Deletorian School

Deletorian School
Masa lalu yang menyedihkan


__ADS_3

Jantungku berdegup kencang. Apakah rencana ku akan berhasil? Atau tidak? Apakah keadaan akan kembali normal? Atau tidak? Aku menggelengkan kepala. Tidak! Positive thinking. Aku harus berpikir positif.


Saat makhluk itu sudah berada di titik rencanaku.


Cetek!


Ku nyalakan lampu dengan saklar yang cukup kecil. Lampu itu adalah rangkaian seri. Jadi, tak perlu repot-repot menyalakan satu-satu lampunya.


Begitu semu lampu sudah menyala.


“AARRGGHH,” makhluk itu berteriak.


Yes! Aku mengepal tinju.


WEW, WEW, WEW, WEW, WEW!


Ups! Aku tak sengaja menyenggol alarm darurat UKS. Alarm itu sangat sensitive. Tersenggol sedikit saja, bisa membuatnya berbunyi.


“AAARRGGHHHH!!!” makhluk itu berseru sangat lantang.


Aku tersenyum. Alarm itu membantuku saat ini. Aku menambah cahaya lampu itu dengan remote control. Suara alarm darurat juga terus berbunyi.


“AAAARRRGGGHHHH!!!!” makhluk itu berteriak lebih lantang. Tiba-tiba, terdapat angin kencang yang membuat semua barang terlempar. Membuat tengah ruangan menjadi sangat luas. Aku memejamkan mata karena terdapat cahaya silau yang mendekat.


Tak lama hal itu terjadi, aku membuka mata kembali. Ruangan ini sangat berantakan. Lampu-lampu dan alarm yang sebelumnya menyala, telah padam. Aku melihat tubuh makhluk itu terkapar di lantai. Apakah dia sudah kalah? Aku rasa iya. Aku tersenyum riang. Aku melihat tubuh teman-temanku yang dirawat di UKS, tampak normal seperti sebelumnya. Alicia mulai siuman.


“Alicia,” panggilku. Aku berlari mendekat ke arahnya.


Alicia menoleh.


“Viollet?”


Saat dia menyadari kehadiranku, aku telah sampai di depannya, dan memeluknya dengan erat. Tak lama, aku melepaskannya.


“Syukurlah kamu sudah sadar. Aku senang sekali,” kataku. Dengan senyuman yang manis, dan tangisan.


“Aku juga senang, bisa melihatmu kembali,” ujar Alicia.


Satu per satu, yang lain pun juga siuman. Aku memeluk mereka dengan erat. Aku senang sekali.


“Viollet, bagaimana kami bisa sadar kembali?” Alicia bertanya.


Yang lain ikut menaggguk. Juga penasaran dengan hal yang sama. Aku menoleh ke arah makhluk itu. Alice terkejut, dan menangis. Aku mendekat ke makhluk itu. Makhluk itu mengeluarkan suara menggerung.


“Aku tak akan memaafkanmu,” ujar makhluk itu.


Aku menatapnya dengan tatapan kasihan. Lebih tepatnya sedih. Lalu, dari matanya, aku melihat sesuatu. Hah?


***


Terdapat seoarang gadis dengan rambut tergerai panjang, duduk di kursi taman asrama. Taman asrama itu adalah taman sekolah Deletorian. Gadis itu tampaknya sedih. Kira-kira, umurnya, sekiataran saat kelas enam. Lalu, ada dua anak laki-laki menghampirinya, dengan tawaan.


“Sedang apa kau di sini?” tanya salah satu anak itu.


“Tak perlu di tanya, tentu saja sedang sedih. Menangisi kesendiriannya,” sahut anak lainnya.


Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak bersama.


“Heh, kalian tak boleh seperti itu,” terdengar suara seorang gadis dengan rambut sebahu.


Dia berjalan mendekat.


“Kalian tak boleh seperti itu. Itu tak baik,” ujarnya.


“Siapa kamu?” tanya salah satu kedua anak laki-laki itu.


“Aku? Aku adalah teman sekamarnya, kenapa? Masalah untukmu, heh?” gadis rambut pendek itu membentak.


