
Di UKS, Helen sedang diperiksa. Dia berbaring di ranjang sebelah Monalisa. Kali ini, aku tak khawatir atau menangis sedikit pun. Aku menatap pemeriksaan, dengan tatapan tajam. Serius melihat pemeriksaan. Sekaligus, memikirkan hal yang terjadi saat sekelilingku dikelilingi angin ****** beliung berwarna ungu pekat.
Saat itu, aku melihat bayangan berwarna di angin ****** beliung ungu pekat itu. Aku melihat seorang gadis sedang ketakutan. itu Helen. Tak ada suara apapun yang ku dengar di ****** beliung itu. Aku juga melihat satu makhluk mendekati Helen. Dialah yang membuat keadaan di sekolah ini buruk.
Helen menatap Makhluk itu dengan ketakutan. Tak lama, setelah itu. Makhluk itu mengangkat tangannya. Tubuh Helen terangkat. Kabut ungu mulai menunjukan diri. Tubuh Helen membeku. Makhluk itu mengepal tangannya secara perlahan. Selama makhluk itu mengepal, keluar kabut ungu tua dari tubuh Helen.
Aku melihat Helen membuka mulut dengan lebar. Aku tahu, dia berteriak karena kesakitan. Aku meneteskan air mata. Merasakan apa yang di rasakan Helen. Setelah beberapa lama, Helen menutup mulutnya. Dia jatuh dan tergeletak di lantai toilet. Dan keadaannya, sama seperti ketika aku menemukannya tergeletak di lantai toilet.
Aku melihat makhuk itu seperti tertawa tanpa bersuara. Seperti pertunjukkan drama yang tak bersuara. Aku meremas jemari. Kesal. Rasanya ingin sekali aku menghabisi makhluk itu. Tapi, mau bagaimana? Dia tak pernah muncul di hadapanku.
Angin ****** beliung ungu pekat pun hilang seketika, tanpa meninggalkan jejak. Itulah yang terjadi di dalam angin ****** beliung warna ungu pekat.
Kejadian itu, selalu terngiang di kepalaku. Entah kenapa.
“Viollet,” panggil seseorang.
Aku menoleh. Itu Alice.
“Aku mendengar kalau Helen…”
Aku mengangguk. Lalu melihat tubuhnya yang terbaring di ranjang.
Aku menatap Alice kembali. Kemudian, aku melihat Alice meremas jemari. Aku menatap wajahnya. Dia seperti kesal. Atau menyesal, ya? Intinya semacam ituluh. Lalu, dia pergi meninggalkan. Apa yang terjadi? Seketika, aku merasakan perasaan yang tak enak.
***
Aku berjalan di lorong nan gelap. Lorong ini pun tampak sudah tua. Aku terus berjalan. Walau dikelilingi rasa heran dan penasaran. Di mana aku? Ini bukan lorong sekolah Deletorian. Jelas berbeda. Sangat berbeda.
Hi hi hi hi hi hi hiy…
Hah? Suara itu… seperti suara tawaan. Tapi, suara siapa itu? Kenapa aku mendengar tawa itu? Apa tawa itu menertawakanku?
Hah? Aku melihat bayangan hitam-seperti tubuh manusia. Wush! Bayangan itu bergerak cepat sekali.
“Hei!” aku berseru. Lantas ku bergegas mengikuti bayangan itu.
“Hei berhenti!” seruku kembali.
Bayangan itu terus bergerak. Lalu, ku lihat dia memasuki salah satu ruangan. Dengan gesit, ku ikuti bayangan itu. Tiba di ruangan yang aku masuki, bayangan itu berhenti-membelakangiku.
Aku sedikit ngos-ngosan.
“Siapa kamu? Tunjukan dirimu!” teriakku.
Perlahan, bayangan yang kulihat itu berbalik. Dan, mulai kulihat wajahnya.
“Hah!” aku berseru.
Itu Catrine dengan senyuman lebar yang mengerikan. Perlahan senyuman itu melebar, dan dia menyengir mengerikan. Lalu, dia tertawa seperti tawa yang ku dengar sebelumnya.
“Hi hi hi hi hi hiy,” tawanya.
“A... apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini, Catrine?” tanyaku, sedikit takut. Namun, lebih tepatnya khawatir.
“Aku?” suaranya terdengar mengerikan. Seperti dirasuki makhluk halus.
Wajahku cemas.
“Kamu bertanya padaku? Hi hi hi hi hi hiy,” dia tertawa kembali.
Dia melangkah mendekat. Aku juga perlahan sedikit mundur. Lalu, tiba dia dekat denganku. Dia menatapku mengerikan.
