
Haah, segarnya dapat menyegarkan tubuh. Alicia mandi setelahku. Usai ia mandi, kami pergi ke kamar. Alice dan Catrine masih ada di dalam kamar. Nampaknya, mereka menunggu kami. Setelah meletakkan kembali peralatan mandiku, aku menyisir rambut panjangku, menyiapkan buku-buku, dan memasukannya ke dalam tas. Setelah itu, Alice mengajak kami untuk pergi sarapan terlebih dahulu di kantin sekolah.
Tiba di sana, kami mengambil makanan yang sudah tersedia. Lalu pergi ke meja yang kosong. Saat aku duduk.
“Pagi, Viollet,” ada yang menyapaku dari belakang.
Aku menoleh. Itu Helen. Aku tersenyum.
“Pagi, Helen,” sapaku balik.
Saat Helen tiba di depanku, ia melihat teman-teman kamarku.
“Apa mereka teman-teman kamarmu?” tanyanya.
Aku mengagguk dengan senyuman.
“Ooh, mm, permisi, apa aku boleh bergabung?” tanyanya kepada teman-teman kamarku.
“Tentu, silahkan,” ucap Alice ramah.
“Terima kasih,” kata Helen sopan.
Aku bergeser sedikit. Agar bangkunya, dapat diduduki Helen. Kemudian, ia duduk di sebelahku. Aku berada di tengah-tengah sekarang. Di sebelahku ada Alicia dan Helen.
“Perkenalkan, namaku Helen,” kata Helen memperkenalkan diri dengan sopan.
“Hai, Helen, aku Alice,” Alice memperkenalkan diri.
“Senang bertemu denganmu,” kata Helen.
“Di depanku, Alicia. Dia adikku,” Alice melanjutkan.
Alicia tersenyum hangat saat Helen menatapnya.
“Senang bertemu denganmu, Alicia,” Helen tersenyum ramah.
“Oh ya, di sebelahku, namanya Catrine,” lanjut Alice.
Helen menoleh ke arah Catrine, yang ada di depannya.
“Senang bertemu denganmu juga, Catrine,” kata Helen dengan senyuman yang manis.
Catrine menangguk. Lalu menatapnya tanpa ada senyuman. Wajahnya kosong. Tak ada ekspresi apapun. Helen yang awalnya tersenyum, mengakhiri senyuman nya. Melihat itu, aku tahu apa yang dirasakan Helen. Terasa tidak nyaman kalau tersenyum kepada seseorang, dan dia tidak membalasnya.
“Viollet,” panggil Helen dengan bisikan. Memecahkan keheningan di dalam diriku.
Aku menoleh.
“Apa Catrine selalu seperti itu?” tanya Helen. Masih dengan bisikan.
“Em, tidak. Aku rasa… mungkin karena ia belum terbiasa dengan sekolah ini,” jawabku mengarang. Dengan berbisik.
“Oh. Viollet,” panggil Helen kembali. “Aku, merasa ada yang aneh dengan dirinya. Seperti ada sesuatu yang ada di dalam dirinya, yang tidak ada di dalam diri orang lain,” Wajah Helen mulai tampak khawatir. Tak seperti sebelumnya. Yang selalu ceria.
“Em, sudahlah, aku rasa itu hanya firasatmu saja. Jangan berfikir hal yang seperti itu. Positif thinking, Helen,” hiburku.
“Yeah, kamu benar,” katanya mulai tersenyum kembali.
Aku tersenyum hangat. Dan mulai menyuap makanan.
“Helen,” panggil Alice.
“Ya?” jawab Helen.
“Bagaimana kamu kenal dengan, Viollet?” tanya Alice.
“Oh, itu, kami tidak sengaja bertemu. Saat pertama kali kami masuk ke sekolah ini,” jelas Helen.
Aku hanya memakan makananku.
“Oh ya, boleh kah aku sering mampir ke kamar kalian untuk bermain? Dan juga, apa boleh aku menjadi teman kalian?” tanya Helen.
“Tentu saja, Helen. Kamu boleh mengunjungi kamar kami kapan pun kamu mau. Dan, lagi pula kita sudah bertaman sekarang, Helen,” kata Alice dengan penuh semangat dan bahagia.
Helen tersenyum senang.
“Oh ya, Helan. Di mana teman sekamarmu?” tanya Alicia.
Helen menoleh.
