
Aku bersama Helen dan Alicia berjalan menuju kantin. Tanpa diduga.
Bruk!
Seseorang menabrak kami.
Kami bergeser sedikit. Dan melihat ke arah orang yang menabrak kami berbarengan.
Dia adalah seorang laki-laki yang gagah. Saat menabrak kami, dia berhenti dan menoleh ke arah kami.
"Maaf, saya tidak sengaja. Kalian baik-baik saja?" tanyanya.
Helen yang awalnya tampak kesal, mendadak menjadi tersenyum ketika melihat laki-laki itu.
"Eh iya, kami baik-baik saja," Helen yang menjawab.
Aku hanya tersenyum menandakan kami baik-baik saja.
Laki-laki itu membalas senyuman ku. Lalu menoleh ke belakang nya. Kami ikut menoleh. Ternyata dia tak sendiri. Ada tiga temannya di belakang tak jauh dari kami-yang seperti menahan ketawa. Dua temannya itu bertampang seperti anak nakal. Berbeda dengan teman yang satu lagi, ia tampan, dan berpakaian rapi. Dan laki-laki di depan kami, tampak gagah dan sangat rapi.
Laki-laki di depan kami tampak kesal. Tak bisa menahan, dua temanya bertampang nakal, tertawa terbahak-bahak. Satunya lagi masih bisa menahan tawanya. Aku, Helen, dan Alicia saling tatap tak mengerti.
Dua teman laki-laki itu masih tertawa. Lalu berhenti. "Ya, ya maafkan kami." Tak lama, mereka melanjutkan tawa mereka.
"Jangan hiraukan mereka. Maafkan saya ya," laki-laki itu kembali berbicara.
Kami mengangguk bersamaan.
"Hey, Alex," tanpa di sadari, teman laki-laki itu-yang disebut Alex mendekati.
"Kamu tidak mau kenalan sama mereka, Lex?" tanya salah satu temannya yang bertampang nakal, sambil merangkul Alex.
"Benar, mumpung bertemu," sahut yang lainnya-yang bertampang nakal satunya lagi.
Teman Alex yang tampak rapi, menjitak kedua temannya yang sehabis bicara.
Kami hanya diam menonton.
Alex menatap mereka cukup kesal.
Namun, kedua teman nya itu tak mempedulikan. Mereka justru tertawa. Aku tak mengerti apa yang lucu. Dasar laki-laki.
"Hai, Alex, namaku Helen," tiba-tiba saja Helen berbicara seraya melambaikan tangan.
Hal itu mengejutkan Alex, dan teman-temannya. Mereka menoleh ke Helen dengan kompak.
"Ini temanku, Alicia dan Viollet," Helen menunjuk ku dan Alicia bergantian.
Helen santai sekali berbicara. Sambil menatap Alex dengan penuh senyuman.
Alex yang sedari tadi diam, tersenyum dan membuka mulutnya.
"Senang berkenalan dengan kalian."
Aku tersenyum manis. Alicia membungkuk sedikit-hormat.
Lalu Alex terdiam. "Viollet?" ujarnya lirih.
"Ada apa?" tanya Helen.
Alex menggeleng. "Bukan apa-apa." Lalu, dia menatapku.
Aku balas menatapnya dengan heran. Namun, perasaan itu tak kutunjukkan di wajah. Cukup lama kami saling menatap. Tidak lama sekali. Tapi, cukup lama.
Alicia menyenggol lenganku. Aku terkejut. Lantas, aku menoleh. Dia tersenyum kecil. Ah ya! Benar. Aku teringat kembali tujuan awal kami. Kantin!
"Em, maaf, kami tak bisa lama-lama," Aku memecahkan lengang. "Kami harus pergi."
Alex tersenyum. "Ah, ya tidak apa-apa," kata Alex.
"Permisi," lantas, aku dan Alicia mulai melangkah sambil menarik tangan Helen yang sedari tadi hanya menatap Alex dengan senyuman.
Dari belakang. Terdengar percakapan Alex dan teman-temannya.
"Dasar, kalian, tidak tahu sopan santun," suara itu tak kukenal. Mungkin itu suara teman Alex yang menjitak dan tampak rapi.
"Ah, kenapa? Mereka tampak nya juga tidak peduli," suara itu adalah teman Alex yang pertama kali bicara.
"Hey, shhh... Jangan ganggu. Lihat Alex, dia sedari tadi melihat mereka terus. Terutama siswi yang bernama Viollet itu," suara lirih terdengar dari teman Alex yang kedua bicara.
