Deletorian School

Deletorian School
Ada Apa Dengan Alicia?


__ADS_3

Entah jam berapa sekarang. Ada yang mencubit pahaku. Aku terbangun. Mm, aku tidak tahu aku terbangun apa tidak. Aku, merasa aku tersadar dari tidurku. Namun, aku tak membuka mata, dan tak mendengar suara. Aw, ada yang mencubit pahaku lagi. Kali ini, lebih keras. Aku ingin berteriak, tapi entah kenapa aku tidak bisa menggerakkan mulutku. Aku ingin membuka mata, tapi tak bisa. Seperti ada yang menahan agar terus tertutup. Aw, ada yang mencubit pahaku kembali. Kali ini sangat keras. Berulang kali ia mencubit pahaku. Aku rasa, aku tahu sekarang. Itu Alicia. Dia membangunkanku. Aku ingin membuka mata dan bergerak, dan juga berbicara. Namun, hal itu tak bisa kulakukan. Seperti ada yang mengunci tubuhku.


Apa yang terjadi? Apakah Alicia melihat makhluk itu? Dan, kenapa aku tidak bisa membuka mata, berbicara, juga menggerakkan tubuhku? Apa ada hal yang terjadi di luar sana? Tapi, aku sama sekali tidak mendengar suara apapun di luar sana.


Setelah beberapa menit kemudian. Tak ada lagi yang mencubit pahaku. Aku menggerakkan tubuhku. Ya, kini aku bisa menggerakkan nya. Perlahan, aku membuka mataku. Saat aku membuka mata, ada kabut ungu pekat yang menghalangi penglihatanku. Tak lama, kabut itu perlahan pudar. Kini aku sudah bisa sedikit melihat. dan aku melihat…


“AAAAAARRRRGGGHHH,” aku teriak sekeras yang ku bisa. Yang awalnya aku berbaring, kini aku terduduk. Aku segera mencubit tanganku. Aw, aku merasakan sakitnya. Ini bukan mimpi. Aku tidak percaya apa yang ku lihat.


Alicia terbaring dengan mata terbuka tak berkedip. Matanya seperti melotot, tapi matanya lebih seperti ingin keluar. Sekeliling bola matanya berwarna ungu yang tercampur putih. Bola matanya berwarna ungu pekat. Wajahnya menjadi tirus. Sampai terlihat tulang pipinya. Ini hampir sama seperti saat aku melihatnya di mimpiku saat pertama kali aku masuk sekolah, dan saat aku menemukan Alicia di depan pintu gerbang. Ini mengerikan.


“Viollet?” terdengar suara Alice dari atas. “Apa yang terjadi?”


Alice turun dari kasurnya. Begitu juga Catrine.


“Alice, itu... Alicia,” kataku terbata-bata.


“Ada apa dengan Alicia?” tanyanya. Ia menyalakan lampu. Saat melihat adiknya yang terbaring. “AAAAAARRRGGGHHH.”


Alice berteriak kencang. Sampai menyenderkan tubuhnya ke dinding. Napasnya tak beraturan. Sedangkan Catrine, aku melihatnya biasa saja. Itu aneh, tapi ia segera mendekati Alicia. Memeriksa apakah dia masih hidup. Ia memeriksa seperti anggota medis. Memeriksa denyut nadi Alicia. Dan napas Alicia.


“Dia masih bernapas,” ucap Catrine usai memeriksa. "Aku juga masih bisa rasakan denyut nadinya."


“A... A... Apa yang terjadi pa... danya?” aku bertanya masih dengan terbata-bata.


Catrine mengangkat bahu.


“Kita harus segera membawanya ke UKS! Ayo!” pinta Alice.

__ADS_1


Catrine mengangguk. Ia langsung mengangkat Alicia dan menggendongnya seperti bayi. Aku yang masih belum bisa beradaptasi dengan kejadian ini, perlahan berjalan mengikuti Alice dan Catrine. Saat aku mematikan lampu. Aku melangkah melewati pintu kamar. Hah? Aku melihat Alice dan Catrine berhenti bergerak. Waktu seperti terhenti. Hanya aku yang bisa bergerak. Apa yang terjadi? Ada apa ini? Bagaimana waktu bisa berhenti berjalan? Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki. Kaki itu sepertinya sangat besar. Sampai-sampai suara langkah kakinya menggelegar.


Perlahan, pemilik kaki itu menunjukkan dirinya. Dan itu adalah... Astaga! Aku tak percaya apa yang aku lihat. Aku melihat makhluk. Dia berjalan ke arahku. Atau mungkin ke kamar. Entah apa makhluk yang kulihat adalah makhluk yang di bicarakan Alicia. Dia begitu besar dan menakutkan. Dia berjalan memasuki kamar. Melewati diriku seakan aku tak terlihat oleh nya.


