecelakaan itu terjadi. Mereka tak bisa di selamatkan," jelasku.
Mereka semua tampak prihatin.
Aku melanjutkan cerita ku.
"Alex atau kakaku, yang berusia sembilan tahun saat itu, mendengar kabar kecelakaan yang menimpa ayah dan ibu. Aku yang masih berusia tiga tahun, tak tahu apa-apa. Alex alias kakaku tak bisa merawatku sendiri. Terlebih lagi, aku butuh kasih sayang orang tua di usiaku saat itu. Kakak bingung apa yang harus dilakukan.
"Hingga, dia mendengar kabar, kalau tetangga kami, mandul. Dan, ingin sekali memiliki anak. Jadi, kakaku menaruh ku di kardus yang cukup besar, membuat surat, dan meletakkan kardus di depan pintu rumah tetangga kami. Surat di dalamnya berisi "anak ini bernama Viollet, tolong jaga dia baik-baik seperti anak mu sendiri." Begitulah isi suratnya.
"Kakak melihat ku dari kejauhan. Memastikan kalau aku dibawa masuk oleh tetangga kami. Karena suara tangisan ku, mereka membuka pintu dan menemukanku di dalam kardus. Jadi, aku diasuh oleh tetangga kami. Yang sekarang, telah menjadi orang tua angkat ku. Dan kakak, setelah memastikan, dia pergi ke panti asuhan terdekat, dan tinggal di sana."
Penjelasan ku berhenti di situ. Aku menatap teman-temanku. Mereka tampak lebih sedih dari sebelumnya.
“Tapi, walaupun mereka orang tua angkat, mereka tetap ku anggap sebagai orang tua kandungku. Bagaimana pun juga, mereka telah mengasuhku, merawatku, dan menjagaku sampai aku sebesar ini. Aku tetap senang, karena memiliki mereka. Dan, bertemu dengan kakak, membuatku tambah senang,” aku tersenyum. Menandakan kalau aku bahagia.
__ADS_1
Teman-temanku tersenyum. Juga Alex.
“Aku turut sedih atas apa yang menimpa orang tua kandungmu. Tapi aku juga turut senang dengan kebahagiaan mu,” ujar Alice.
Aku tersenyum. Setelah beberapa hari sebelumnya aku sering menangis, kini aku sering tersenyum kembali.
Helen tampak berpikir.
“Tapi, bagaimana Alex tahu kalau kamu adalah adiknya, Viollet?” tanya Helen.
Aku mengangkat bahu.
“Apa urusanmu menanyakan hal itu?” Alex yang justru berbicara.
Kedua tangan Helen di pinggang. Wajahnya kesal.
“Itu benar, Alex,” Alicia berkata.
Alex menoleh.
“Aku juga menanyakan hal yang sama. Selain itu, kenapa kamu masih kuliah S1 semester empat? Bukankah kamu enam tahun lebih tua dari kami? Seharusnya kamu lebih dari itu, kan?” Alicia bertanya.
Jujur, aku terkejut mendengar pertanyaan Alicia, karena dia sangat detail.
“Ah, itu,” Alex tertawa. “Baiklah, aku akan menceritakannya.”
“Tunggu!” tukas Helen. “Kenapa kamu menjawab pertanyaan Alicia tapi tidak denganku?”
“Memangnya itu masalah,” ujar Alex datar.
Helen tampak sangat kesal. Dia benar-benar kesal dengan laki-laki pujaan nya. Alex tak mempedulikan. Justru, dia mulai menjawab pertanyaan Alcia.
“Aku kelas S1 semester empat sekarang, karena… seminggu setelah aku berada di panti asuhan, ibu yang memiliki panti asuhan itu, menyekolahkan ku setelah dua tahun kemudian. Karena ibu itu tak tahu aku lahir tahun berapa, dan tak tahu umurku berapa saat itu, aku dimasukkan kelas satu. Begitulah,” jelas Alex.
Alicia menangguk-angguk paham.
“Dan, alasan kenapa aku bisa tahu Viollet adalah adikku. Karena tahi lalat kecil di bawah samping kanan di mata kananmu, Viollet," Jelas Alex. Seraya menunjuk tahi lalat yang dia maksud.
Aku menyentuh tahi lalat yang ditunjukkan Alex.
"Saat aku pertama kali lihat Viollet, aku seperti mengenal wajah itu. Jadi, aku membuntutimu. Karena itulah tiga teman ku yang di belakang ku saat aku tak sengaja menabrak kalian, ingat mereka?"
Aku, dan Alicia mengangguk. Helen masih tampak kesal.
"Ya, mereka mendorongku ke arah kalian," lanjut Alex.
