Deletorian School

Deletorian School
Perpisahan


__ADS_3

Selepas pelajaran usai, dan aku telah selesai menyiapkan peralatan dan pakaianku, aku pergi keluar sekolah. Di sana, sudah ada guru Bahasa Indonesia-Bu Linda, guru Bahasa Inggris, pak kepala sekolah, teman-temanku, dan Alex tentunya. Rupanya dia sudah lebih dulu sampai di sini.


Teman-temanku menatapku dengan berkaca-kaca. Aku hanya tersenyum. Sebelum aku berjalan ke arah teman-teman ku, aku berjalan ke Bu Linda.


Aku menyalim tangannya. “Bu, terima kasih atas ilmu yang ibu ajarkan. Viollet minta maaf kalau Viollet ada salah. Viollet izin pamit ya,” ujarku.


Bu Linda tersenyum. “Iya, jangan kamu lupa ilmu yang kamu dapatkan ya, Viollet. Dan, terus lah buat puisi yang bagus ya. Pertahankan itu.”


Aku mengangguk. “Viollet akan selalu ingat ilmu yang ibu berikan. Dan, Viollet juga akan terus menulis puisi, Bu Linda.”


Bu Linda tersenyum lebar. Aku balas senyuman itu. Lalu, aku berpindah tempat, dan menuju guru Bahasa Inggris. Oh ya, aku lupa menyebutkan nama guru Bahasa Inggris ku. Adalah Miss Era namanya.


Aku menyalim tangan Miss Era. Dia tersenyum manis padaku. Dan, dialah yang membela Catrine saat itu.


“Viollet izin pamit ya, Miss. Terima kasih atas ilmu Bahasa Inggris yang Miss berikan. Itu sangat berguna untuk Viollet,” ujarku.


Miss Era tersenyum. “Iya, Viollet. Jaga diri kamu baik-baik, ya.”


Aku mengangguk. tersenyum manis. Aku pun berpindah. Ke kepala sekolah. Walaupun aku sediki geram kepada kepala sekolah karena dia yang menghukum Catrine dengan mengeluarkan nya, namun aku harus tetap pamit padanya.


Aku menyalim tangan pak kepala sekolah. “Viollet izin pamit ya, pak. Terima kasih sudah menerima Viollet di sekolah ini.”


Pak kepala sekolah mengangguk. “Baik-baik kau ya, Viollet.”


Aku mengangguk.


TIN! TIN!


Suara klakson mobil terdengar. Aku tersenyum lebar. Supirku telah sampai. Aku bergegas pergi ke teman-temanku. Lantas, memeluk mereka dengan erat. Kami semua menangis. Mungkin ini terlihat sedikit… norak mungkin. Tapi, asalkan kamu tahu. sulit untuk berpisah. Kami sangat dekat. Walau, kedekatan kami karena hal yang menakutkan.


Aku melepas pelukan itu. “Aku pamit ya.”


Air mataku mengalir deras. Begitu juga dengan yang lain nya.


“Jangan kamu lupakan kami ya,” ujar Helen.


Aku menggeleng. “Tak akan ku lupakan.”


Aku menoleh ke Alicia, dan mendekatinya.


“Maafkan aku ya, kalau aku ada salah,” ujarku dengan tetesan air mata.


Alicia menggeleng. “Kamu tak memiliki salah apapun.”


Aku tersenyum.


“Terima kasih sudah menjadi temanku yang paaliing baik,” ujar Alicia.


Aku mengangguk, lalu memeluknya dengan erat. Tak lama aku melepaskan pelukan itu. Alicia tersenyum manis dengan tetesan air mata.


“Aku izin pamit ya,” ucapku.


Alicia mengangguk.


Aku tersenyum. Lalu, menoleh ke arah Alice. Aku melangkah mendekatinya.


“Maafkan aku jika aku ada salah,” ujarku begitu tiba di depannya.


Alice menggeleng. “Kamu tak memiliki salah apa pun.”


Aku hanya tersenyum. “Terima kasih, Alice. Kamu sudah ingin menjadi temanku.”