Selain itu... dia terlihat sedikit transparan. Aku menyentuhnya saat dia melewati ku. Tanganku menembus tubuhnya. Apa? Aku menarik kembali tanganku. Tampak sedikit asap di tanganku. Aku kembali menatap tubuh makhluk itu. Dia berjalan ke arah… Alicia? Apakah itu dia? Dia sedang berbaring di kasurnya. Tampak aku juga di sana. Berbaring di sebelah Alicia. Tiba makhluk itu di hadapan Alicia. Wajah Alicia seperti ketakutan dengan mata yang masih tertutup. Aku melihat tangan nya bergerak. Ia mencubitku. Diriku yang kulihat, sama sekali tidak bergerak. Mata diriku yang disana masih tertutup. Berulang kali Alicia melakukannaya. Lalu…


“Kamu tidak akan bisa membangunkannya,” terdengar suara yang menggema.


Aku menoleh ke arah makhluk itu. Makhluk itu yang bersuara. Dari suaranya itu sangat berat. Tapi tidak ketahuan itu suara laki-laki atau perempuan.


“Aku membuat semua orang yang ada di sini tidak bisa bergerak, mendengar, dan membuka mata mereka,” makhluk itu kembali bersuara. Suara yang dikeluarkannya menggema.


Alicia tidak menghiraukannya. Ia tetap mencubit pahaku, sambil terus menutup mata.


“Lupakan saja janji temanmu yang berkata akan melakukan sesuatu. Itu tidak akan pernah terjadi,” kata makhluk itu.


Alicia membuka matanya. Terlihat air matanya keluar deras, membasahi matanya.


Lalu, ia mengangkat tangannya. Kabut ungu mulai menunjukan diri. Tiba-tiba Alicia membeku. Makhluk itu mengepal tangannya secara perlahan. Selama makhluk itu mengepal, keluar kabut ungu tua dari tubuh Alicia.


“AAARRGGGHHHH,” suara teriakan Alicia yang sangat keras terdengar.


Aku meneteskan air mata. Seperti merasakan apa yang dirasakan Alicia. Alicia berteriak sangat keras dan cukup lama.


"AAAAARRRGGGHHHHH!!"


Setelah beberapa lama, Alicia tak lagi bersuara, dan keadaannya sama seperti yang kulihat pertama kali.

__ADS_1


Makhluk itu terkekeh. Dan berjalan keluar dari kamar. Begitu ia keluar, Splash. Waktu kembali berjalan. Bayangan Alicia yang kulihat, dan tubuhku yang masih berbaring, menghilang seketika. Aku menyeka air mataku di pipi, dan segera menutup pintu. Lalu berjalan cepat mengikuti Alice, dan Catrine yang sudah terlihat berlari kembali. Kini mereka sudah jauh di depan sana.


“Viollet,” panggil seseorang dari belakang.


Aku menoleh. Itu Helen. Ia berlari menghampiriku dengan pakaian piamanya. Ia berhenti begitu sampai di hadapanku.


“Apa yang terjadi? Aku mendengar seperti suara teriakan yang sangat keras dari kamar kalian. Suaranya sih, terdengar seperti kamu,” kata Helen.


“Benarkah?” aku sedikit malu karena teriakanku sampai terdengar oleh Helen.


“Apa itu sungguh kamu?” tanya Helen.


Aku mengangguk malu.


“Apa yang terjadi? Sampai-sampai kamu berteriak sekencang itu? ”


“Em, ada sesuatu yang terjadi dengan Alicia,” ujarku.


Helen membuat raut wajah tidak mengerti.


“Ayo! Ikut aku ke UKS. Alicia di bawa kesana.”


Kami pun segera berlari ke ruangan UKS. Erh, apa ini benar ruangan UKS? Ruangan ini seperti ruang pasien di rumah sakit. Yang memiliki banyak ranjang, dan begitu luas. Alicia di baringkan di salah satu ranjang. Matanya terbuka tanpa berkedip, itu menakutkan.


“Viollet,” panggil Helen begitu ia melihat Alicia berbaring di ranjang. Ia menggenggam tanganku dengan erat. “Apa itu benar Alicia?”


Aku mengangguk. Helen menggenggam tanganku lebih erat. Aku hampir sakit. Tapi, rasa heran ku terhadap sikap Helen, mengalahkan rasa sakitku. Membuatku melupakan rasa sakit itu.

__ADS_1


“Ada apa?” tanyaku.


Helen menggeleng. Menandakan tidak ada apa-apa. Tapi ia terus menggenggam tanganku dengan erat. Catrine melihat Helen. Helen yang menyadari dirinya ditatap Catrine, langsung ketakutan. Aku melihat hal itu tidak mengerti. Apa yang terjadi? Apa Helen melihat sesuatu pada Catrine? Sama seperti Alicia? Kejadian ini membuatku bingung sekaligus khawatir. Takut hal yang sama menimpa Helen.


__ADS_2