“Aku baik-baik saja. Kau tak perlu cemas padaku. Yang perlu kamu cemaskan adalah… DIRI KAU SENDIRI!!” tiba-tiba ia mencengkram leherku, dan mendorongku sampai tubuhku menghantam dinding.
__ADS_1
Dia terus mencengkram leherku. Sehingga, aku kesulitan untuk bernapas.
Dia tersenyum mengerikan. Lalu dia terkekeh. “Kalau kau ingin selamat, jangan kau ganggu aku.”
Senyumannya terlipat. Wajahnya menjadi tampak kesal. Aku masih kesulitan untuk bernapas.
Catrine mencengkram leherku semakin kuat. “Atau, kau… AKAN PERGI DARI DUNIA INI SELAMANYAAA!!”
HAH!?! Aku berdiri dari kursiku. Napasku tersengal-sengal. Ternyata tadi itu hanyalah mimpi. Aku melihat sekeliling. Semua siswa-siswi di kelas menatapku heran. Kalau mereka heran, apa lagi aku. Apa maksud dari mimpi itu?
“Viollet,” panggil guru IPA. Yang sedang mengajar di depan kelas.
Aku menoleh ke arahnya.
“Apa yang terjadi?” tanya guru itu.
Napasku masih tersengal-sengal. Lantas menggelang.
“Aku baik-baik saja,” ujarku. “Tadi, aku hanya… sedikit terkejut.”
Guru itu sebenarnya heran. Terkejut karena apa? Tapi lantas guru itu mengangguk-angguk. “Baiklah, kembali duduk.”
Aku menangguk. Lalu, duduk di kursiku kembali. Napasku masih sedikit tersengal-sengal. Sejenak, aku berpikir, dan bertanya. Apa maksud mimpi tadi?
Pelajaran IPA pun usai. Aku bergegas pergi ke kantin. Untuk makan siang. Tiba di kantin. Selepas aku mengambil makanan, aku mencari bangku yang kosong. Yes! Ketemu. Aku tersenyum riang. Akhirnya, setelah menahan lapar, aku bisa makan. Aku melangkah menuju meja itu. Sudah ada siswi duduk di sana rupanya. Aku berhenti di hadapan siswi itu. Adalah Catrine siswi itu. Dia yang sedang makan, menatapku. Heran.
“Ada apa?” tanya Catrine.
Aku tersenyum. “Boleh aku bergabung?”
Catrine menatapku dengan datar. Lalu mengagguk.
Aku duduk di hadapannya. Aku mulai menyuap sesendok nasi. Aku makan lahap sekali. Karena aku sedang lapar.
Aku menatapnya. Ya?
“Bolehku bertanya?” tanya Catrine. Dengan wajah yang datar.
Aku mengangguk. Silahkan.
“Kenapa kamu memperlakukanku berbeda dengan yang lain?” tanya Catrine.
Wajahku heran. Maksudmu?
“Selama ini, yang lain memperlakukanku seperti orang aneh. Mendiamkanku, dan menatapku lirih. Seakan aku, adalah musuh bagi mereka. Tapi kamu… tidak. Kenapa?” Catrine menjelaskan lebih detail.
Aku menatapnya dengan senyuman. “Tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu, Catrine. Kamu itu temanku. Lagi pula, kamu itu tidak aneh. Apa yang aneh darimu? Tidak ada.”
Walau dengan mimpi aneh itu, aku masih menganggap Catrine tidak aneh. Dan, yeah, aku menganggapnya seperti teman.
“Teman?”
Aku tersenyum. Mengangguk. “Yap, teman.”
Catrine hanya diam. Kemudian, dia membuka mulutnya-sambil menunduk. “Aku tidak percaya teman.”
Giliranku yang terdiam. Senyuman yang ada di wajahku sebelumnya, terlipat.
“Teman, hanyalah kebohongan belaka,” Catrine pergi keluar kantin. Meninggalkan makanannya yang tersisa.
Aku terdiam. Melihatnya yang terus berjalan menjauh. Aku menunduk. Apa maksudnya? Teman hanya kebohongan belaka? Aku tak mengerti. Kenapa dia menganggap teman seperti itu?
Tak lama, aku kembali mengangkat kepalaku. Aku melihat Alice. Dia melirikku. Lalu, dia kembali menyantap makanannya. Dia tampak duduk sendirian. Mengingat kejadian kemarin. Aku menatap tajam ke arahnya. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Dia melirikku kembali. Lalu, aku pura-pura melakukan kesibukan. Buku pelajaran masih ada di tanganku. Untunglah. Jadi, aku bisa pura-pura membaca buku.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Alice selesai makan. Aku juga sudah selesai makan. Aku terus mengawasi Alice. Saat dia melirikku sebelumnya, aku seperti merasakan hal yang tak mengenakkan. Jadi, aku memutuskan mengintainya. Sebenarnya, aku tak menyukai hal ini. Itu seperti menguntit. Dan, itu tidak sopan. Namun, mau bagaimana lagi? Maafkan, aku Viollet. Aku terpaksa. Dalam hati kuberkata.