“Huh, menyebalkan. Memangnya kenapa kalau kami mengganggu Catrine?” salah satu kedua anak itu tak menerima perkataan gadis berambut pendek.


“Jika kalian tetap mengganggu Catrine, aku akan melaporkannya pada Pak Guru,” ancam gadis berambut pendek.


“Apa? Huh, baiklah, kami akan pergi,” ujar salah satu kedua anak itu.


Mereka pun pergi meninggalkan gadis berambut panjang-yang disebut Catrine, dan gadis berambut pendek.


Gadis berambut pendek menoleh ke Catrine.

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja?” tanya gadis berambut pendek itu.


“Kalaupun kamu tak menolongku, aku tetap baik-baik saja,” Catrine menjawab dengan judes.


Gadis berambut pendek itu tertawa. Entah apa yang lucu.


“Bukan masalah kan kalau aku menolongmu, Catrine?” tanya gadis itu.


Catrine menangguk.


“Yeah, bagaimanapun, terima kasih, Alice,” ujar Catrine datar.


Gadis yang berambut pendek itu-yang dipanggil Alice, tersenyum.


“Sama-sama.”


“Tapi, kenapa kamu menolongku?” tanya Catrine.


“Kita itu kan teman, Carine.”


“Teman?”


Alice mengangguk. Catrine mulai tersenyum, walau senyumannya kecil.


Sejak saat itu, mereka berteman baik. Mereka selalu bersama kemana pun merek pergi. Hingga…


Suatu ketika, semua anak seangkatan kelas enam terkesiap melihat kelas mereka masing-masing. Kursi dan meja mereka hancur. Rusak. Hanya menyisakan lempengan-lempengan kayu. Begitu pun di kelas Catrine.


“SIAPA YANG MELAKUKAN HAL INI!!!” teriak ketua kelas Catrine.


Kedua anak yang mengganggu Catrine di taman, tersenyum licik.


“Catrine!” ujar mereka.


“Apa!” siswa yang lain menyahut.


“Bagaimana bisa?” sahut yang lainnya.


Kelas itu riuh seketika. Mereka semua menoleh ke arah Catrine. Wajah Catrine pias.


“CATRINEE!!! BAGAIMANA KAMU BISA MELAKUKAN INI!?!” ketua kelas berteriak lantang sekali.


“Halah, penjahat mana mungkin mengaku,” ujar salah satu dari mereka.


“Coba kita tanyakan pada teman sekamar Catrine. Mana teman sekamarnya?” sahut yang lainnya.


Salah satu siswi mengangkat tangan.


“Aku adalah teman sekamarnya,” ucapnya.


“Baiklah, kalau begitu, katakan, apa Catrine keluar kamar saat kemarin malam?” tanya salah satu dari siswa kelas itu.


“Ya, Catrine keluar kamar. Dan, dia lama tidak kembali,” jawab teman sekelas yang mengangkat tangan.


“Benarkah itu?” salah satu siswi berkata.


“Aku tak menduganya,” sahut yang lain.


“Dia benar-benar jahat,” ujar yang lainnya.


Keadaan riuh kembali.


“Tidak, saat itu ada yang memanggil-manggil namaku. Karena itu aku lama tak kembali,” Catrine membela diri.


“ALASAANN!!” ketua kelas kembali berteriak.


"Benar! Lagi pula kami punya bukti," kata salah satu anak laki-laki yang memfitnah Catrine. Dengan senyuman jahat.


"Benar-benar," ucap yang satunya lagi.


"Apa? Ada buktinya."


"Benarkah, apa buktinya?"


Terdengar bisikan-bisikan siswa-siswi kelas Catrine.


"Berikan padaku," kata ketua kelas.

__ADS_1


Dua anak laki-laki itu, menyerah kan beberapa foto. Di foto itu, tergambar Catrine, dengan senyuman jahat menghancurkan meja dan kursi.


Ketua kelas tampak lebih marah. "Sudah jelas sekarang. CATRINE KAU MEMANG PELAKUNYAAA!!" teriak ketua kelas sambil memperlihatkan foto yang ia pegang.


Catrine menggeleng. "Tidak, bukan aku."