Alice menggeleng kembali. “Seharusnya aku yang berterima kasih. kamu sudah menyelamatkan adiku, aku, dan semuanya. Aku juga sangat berterima kasih padamu. Karena kamu, Catrine bisa memaafkanku. Dan aku, menjadi lebih tenang sekarang.”


Aku tersenyum. Memeluknya dengan erat. Aku pun melepaskan pelukanku.


“Aku pamit, ya,” ucapku.


Alice tertawa. “Kita juga belum tentu akan terus berpisah, Viollet.”


Aku tertawa. Lalu, menoleh ke Monalisa. Dan menghampirinya.


“Biar aku dulu yang memulai percakapan. Maafkan aku, Viollet. Jika aku merepotkanmu untuk menyelamatkanku. Dan, terima kasih karena sudah menyelamatkanku,” kata Monalisa, begitu aku tiba di hadapannya.


Aku tersenyum. “Sama sekali tidak merepotkan. Justru, aku sangat berterima kasih karena sudah menceritakan kejadian yang menimpa Catrine saat itu.”


Monalisa mengangguk. Lalu, dia memeluk ku dengan erat. Dan melepaskannya, setelah beberapa detik kemudian.


Monalisa tersenyum. “Jangan berpamitan dulu. Sama seperti kata Alice. Belum tentu kita akan berpisah selamanya.”


Aku tertawa mendengar itu. Lantas, mengangguk. Kemudian, aku menoleh ke Helen. Dia tampak sangat sedih. Air matanya mengucur deras.


Aku mendekatinya. Dan, menyeka air matanya begitu tiba di hadapannya.


“Jangan menangis, kita akan bertemu kembali di lain waktu,” aku tersenyum meyakinkan.


Helen menangguk. “Jangan lupakan aku, okey? Kamu adalah teman terbaikku.”


Aku mengangguk. “Tentu.”


Helen ikut tersenyum. Dia memeluk ku dengan erat. Sangat erat. Sampai-sampai aku kesulitan untuk bernapas. Tak lama, dia melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Kita akan bertemu kembali. Aku yakin itu,” ujarku.


Helen mengangguk.


Aku tersenyum. Lalu, aku menoleh ke Cherlin. Dia menunduk. Aku tersenyum kecil, dan mendekatinya.


“Angkat kepalamu,” ujarku sopan begitu aku di hadapannya.


Cherlin mengangkat kepalanya. Dia menangis tersedu-sedu.


Aku tersenyum. Dia menangis semakin deras. Dan, menarik tubuhku, dan memeluk ku.


“Aku tak ingin kamu pergi,” kata Cherlin sambil terisak-isak.


Aku menangis deras. Dan, mengelus-elus punggung Cherlin.


Begitu dia melepaskan pelukannya, aku berkata. “Tak perlu risau. Kita, akan kembali di lain waktu. Aku janji. Mungkin nanti kita akan janjian, dan bertemu. Ingat? Kita masih bisa berkomunikasi. Itu idemu bukan?”


Cherlin tersenyum dan mengangguk. “Jangan lupakan aku.”


“Tentu saja, Cherlin,” kataku dengan senyuman.


Di sisi lain, Alex mendekati Alicia.


“Kamu baik-baik di sini, ya,” ujar Alex.


Aku dan teman-teman ku yang lain, menoleh ke arahnya. Terutama Helen. Dia langsung menajamkan telinga.


Alicia tertawa. “Jangan mengada-ada. Memangnya aku anak kecil?”


“Yeah, aku hanya mengingatkan,” kata Alex, tersenyum.


Wajah Helen memerah. “Astaga! Pembicaraan macam apa itu?” bisik Helen. Namun, bisikan itu terdengar jelas.


Aku menoleh ke Helen. Begitu dengan yang lain-yang menonton.


“Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi ya,” kata Alex.


Wajah Helen semakin memerah.


“Iya, sampai jumpa,” ujar Alicia.


“Puh! Yang benar saja,” bisik Helen. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada.


Alex menoleh ke arahnya.


