Deletorian School

Deletorian School
Kelemahan Makhluk


__ADS_3

Bruukk!


Tubuh Catrine terkapar di tanah. Energinya sudah habis terkuras.


“Itulah akibatnya menentang perintah,” makhluk itu berkata. Lalu, dia menatap tubuhku yang lari tunggang-langgang.


“Sekarang giliranmu,” ujar makhluk itu. Makhluk itu bergegas mengejarku.


Aku yang mendengar sedikit suara perkataannya, langsung menambah kecepatan berlariku. Ketika aku tiba di tempat Alex menunggu, aku berhenti.


“Ada apa? Di mana Catrine?” Alex bertanya.


Napasku tersengal-sengal.


“Tidak ada waktu! Cepat! kita harus segera lari dari sini!” tukasku.


“Apa yang…”


Belum selesai pertanyaan Alex, terdengar suara langkah makhluk itu. Alex terkejut melihat makhluk itu. Makhluk itu sangat menakutkan.


“Itu kah makhluknya? Apa dia mengejarmu?” Alex bertanya dengan wajah sedikit ketakutan.


Dasar! Di saat genting seperti ini dia sibuk bertanya.


“Tak ada waktu, kita harus pergi! Aku menemukan cara agar bisa menyelamatkannya. Ayo!”


“Tidak!” Alex berseru.


“Apa?”


ASTAGA! Apa yang dia pikirkan?

__ADS_1


“Kamu pergi. Aku akan di sini dan memperlambat gerakannya. Kamu pergi ke sekolah, dan peringatkan semua orang.”


Ya ampun! Aku sama sekali tak percaya yang dia katakan. Maksudnya, dia mengorbankan diri? Serius? Aku sama sekali tak menyangka seperti ini jadinya.


“Tapi-”


“Tak ada tapi-tapi,” Alex memotongku. “Harus ada yang mengorbankan diri kali ini.”


Aku terdiam. Alex menatap makhluk itu.


“Dan akulah orangnya.”


Mataku mulai basah kembali.


“Cepat! kita tak ada waktu!” tukas Alex.


Aku menyeka air mata di ujung mataku. Alex tersenyum. Tampak wajah keberanian di sana. Aku bergegas pergi.


“Hei makhluk, kemari,” seru Alex.


Aku pun sampai di sekolah. Aku terkejut melihat keadaan sekolah. Sunyi-senyap. Gelap. Aku mulai menduga apa yang terjadi. Aku masuk ke sekolah.


"Hah!" aku terkesiap. "Tidak!"


Aku melihat banyak orang terkapar di lantai. Dengan keadaan seperti Alicia dan lainnya. Air mata mulai membasahi wajahku.


"Aku terlambat," ujarku.


Aku menyeka air mata itu. Tak ada waktu untuk menangis. Tidak ada waktu bersedih. Aku harus bergegas pergi ke kamar. Dan memperbaiki keadaan.


Aku pun berlari pergi ke sana. Tiba di sana, ku buka lemari Catrine. Mencari buku bersampul merah yang ia katakan. Ku ubrak-abrik buku-buku di lemari nya. Di mana itu? Di mana? Ah! Ketemu. Tunggu! Kabut asap ungu pekat! Astaga, cepat sekali makhluk itu. Aku membuka cepat lembaran buku itu. Aku harus cepat menemukan lembar di mana ada tulisan kelemahan makhluk itu. Terdengar suara langkah makhluk itu. Aku membalik halaman lebih cepat. Ayo! Ayo! Ayo! Jantung ku berdegup kencang. Yes! Ketemu!

__ADS_1


BRAK!


Dengan kasar makhluk itu membuka pintu kamar. Dia mencari diriku. Untunglah aku sempat bersembunyi. Aku bersembunyi di balik lemari. Aku menutup mulutku agar tak bersuara. Bahkan aku menahan napas.


Di buku itu, aku membacanya dengan cepat. Terdapat tulisan besar dan tebal, yaitu; KELEMAHAN MAKHLUK PEMBENCI. Mungkinkah itu nama makhluk nya? Makhluk pembenci? Di bawahnya, terdapat tulisan; Makhluk pembenci di penuhi kebencian dan rasa dendam. Kelemahanya, adalah tempat yang sangat bercahaya. Itulah kelemahannya. Benar juga. Setelah ku ingat, dia selalu muncul saat keadaan gelap gulita. Karena cahaya adalah kelemahan nya. Kenapa sama sekali tidak terpikirkan oleh ku? Ya, aku harus menemukan tempat yang bercahaya, dan terang untuk mengalahkannya.