“Entahlah,” Helen mengangkat bahu. “Mereka selalu meninggalkan ku. Mereka selalu bertiga. Aku rasa mereka tidak mau menerimaku. Dan mereka, sepertinya tidak ingin ada pendatang baru di kamar mereka.”
“Apa tidak ada murid baru selain kamu di kamarmu?” tanya Alicia.
Helen menggeleng. “Hanya aku.”
Helen menunduk. Setelah mendengar cerita Helen, suasana menjadi sedih. Tapi tidak bagiku, dan jangan lupakan Catrine. Bagi kami suasananya biasa saja. Karena kami hanya terus makan dan tidak mempedulikan pembicaraan.
Helen mengangkat kepalanya. Setelah tahu ia telah membuat suasana menjadi sedih.
“Tapi, aku rasa aku tak perlu takut tak punya teman atau sedih karena teman sekamarku. Karena sekarang aku punya kalian. Benarkan?” katanya. Membuat suasana ceria kembali.
Alice dan Alica tersenyum ceria.
***
Aku berlari kencang. Walau rasanya lelah, tapi aku harus terus berlari. Sambil membawa buku pelajaran. Ku lihat para guru sudah memasuki kelas masing-masing. Ku harus bergegas pergi ke kelas ku. Ku berlari cepat sambil waspada melihat nomor kelas. Astaga di mana kelasku, kenapa jauh sekali. Akhirnya, aku tiba di depan pintu kelasku. Aku segera menggeser pintu kelas.
Srek! Duk! Ya ampun, aku tak percaya yang ku lihat. Kenapa teman-teman kelasku masih bermain. Ah, sudahlah, jangan di pikirkan. Aku bergegas mencari nomor kursiku. Ternyata aku duduk di sebelah Alicia. Di baris ke dua dekat jendela di kiri kelas. Aku duduk di kursiku. Lalu, melihat sekeliling.
Kelasnya unik sekali. Tempat duduknya dari bawah ke atas. Kalau di lihat dari depan kelas, seperti tangga. Kepala sekolah membuatnya, agar yang duduk di paling belakang, melihat pelajaran kelas. Di sebelah kanan dan kiri meja, juga ada tangga. Selama petualanngan ku menuju sekolah ke sekolah lain, baru pertama kalinya aku melihat hal yang seperti ini.
Aku melihat Alicia di sebelahku. Dia sedang menunduk. Dia tampak merinding. Letak tangannya seperti orang kedinginan. Wajahnya tampak ketakutan.
“Alicia,” panggilku.
“Hah!” Alica terkejut. “Fiuh, kamu rupanya.”
“Ada apa? Kamu tampak cemas?” tanyaku.
“Em, tidak ada apa-apa,” katanya sambil tersenyum. Tapi, walau ia tersenyum, tetap terlihat dari wajahnya di sedang mengkhawatirkan sesuatu dan merasa ketakutan.
“Alicia, kalau ada sesuatu, katakan saja padaku,” kataku dengan senyuman hangat. Membuatnya lebih tenang.
“Hm, sebenarnya… hah,” Alicia berhenti bicara, dia tampak ketakutan dengan sesuatu di tangga-di sebelah ku yang satunya.
Aku menoleh. Terlihat Catrine yang sedang menatap tajam Alicia. Dia berdiri tegap, matanya sangat menyeramkan di pandang. Tak lama, ia pergi meninggalkan. Aku kembali melihat Alicia. Dia bergegas menundukan kepala. Meletakkan kedua tangannya di kedua telinga. Menutup telinganya itu.
“Tidak, aku tidak mendengarnya, aku tidak melihatnya, aku tidak merasakannya, aku sama sekali tidak lihat. Tidak lihat, jangan lihat. Tidak dengar, jangan dengar. Tidak merasakan, jangan merasakan. Ku mohon, pergilah. Pergi. Aku tidak bercerita, tidak, tidak, tidak. Ku mohon, lepaskan aku,” katanya dengan berbisik. Setelah kuperhatikan, tetesan air jatuh ke rok seragamnya. Aku rasa dia menangis.
Alicia terus mengulang kalimat itu. Aku jadi cemas melihatnya.
“Hei!” kata seseorang dari belakang.
“Ah, iya?” kataku dengan terkejut. Aku melihat ke belakangku, ternyata itu Helen.
“Eh, maaf, aku mengejutkanmu ya,” katanya.
__ADS_1
“Tidak apa,” kataku dengan senyuman.
