Deletorian School

Deletorian School
Kembali Terjadi (2)


__ADS_3

Aku mencari Alicia di mana-mana. Namun, sudah seribu ruangan ku periksa tetap tak kunjung jumpa. Ke mana dia? Aku bertanya pada Alice. Dia juga tak tahu di mana Alicia. Tiba di sebuah jendela di lorong, aku melihat Alicia sedang berdiri di depan gerbang pintu masuk sekolah. Aku heran. Kenapa dia di sana? Tanpa berpikir panjang, aku langsung turun ke bawah, menghampiri Alicia. Tiba di bawah, ku panggil-panggil namanya. Namun, ia tak kunjung menoleh ke arahku. Aku berlari ke arahnya sambil terus memanggil namanya. Tiba di belakangnya, aku raih pundaknya.


“Alicia,” panggil ku.


Ia mulai memutar tubuhnya perlahan. Begitu tubuhnya menghadapku…


“Aaarrghh,” aku refleks menarik tanganku dari pundaknya. Aku sangat terkejut. Aku sama sekali tidak percaya apa yang kulihat. Di hadapanku, Alicia, wajahnya tampak tirus. Sampai terlihat tulang pipinya. Matanya berwarna ungu. Bola matanya warna ungu pekat. Matanya tampak melotot tanpa berkedip.


“Alicia,” ku panggil namanya sekali lagi dengan terbata-bata. Memastikan itu benar dirinya.


Tiba-tiba, ada suara yang memanggil namaku dengan lirih, namun terdengar jelas. Berulang kali suara itu memanggil namaku. Kemudian, tiba-tiba ada yang meraih pundakku dan…


“VIOLLET!” suara itu memanggil namaku dengan suara yang kencang.


“Aaahh,” aku menarik pundakku dari raih-an nya. Dan membalik arah tubuhkutubuhku dengan pejaman mata.


“Viollet?” suara Alicia terdengar.


Alicia? Bukankah… aku menoleh ke belakangku. Tak ada seorang pun di sana. Aku kembali menoleh ke arah Alicia. Ia menatapku bingung.


“Ada apa?” tanyanya.


Aku tidak menanggapi pertanyaannya. Aku melihat sekeliling. Hanya ada aku dan Alicia di hadapan ku.


“Viollet?” Alicia masih menatapku tidak mengerti.


Aku menoleh dan menatap matanya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku.

__ADS_1


“Apa? Seharusnya aku yang bertanya padamu, Viollet. Saat aku berjalan mengelilingi sekolah, aku melihatmu di sini. Sedang berdiri sendirian di depan gerbang. Tapi, kamu seperti menyentuh seseorang yang ada di depanmu,” terang Alicia, sambil menunjuk ke arah depanku. “Apa yang terjadi, Viollet? Apa ada sesuatu yang kamu lihat? Apa yang kamu lihat tadi di depanmu?”


Aku menyentuh pundak Alicia-memastikan apa dia benar Alicia. Aku merasakan keberadaannya. Aku mencubit tanganku. Aku merasakan sakitnya. Ini bukan mimpi atau halusinasiku. Apa yang ku lihat di depanku memang Alicia.


Alicia melihatku bingung. Tak mengerti apa yang aku lakukan.


“Viollet? Apa yang terjadi?” tanyanya.


“Em, tidak ada. Semua baik-baik saja. Tadi aku… aku behalusinasi,” kataku sambil tersenyum.


Alicia menatapku ragu.


“Oh ya, tadi aku mencarimu. Kamu dari mana saja?” tanyaku.


“Mengelilingi sekolah. Bukankah sudah ku katakan,” kata Alicia.


“Kenapa kamu mencariku?” tanya Alicia.


“Oh, itu. Alicia,” aku mulai serius dengan pembicaraan.


“Ya?” kini dia sudah tak telihat ragu lagi denganku.


“Apa yang sebenarnya terjadi di kelas tadi?” tanyaku.


“Oh, aku,” ia tampak ragu menjawab.


Alicia terdiam. Aku sabar menanti sampai dia bicara.


“Tadi aku merasakan keberadaan makhluk itu kembali,” Alicia berbicara lebih dulu.

__ADS_1


“Maksudnya?” aku memasang raut wajah tak mengerti.


“Saat aku memberi tahu mu tentang makhluk itu, aku tak lagi merasakan keberadaannya, melihatnya, mendengar suaranya, atau melihat kabut ungu di sekitar Catrine. Setelah beberapa hari, hal itu tetap tidak ada. Ku pikir, seterusnya akan baik-baik saja. Ternyata, aku salah. Hal itu tidak membaik. Saat kamu memberi tahu siapa pasanganmu di pelajaran Bahasa Inggris, aku melihatnya. Dia ada di belakangmu. Entah kenapa, waktu terasa terhenti bagiku. Dia menatapku tajam. Kemudian, aku mendengar suara bisikan. Bisikan itu dari makhluk yang kulihat. Dia berbisik, ‘Aku kembali. Aku tidak akan membiarkan kamu lolos lagi. Aku telah kembali. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu dariku.’ Bisikan itu terdengar lirih. Namun, kata-katanya jelas. Aku mendengarnya dengan jelas. Mendengar itu, aku langsung ketakutan. Aku tak sempat mengartikan bisikannya itu. Kemudian, waktu kembali berputar. Suara yang kudengar sebelumnya, kembali terdengar. Aku kembali melihat kabut ungu pekat setiap melihat Catrine,” Alicia berhenti. “Menurutmu, apa yang sebenarnya di bicarakan makhluk itu? Aku sama sekali tidak mengerti. Apakah mungkin, itu bukan halusinasiku? Dia hanya pergi beberapa hari dan kembali lagi?”


Aku berfikir sejenak.


“Kamu benar, Alicia. Itu bukan halusinasi. Itu nyata.”


Alicia mulai membasahi mata cantiknya.


“Lalu, apa yang dimaksud makhluk itu?”


“Mungkin, makhluk itu berpikir, kamu tidak akan memberi tahu hal ini kepada orang lain. Ternyata, kamu memberitahu hal ini kepadaku. Jadi, rencana yang sudah makhluk itu siapkan, tidak bisa dilakukan. Semua itu hancur. Meskipun, aku tidak tahu apa rencana makhluk itu. Jadi, ia pergi beberapa saat. Mungkin untuk mengambil waktu yang tepat, untuk melakukan sesuatu padamu. Dan sekarang, hari ini, mungkin nanti malam, makhluk itu akan melakukan sesuatu padamu.” jelasku mengarang.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Alicia sambil terus membasahi matanya.


“Mm, bagaimana kalau aku tidur di kasurmu?” usulku.


“Untuk apa?”


“Jika aku tidur di kasurku, saat aku melihat makhluk itu, aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Akan sulit bagiku. Kalau aku tidur di kasurmu, memungkinkan agar aku bisa melakukan sesuatu.”


Alicia berpikir sejenak. “Baiklah.”


“Bagus,” kataku bersemangat. “Jadi, kalau makhluk itu datang, bangunkan aku. Aku sangat mudah bangun. Cubit saja pahaku. Mengerti?”


Alicia mengangguk. Aku tersenyum lebar. Aku sangat bersemangat. Namun, aku tak menyadari, kalau aku melupakan sesuatu. Yaitu, makhluk itu juga berbisik bahwa, tak ada yang bisa menyelamatkan Alicia kali ini. "Sekarang, tak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu dariku."


-Bersambung

__ADS_1


__ADS_2