Deletorian School

Deletorian School
Bayangan Misterius


__ADS_3

Akhirnya, aku selesai menaruh barang-barangku di lemari. Aku menoleh ke arah Catrine. Dia tampak polos. Dari raut wajahnya, tak nampak perasaan apa pun. Walau dia berkata kalau dia canggung.


“Viollet,” panggil Alicia, mengejutkanku.


“Eh, iya?” jawab ku.


“Apa ada masalah?” tanyanya.


Aku menggeleng, sambil tersenyum.


“Apa kamu sudah selesai?” tanya Alice.


Aku menoleh ke arahnya. Lalu mengangguk. Kemudian, aku menoleh ke arah Catrine. Dia sedang memegang sesuatu. Benda yang kecil.


“Apa itu, Catrine?” tanyaku.


Catrine menoleh. “Liontin dari ibuku. Dia memberikan ini agar aku bisa selalu mengingatnya. Yeah, itu karena aku belum pernah pergi jauh dari ibuku dengan waktu yang sangat lama.”


Aku mengangguk. Entah kenapa, aku menjadi sedih mendengarnya. Dan kesedihan itu tampak di wajah ku.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Catrine.


Aku mengangguk.


“Apa kamu sudah selesai meletakkan barang-barangmu, Catrine?” Tanya Alice.


Catrine menoleh. “Ya, sudah.”


“Yes, akhirnya," Alice mengepalkan tinju. Tersenyum lebar.


Aku ikut tersenyum melihatnya. Senyuman tipis.


"Kalau begitu, ayo kalian duduk. Kita bercerita tentang diri kita. Sebagai teman sekamar, bukankah sebaiknya kita mengenal lebih jauh dulu teman kita?” kata Alice dengan penuh semangat.


Aku mengangguk. Kemudian, duduk di kasur. Catrine pun duduk di sebelahku.


“Baiklah, tapi sebelum mulai bercerita, apa ada yang ingin kalian tanyakan tentang sekolah ini?” Alice bertanya.


Catrine menggeleng. “Penjelasan oleh kepala sekolah tadi, sudah jelas untukku.”


Alice mengangguk. lalu menoleh ke arahku.


“Bagaimana denganmu, Viollet?” tanyanya.


“Mmm, apa nama sekolah ini?” tanyaku.


Alice terkejut. “Kamu tidak tahu?”


“Ayahku tidak memberi tahuku. Dia hanya berkata kalau aku akan sekolah di tempat yang istimewa,” jelasku.


“Tidak mungkin. Tapi, baiklah. Nama sekolah ini adalah sekolah Deletorian,” ujar Alice.


“Deletorian? Kenapa nama sekolah ini Deletorian?” tanyaku.


“Hanya nama. Banyak yang berkata, nama sekolah ini Deletorian karena nama itu terdengar keren,” jelas Alice.


Keren? Bagiku itu sama sekali tidak terdengar keren. Justru, terdengar aneh.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Aku juga berpikir begitu. Itu sama sekali tidak keren,” kata Alice. “Kamu mau bertanya lagi?”


Aku mengangguk. “Berapa lama kita akan sekolah di sini?”


“Ayahmu juga tidak memberi tahumu?” tanya Alice.

__ADS_1


Aku menggeleng. Tidak. Dia tidak memberitahu ku.


“Yeah, untuk itu, tidak tahu pasti. Kita tinggal di sini, sesuai yang di minta oleh orang tua kita. Bisa jadi, saat lulus SD, SMP, SMA, bahkan kuliah,” jelas Alice.


“Benarkah?” aku sedikit terkejut.


“Yeah, Tapi jangan khawatir. Aku yakin orang tuamu menyekolahkanmu di sini sampai lulus SMA. Sangat jarang ada yang menyekolahkan di sini sampai lanjut ke tingkat bertikutnya, bahkan lebih. Jadi tak perlu khawatir,” kata Alice. “Ada lagi?”


Aku menggeleng.


“Baiklah, kalau begitu langsung saja kita mulai bercerita. Ada di antara kalian yang mau bercerita terlebih dahulu?” tanya Alice.


Aku menggeleng. Begitu juga Catrine.


“Baiklah, kalau begitu, aku dulu yang bercerita,” kata Alice. Ia sangat semangat sekali.


“Aku dan Alicia, tinggal di pedesaan. Tidak jauh letaknya dari sini. Bapak mencari nafkah dengan bertani. Sedangkan emak berdagang kue dan nasi uduk. Pekerjaan itu sangat cukup untuk memenuhi kehidupan kami. Saat aku dan adikku masih kecil, kami sering membantu orang tua kami. Aku membantu bapak, sedangkan Alicia, adikku membantu emak.


"Kehidupan kami sangat sederhana, tinggal di rumah yang tidak terlalu besar, makan pun tidak se-enak di perkotaan. Namun, kami hidup bahagia. Sangat bahagia, bapak dan emak sangat lucu, sering sekali mereka memberikan lelucon saat bekerja kepada kami. Mereka juga sering memberikan kami ilmu yang bermakna.


