
Gambar pun mulai muncul di ****** beliung itu. Gambar kamarku, dan aku melihat Alice membuka pintu. Kali ini terdengar suara. Aku mendengar suara denyitan pintu terbuka yang mendengung. Terdengar jelas dan keras.
Alex terkejut melihat gambar dan suara itu.
“Mungkinkah, gambar itu menunjukkan yang terjadi sebelumnya?” tanya Alex.
Aku mengangguk.
Alice tampak lesu. Dia tidak melihat apa yang ada di depannya. Tali yang siap menggantung seseorang. Saat Alice melangkah maju, kepalanya masuk ke lubang yang dibuat tali itu. Tali itu mengencang, mengikat leher Alice.
“Argh,” Alice berseru.
Perlahan, tali itu naik ke atas, dan Alice berdiri di kursi yang kulihat jatuh saat masuk ke kamar.
Pintu tiba-tiba menutup sendiri. Ruangan gelap. Menyisakan sedikit cahaya yang redup. Kabut asap ungu pekat muncul. Kabut itu ada di mana-mana. Alice tampak gusar. Dia juga panik dengan apa yang terjadi. Juga heran. Makhluk itu pun muncul di kamar.
Alex terkesiap.
“Itu apa?”
“Makhluk,” jawabku. Menatap gambar di ****** beliung dengan serius. “Dialah yang menyebabkan ini semua terjadi.”
Setelah mendengar penjelasanku, Alex kembali menatap gambar itu. Yang terus bergerak. Seperti film di teater.
Di gambar itu, makhluk itu tampak marah.
“Kamu, kamu siapa?” tanya Alice.
“JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU!! AKU SEPERTI INI KARENA KAU!!” suara makhluk itu sangat lantang. Sehingga aku, dan Alex munutup telinga kami.
“Kamu? Itu kamu? Kamukah itu?" Alice tampak senang. "Aku ingin sekali bertemu denganmu."
“JANGAN KAU PURA-PURA BAIK, ALIICEE!! Jangan kau pura-pura lupa dengan apa yang telah kamu lakukan!!” teriak Makhluk itu.
“Aku… aku minta maaf… aku sungguh minta maaf,” kata Alice. Matanya mulai mengeluarkan air mata. “Aku tidak tahu kalau kamu tak bersalah. Aku sungguh tidak tahu. Maafkan aku.”
“TIADA MAAF BAGIMUU!! Kau tak tahu yang telah terjadi padaku. Kau tak tahu apa yang telah ku alami. Dan itu… ITU SEMUA KARENA KAU!!”
Suara makhluk itu sangatlah lantang. Dia tampaknya sangat marah. Lalu, dia menendang kursi yang dipijak Alice. Kursi itu terbaring. Alice tampak kesulitan bernapas. Wajah makhluk itu masih tampak marah. Membuat wajah makhluk itu semakin mengerikan.
Wajah Alice tampak pucat. Dia sepertinya sudah mulai kehabisan nafas. Tak ku sadari, ternyata air telah keluar dari mataku. Aku menutup mataku, dan memalingkan wajah. Tak tahan melihat Alice yang sedang di gantung.
“Ca… Cat… rine,” Alice berkata dengan terbata-bata.
Demi mendengar itu. Aku terkejut. Hatiku bergetar. Aku membuka mata, dan melihat gambar yang ada di hadapanku.
Ku lihat, Alice menatap makhluk itu dengan mata berbinar-binar. Seakan rindu dengan apa yang dihadapan nya. Tak lama, dia mengeluarkan air mata.
“Maaf… kan… aku… Catrine,” suara Alice masih terbata-bata. Dia masih sulit bernafas. Dia masih mengatur nafasnya dengan bicaranya. Namun, walau seperti itu, yang dikatakannya, terdengar dengan jelas.
“Maaf kan aku, Catrine,” kali ini tidak lagi. Namun, Alice mengatakannya dengan cepat.
Lalu Alice sedikit tersenyum.