Walau terdengar lirih, tapi aku sedikit mendengar dengan jelas. Begitu mendengar namaku, lekas aku menoleh ke belakang. Benar saja Alex menatapku dengan senyuman kecil tergambar di wajahnya. Tak lama, Alex menoleh ke arah teman-temannya. Aku juga kembali melihat ke depan.
"Sudahlah," suara Alex terdengar.
Karena kami sudah melangkah cukup jauh, aku tak lagi mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Aku bergegas lari ke kantin. Tanpa langsung pergi ke kamar untuk menaruh barang-barang. Karena aku sudah merasa sangat lapar. Alicia dan Helen juga bergegas lari karena tak ingin tertinggal. Tiba di kantin, kami langsung mengambil makanan. Setelah itu, kami duduk di meja.
“Astaga, Viollet. Kenapa banyak makanan yang kamu ambil?” tanya Helen, terkejut.
“Aku lapar,” kataku santai. Lalu menyuap sesendok makanan.
Alicia tersenyum.
“Hadeh, jangan sampai kamu mules lagi nanti,” ujar Helen.
“Tidak akan,” kataku. Lalu menyuap sesendok makanan lagi.
Alicia melihat sekeliling.
“Ada apa, Alicia?” tanyaku. Yang melihat tingkah Alicia. Belakangan ini aku menjadi sering memperhatikan Alicia. Karena takut terjadi sesuatu kepadanya.
“Eh, aku mencari kakakku. Sepertinya dia belum keluar dari kelasnya,” kata Alicia.
Aku mengangguk. Lalu berdiri.
“Ada apa? Jangan bilang kalau kamu mules lagi,” kata Helen.
“Tidak, akau rasa makananku kurang. Aku akan mengambilnya lagi,” kataku. Lalu pergi membawa nampan makananku.
“Astaga, yang di nampanmu saja belum habis. Bagaimana kamu bisa merasa masih kurang?” tanya Helen.
Tapi aku tidak mempedulikan. Aku langsung pergi ke tempat pengambilan makanan. Setelah selesai mangambil makanan. Bruk! Aduh, aku menabrak Catrine karena aku terlalu terburu-buru. Makanan Catrine terjatuh karena tertabrak. Tidak banyak, tapi aku tetap merasa bersalah.
“Ya ampun, Catrine, maafkan aku. Aku tidak sengaja,” kataku.
“Tidak apa,” kata Catrine. Kemudian ia langsung pergi.
“Tunggu,” kataku menghentikannya.
Catrine berbalik.
“Ini, aku akan memberikan makananku kepadamu,” kataku. Lalu menagmbil nasi goreng di nampanku cukup banyak. Lalu memberikan lauknya, dan satu buah apel.
“Tapi, ini terlalu banyak. Seharusnya kamu memberikanku sebanyak yang jatuh tadi,” kata Catrine.
“Tak apa, untukmu saja,” kataku sambil tersenyum.
“Tapi, tadi kamu menambahkan? Aku yakin kamu pasti lapar. Kamu tidak bisa menambah lagi karena siswa-siswi hanya boleh menambah sekali. Jadi ini, aku kembalikan,” kata Catrine, lalu mengambil sesendok nasi.
Namun, aku menahannya.
Catrine sedikit terkejut “Teman?”
“Iya, teman,” kataku.
“Em, terima kasih. Terima kasih, Viollet,” ucap Catrine.
Aku tersenyum manis. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa,” kata Catrien dengan senyuman kecil. Walau tidak terlalu terlihat, dan sangat cepat, tapi aku tahu dia tersenyum.
Aku tersenyum. Lalu melangkah pergi.
***
“Huuuuh, huuuh,” Suara tangisan Helen terdengar.
Aku menoleh ke arahnya. Lebih tepatnya, ke arah bawah. Karena dia sedang duduk di rumput taman.
“Ada apa, Helen?” tanyaku. Sambil menyentuh bahunya.
“Puisi mu, Viollet. Ini bagus sekali. Aku sama sekali tidak tahu itu yang kamu rasakan, huuuh,” kata Helen. Dan melanjutkan tangisannya.
Aku hanya tersenyum.
“Sepertinya puisimu bagus. Maukah kamu membacakannya? Sepertinya akan bagus kalau mendengarkan puisi, di tambah dengan pemandangan sunset. Benarkan, Catrine?” kata Alice. Dia juga duduk di rumput. Bersebelahan dengan Helen.
“Yeah, aku rasa begitu,” kata Catrine, dengan raut wajahnya yang polos. Ia tetap melihat pemandangan sunset. Catrine melihat pemandangan sunset sambil berdiri. Sama sepertiku.