"Halah, sudah ketawan, masih saja mengelak," ujar salah satu anak laki-laki yang memfitnah Catrine.


"Benar, memang jahat dia," sahut yang lainnya.


"Benar, jahat sekali di,"


"Tidak di duga ya, ternyata dia jahat."


"Benar, di dalam pendiam dirinya, ternyata ada sifat yang sangat jahat."


"Iya, benar-benar."


Keadaan kembali riuh oleh bisikan-bisikan siswa-siswi kelas Catrine.


Mata Catrine mulai basah. Bukan aku yang melakukannya. Ujarnya dalam hati.


Dia menatap Alice. Dengan kesedihan. Sebaliknya, Alcie menatapnya dengan kesal.


“Alice, kau percaya padaku, kan? Aku tidak bersalahkan? Katakan pada mereka, kalau aku tak bersalah,” ujar Catrine.


Alice tampak lebih kesal. “BAGAIMANA MUNGKIN KAMU BISA MELAKUKAN HAL ITU!?! TEGANYA KAMU MELAKUKANNYA!!!”


Catrine tampak lebih sedih. “Alice?”


Alice menatapnya dengan rasa marah. Kedua anak yang memfitnah Catrine, tersenyum jahat. Catrine melihat hal itu.


“Lihat,” Catrine menunjuk dua anak itu. “Mereka tersenyum. Mereka pasti memfitnahku!”


“Setelah kamu melakukan hal ini, BAGAIMANA MUNGKIN KAMU BISA MENUDUH ORANG LAIN!?! MEMANG TIDAK PUNYA HATI KAMU!!!” Alice berteriak lantang.


Catrine tak menduga teriakkan itu. Terlebih lagi, itu berasal dari teman dekatnya. Dia menangis tersedu-sedu.


“Cukup! Bawa dia ke ruangan kepala sekolah!” perintah ketua kelas.


Siswa yang lain pun membawa Catrine ke ruangan kepala sekolah. Tiba di sana, Catrine di marahi habis-habisan oleh pak kepala sekolah.


“Pak, tenang. Kita bisa membicarakan ini baik-baik,” kata Bu Guru Bahasa Inggris. Guru itu memang baik sekali.


“Tidak bisa. Perlakuannya sangatlah keterlaluan. Menghancurkan meja dan kursi seangkatan kelas enam. Entah apa yang dia pikir kan.”


Pak kepala sekolah menghela napas.


“Baiklah, kamu harus di hukum atas perbuatanmu ini. Dan hukumannya, adalah… KAMU DI USIR DARI SEKOLAH INII!!” tukas pak kepala sekolah.


Catrine terkejut. Begitupun bu guru Bahasa Inggris. Sangat terkejut.


“Tapi pak, Catrine hidup sebatang kara, pak. Tak adakah hukuman lain, pak?” tanya bu guru Bahasa Inggris.


“Tak ada.”


“Hukuman itu memang pantas untuknya, Bu,” ujar guru mapel (mata pelajaran) lainnya.


“Tapi...”


“Tak apa, Bu,” Catrine mulai angkat bicara. “Tak apa.”


Mata bu guru Bahasa Inggris berbinar-binar. Catrine pun keluar ruangan. Kabar Catrine di keluarkan, beredar ke mana-mana. Catrine pergi ke kamarnya, dan merapihkan pakaiannya. Tak ada yang peduli padanya. Bahkan Alice. Dia tampak kesal pada Catrine.


Catrine pun pergi tanpa ada seseorang mengucapkan selamat tinggal. Catrine berjalan pergi keluar sekolah dengan air mata yang keluar deras.


Ia berjalan terus tanpa berhenti sambil berbisik.


“Bukan aku yang melakukannya. Bukan aku. Aku tak bersalah. Aku… ah!"


Tiba-tiba, kaki Catrine tersandung batu, dan terjatuh dari jurang yang tinggi.


“AAAARRRGGGHHH!!”


BRUK!


Kepala Catrine terhantam batu, dan dia telah menghembuskan napas terakhirnya. Bangkainya terus ada di sana. Karena tak pernah ada yang menemukan tubuhnya dan mencarinya.

__ADS_1


-Bersambung


__ADS_2