“Tapi, ada apa? Tadi kamu serius sekali, sampai-sampai, kamu terkejut. Tidak seperti sebelumnya,” ujar Helen.
“Tidak, tadi aku hanya termenung. Terlalu fokus dengan renungan, jadinya terkejut,” kataku.
Helen mengangguk-angguk paham.
“Helen, apa tempat dudukmu di belakangku?” tanyaku.
“Yup, aku senang, ada kamu di depanku, dan teman semeja ku itu sangat ramah dan ceria,” katanya dengan bahagia.
“Aku turut bahagia,” kataku. “Oh ya, guru kita kenapa masih belum masuk?”
“Tadi di kabari oleh ketua kelas kalau guru kita akan terlambat datang karena ada urusan,” jelas Helen. “Oh ya, kenapa aku baru lihat kamu di sini? Dari tadi kamu di mana?”
“Oh, itu, tadi aku terlalu banyak makan. Jadinya, perutku mules,” jelasku.
Helen mengangguk.
“Good morning class,” seorang guru perempuan memasuki kelas kami, dan menuju mejanya.
Semua siswa-siswi langsung duduk di kursi masing-masing, dan memperbaiki posisi duduknya.
“Miss, harap kalian tidak bosan ya menunggu miss,” kata guru itu ramah.
Aku tahu sekarang, pelajaran pertama adalah Bahasa inggris.
“So, let’s we start lesson English language,” kata guru itu. “Oh yes, I am sorry, i was not yet introduction to new student. Hello everywone, my name is Miss Era, nice to meet you, all of you,” kata Miss Era. Guru itu sangat ramah.
***
Wuaah, aku menguap lebar. Sama sekali tidak menyangka pelajaran terus berlanjut tanpa istirahat. Sudah 3 pelajaran yang ku lewati. Sama sekali tidak menyenangkan. Kini pelajarang Bahasa Indonesia. Alicia bilang kalau ini adalah pelajaran terakhir. Jadi aku harus bertahan. Bertahan? Tak bisa, aku sudah sangat lelah. Bagaimana yang lain masih bisa sanggup? Wuaah, aku menguap lebar kembali. Walau begitu, aku menyimak pelajaran. Sambil menopang dagu.
“Nah, anak-anak, ini adalah contoh puisi. Puisi ini karya Chairil Anwar. Ia di juluki binatang ******. Apa ada yang bisa menerjemahkan puisinya?” tanya Bu Lisda. Guru pelajaran Bahasa Indonesia. Wajahnya tampak galak. Menyeramkan. Bagi teman-temanku. Tapi aku tidak. Biasa saja.
Bu Lisda melihat sekeliling. Tidak ada yang mengangkat tangan. Kemudian, ia berhenti saat menatapku. Aku yang ditatapnya merasa biasa saja.
“Heh, kamu, yang menopang dagu,” panggilnya dengan suara tegas.
Aku terkejut. Aku melihat sekeliling. Tidak ada yang menopang dagu selain aku. Aku kembali melihat Bu Lisda. Lalu menunjuk diriku. Bertanya apa aku yang di panggil.
“Iya, kamu. Siapa lagi selain kamu yang menopang dagu. Ayo berdiri!” katanya dengan suara lebih tegas
Aku menghembus napas. Rasanya malas untuk berdiri.
“AYO BERDIRI!!” kini suaranya sangat lantang. Namun aku biasa saja. Tidak mempedulikannya.
Tak lama, aku berdiri. Berusaha berdiri tegap, walau sedikit tidak seimbang karena terlalu lama duduk.
“Siapa namamu?” kini suaranya sudah membaik. Walau masih terdengar tegas.
“Viollet,” kataku. Dengan suara yang sedikit pelan.
“Apa? Aku tidak bisa mendengar suaramu. Yang lantang!” katanya lebih tegas.
Aku menghembus napas.
“Viollet,” kataku dengan suara yang cukup lantang.
“Bagus, seperti itu,” ucapnya. “Viollet, coba kamu artikan puisi ini!”
Aku melihat ke papan. Tampak puisi yang berjudul ‘Aku’ karya Chairil Anwar.
“Bisa kamu artikan?” tanya Bu Lisda.
Aku mengangguk.
Aku membaca puisi itu dengan perlahan, dan memahaminya.
Aku
Kalau sampai waktuku. Ku mau tak seorang kan merayu. Tidak juga kau.