Aku menundukan kepala. Tak lama, aku kembali melihat pemandangan sunset. Aku tersenyum. Memutuskan untuk membacakan pusisi yang aku buat.
"Bintang ku... Ku tatap langit malam... Yang dipenuhi bintang-gemintang nan indah... Namun, rasa penasaran mendatangiku... Adakah bintang yang hanya berdiam diri di sarangnya... Bintang yang penuh rahasia di dalamnya... Tak ada yang tahu bila ia terjatuh, dan bila ia bangkit... Tak ada yang tahu bila ia remuk, hancur, dan bila ia utuh kembali... Kalau lah ada, itulah bintangku... Bintang hatiku... Bintangku yang luar biasa.”
Semuanya terdiam. Lengang sejenak.
“Waah, itu bagus sekali, Viollet,” puji Alice sambil bertepuk tangan.
Aku tersenyum. Lalu melihat Catrine. Dia menataku. Sebenarnya, raut wajahnya itu polos. Namun, dari matanya, aku seakan melihat yang berbeda.
Aku tidak tahu bagaimana mengatakan ekspresi Catrine saat melihat matanya. Mungkin, dia terkejut. Karena tahu apa yang kurasakan dari puisisku. Mungkin saja. Selain itu, saat aku melihat matanya. Aku seperti merasa, dia tahu tentang diriku. Dan dia juga terkejut, karena suatu hal yang ada dalam dirinya ada dalam di dalam diriku juga. Ia tak menyangka akan ada orang lain yang juga merasakan apa yang dia rasakan. Itu firasatku saat aku menatap matanya. Entah apa itu benar atau tidak. Tapi yang pasti, aku sadar. Walau raut wajahnya polos. Ekspresinya masih bisa di lihat dari matanya.
__ADS_1
Aku tersenyum hangat kepadanya. Saat aku tersenyum padanya, dia langsung mengalihkan pandangannya. Dan kembali melihat pemandangan sunset. Melihatnya, aku juga kembali melihat pemandangan sunset.
“Em, aku heran. Semenjak ini sikap Alicia berubah,” ujar Alice.
Aku menoleh ke arahnya. Menunduk.
“Apa yang berubah dari sikap Alicia?” tanya Helen.
“Yeah, dia menjadi sering ketakutan. Selalu menyendiri, yang tak biasa ia lakukan. Dan biasanya, kalau dia melihatku, dia akan sangat senang. Karena dia sama sekali tidak ingin aku pergi jauh darinya. Tapi, belakangan ini. Atau lebih tepatnya hari ini, dia hanya tersenyum dan kemudian pergi, saat melihatku. Dan juga, biasanya dia sangat suka melihat pemandangan sunset. Namun, sekarang dia sama sekali tidak pergi ke sini. Dia terus menyendiri di kamar. Saat aku mengajaknya, dan bertanya apa ada masalah? Dia sama sekali tidak menyaut. Dia terus saja menunduk,” jelas Alice.
“Benarkah? Tapi tadi, saat di kelas dan makan siang, di kantin. Dia biasa saja,” kata Helen.
“Aku juga tidak mengerti,” ucap Alice.
“Em, aku akan pergi ke kamar, ya. Aku akan istirahat. Tadi pembelajarannya membuatku lelah dan pusing,” kataku. Itu hanya alasanku agar aku bisa bertemu dengan Alicia.
“Heh, kalau mau bertemu Alicia katakan saja. Tidak perlu basa-basi,” kata Helen.
Aku menyengir. Sejujurnya, belum pernah aku menyengir. Seumur hidupku. Sungguh, sekolah ini benar-benar membuatku berbubah.
“Ya sudah, kamu kalau mau ke kamar, silahkan saja,” ucap Alice.
Aku mengangguk. Kemudian, melambaikan tangan, dan mulai melangkah. Alice dan Helen membalas lambaian itu.
Aku pun tiba lorong kamarku.
Krek! Aku membuka pintu kamar. Tampak Alicia di dalamnya.
“Alicia?” kataku.
“Hah? Iya?” ucap Alicia
“Kenapa kamu tidak melihat sunset di taman, Alicia? Pemandangannya bagus sekali,” kataku dengan senang.
Alicia hanya diam. Sambil menunduk.
“Aku… tidak tertarik.”
Aku terkejut dengan perkataannya. Yang tadinya raut wajahku senang, menjadi berubah. Tidak biasanya dia tidak mau melihat sunset. Itu bukan kataku. Itu kata Alice.
“Ada apa, Alicia?” tanyaku.
“Em, tidak ada apa-apa,” katanya. Sambil terus menunduk.