Alice berjalan menuju asrama. Aku mengikutinya. Suara langkahku pelan, namun berjalan dengan gesit. Lalu…
“Viollet,” panggil seseorang.
HAH! Aku terkejut. Alice menoleh ke belakang. Dia mengetahui keberadaanku. Dia langsung berjalan dengan cepat. Astaga! Aku menoleh ke suara itu berasal. Itu Alex.
“Hai, Alex. Tapi, kenapa kamu memanggilku di saat yang tidak tepat?”
“Apa? Memangnya apa yang kamu lakukan?” tanya Alex.
Aku terdiam. Lalu melirik ke kanan dan ke kiri. Aku menggeleng datar. Tidak ada.
“Viollet,” Alex menatap ku prihatin.
Aku menatapnya. Ya?
“Aku turut sedih dengan apa yang menimpa Helen,” ujarnya.
“Tidak masalah. Tapi, maaf, Alex. Aku harus pergi sekarang,” kataku tak lama, yang seharusnya aku lakukan sejak awal.
“Boleh aku ikut?” tanya Alex.
Aku terdiam.
“Aku tahu, jika kamu sedang terburu-buru, pasti akan ada sesuatu hal yang akan terjadi. Aku ingin ikut. Aku juga ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja, Viollet,” kata Alex. Dengan senyuman.
Ku balas senyuman itu. “Kamu tak perlu khawatir tentangku. Aku akan baik-baik saja.”
Astaga! Apa yang baru saja ku katakan. Urgh, sudahlah, lupakan.
Lengang sejenak.
“Yeah, kamu boleh ikut. Tapi, aku mau ke asrama perempuan. Kamu juga mau ikut?” tanyaku.
Alex terdiam.
“Mungkin,” kata Alex tak yakin.
“Baiklah, ayo!” ujarku. Aku tak peduli dengan raut wajah Alex.
Kami pun bergegas lari ke asrama perempuan. Aku menuju kamarku. Sulit sekali aku menuju kamarku. Jalannya sangat sulit untuk ditempuh. Ada tangga, berkelok-kelok, belum lagi lorong yang penuh dengan para siswi yang berbincang-bincang, dan menatap heran keberadaan seorang laki-laki yang ada di asrama perempuan. Namun, aku tak peduli akan hal itu. Aku rasa Alex juga. Dia terus berlari mengikuti ku. Walau ada banyak rintangan. Tapi, aku tak menyerah. Aku terus berlari menuju kamarku tanpa henti.
Kami pun tiba di sana. Saat ingin ku buka pintu, perasaanku tak enak. Aku menghela napas panjang, dan membuka pintu. Di dalam gelap sekali. Kabut asap ungu pekat ada di mana-mana. Mataku mulai basah. Aku… aku terlambat kembali.
Alex menatapku prihatin.
“Maafkan aku, Viollet. Aku rasa, ini salahku. Seharusnya aku tak menghentikanmu, saat itu,” Alex menyesal.
Aku menggeleng. Tidak apa-apa. Semuanya sudah terjadi.
Aku masuk ke dalam. Kabut asap ungu pekat itu mulai menghilang. Di depan mata kami. Terlihat gadis tergantung. Wajahnya pucat. Lehernya diikat tali. Di bawah kakinya, terdapat kursi yang Alice pijak. Adalah Alice yang tergantung. Alex terkejut. Aku tidak-hanya membasahi mataku. Aku sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi.
Aku bergegas melepas ikatan tali. Aku mengecek denyut nadinya. Syukurlah, masih berdenyut. Masih ada harapan. Aku menggendong tubuh Alice seperti bayi. Namun, kemudian, asap ungu pekat mengelilingiku dan Alex. Asap itu berputar, sehingga seperti angin ****** beliung warna ungu pekat. Aku dan Alex berada di dalam angin ****** beliung itu.
Alex terkejut. Dia panik.
“Jangan panik, semuanya baik-baik saja,” aku menenangkan dengan wajah yang datar-yang berbekas air mata.
Namun, wajah Alex masih tetap panik. Aku terduduk. Duduk rapih. Siap menyaksikan apa yang akan tergambar di sana.
Gambar pun mulai muncul di ****** beliung itu. Gambar kamarku, dan aku melihat Alice membuka pintu. Kali ini terdengar suara. Aku mendengar suara denyitan pintu terbuka yang mendengung. Terdengar jelas dan keras.
__ADS_1
-Bersambung