"Jadi karena itu kami tak sengaja ditabrak olehmu," Helen mengatakannya dengan raut wajah yang masih cukup kesal.
Alex mengangguk. "Benar. Dan ketika aku mendengar nama 'Viollet', dan melihat wajah Viollet dari dekat, aku menjadi yakin kalau Viollet, benar adikku. Jadi... aku sering mengikuti nya dan berpetualang bersamanya," Alex menyengir.
“Begitu ya,” ucap Alicia.
“Puh, menyebalkan,” Helen berbisik. Aku sedikit mendengar bisikan itu. Aku tertawa kecil.
“Tapi, Viollet,” Monalisa berkata.
Aku menoleh.
“Bagaimana Alex bisa ikut dengamu?”
Monalisa mengangguk.
“Oh ya, kenapa kamu tak memanggil Alex kakak?” tanya Alice.
Aku menoleh. Lalu, menggeleng. “Dia tak ingin aku memanggilnya kakak.”
“Yeah, menurut ku tak apa jika ia tak memanggilku kakak,” Alex memberi tahu sambil menikmati makanannya.
Alice menangguk mengerti.
“Oh ya, Viollet, kapan kamu akan pulang?” tanya Helen. Dia kembali ke topik awal.
“Besok,” ucapku singkat.
Helen menepuk meja. “Cepat sekali.”
Aku tersenyum kecil. Namun, senyuman itu bercampur dengan perasaan sedih.
“Aku masih sama sekali tak menyangka kamu akan keluar dari sekolah ini,” Cherlin tampak sedih.
Aku berusaha tersenyum di hadapannya.
“Aku akan merindukanmu,” Cherlin memelukku.
Aku mengelus punggungnya. Cherlin pun melepas pelukannya. Dia tampak sedih. Begitu juga dengan yang lain. Tidak dengan Alex. Dia pengecualian. Aku dan teman-temanku menunduk.
“Tak adakah cara agar kita tetap bisa berhubungan?” tanya Helen, dengan sedih, dan masih menunduk.
Cherlin mengangkat kepalanya. Dia tersenyum senang. “Kamu jenius, Helen.”
Kepala Helen terangkat. Dia menatap Cherlin tak mengerti.
“Benarkah?” tanyanya.
Cherlin mengangguk. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari saku roknya.
“Ini dia caranya,” Cherlin menunjukkan benda yang bisa membuat kami bisa saling berhubungan.
“Ponsel?” Helen menatap tak mengerti.
Cherlin menangguk. “Yap! Kita masih bisa berhubungan dengan aplikasi WhattsApp di ponsel kita. Apa kamu memiliki aplikasi ini, Viollet?
Aku mengangguk.
“Bagus! Apa ada yang memiliki aplikasi ini juga?” tanya Cherlin.
“Aku!” jawab Helen. Dia menunjukkan ponsel yang dia bawa dari saku celananya, dan di layar itu, terdapat gambar aplikasi WhattsApp.
“Aku juga ada,” ujar Monalisa. Dia menunjukkan ponsel yang dia bawa dari saku celananya. Di layar ponselnya, terdapat gambar aplikasi WhattsApp.
“Bagus! Aku akan membuat grup di aplikasi ini. Boleh ku minta nomor kalian?” tanya Cherlin.
Helen menunjukkan nomornya di ponsel yang dia pegang. Begitu pula Monalisa.
__ADS_1
“Bolehkah aku, Viollet?” Cherlin bertanya padaku begitu dia selesai memasukkan nomor Helen dan Monalisa.
“Aku tak membawa ponselku. Namun, aku mengingat nomornya,” jawabku.
“Baiklah, berapa nomormu?” tanya Cherlin.
Aku pun menyebutkan nomorku. Cherlin mendengarkannya dengan teliti.
“Baiklah, selesai! Aku sudah memberikanmu pesan,” ujar Cherlin.
Aku mengangguk. “Nanti aku akan mengeceknya.”
Cerlin tersenyum.
“Kamu tak tanya berapa nomorku?” tanya Alex tiba-tiba.
“Untuk apa?” Helen yang menjawab. “Siapa juga yang mau menghubungimu, atau memberikan pesan.”
“Aku berbicara pada Cherlin. Bukan kamu,” ujar Alex judes.
“Yeah, kata-kata Cherlin itu yang baru saja ku sampaikan,” kata Helen.
“Kamu itu kenapa, sih? Kenapa sikapmu seperti itu padaku?” Alex bertanya.
“Untuk apa kamu tahu hal itu. Puh! Dasar tak peka,” ujar Helen. Wajahnya tampak sedikit kesal.
Aku tahu maksudnya "Dasar tak peka." Aku hanya tersenyum mendengar nya.
Alex menatapnya tak mengerti. “Apa katamu? Tak peka?”