Makhluk itu mencari ku di sekitar. Lengang. Menyisakan suara hembusan napas makhluk itu. Denyut jantungku berdegup lebih kencang. Peluh mulai membasahi wajah. Lama sekali makhluk itu berada di kamar. Berjaga-jaga. Mungkin saja aku akan keluar, atau membuat suara. Tapi tak semudah itu. Aku baik dalam bersembunyi. Tak lama, dari saat itu, akhirnya makhluk itu memutuskan untuk keluar. Saat aku bersiap untuk keluar dari tempat persembunyian.


HAH!


Makhluk itu berbalik. Untung saja aku belum keluar dari balik lemari. Denyut jantungku berdenyut sangat kencang. Sudah banyak sekali peluh di wajahku. Aku tak sempat menyeka nya. Takut menimbulkan suara. Tak lama berdiam diri, makhluk itu mulai keluar dari kamar.


BRAK!


Pintu menutup kencang. Membuat jantungku terkejut. Makhluk itu telah keluar. Aku menunggu beberapa saat. Memastikan makhluk itu benar-benar sudah keluar.


Aku pun keluar dari tempat persembunyian. Perlahan, aku melangkah menuju pintu. Tak ingin membuat suara. Aku ingin membuka pintu. Perlahan sekali gerakanku membuka pintu. Jantungku berdenyut kencang. Takut makhluk itu kembali. Keringat mengujur deras di wajahku. Selalu ada pertanyaan di dalam benaku. Apakah makhluk itu akan kembali? Atau tidak? Apakah aku akan tertangkap? Dan energiku di ambil juga seperti yang lain?


Aku membuka pintu. Kepalaku telah keluar dari dalam ruangan. Tak ada siapa-siapa. Aku mulai melangkah. Sambil berpikir. Di mana aku bisa menemukan tempat yang terang? Bercahaya? Agar aku bisa mengalahkan makhluk itu. Aku berpikir sejenak sambil berlari. Ya! Itu dia! Aku tahu tempatnya.


Aku pergi ke tempat itu. Adalah ruangan UKS tempatnya. Terdapat banyak lampu geser yang cukup besar di sana. Dan sangat terang tentunya. Aku akan gunakan lampu itu untuk mengalahkan makhluk yang bernama makhluk pembenci. Baiklah.


Aku pun tiba di ruangan itu. ku buka pintu. Aku berpikir. Benar! Aku harus membuat ruang yang cukup luas untuk mengalahkan makhluk pembenci. Aku menggeser semua ranjang. Terutama yang terbaring temanku di ranjang itu. Aku menggeser ranjang mereka ke tempat yang cukup aman. Seusai aku melakukannya, aku menggeser lampu geser yang cukup besar ke tampat yang luas itu. aku menata lampu itu, agar ketika makhluk itu berada di sana, matanya kesilauan.


Cukup sulit melakukannya dan lumayan lama. Karena, aku harus melakukannya di tempat yang gelap. Akhirnya, selesai! Cukup lelah melakukannya. Aku pun mulai mengalihkan perhatian makhluk itu. Aku membuat suara ketukan di ruangan UKS, yaitu menepuk tangan. Aku yakin, itu pasti bisa membuat makhluk itu datang kemari. Beberapa saat, tak kunjung datang. Namun, tak lama dari masa itu…


Buk! Buk! Buk!


Terdengar suara langkah makhluk itu. Makhluk pembenci. Aku tersenyum riang. Aku lebih keras menepuk tanganku.


BRAK!

__ADS_1


Suara membuka pintu terdengar. Aku bersembunyi di salah satu lemari. Makhluk itu melangkah masuk. Terdengar suara hembusan napas makhluk itu. Hembusan napas yang sangat berat. Saat makhluk itu melangkah, ruangan bergetar hebatnya. Jantungku berdegup kencang. Apakah rencana ku akan berhasil? Atau tidak? Apakah keadaan akan kembali normal? Atau tidak? Aku menggelengkan kepala. Tidak! Positive thinking. Aku harus berpikir positif.


-Bersambung


__ADS_2