"Namun kebahagiaan kami tidak bertahan lama. Terjadi kecelakaan saat bapak dalam perjalanan pulang. Beliau tertabrak mobil saat menyebrang. Entah siapa penabraknya. Setelah si supir mobil menabrak bapak, ia langsung pergi. Saksi yang melihat kejadian itu langsung memanggil ambulan dan membawa bapak ke rumah sakit. Namun itu terlambat. Bapak sudah membuang nafas terakhirnya,” Alice berhenti, ia menghela napas. Tampak sedih. Begitupun Alicia.


“Setelah itu, pihak rumah sakit menghubungi kami,” lanjut Alice. “Emak sangat terkejut ketika mendengar kabar itu. Tak lama setelah mendengar kabar itu, emak pingsan. Aku yang melihatnya berteriak, dan bergegas menghampiri emak. Alicia bergegas mencari bantuan. Bantuan itu pun datang. Emak di bawa ke rumah sakit. Entah apa penyakitnya. Aku tidak tahu. tidak ada yang memberitahu kami. Teman emak yang sepertinya tahu, juga tidak memberi tahu. Karena keadaan emak yang masih berbaring, dan tidak sadarkan diri, kami disekolahkan di asrama ini. Karena di desa kami, tidak ada yang bisa merawat kami,” Alice berhenti sebentar. “Sampai sekarang emak masih berbaring di rumah sakit. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Tidak ada yang memberi tahu kami. Entah sudah tiada, atau belum. Masih koma, atau tidak. "


Alice tampak sedih. Begitupun Alicia


Tak lama, Alice menggelengkan kepala, dan tersenyum.


"Oh ya, kami masuk ke asrama ini sejak kelas satu. Banyak pengalaman yang kami alami di sini, maupun di desa kami. Yeah, itu saja ceritaku,” kini Alice tampak ceria kembali. “Apa ada yang mau bercerita?”


Alice melihat sekeliling. Kemudian ia berhenti saat menatapku.


“Kamu mau bercerita, Viollet?” tanyanya.


“Terserah dirimu saja. Tak perlu panjang-panjang juga tak apa,” kata Alice sambil tersenyum.


“Baiklah,” aku melihat Catrine. Ia menatapku tanpa ekspresi. Aku mulai bercerita.


“Yeah, keluargaku cukup kaya. Ayah memiliki perusahaan penerbitan buku. Bunda memiliki perusahaan pakaian, bunda juga memiliki toko butik. Mereka sangat sibuk. Tak pernah meluangkan waktu untukku. Namun aku senang, mereka selalu memberikan yang terbaik untukku. Dan, aku juga sering pindah sekolah. Entah apa alasannya. Aku sering ganti-ganti sekolah. Bahkan tak ada satu sekolah pun yang aku sekolahi selama satu minggu. Yeah, begitulah,” ceritaku.


“Hmm, apa kamu pernah bermain dengan teman di rumahmu?” tanya Alice.


“Tidak. Aku tak punya teman di rumahku. Begitupun di sekolah yang sebelumnya. Karena aku tak pernah berkenalan,” jelasku.


Alice mengangguk. “Bagaimana ceritamu Catrine?”


“Eh, yeah, sama seperti Viollet. Keluargaku cukup kaya. Papa dan mama juga selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Sebelumnya aku sekolah di dekat rumahku, hingga ada sesuatu kejadian terjadi dan papa menye-asramai ku di sini,” cerita Catrine.


“Sudah?” tanya Alice dengan nada sedikit terkejut. Karena cukup pendek.


Catrine mengangguk.


“Sesuatu kejadian apa yang terjadi di sekolahmu, Catrine?” tanya Alice.


“Bukan apa-apa. Tidak penting,” jawab Catrine. Dengan raut wajah yang polos.


“Oh, baiklah,” kata Alice.


Aku melihat ke arah Alicia. Ia tampak, ketakutan? Entah apa yang dia tunjukan. Tapi itu seperti takut, namun tidak terlalu.


Alice melihat jam. “Wah, sudah larut malam. Kalau begitu kita bersiap untuk tidur.”


Ting! Terdengar bunyi dari toilet di sudut kamar.

__ADS_1


“Yup! Tepat waktu. Kalian bisa ganti baju dan gosok gigi di sana,” kata Alice.


Catrine segera mengambil piama dan peralatan gosok gigi di lemarinya, dan lekas masuk toilet.


Aku menatap Alice. “Alice?”


“Ya?” jawab Alice.


“Kenapa toilet di dalam kamar hanya bisa di gunakan di malam hari?” tanyaku.


“Ah, itu. Yeah, karena sangat berbahaya kalau keluar di malam hari. Jadi di sediakan toilet di dalam kamar khusus malam hari. Akan ada bunyi, ting, untuk menandakan sudah bisa di gunakan. Dan bunyi, tet, untuk menandakan sudah tak bisa di gunakan. Biasanya toilet di kamar bisa di gunakan dari jam sembilan malam sampai jam empat pagi. Jadi mandi dan jika ingin ke kamar mandi setelah lewat jam empat pagi dan sebelum jam sembilan malam. Kita menggunakan toilet di lantai bawah,” jelas Alice.