“Alicia,” aku menghampiri Alicia, dan duduk di sebelahnya. “Aku temanmu sekarang. Katakan saja kepadaku kalau ada sesuatu. Mungkin aku bisa membantumu.”
“Hm, tapi aku yakin. Kamu pasti tidak akan percaya,” katanya.
“Tidak. Alicia, bagaimana aku bisa percaya kalau kamu tidak cerita kepadaku.”
“Viollet, berjanji ya, jangan katakan ini kepada kakak ku. Dan simpan rahasia ini baik-baik.”
Aku mengangguk. Dengan senyuman yang hangat. Membuatnya merasa labih baik.
“Hm, sebenarnya, aku merasa kalau ada yang aneh dengan Catrine.”
“Kenapa begitu?”
“Tadi malam. Aku terbangun. Entah kenapa. Lalu, aku melihat Catrine keluar kamar saat tengah malam. Aku heran. Apa mungkin dia ingin pergi ke toilet? Tapi, seharusnya dia menggunakan kamar mandi yang ada di kamar. Terlalu berbahaya untuk keluar malam-malam. Karena itu, aku memutuskan untuk mengikutinya. Saat aku mengikutinya, dia tidak pergi ke toilet. Ingin ke mana dia pergi? Aku semakin heran. Setelah beberapa saat, aku kehilangan jejaknya. Lalu, dari jendela di lorong, aku melihat Catrine keluar asrama. Kemudian, ia membuka pintu gerbang asrama. Dari luar sana, tampak kabut ungu. Dan lama-lama, terlihat. Ada raksasa yang berwajah seram. Tubuhnya pun tak terlihat seperti manusia biasa. Aku rasa, itu adalah makhluk.”
“Makhluk?”
“Iya. Lalu, tak lama, dia seperti tahu keberadaanku. Tiba-tiba, dia malihatku dengan tajam. Aku terkejut. Dan bergegas lari pergi ke kamar. Aku berusaha untuk tidur. Namun, tak bisa. Kepalaku selalu saja memikirkan kejadian itu. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara langkah kaki kecil. Dan suara langkah kaki besar. Sekelilingku bergetar karena langkah kaki besar itu. aku merasa itu Catrine dan makhluk. Begitu Catrine membuka pintu, aku langsung pejamkan mata. Pura-pura tertidur. Aku merasakan keberadaan makhluk itu. Kemudian, aku merasa Catrine menaiki tempat tidurnya. Dan berbaring. Sedangkan makhluk itu, hawa nya semakin menyengat. Sepertinya dia mendekatiku. Aku khawatir. Bulu kuduku berdiri. Aku sangat ketakutan. Detak jantungku berdetak cepat. Hawa makhluk itu seakan membuatku untuk membuka mata. Namun, aku tetap menutup mata. Walau aku ketakutan dari dalam. Aku harus terlihat stabil di luar. Setelah sekian lama, akhirnya hawa itu mereda. Dan akhirnya, tidak terasa lagi. Aku membuka mata. Makhluk itu memang sudah tidak ada. Aku menghembuskan napas lega. Namun, aku tetap tidak bisa tidur. Sampai pagi tiba, aku masih terjaga,” Alicia berhenti sebentar. “Sejak saat itu, setiap kali aku melihat Catrine, aku merasa makhluk itu ada padanya. Dan di sekeliling Catrine, aku selalu melihat kabut ungu. Kabut ungu itu yang selalu membuatku ketakutan. Dengan adanya kabut ungu itu, makhluk itu pasti tak jauh dariku.”
Aku menghembuskan napas panjang. Aku bisa membayangkan apa yang terjadi dalam cerita Alicia.
“Alicia, kamu yakin itu bukan halusinasimu?”
“Lihat, kamu sama sekali tidak percaya padaku.”
“Tidak, aku... hanya memastikan?”
Alicia diam. Dia menundukkan kepala.
“Aku yakin Viollet. Aku benar-benar merasakannya. Itu nyata, bukan mimpi ataupun halusinasi,” Alicia meneteskan air mata.
Melihat nya, aku kasihan padanya.
“Alicia, kalau begitu, bagaimana kalau kita tunggu besok. Kalau nanti malam, dia datang lagi ke sini, itu pasti ada sesuatu yang tidak beres. Katakan kepadaku kalau kamu melihat makhluk itu datang kembali. Dan katakan kepadaku kalau kamu masih melihat dan merasakan hal yang sama saat melihat Catrine. mengerti?”
Alicia mengangguk.
“Aku mengerti. Terima kasih, Viollet,” kata Alicia, lalu ia memelukku.
Aku tersenyum.
__ADS_1
-Bersambung