“Aku senang melihatmu lagi, Catrine,” ujar Alice. Masih dengan air mata yang mengucur deras. Seperti air mata penyesalan, dan kerinduan yang tercampur.
Makhluk itu masih tampak marah. Setelah Alice mengatakan itu, makhluk itu lebih marah lagi.
“AAAARRRGGGGHHHHH!!!!” makhluk itu berteriak lantang sekali. Mengembalikan kursi yang terbaring dipijak oleh Alice.
Saking lantangnya teriakan makhluk itu, membuatku dan Alex menutup telinga dan memejamkan mata.
Tak lama, suara itu mulai menghilang. Ku buka mata. Begitu pula Alex. Lengang. Tak ada lagi angin ****** beliung ungu pekat yang mengelilingi kami. Tak ada kabut asap ungu pekat di sekitar kami. Hanya benda-benda yang berada di kamar.
“Jadi, itu yang terjadi pada Alice?” Alex memecahkan lengang.
Aku hanya diam. Ruangan sunyi kembali. Aku mulai bergerak. Berdiri, dan berbalik badan.
“Yeah, itulah yang terjadi pada Alice,” ujarku yang tertunduk.
Aku mengangkat kepalaku. Terlihat jelas bekas air mata yang sehabis mengalir di wajahku.
“Kamu baik-baik saja, Viollet?” tanya Alex. Khawatir.
Aku mengangguk.
“Ayo kita antarkan tubuh Alice ke UKS,” aku menatap tubuh Alice-yang kugendong seperti bayi. Wajahnya sedikit pucat.
Alex mengangguk. Aku pun mulai melangkah. Kami menuju UKS bersama. Tiba di sana, wanita yang bekerja di ruangan UKS, mengambil tubuh Alice dan membaringkannya di ranjang sebelah ranjang Helen.
Teman-temanku yang disakiti makhluk itu berderet di sana.
“Apa yang terjadi pada Alice?” tanya wanita itu, seusai menaruh tubuh Alice di ranjang.
Aku menggeleng.
“Aku tidak tahu. Aku menemukan nya di kamar. Dan dia terkapar dangan keadaan seperti ini,” aku sengaja tak memberi tahu kejadian yang sebenarnya.
Wanita itu mengangguk-angguk.
“Baiklah, kalian tidak perlu khawatir ya. Aku rasa dia hanya kehilangan kesadaran. Mungkin setelah beberapa saat, dia akan siuman,” ujar wanita itu padaku dan Alex.
Aku hanya mengangguk. Juga Alex. Lengang sejenak.
“Tapi aku tak mengerti,” ucap Alex. Memecahkan kelengangan.
__ADS_1
Aku menoleh. Apa?
“Kenapa makhluk itu mengembalikan kursi yang terbaring itu berdiri lagi dan dipijak Alice?” Alex bertanya.
"Maksudmu, kamu ingin dia mati tergantung?" tanyaku balik.
"Tidak, bukan itu maksud ku," Alex menggelengkan kepala. "Aku..."
"Mungkin karena dia ingin melakukannya seperti yang dia lakukan pada yang lainnya."
Alex tampak berfikir. “Benarkah? Tapi, kenapa? Padahal dia menyiapkan tapi gantung.”
“Tentu saja, karena makhluk itu baik.”
“Apa?”
“Yeah, walau aku rasa makhluk itu memiliki dendam yang sangat kuat pada Alice. Namun, saat Alice menangis, siapa yang bisa membiarkan tangisan dan tatapannya itu. Tatapan menyesal, kesedihan, dan kerinduan. Walau, aku tak mengerti kenapa tatapannya menunjukkan seperti itu. Dan, aku masih tak mengerti kenapa makhluk itu begitu marah pada Alice. Tapi, aku yakin itulah yang terjadi.”