“Yeah, kenapa? Masalah?” Helen membalas dengan suara yang sedikit lantang.
Wajah Alex mulai tampak kesal.
“Heh, bisa tidak, sih, kamu berkata sopan dengan yang lebih tua?” tanya Alex.
“Kamu nanya?” Helen berlagak seperti orang yang sedang viral sekarang.
“Asataga!” Alex tampak kesal sekali dengan Helen.
Jujur saja, kalau aku jadi Helen, aku tak akan seperti itu. Untuk... Emm, yeah kamu seharusnya tahu itu.
“Heh, kamu seharusnya lebih sopan dengan yang lebih tua, dan menghormati," Alex menasihati dengan nada yang kesal.
Helen ingin membalas. “Dan, seharusnya, kamu menyayangi aku.”
Kami semua terdiam. Termasuk Alex. Dia seperti menjadi patung.
“Eh,” Helen menepuk dapi. Wajahnya sedikit merah-malu. “Maksudku, yang tua seharusnya menyayangi yang muda. Ee, bukan menyayangi, tapi baik terhadap yang lebih muda. Karena aku lebih muda, seharusnya kamu baik padaku.”
“Oh ya? Tapi kamu yang memulainya duluan,” ujar Alex. Entah apa dia melupakan kata-kata Helen sebelumnya.
“Ah,” Helen melambaikan tangan. “Terserah apa katamu. Lupakan saja.”
Wajah Helen masih tampak sedikit merah. Dia meminum jus mangga yang dia ambil saat mengambil makanan.
Alex menghela napas. Dia menyilang kedua tangan nya di dada. Alex kelihatannya masih tampak sedikit kesal.
Aku dan teman-temanku yang berdiam diri, hanya menonton, saling tatap. Lengang sejenak.
“Emm… baiklah, Alex, jika kamu memiliki ponsel, bolehkah aku tahu nomormu?” tanya Cherlin. Dia memutuskan berbicara setelah menonton pertengkaran seperti di sinetron.
Alex diam. Hanya mengangguk. Kemudian, dia menunjukan nomornya di layar ponsel yang dia pegang.
Cherlin menuliskannya dengan teliti.
“Baiklah, sudah selesai. Sekarang, kita masih tetap bisa berhubungan satu sama lain walau jarak memisahkan.”
Kami semua tersenyum riang. Kecuali Alice dan Alicia. Juga Helen dan Alex yang sehabis bertengkar tadi.
Alice dan Alicia terdiam. Mereka hanya menunduk. Kami yang melihatnya-aku, Monalisa, dan Cherlin, tahu apa yang mereka pikirkan. Kami saling tatap dan tersenyum.
“Kalian tak perlu khawatir, Alice, Alicia,” kata Cherlin kepada mereka.
Mereka mengangkat kepala-hampir bersamaan.
“Kalian bisa berhubungan melalui ponselku,” Cherlin tersenyum.
Alicia dan Alice juga tersenyum. Namun, senyuman mereka kecil.
“Terima kasih, Cherlin. Tapi, bagaimana kalau kamu juga pergi (keluar) dari sekolah ini?”tanya Alice.
Alica mengangguk-angguk.
Cherlin tersenyum manis. “Jangan khawatir. Jika aku pergi, kalian ikut bersamaku.”
Wajah Alice dan Alicia terkejut.
Cherlin tertawa kecil. “Aku akan meminta papa dan mama untuk mengasuh kalian.”
“Benarkah?” Alice terkejut luar biasa.
“Tapi, bagaimana kalau orang tuamu tak menyetujuinya?” tanya Alicia.
“Tak perlu risau, jika itu adalah anak sebatang kara, mereka pasti akan memberikan izin,” jelas Cherlin.
Alice dan Alicia tersenyum girang.
"Oh ya, Alice, bagaimana dengan ibu?" tanya Alicia pada kakaknya.
"Benar juga," Alice juga teringat ibunya.
Aku dan Cherlin saling tatap.
"Kalau kalian tahu nama rumah sakit yang ibu kalian inap, mungkin papa sama mama bisa mengetahui keadaan ibu kalian," kata Cherlin.
"Sungguh?" Alice bertanya bahagia.
Cherlin mengangguk.
Kakak beradik kembar itu saling tatap. Dan menatap Cherlin kembali. “Terima kasih, Cherlin,” kata mereka bersamaan.
Cherlin tersenyum. “Kita ini kan teman, jadi itu tak masalah bagiku.”
__ADS_1
Kami semua tersenyum ceria. Helen, dan Alex pun juga. Mereka mulai melupakan pertengkaran mereka. Aku senang sekali. Masalah yang kini kami hadapi, sudah terselesaikan. Horee!!
-Bersambung