Tak perlu sedu sedan itu. Aku ini binatang ******. Dari kumpulannya terbuang.
Biar peluru menembus kulitku. Aku tetap meradang menerjang.
Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih perih.
Dan aku akan lebih tidak peduli. Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Aku terdiam. Puisi itu, sungguh membuatku terharu. Sungguh puisi yang bagus bagiku. Sungguh indah.
“Heh, kenapa malah diam? Cepat artikan!” kata Bu Lisda. Memecahkan keheningan.
“Eh, iya, baik. Dalam kata puisi, ‘Kalau sampai waktuku’ jika waktu si aku tiba untuk berjuang. ‘Ku mau tak seorang kan merayu’ si aku tidak mau seseorang mengkasihani dirinya. ‘Tidak juga kau’ tidak juga orang yang si aku kasihi. ‘Tak perlu sedu sedan itu’ Si aku tidak butuh orang yang mendukungnya bersedih tersendu. ‘Aku ini binatang jalang’ Binatang ****** yang di maksud, adalah hewan yang kuat. ‘Dari kumpulannya terbuang’ artinya si aku tidak dipedulikan oleh orang lain. Seperti terbuang. ‘Biar peluru menembus kulitku’ si aku tidak masalah jika dirinya dilukai dan disakiti. ‘Aku tetap meradang menerjang’ si aku tidak menyerah dan terus berusaha apa yang ia tuju. ‘Luka dan bisa kubawa berlari’ luka dan bisa yang ada di dalam tubuh si aku bisa ia bawa berlari. Berlari. ‘Hingga hilang pedih perih’ sehingga pedih perih luka yang si aku bawa menghilang. ‘Dan aku lebih tidak peduli’ si aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya di masa lampau. Dan terakhir, ‘Aku mau hidup seribu tahun lagi’ si aku merasa, kelak seribu tahun lagi, dia akan dikenang oleh orang-orang.
"Jadi maksud dari puisi si aku, dia ingin pergi berjuang meraih apa yang dia impikan. Dia tidak mau dalam perjuangannya ada seseorang yang mengasihaninya. Tidak juga dengan orang yang ia kasihani. Dalam perjuangannya, dia di lukai dan di sakiti. Tapi, ia tidak menyerah dan terus mengejar apa yang dia impikan. Walau di dalam dirinya masih ada luka pedih dan perih yang ia bawa. Si aku terus mengejar impiannya berharap luka pedih dan perih yang ia bawa menghilang. Si aku tidak peduli dengan yang terjadi di masa lalu dengan dirinya. Dan ia, merasa kalau kelak, dia akan dikenang oleh banyak orang dengan impian nya itu. Sekian, terima kasih,” jelasku. Lalu aku kembali duduk.
“Hei, hei, siapa yang suruh kamu duduk. Berdiri lagi!” ujar Bu Lisda.
Astaga, aku sudah tidak kuat berdiri. Namun, aku tetap berdiri. Berdiri dengan tegap. Siswa-siswi lain tertawa begitu aku berdiri. Entah apa yang mereka tertawakan.
“Sudah, berhenti!” tegas Bu Lisda. “Penjelasanmu tadi bagus. Namun, itu masih puisi yang mudah. Tapi ibu senang. Selama ibu mengajar, belum pernah ada yang bisa menjawab puisi yang ibu berikan. Kecuali seniormu. Tapi ketika seniormu masih seumuranmu, masih belum bisa. Jadi ibu senang. Terima kasih, Viollet.”
Aku tersenyum. “Sama-sama, bu.”
“Hei, hei, seharusnya kamu berterima kasih sama ibu. Selama ini belum pernah ada yang bertopang dagu seperti yang kamu lakukan. Tadinya ibu mau menghukum kamu. Tapi, karena kamu bisa mengartikan puisinya, ibu tidak jadi menghukummu,” kata Bu Lisda.
“Er, iya, terima kasih, bu,” ucapku.
Siswa-siswi lain tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Tapi aku tidak peduli.
“Ya, sama-sama. Oke, sekarang kamu boleh duduk,” kata Bu Lisda.
Aku kembali duduk.
“Baiklah, sekarang, tugas kalian adalah membuat puisi. Bertema, bisa sesuatu kejadian yang pernah kalian alami, hal yang kalian rasakan dalam diri kalian, dan impian kalian. Kalian boleh memilih. Silahkan, waktu kalian sampai waktu pelajaran habis,” ujar Bu Lisda. “Kalau sudah selesai kumpulkan di meja ibu.”
