Deletorian School

Deletorian School
Helen juga?


__ADS_3

Dua hari berlalu. Pagi ini adalah pagi yang cerah. Eh, tunggu, aku rasa hari ini cukup berawan. Tidak begitu gelap, dan tidak begitu cerah. Seakan tidak terduga yang akan terjadi pada cuaca hari ini. Sama seperti harinya. Tidak terduga apa yang terjadi.


Semenjak kejadian yang menimpa Alicia, sikap Helen berubah. Tingkah lakunya menjadi mirip dengan Alicia. Dia lebih sering menyendiri. Begitupun hari ini. Dia tampak berbeda. Aku mengambil sarapan yang cukup sedikit. Beberapa hari, nafsu makanku berkurang. Entah, kenapa. Setelah mengambil makanan, aku mencari meja yang bisa ku tempati untuk makan. Kulihat Helen makan sendirian di salah satu meja. Aku menghampirinya.


“Pagi, Helen,” sapaku begitu sampai di mejanya.


“Pagi,” jawab Helen lesu. Atau mungkin bisa di bilang tidak bersemangat? Ketakutan? Atau, ah, entahlah. Aku tidak bisa menebak perasaannya hari ini.


“Boleh aku bergabung?” tanyaku kemudian.


Helen mempersilahkan ku dengan kepalanya. Sungguh, dia sangat berbeda. Namun, aku berusaha untuk bersikap normal. Kenapa? Karena, aku pernah bertanya kepadanya tentang keadaannya. Dia baik-baik saja atau tidak. Begitu aku selesai mengatakan ucapanku, angin langsung bertiup kencang, cuaca sangat gelap. Keadaannya seperti tiba badai yang marah. Helen pun tampak aneh. Dia terlihat kesal? Atau apa ya? Ah, entahlah. Initinya dia mengepalkan tangannya dengan keras. Matanya menatapku seperti… seperti apa ya? Sinis? Sepertinya bukan, entahlah, matanya menatapku seperti aku adalah musuh baginya. Menatapku tajam. Ya, aku rasa begitu.


Sungguh, aku tidak berbohong. Hal itu terjadi beberapa kali. Semenjak kejadian itu tentunya. Puh, kenapa semua ini harus terjadi. Karena itu aku berhati-hati saat bersama Helen. Aku tidak ingin hal itu terjadi kembali, atau hal aneh lainnya, atau yang menyeramkan itu terjadi. Aku tak suka akan hal itu.


Baiklah, ku ambil sesuap nasi dan mengarahkannya ke mulutku. Aku makan dengan perlahan sambil melirik-lirik ke arah Helen. Aku tahu, tingkah ku itu sangat mencurigakan. Dan dari awal sudah ketahuan oleh Helen. Jadi…


“Ada apa?” tanya Helen dengan nada yang tak bersemangat.


“Ah, hah? Oh tidak, tidak apa-apa, hehehe,” kataku pura-pura terkejut. Aku tahu, tingkahku memang aneh. Kamu tidak perlu memberitahuku.


“Bohong,” katanya, menatapku seperti musuhnya.


Aku mulai menatapnya serius.


“Helen, apa kamu benar, baik-baik saja? Kamu tak tampak seperti biasanya,” kataku khawatir.


Astaga! Apa yang aku katakan? Aku baru tersadar, setelah aku mengatakannya. Yang benar saja, sepertinya sikap kekhawatiranku sama sekali tidak membantu dan tidak memberi manfaat kali ini.


Aku seakan bersiap dengan apa yang akan terjadi. Namun, anehnya, kenapa? Maksudku, ada apa? Hal itu tak terjadi. Biasanya hal itu akan langsung terjadi seusai aku mengatakannya.


Aku menatap Helen. Dari raut wajahnya, dia tampak sedih sekarang? Aku heran. Aku ingin bertanya ‘ada apa?’ namun aku membatalkannya.


“Maafkan aku, Viollet,” Helen akhirnya menggerakkan mulutnya, setelah lama membuat wajah sedihnya. Untuk pertama kalinya, semenjak kejadian Alicia, dia berkata dengan nada yang sedih.


Aku terdiam. Untuk apa dia minta maaf? Ujarku dalam hati.


“Aku tidak bisa menahannya,” ujar Helen. Matanya mulai basah.


Aku masih tak mengerti. Tiba-tiba, Helen menatapku dengan alis saperti marah, dengan mata yang masih basah, dia mengangkat tangan nya, dan... Plak! Dia menepuk meja dengan keras.


Hah? Apa yang terjadi? Aku di… kelas? Bagamana bisa? Aku menoleh kesekitarku. Tak ada siapa-siapa. Kosong. Apa yang terjadi?


“Viollet?” Terdengar suara yang memanggilku.


Aku menoleh ke arah suara itu. Itu Monalisa.

__ADS_1


“Wow, pagi sekali kamu datang ke kelas,” ucapnya.


“Oh, um, yeah. Aku, tidak ingin terlambat,” kataku mencari alasan. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi.


“Benarkah? Wah. Kamu memang luar biasa, Violllet,” Kata Monalisa sambil menghampiri kursinya.


“Benarkah? Aku… um,” aku tak tahu ingin berbicara apa lagi. Lalu, “Eh,” aku melihat sesuatu dari arah jendela.


“Ada apa?” Monalisa bertanya.


“Hah? Oh, em, tidak ada,” ujarku. Begitu aku menoleh ke arah Monalisa.