Alex mengangguk mengerti. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang membuka pintu UKS. Aku menoleh. Begitu juga Alex. Adalah Catrine yang membuka pintu. Napasnya tersengal-sengal. Dia melihat tubuh Alice terbaring di ranjang. Lalu, wajahnya tampak risau. Dia menatapku-yang sedang menatap juga padanya. Jadi, kami saling tatap. Mata Catrine dipenuhi ketakutan. Lalu… Hah? Aku melihat bayangan makhluk itu di belakangnya. Catrine yang mellihat aku tampak terkejut, berlari meninggalkan ruang UKS.
“Ikuti dia!” seruku.
Aku bergegas lari. Alex yang terkejut karena aku berseru, juga tak mengerti apa yang terjadi, bergegas mengikutiku.
Catrine terus berlari. Begitu pula dengan ku dan Alex. Ku lihat Catrine keluar sekolah dari pintu gerbang yang menyambut. Seakan gerbang itu adalah pintu menuju alam siksa. Catrine berlari pergi ke hutan. Aku tak mengerti kenapa dia pergi ke hutan. Aku terus mengikutinya. Alex pun berlari menyusulku.
Di tengah hutan, aku mendengar sesuatu. Aku berhenti. Melihatku berhenti, Alex juga. Aku mendengar suara deburan ombak di depan sana. Hah? Mungkinkah?
“Ada apa?” Alex bertanya. Wajahnya telah basah dilimuri keringat.
“Alex,” aku tetap melihat jalan di depan sana. “Kamu tunggu di sini.”
“Apa? Tapi kenapa?” wajahnya penuh tanya.
“Aku harus berbicara dengan Catrine empat mata saja. karena ini masalahku dengannya. Jadi, tolong jangan kamu ikut campur, mengerti?”
Alex mengangguk.
“Kamu tunggu di sini. Aku akan kembali.”
Belum sempat Alex mengangguk atau semacamnya, aku sudah bergegas lari ke depan sana. Jalanan yang di penuhi pohon yang menyambut kedatanganku, sudah tak ada lagi pohon. Mereka seperti di potong oleh garis yang tak terlihat. Aku terus berlari. Aku mulai melihat air laut di bawah sana. Aku mulai risau. Aku tambahi kecepatan berlariku. Akhirnya aku tiba. Aku melihat Catrine di depan sana. Berdiri di ujung jalanan ini. Bersiap untuk melompat dari tebing yang jurang. Aku mengerem langkahku. Angin yang kencang membuat rambutku melambai-lambai. Catrine memjamkan mata. Rambutnya melambai ke sana ke mari karena angin.
“Catrine,” tegurku.
Catrine membuka mata.
“Apa yang kamu pikirkan? Sadarlah Catrine. Jangan kamu berpikir bodoh!” tukasku.
“Aku tidak bodoh! Aku tidak kehilangan kesadaran. Justru karena aku sadar, aku melakukan ini,” kata Catrine dengan suara yang cukup lantang.
“Ku mohon, jangan lakukan ini. Aku tidak ingin-”
“Cukup!” Catrine memotongku. “Jangan kamu halangi aku. Aku sudah tak tahan dengan apa yang terjadi.”
Catrine menghela napas.
“Biarlah kehidupanku berakhir di sini,” suaranya terdengar pasrah.
Catrine menjatuhkan diri dari tebing yang dia pijak.
“TIDAAKK!!” aku berseru.
Aku berlari ke ujung tebing. Hap! Aku berhasil menangkap tangan nya. Tubuhku seperti tersungkur. Aku memegang erat tangan Catrine.
“Lepaskan aku!” suruh Catrine. Dia menggeliat seperti cacing tanah. Bergerak-gerak agar tangannya lepas.
“Tidak! Jangan bergerak,” aku tak mau melepaskan.
“Lepaskan aku! Biarkan kehidupanku berakhir di sini. Jangan kamu ikut campur.”
Aku menggeleng tetap tak mau melepaskan.
“LEPASKAN AKUU DASAR KAU PAYAAHH!!” Catrine berseru.
“TIDAK! AKU TIDAK INGIN KAMU PERGI, CATRIINEE!!” aku berseru lebih lantang.
Catrine terdiam. Dia mendongak, menatapku. Matanya tampak basah.