Aku mengangguk paham. Setelah Catrine keluar, Alice menyilahkan ku untuk masuk terlebih dahulu.


Kami pun tertidur lelap. Kupikir aku akan tidur dengan nyenyak. Tidak, aku salah. Setelah lama aku tertidur, aku mendengar jarum detik jam analog berbunyi. Sunyi sekali saat itu. Sampai hanya bunyi jarum detik jam analog yang terdengar. Perlahan, aku membuka mataku. Aku melihat dinding di sebelah tempat tidurku. Tapi… ada yang tidak beres. Aku seperti melihat kabut ungu dari bawah tempat tidurku. Tak lama, kabut ungu itu terasa ada di belakangku. Aku mengubah baringan ku ke belakang.


HAH? Aku terkejut, yang tadinya aku berbaring, menjadi duduk di atas kasur. Di seberang tempat tidurku. Aku melihat Alicia berbaring ke arahku. Dengan mata terbuka tak berkedip. Matanya melotot ke arahku. Di sekeliling bola matanya terdapat warna ungu bercampur putih. Bola matanya berwarna ungu pekat. Wajahnya menjadi sangat tirus. Sampai tulang pipinya terlihat. Aku menahan napas. Ini menyeramkan. AAAAAAARRRRGGGGGHHHH!!!!


Aku terbangun. Napasku tersengal-sengal. Aku melihat sekeliling tempat tidurku. Fiuh, semuanya normal. Aku melihat jendela kamar. Matahari sudah menunjukkan diri. Menyinari asrama ini dengan hangat. Haah, sekali lagi aku menghembuskan nafas lega.


“Ada apa Viollet?” tanya Alice yang melihat tingkah laku anehku.


Aku menoleh kearahnya. Di sebelahnya ada Catrine yang menyender di dinding dekat pintu, dengan tangan menyilang di dada.


“Aku, hanya mimpi buruk,” kataku dengan senyuman kecil.


Alice mengangguk. Aku menoleh ke arah Alicia. Dia menunduk, tampak ketakutan. Tubuhnya tampak merinding. Tangannya menyilang seperti kedinginan dan gemetar. Di bawah matanya, terdapat warna hitam muda, seperti tak cukup tidur.


“Alicia, sebaiknya kamu segera mandi sekarang,” kata Alice kepada adiknya.


Alicia mengangkat kepalanya. “Tapi-” ia melihat Catrine yang menatapnya sedikit tajam. Ia lalu menunduk kembali. Tangannya tampak gemetar.


Aku menoleh ke arah Catrine. Dia melihat Alicia sedikit menyeramkan.


“Huuh," Alice menghela napas. Entah apa yang terjadi pada adiknya itu.


Aku terus mengamati Catrine. Jujur, dia tampak menyeramkan. Sedikit.


"Viollet,” panggil Alice.


Aku menoleh.


“Ayo, kamu harus segera mandi dan bersiap,” ucap Alice.


Aku mengangguk. aku segera mengambil peralatan mandi ku di lemari, dan seragam sekolah baruku. Saat aku melangkahkan kakiku menuju pintu.


“Tunggu!” ucap Alicia.


Aku berhenti. Alice menoleh ke arah Alicia. Sedikit terkejut.


“Aku ikut dengan mu,” kata Alicia.


Alicia segera mengambil peralatan mandi dan baju seragamnya. Lalu menghampiriku. Setelah dia di sampingku, dia menggenggam lenganku dengan erat. Aku menoleh kearahnya. Dan menampilkan raut wajah heran. Dalam kalbu ku berkata. Ada apa?


“Ayo!” ujar Alicia.


Aku mengangguk. dan mulai melangkah. Aku melihat Alicia. Ketika kami tiba di sebelah Catrine, Alicia tampak sangat ketakutan. Dia menggenggam lenganku lebih erat. Membuatku sedikit kesakitan. Setelah sudah cukup jauh dari kamar, barulah normal genggaman Alicia.


Aku ingin bertanya, tapi enggan. Rasanya dia belum merasa lebih baik. Jadi kuputuskan lain kali saja aku bertanya.


Kami pun segera ke kamar mandi. Kamar mandi ada di lantai bawah. Setelah lantai kamarku. Di kamar mandi sudah sangat ramai karena sudah sangat ke-pagi-an. Kami mengantri sangat lama. Walau lama, setidaknya kami dapat menyegarkan tubuh kami.


Saat mengantri, hah! Aku menoleh ke arah pintu masuk kamar mandi. Tampak ada bayangan yang hinggap di sana. Tak terlihat wajahnya. Tapi, aku rasa dia memperhatikan. Entah memperhatikan aku, atau Alicia di belakang ku. Aku menatap tajam bayangan itu. Tanpa kusadari, bayangan itu lenyap seketika. Apa!? Aku melihat sekeliling kamar mandi yang ramai dan riuh. Seperti di pasar loak. Aku melihat sekeliling, namun tetap tak kunjung jua bayangan itu kutemukan. Kemana bayangan itu pergi?

__ADS_1


-Bersambung


__ADS_2