
Aku meneteskan air mata. Itu perjalanan hidup yang menyedihkan.
“Aku tidak akan memaafkan, sesiapapun yang terlibat!” makhluk itu berkata.
Alice mendekat. Ia duduk di depan makhluk itu. Dan memeluknya.
“Catrine, maafkan aku…”
Makhluk itu mendorong tubuh Alice.
“Jangan berpura-pura. Berhentilah pura-pura menangisi diriku!”
“Aku tak berpura-pura, Catrine,” ujar Alice.
Alice mulai menangis. “Aku benar-benar menyesal, Catrine.”
Alice berhenti sejenak. Aku menatap mereka sedih. Air mata pun mulai keluar dari mataku.
“Bohong! Kamu tak pernah menyesal seumur hidumu!” makhluk itu marah. Eh, maksudku Catrine.
“Tidak. Aku benar-benar menyesal.”
Alice terus menangis. Terisak-isak.
“Aku seharusnya membelamu saat itu. Namun, aku tidak melakukannya. Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal,” ujar Alice, dengan suara isakan.
“Saat kamu pergi, aku merasa ada hal yang tidak beres. Hingga, suatu ketika, aku mendengar suara percakapan kedua anak yang menyebutkan namamu saat itu, sekaligus yang mengganggumu saat di taman. Salah satu dari mereka berkata, “Hebat! Kita memfitnah Catrine, dengan hebat. Dia bukan hanya di marahi saja. Tapi juga di usir,” katanya. “Benar, untung tidak ada yang menyadarinya kalau foto itu editan. Padahal kita yang merusak meja dan kursi kelas,” sahut yang lainnya. “Benar.” Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Aku marah mendengar hal itu. Lalu aku mendekati mereka dan memarahi mereka. Mereka lari tunggang-langgang saat aku memarahi mereka. Kedua anak itu pun meninggal dengan menggenaskan. Mereka tak sengaja jatuh dari atap sekolah saat berlari.
“Aku sedikit senang akan hal itu. Karena mereka meninggal dengan menggenaskan. Namun, apa guna. Walau anak itu tiada, waktu tak bisa diputar kembali. Semuanya sudah terlambat. Ingin sekali rasanya aku bertemu denganmu dan meminta maaf. Namun, aku tak tahu di mana kamu berada. Berbagai kabar tentangmu pun sudah merajalela. Ada yang mengatakan kamu sudah tiada, ada yang mengatakan kamu bunuh diri, dan lainnya. Kamu harus tahu, Catrine. Aku selalu menangis setiap malam tiba, di toilet. Karena teringat kejadian itu.”
Alice terus menangis. “Maafkan aku, Catrine. Aku minta maaf.”
“Tidak! TAK ADA MAAF BAGIMU!” makhluk itu, eh… maksudku Catrine. Dia masih tampak kesal.
Aku mendekatinya. Aku menyentuh tangannya yang besar, dan menggenggamnya erat. Lalu tersenyum.
“Catrine, aku tahu. Rasa dendam yang besar ada di dalam dirimu. Rasa kesal dan marah terus mengahantui tubuhmu,” aku berhenti sejenak. “Namun, apa yang bisa di lakukan selain memaafkan? Kalau pun kamu membuat Alice tiada atau mengambil energinya, apakah kamu bisa hidup kembali? Tak bisa bukan? Jadi, maafkan lah Alice. Kamu harus tahu, dia saangaaattt merasa bersalah padamu. Maafkan. Aku tahu, kamu pasti ingin merasa tenang juga bukan? Agar perasaan tenang datang padamu, maafkanlah Alice,” Aku membantu Alice dimaafkan. Aku menjelaskan, dengan air yang terus mengalir deras.
Tak kusangka, makh… eh, maksudku, Catrine menangis. Air matanya mengucur deras.
Brak!
Terdengar suara pintu terbuka. Itu Catrine yang sekarang dan Alex. Namun, aku tak mempedulikan mereka. Mereka masuk dan terkejut melihat aku memegang tangan makhluk itu.
Makh… eh, maksudku, Catrine menangis. Aku mengusap air matanya. Menyentuh wajah besarnya, yang kasar. “Aku tahu berat perjalanan yang kamu rasakan.”
__ADS_1
Tiba-tiba, ada cahaya yang menyilaukan mataku. Sehingga aku memejamkan mata. Setelah cahaya itu hilang. Aku melihat anak perempuan seumuranku terduduk di hadapanku. Wajahnya mirip dengan Catrine yang dulu-yang kulihat di ingatannya. Namun, tubuhnya berwarna putih kebiruan.
Anak itu menyeka air mata di ujung matanya. Lalu, menatapku.
“Terima kasih, kamu membantu aku tenang,” ujarnya.
“Catrine?” Alice terkejut.