“Apa?”
Lengang sejenak. Menyisakan suara deburan ombak dan angin. Dan, juga isakkan. Aku terisak. Air mataku mengalir deras. Membasahi pipiku.
“Catrine… aku tak ingin kamu pergi,” kataku dengan terisak.
“Kenapa?” wajah Catrine tampak kesal. “KENAPA?!”
“Karena kamu temanku, Catrine,” ujarku. Dengan suara isakkan. Aku mulai tersenyum-dengan air mata yang terus mengalir. “Kamu adalah teman terbaikku. Kamu yang mengubah hidupku menjadi lebih berwarna. Kamu, Catrine. Kamu. Kamulah segalanya untukku. Temanku.”
“Tidak, aku bukanlah benda yang berharga. Teman? Teman adalah kata omong kosong!”
“Tidak, Catrine! kamu berharga untukku. Kamu lah yang membuatku bertahan di sini. Aku telah menemukan hal baru, itu karena mu. Aku menjadi diriku, aku berubah, itu karena mu, Catrine,” kataku dengan senyuman. Namun, air mata terus mengalir deras membasahi wajahku.
Catrine menatap ku heran.
“Tapi, bagaimana bisa?” wajah Catrine tak lagi kesal. Air matanya mulai keluar dari sarangnya.
__ADS_1
Aku tersenyum. “Awalnya, saat kamu masuk ke kamar kami, kamu memang tampak aneh. Membuat perasaan tidak nyaman. Aku terus memerhatikanmu diam-diam. Karena, merasa ada hal yang… kurang menyenangkan dalam dirimu.
“Namun, hal itu ada baiknya, aku yang awalnya tak peduli dengan dunia luar, tak mempedulikan buly dan sebagainya di sekolah kita, kini aku menjadi peduli. Dan itu semua karenamu, Catrine,” Aku tersenyum lebih lebar. Air mata masih terus mengalir.
“Bukan hanya itu,” aku melanjutkan. “Karena mu, aku bisa bergaul dengan siswi lainnya. Bagaimana bisa? Itu karena masalah yang terjadi di sekolah kita semenjak kamu datang. Aku tahu, hal itu buruk. Tapi, setiap kejadian, pasti ada hal buruk dan hal baiknya. Dan itulah hal baiknya. Aku bisa bergaul dengan siswi lain.
“Asal kamu tahu, Catrine. Aku ingin sekali berteman dekat denganmu. Kamu lah yang membantuku mengubah hidupku di dunia ini. Aku ingin sekali. Namun, kamu selalu menghindar. Tapi, aku tahu. Setelah mendengar kisahmu, saat *** Bahasa Inggris, aku jadi tahu, kehidupanmu sulit. Dan aku, tak peduli seberapa banyak kamu menghindariku, aku tetap menganggap kamu adalah teman baikku. Walau, mungkin kamu tidak menganggap hal yang sama.”
Aku terus tersenyum di hadapannya. Catrine meneteskan air mata banyak sekali
“Catrine, aku tahu hidumu berat, sulit. Tapi ku mohon, jangan kamu lakukan ini. Aku tak mau kamu pergi, Catrine. Aku sudah menganggapmu seperti keluargaku sendiri. Tolong, jangan lakukan ini. Hal ini, tidak akan membuat masalah mu selesai. Hanya... itu hanya akan membuat kamu kesal dan mungkin... membuat rasa dendam dari kesakitan dan kesedihan yang kamu pendam di dalam dirimu.”
Aku menunduk. Senyumanku terlipat. Aku terus menangis. Menangis, dan menangis.
“Jadi, biarkan aku menarikmu,” ujarku menatapnya.
Aku menarik tubuh Catrine. Kali ini, dia tidak memberontak. Aku bisa menariknya, dan tubuh Catrine tertarik. Cukup sulit untuk membawa nya ke atas. Namun, aku harus tetap mencoba. Ku serahkan semua tenaga dan jiwa ragaku untuk menarik nya. Begitu Catrine tiba di atas tebing, dia meloncat ke arah ku, dan memelukku dengan erat. Dia menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku, aku tak tahu kamu menanggapku seperti itu,” Catrine terus menangis.