“Kamu tak mau mengucapkan ‘selamat tinggal’, Helen?” tanya Alex.


“Huh, untuk apa?”Helen masih merajuk.


Aku, Alice, Monalisa, dan Cherlin melangkah menjauh. Memutuskan hanya menonton.


Helen menatap Alex dengan kesal.


“Apa maksudmu? Aku tidak ingin mengucapkan ‘selamat tinggal’ padamu,” ujar Helen.


Alex mengangguk-angguk. “Ooh, maksudmu kamu tak mau aku pergi? Tapi, maaf, Viollet sendiri yang menginginkannya.”


Astaga! Kenapa Alex tiba-tiba menjadi seperti ini?


“Heh, jangan kau bicara sembarangan, ya,” Helen masih tampak kesal.


“Terserah apa katamu. Tapi… sampai jumpa lagi Helen. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu,” ujar Alex ramah.


Heh? Yang benar saja.


Helen sedikit terkejut mendengar itu. Wajahnya yang awalnya kesal, mendadak tidak lagi. Dia melihat wajah Alex yang tersenyum.


“Emm… yeah, baiklah. Sampai jumpa lagi,” ujar Helen. Namun, ia tetap tak berani menatap Alex.


“Nah, begitu dong, kan kamu jadi cantik kalau tidak kesal,” ujar Alex, lalu tertawa.


Aku dan yang menonton terkejut bukan main. Wajah Helen sudah merah betul. Entah sudah semerah apa. Mungkin semerah stroberi.


Aku tersenyum melihatnya. Teman-temanku menoleh padaku. Ada apa? Kenapa mereka seperti itu? Begitulah kira-kira dari raut wajah mereka.


Aku mengedipkan sebelah mata. “Helen telah jatuh hati pada Alex. Dan selain itu…”


“Helen telah menguasai hati Alex,” lanjut Alicia.


Aku tersenyum. Menandakan kalau itu benar. Alice, Monalisa, dan Cherlin terkejut.


“Sungguh?” tanya Cherlin.


“Aku sama sekali tak menyangka,” ujar Monalisa.


“Tapi itu luar biasa. Mereka saling memiliki perasaan yang sama,” ujar Alice. “Oh ya, bagaimana kamu bisa tahu kalau Helen ada di hati Alex, Alicia?”


“Alex sendiri yang memberi tahuku,” jawab Alicia.


“Apa? Bagaimana dia bisa mengatakannya kepadamu?” tanya Cherlin.

__ADS_1


“Tentu saja karena mereka sangatlah dekat. Mereka berteman sejak Alicia kelas satu,” Monalisa yang menjawab.


“Bernarkah itu? Kenapa kamu tak pernah memberi tahuku, Alicia?” tanya Alice."Dan, bagaimana kamu bisa berteman?"


“Aku bahkan tak tahu kalau kami sangatlah dekat.”Alicia tersenyum. "Dan, kami bisa berteman karena dulu, aku pernah menangis di taman. Dan, Alex lah yang membuatku membaik saat tak sengaja kami bertemu."


Kami mengangguk paham, dan tertawa bersama.


TIN! TIN!


Suara klakson mobil terdengar kembali.


“Sepertinya supirku sudah tak sabar lagi menunggu, aku pergi ya,” ujarku.


Mereka mengangguk. Aku tersenyum. Lantas, mengambil koper dan tas, yang tadi ku taruh di tanah.


“Alex, ayo!” tegurku.


Alex mengangguk. “Sampai jumpa, Helen.”


Helen tersenyum. Melambaikan tangan.


Aku tertawa kecil melihatnya. Lalu, melambaikan tangan kepada teman-temanku, dan guru-guru juga pak kepala sekolah yang masih berada di sini. Mereka membalas lambaian itu.


“Jangan lupa hubungi aku ya,” kataku mengingatkan.


Teman-temanku mengangguk. Aku pun menuju mobil, dan masuk ke dalamnya.


“Siang, pak,” tak lupa ku sapa supirku. Ku lihat Alex sudah berada di kursi depan.