Anak itu-yang dipanggil Catrine, menoleh.
Alice memeluknya erat. “Maafkan aku, Catrine.”
Alice melepas pelukannya. Dia melihat Catrine-anak itu tersenyum manis.
“Aku, memaafkanmu, Alice,” ujarnya.
Alice menangis deras.
“Jangan menangis,” Catrine-anak itu berbicara. “Nanti wajah cantik mu hilang.”
Alice tersenyum. Mengusap air matanya.
“Maafkan aku atas yang aku lakukan padamu, Alice,” Catrine-anak itu meminta maaf.
Alice mengangguk. Catrine-anak itu, menatap Alicia, Helen, Monalisa, Catrine-sekarang, dan Alex.
Mereka mengangguk. Lalu, Catrine-anak itu, menatapku.
“Sekali lagi, aku beterima kasih, dan minta maaf kepadamu.”
Aku mengangguk. Kemudian, dia tersenyum.
“Sungguh, siapaun yang berteman denganmu, sangatlah beruntung. Kamu memiliki hati yang sangat luar biasa baiknya.”
Aku hanya tersenyum.
“Aku pamit ya, semuanya,” katanya dengan melihat ke sekelilingnya. “Aku pamit ya, Alice,” katanya kepada Alice.
Alice menangguk. Dengan tetesan air yang masih mengalir. Perlahan, Catrine-anak itu menghilang. Entah pergi ke mana.
Aku mengelus punggung Alice. Tersenyum. Alice ikut tersenyum.
Aku tahu sekarang. Semenjak dia tiada di jurang itu, dia memiliki rasa kesal yang luar biasa. Sehingga, itu membuat dirinya menjadi makhluk pembenci. Dia merasuki anak yang pendiam, dan… intinya sifatnya mirip dan wajahnya mirip. Dan, salah satunya adalah Catrine yang sekarang-yang mungkin bukan itu nama aslinya. Makhluk itu muncul sebagai siswi baru di sekolah ini, dan mulai mengambil energi temannya. Salah satunya, teman Monalisa yang telah tiada.
Dua tahun lalu, alasan kenapa dia hanya mengambil energi satu siswi saja, Karena saat itu tenaganya belum cukup kuat untuk menunjukkan diri di sekolah itu, dan mengambil energi lebih dari satu. Saat dia merasuki Catrine sekaranglah-yang mungkin namanya bukan Catrine, baru tenaganya sudah cukup kuat.
__ADS_1
Dan, jawaban kenapa dia hanya mengincar anak perempuan saja? Itu karena, belum saat nya dia mengambil energi anak laki-laki. Mudah saja jawabannya.
Ruangan itu lengang selepas Catrine yang dulu menghilang.
“Em… Jika dia Catrine, apa dia juga Catrine?” tanya Helen memecahkan lengang. Menunjuk Catrine yang sekarang.
Catrine sekarang tersenyum. Inilah pertama kalinya Helen, dan lainnya melihat Catrine-yang sekarang, tersenyum. Mereka terkejut seperti melihat alien.
“Nama asliku bukan Catrine. Tapi, Cherlin,” ujarnya.
Aku tersenyum. Cherlin, jadi itulah nama aslinya.
“Cherlin, nama yang bagus,” puji Alicia.
“Benar,” sahut Monalisa.
“Baiklah, tapi… tunggu? Sebenarnya apa yang terjadi pada Catrine yang itu? Bagaimana dia bisa jadi makhluk mengerikan?” tanya Helen. Dia sepertinya kembali seperti semula.
“Benar. Apa yang sebenarnya terjadi?” Alex juga bertanya-tanya.
“Ceritanya akan panjang jika diceritakan,” ujar Alice. Setelah lama dia diam.
“Benar, dan itu akan membuat kita semua menangis,” Monalisa melanjutkan.
Aku dan Alice pergi ke luar. Alicia dan Monalisa menyusul.
“Tunggu, kenapa kalian pergi? Ayo, beri tahu aku,” Helen memaksa.
“Sudahlah,” ucap Alex.
Kedua tangan Helen di pinggang.
“Memangnya kamu tak ingin tahu apa yang terjadi?” tanya Helen.
“Aku sudah tahu,” ujar Alex.
“Benarkah? Beri tahu aku,” kata Helen.
Alex menggeleng.
“Tak mau,” lalu ia pergi meninggalkan Helen.
“Astaga! Yang benar saja,” Helen mulai kesal. Ia tak percaya dengan kelakuan laki-laki yang dipujanya. “Heh, tunggu aku!”
Kami pergi meninggalkan ruangan UKS yang berantakan. Semua orang siuman, dan terkejut melihat keadaan sekolah. Berantakan sekali. Jadi, kami gotong royong untuk membersihkan dan merapikan sekolah.
__ADS_1
-Bersambung