Aku tersenyum. Mengelus-elus punggungnya.
“Sudahlah, tak apa,” ujarku.
Catrine melepas pelukannya. Aku melihat wajahnya yang di penuhi air mata. Aku tersenyum. Demi melihat senyumanku, Catrine ikut tersenyum. Itulah pertama kalinya aku melihat senyuman cantiknya. Wajahnya begitu cantik berseri dengan senyuman itu.
Di antara momen sedih itu. Dan bahagia itu.
CTAR!
Suara petir menyambar. Langit menjadi gelap. Suara gledek bersahut-sahutan.
CTAR! CTAR!
Petir kembali menyambar memekakkan telinga.
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Dia datang,” ujar Catrine. Dia nampak serius.
“Siapa?”
Belum sempat terjawab pertanyaanku, muncul sebuah lubang seperti lubang hitam. Dan, muncul lah dia. Makhluk yang terus mengganggu sekolah kami. Ini adalah pertama kalinya aku melihat makhluk itu langsung di depan mata kepalaku.
Sejauh mata memandang, wajahnya tampak begitu marah dan menyeramkan. Pakaian nya panjang dan rombeng berwarna gelap. Begitu pun kulitnya, berwarna gelap. Warna ungu tua yang tak terlalu pekat warnanya. Tubuhnya raksasa. Makhluk itu sangat menyeramkan saat melihat secara langsung tanpa melihatnya di gambar atau apalah itu, dan... ehmm, ingatan? Em, semacam itulah.
“Dasar menyebalkan!” suara makhuk itu bergetar hebatnya. Sampai-sampai petir dan gledek bersahut-sahutan.
“Bagaimana kamu bisa melakukan itu? Aku tak menyuruhmu untuk berteman!” ujar makhluk itu dengan suara lantang.
“Aku juga sebenarnya tak ingin mematuhimu!” ujar Catrine dengan berani.
“Dasar anak menyebalkan! AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU SELAMAT DARI SINI!!” makhluk itu berteriak lantang sekali.
Aku melihat Catrine. Dia menghadapi makhluk itu dengan berani.
“Lari,” ucap Catrine pelan.
Aku menoleh. Apa?
“Lari! Di sini berbahaya!” Catrine berteriak.
Aku mundur satu langkah, tapi…
“Aku tak akan membiarkanmu sendirian di sini,” tukasku.
Catrine berbalik ke arahku. “Tidak, kamu harus pergi! Agar kamu bisa mengalahkannya.”
“Huh, OMONG KOSONG!!” makhluk itu berteriak geram.
Dia mengarahkan kedua tangannya ke arah Catrine. Perlahan, energi Catrine di serap oleh makhluk itu. Catrine terjatuh.
“Viollet, cepat larii! Temukan buku kecil bersampul merah di lemariku. Di sana terdapat kelemahan makhluk ituu! Cepat temukan dan kalahkan makhluk itu!” ujar Catrine sebelum kehilangan energinya.
“HUH! OMONG KOSONG!! TAK AKAN KU BIARKAANN!!” makhluk itu berteriak lantang sekali. Rasanya gendang telingaku ingin pecah.
Makhluk itu mempercepat penyerapan energi Catrine.
“AAARRRGGGHHH!!!” Catrine berteriak kesakitan.
Mataku mulai basah.
“CEPAT PERGII!!” Catrine berseru padaku-dengan tenaga yang tersisa.
Aku menyeka air mata di ujung mataku. Lalu bergegas lari meninggalkan Catrine dan makhluk itu.
“AAARRRGGHHH” teriakan terakhir Catrine terdengar.
Aku tak sanggup menahan air mata. Air mataku sudah mulai mengucur deras.
Bruukk!
Tubuh Catrine terkapar di tanah. Energinya sudah habis terkuras.
-Bersambung
__ADS_1