Kami pun segera mengambil selembar kertas di dalam laci meja. dan mulai menulis. Namun, tidak denganku. Aku tak tahu apa yang akan ku tulis. Aku pernah membuat puisi. Mudah, cukup mudah bagiku. Namun, temanya yang membuat sulit. Apa yang akan ku pilih?
Waktu berlalu, aku masih tak kunjung memilih tema. Itu sangat sulit bagiku. Aku biasanya membuat puisi tentang alam dan pemandangan. Ini pertama kalinya aku membuat puisi bertema lain. Apa yang harus kulakukan? Aku menundukkan kepala. Aku hampir menangis. Tak lama, aku mengangkat kepalaku kembali. Sebenarnya aku tak punya ide apa yang akan ku tulis. Tapi aku sudah memutuskan tema puisi. Aku tulis saja apa yang aku rasakan.
Seletah beberapa menit, waktu habis. Aku segera mengumpulkan. Saat ingin aku mengumpulkan. Aku di tanya Bu Lisda.
“Kalau boleh, tema apa yang kamu pilih, Viollet?” itu pertanyaannya. Dan kali ini, aku baru mendengar suaranya lembut seperti sutra.
Aku terdiam. Bukan karena suara Bu Lisda berubah menjadi lembut. Namun, melainkan karena puisi yang aku buat.
“Ibu… ibu akan tahu setelah melihat puisinya,” kataku sambil tersenyum dangan raut wajah sedih. Kemudian mengumpulkan puisi ku di meja guru. Dan berjalan kembali.
Tiba di meja, aku merapihkan barang-barang ku. Nah, selesai.
“Alicia, Helan, ayo, kita ke kantin. Aku lapar,” kataku.
“Tunggu dulu, kita harus menunggu kertas puisi yang kita kerjakan tadi,” kata Helen. “Katanya, kalau di berikan tugas, dan di kumpulkan saat pelajaran itu juga, dinilai, dan di berikan kembali saat pelajaran itu juga.”
__ADS_1
“Bagaimana bisa? Bukankah siswa-siswi di sini sangat banyak? Pasti butuh waktu lama untuk menilai semuanya,” kataku.
“Entahlah, kami tidak tahu bagaimana caranya. Namun, penilaian tidak berlangsung lama,” ujar Alicia.
“Benar,” kata Helen. Seakan dia sudah lama di sekolah ini.
“Lihat, ketua kelas sudah membagikan kertasnya,” kata Alicia. Menunjuk orang yang dimaksud.
Ketua kelas mendekati kami.
“Hai, Alicia ini lembar kerjamu,” kata ketua kelas.
“Terima kasih,” kata Alicia. Menerima kertas yang diberikan.
Kemudian, ketua kelas menatapku.
“Kamu Viollet, kan?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Lembar kerjamu belum diberi nilai oleh Bu Lisda. Katanya nanti Bu Lisda sendiri yang akan memberikan lembar kerjanya. Kamu tunggu saja, ya,” jelas ketua kelas dengan tersenyum. Ia menatapku lamat-lamat.
Aku sedikit canggung. Bisa di bilang salting. Atau salah tingkah.
Aku mengalihkan pandangan. “Baik, terima kasih,” kataku. Aku tak tahu yang bisa ku katakan. Jadi itu saja.
Helen berdehem. “ketua kelas, mana punyaku?”
“Oh ya, sampai lupa,” kata ketua kelas. Kemudian ia mencari lembar kerja Helen.
“Ini punyamu, Helen,” katanya kemudian, sambil menyerahkan lembar kerja Helen. Tunggu, bagaimana dia bisa tahu namanya Helen?
“Aku sudah berkenalan tadi dengan Helen,” kata ketua kelas kepadaku. Seakan tahu apa yang aku pikirkan.
“Oh, iya,” ucapku.
“Monalisa, ini lembar kerjamu,” kata ketua kelas, sambil menyerahkannya kepada Monalisa. Monalisa adalah teman semeja Helen.
Setelah menyerahkan, ia kembali melihatku.
“Viollet, aku rasa puisi mu itu sangat bagus sehingga Bu Lisda terus melihat puisimu,” ujar ketua kelas. Aku tak tahu namanya karena dia tidak memperkenalkan dirinya.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Helen.