Aku melihat kembali ke jendela. Tak ada apa-apa. Aku menatap tajam ke arah jendela itu. Tadi, dari jendela aku melihat seseorang yang tak aku kenal dengan raut wajah yang sedih. Raut wajahnya persis seperti Helen, sebelum aku berada di kelas yang tak tahu bagaimana caranya.


***


“Baiklah, anak-anak, jadi untuk tugas kali ini, Ibu ingin kalian melukis kenampakan alam di dunia ini. Namun, sebelum itu, Ibu ingin menunjukan beberapa contoh lukisan. Kalian juga dapat mengikuti salah satu lukisan yang ibu tunjukkan,” jelas Bu Rindu, guru Seni Rupa kami-sambil menunjukkan beberapa lukisan.


“Ini, adalah salah satu contoh…”


“AAARRGGHHHH,” terdengar teriakan seseorang memotong kaliamat Bu Rindu.


Semuanya langsung menoleh ke arah suara itu berasal, termasuk diriku. Adalah Helen yang berteriak tadi. Dia menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Tampaknya sangat ketakutan.


“Helen, ada apa?” tanya Bu Rindu.


Aku menatapnya cemas.


“Lantas, mengapa kamu berteriak?” tanya Bu Rindu kembali.


“Ehmm.”


“Tadi ada kecoa, Bu,” Bukan Helen yang menjawab, melainkan Monalisa, teman semejanya. Semua mata langsung tertuju padanya.


“Apa?” kata salah satu teman sekelasku.


“Benarkah? Dimana?” sahut yang lainnya.


“Ada kecoa?” yang lain menimpali.


"Dimana kecoa itu?" yang lainnya mulai panik.


Setelah mendengar kata ‘kecoa’ satu kelas langsung gaduh seketika.


Tok, tok, tok, tok, tok, suara ketukan papan tulis terdengar.

__ADS_1


“Sudah, sudah, hentikan. Semuanya, harap tenang,” Bu Rindu menenangkan kelas. “Dimana kecoa itu, Monalisa?”


“Erg.. dia sudah kabur, Bu,” ucap Monalisa.


“Baiklah, baguslah kalau begitu. Jadi tak lagi ada yang akan mengganggu pelajaran. Baik, ayo kita kembali ke materi,” kata Bu Rindu.


Belum sempat Bu Rindu melanjutkan, Monalisa mengangkat tangannya lebih dulu.


"Bu Rindu!" panggil Monalisa


“Ya, Monalisa? Ada apa?” tanya Bu Rindu.


“Karena tempat duduk di sebelah Viollet kosong, bolehkah Helen duduk di sana?” tanya Monalisa. Dia sengaja tidak mengatakan “tempat duduk Alicia” karena setiap kali nama Alicia disebutkan, semua anak tampak ketakutan. Tentu saja, itu karena kejadian yang menimpa Alicia.


“Apa masalahnya, sehingga Helen harus duduk di kursi itu?” Bu Rindu balik bertanya. Dia tampak serius.


“Ehm, itu… itu karena…” begitu Monalisa melihat mata Helen, dia tahu alasan yang tepat. “Karena mata Helen sakit, Bu. Matanya sedikit merah. Jadi sulit untuknya melihat ke depan dengan jelas.”


Aku melihat mata Helen. Itu benar matanya sedikit merah.


“Mungkin di sebelah kursi Viollet, dia bisa melihat ke depan dengan jelas,” lanjut Monalisa.


“Benarkah? Kalau begitu, kenapa Helen tidak masuk ke ruang UKS saja?” Bu Rindu bertanya.


“Itu karena Helen tak mau ketinggalan materi, Bu. Biasa, Bu. Bukankah itu yang dilakukan murid teladan?” jawab Monalisa sambil menyengir. Mencari alasan.


“Hm, baiklah, asalkan jangan timbulkan kegaduhan lagi, oke?” ujar Bu Rindu.


“Baik, Bu. Terima kasih,” ucap Monalisa.


“Baiklah, ayo kita kembali ke materi,” Bu Rindu melanjutkan pembelajaran.


Helen menoleh ke arah Monalisa. Monalisa menatapnya, tersenyum. Lalu mengarahkan kepalanya kepadaku dan kembali menatap Helen. Helen tersenyum, seakan mengatakan “Terima kasih”. Dia berdiri, dan mengarah ke tempat duduk di sebelahku.


Begitu Helen duduk di sebelahku, Monalisa menepuk pundakku. Aku menoleh.


“Jaga dia. Aku percayakan dia kepadamu,” bisik Monalisa.


Awalnya aku tak mengerti. Namun, ketika aku menoleh ke arah Helen, dia tampak ketakutan. Sama seperti Alicia sebelumnya. Aku paham. Aku menoleh ke Monalisa. Aku mengangguk dan tersenyum. Monalisa kembali duduk rapih. Begitu pula diriku. Aku menoleh ke Helen. Masih sama, ketakutan. Aku menyentuh pundaknya. Helen menoleh. Aku tersenyum manis.


“Jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu.”


Wajahnya yang awalnya gusar, menjadi cerah. Dia mulai tersenyum. Kali ini bukan senyuman yang palsu.


“Terima kasih, Viollet.”

__ADS_1


Aku mengangguk. Masih dengan senyuman yang manis. Aku senang dan merasa lega. Keadaan lebih baik sekarang. Namun, bukan jauh lebih baik. Hanya 'lebih baik'.


-Bersambung


__ADS_2