“Siang. Wah, kamu tampak cerah ya hari ini,” ujar pak supirku.


Aku tersenyum.


“Baiklah, kita berangkat?” tanya pak supir.


Aku mengangguk.


“Baik, kemana dulu kita pergi?” tanya pak supir kembali.


“Kita pergi ke panti asuhan ku dulu, pak. Aku ingin pamit pada ibu panti asuhan,” ujar Alex lebih dulu.


Aku mengangguk setuju.


“Baiklah, abang Viollet,” kata pak supir.


Alex tertawa. “Panggil saja aku Alex, pak.”


“Siap,” ucap pak supir. Dia pun mulai menjalankan mobil.


Aku tersenyum.


Haaah, Aku menghela napas panjang. Senang sekali rasanya. Walau berpisah dengan teman-temanku, aku tetap senang. Karena aku belajar banyak hal di Deletorian School. Aku belajar, kalau kita harus melihat yang terjadi di sekeliling kita. Kita harus membela yang lemah, dan menantang yang salah. Aku belajar, kita jangan hanya melihat luarnya, tapi juga dalamnya. Mungkin saja, bisa jadi, misalnya, orang yang kita ejek, buly, di anggap aneh, dan sebagainya, di dalam orang itu, terdapat hal yang menyakitkan yang pernah terjadi pada dirinya.


Aku juga tahu sekarang, kalau, teman sejati yang dulu ku anggap kebohongan belaka-sama seperti Cherlin sebelumnya, ternyata memang ada. Jika kamu berpikir kalau teman sejati tidak ada, mungkin saja dia belum muncul, atau kamu yang tak menyadarinya. Yang pasti, teman sejati memang ada-menurut pendapatku. Hanya saja, kekurangannya, hal itu tak akan selalu bertahan lama. Karena, dia mungkin bertemu dengan orang baru di luar sana. Mungkin kelak engkau juga. Akan bertemu dengan orang baru. Tidak mungkin kan berteman terus dengan orang yang sama. Tidak Bosan? Hehehehe...


Namun, aku berharap. Teman-temanku kini, akan terus menjadi teman sejatiku. Walau, kelak nanti akan bertemu dengan orang baru, orang yang luar biasa. Namun, aku tetap berharap mereka selalu menjadi teman sejatiku. Itu lah harapan ku.


“Viollet,” panggil Alex. Memecahkan keheningan di dalam mobil.


Aku menoleh. Apa?


“Apa kamu ingin tahu sesuatu?” tanya Alex.


Aku menatap tidak mengerti.


Alex menyengir. “Ada salah satu siswa di sekolah kita yang memberikan hatinya padamu.”


“Heh?” aku terkejut.


“Benarkah itu Alex?” tanya pak supir. Mengikuti pembicaraan.


Alex mengangguk.


“Si… siapa dia?” tanyaku.


“Tak ingin ku beri tahu,” ujar Alex menjengkelkan.


Aku kesal. “Lantas, kenapa kamu memberi tahuku?”


“Hanya memberi tahu. Viollet, jangan kamu berpikir kalau siswa itu adalah siswa yang kamu berikan hatimu untuknya,” kata Alex. Melambaikan tangan.


“Siapa juga yang berpikir seperti itu!” ujarku dengan suara lantang.


“Tunggu, apakah kamu telah jatuh hati, Viollet? Wah, kamu memang sudah besar,” pak supir berkata. Sambil terus menyetir mobil.


Wajahku memerah.


“Viollet apa kamu tahu? Siswa yang memberikan hatinya padamu berkata, kalau dia sangat tulus dan setia,” Alex memberi tahu.


“Benarkah itu?” pak supir tertawa.

__ADS_1


Wajahku kesal dan juga memerah. Menyebalkan. Kenapa Alex memberi tahuku, tapi dia tak mau menyebutkan nama siswa itu. Menyebalkan! Tapi, mungkin kah siswa yang aku suka? Ah, kenapa aku menjadi begitu berharap? Puh! Lupakan!


-Tamat


__ADS_2