“Mudah saja, Bu Lisda belum menilai puisi Viollet karena terlalu bagus. Jadi, Bu Lisda tidak tahu mau beri nilai berapa karena terlalu bagus. Karena itu, Bu Lisda terus melihat puisi Viollet karena sangat bagus,” jelas ketua kelas dengan penuh keyakinan.
“Bagaimana kalau, Bu Lisda tidak bisa menilai karena puisinya sangat tidak bagus?” tanya Helen.
“Astaga, apa kamu tidak melihat ketika Viollet mengartikan puisi berjudul ‘Aku’? Jika ia bisa mengartikannya, tidak mungkin puisinya tidak bagus. Selain itu, bukankah Viollet temanmu? Tega sekali kamu berkata seperti itu,” kata ketua kelas.
“Ya, ya, terserah apa katamu. Apa kamu sudah selesai bicaranya? Sebaiknya kamu berikan lembar kerjanya untuk yang lain. Dan pergilah untuk mengganggu yang lain,” ujar Helen.
“Maksudmu, aku mengganggu?” ketua kelas meninggikan sedikit suaranya.
“Yaeh, kamu menggangguku untuk mengobrol dengan teman-temanku,” kata Helen.
Ketua kelas menghembuskan napas berat. “Terserah apa maumu."
"Puh," Helen merasa kesal.
Aku dan Alicia saling menatap. Dan tersenyum, menahan tawa.
Ketua kelas kembali melihatku. “Viollet.”
Aku menoleh.
Ketua kelas tersenyum ramah. “Kalau begitu, aku permisi. Sampai jumpa lagi." Lalu ia melangkah pergi dan melambaikan tangan.
Aku balas lambaian itu, dan tersenyum.
“Astaga aku masih tak percaya masih ada yang seperti itu,” ujar Helen.
Aku menoleh, dan tersenyum. Alicia tertawa kecil. Sejauh ini, Alicia sudah kembali normal.
“Tapi, dari tingkah lakunya, sudah ketahuan bukan?” kata Alicia sambil tersenyum lebar. Sampai matanya menyipit.
“Benar juga,” kata Helen. Lalu menatapku sambil tersenyum. Alisnya yang naik dan turun berulang kali.
“Ah, sudahlah. Aku tidak peduli,” kataku sedikit sebal dengan tingkah lakunya.
“Tapi dia tampaknya peduli,” ucap Alicia dengan alis terangkat.
“Lagi pula, Alicia. Dia memang berkata tidak peduli. Tapi, siapa tahu di dalam hatinya..." Helen melirik ku. "Dia peduli,” lanjut Helen.
Aku menggeleng. “Ah, tidak,” kataku.
“Kenapa? Ketua kelas itu bukan nya tampan. Benarkan?” ujar Alicia.
“Ah, tidak. Biasa saja,” kataku. Setelah kupikir-pikir. “Mungkin.”
“Tuh kan,” kata Alicia dan Helen kompak.
Aku hanya tersenyum.
“Viollet,” panggil seseorang dari belakang.
Aku menoleh. Itu Bu Lisda. Aku langsung berdiri.
“Bu Lisda,” kataku.
“Ini kertas puisimu. Kamu mendapatkan nilai sempurna,” kata Bu Lisda.
Aku menerima kertas puisiku. “Terima kasih Bu Lisda.”
Bu Lisda tersenyum. “Viollet, apa puisimu itu benar-benar apa yang kamu rasakan?”
“Iya, benar, bu,” kataku dengan senyuman. “Tapi ibu tidak perlu khawatir. Di sini, saya menemukan hal baru. Saya yakin hal baru itu. Akan mengubah cerita saya. Dan melupakan sejarah saya.”
Bu Lisda tersenyum. “Iya, semangat terus ya, nak.”
“Terima kasih, bu,” kataku.
Bu Lisda tersenyum. Lalu pergi meninggalkan.
“Viollet,” panggil Helen.
Aku menoleh.
“Selamat untukmu,” kata Alicia.
Aku tersenyum. “Terima kasih.”
“Boleh kami lihat puisimu?” tanya Helen.
“Nanti saja, di kantin. Aku lapar. Ayo!” ucapku.
Alicia dan Helen saling tatap. Lalu tertawa. Kali ini aku tahu kenapa mereka tertawa. Karena baru pertama kalinya aku seperti ini. Sikapku berbeda dari sebelumnya. Hal ini, karena hal baru yang aku temukan.
__ADS_1
-Bersambung