Deletorian School

Deletorian School
Tidak terduga


__ADS_3

Saat melihat mata Monalisa, tiba-tiba... hah?


Suasana kelas sudah senyap. Hanya tinggal beberapa orang saja di kelas.


“Mona, kamu tidak mau ke kantin?” tanya salah satu siswi.


Monalisa menggeleng. “Tidak, aku masih ingin membersihkan kelas.”


“Baiklah, kalau begitu aku duluan, ya,” ujar salah satu siswi itu.


Monalisa mengangguk. Beberapa saat pun berlalu. Kini, tinggal Monalisa sendiri. Dia duduk di kursinya. Termenung. Masih memikirkan kejadian yang menimpa teman sekamarnya. Kesedihan menyelimuti dirinya. Tampak jelas di wajahnya itu. Kesedihan yang luar biasa. Waktu terus berlalu. Tiba-tiba…


BRUK!!


Pintu tertutup sendiri. Monalisa terkejut. Dia sampai berdiri karena saking terkejutnya.


“Apa yang terjadi?” tanyanya panik. Sambil melihat ke sekeliling nya.


SREEKK! SREEKK! SREEKKK!


Semua gorden tertutup dengan sendirinya. Ruangan menjadi gelap. Kabut asap ungu pekat mulai muncul.


“SEBENARNYA APA YANG TARJADI!!” teriak Monalisa.


“KAU TAK PERLU BERTERIAK!” suara yang lantang dan berdengung terdengar di seluruh ruangan. Entah suara laki-laki atau Perempuan. Dari saranya, tak terdengar jelas apa jenis kelamin nya.


“Siapa itu?” Wajah Monalisa mulai resah.


“Kau tak perlu tahu siapa aku,” suara itu kembali terdengar.


“Kalau begitu tunjukkan dirimu,” teriak Monalisa berani.


Suara tawa terdengar. “Kau yakin? Jika aku memnunjukkan dirimu. Kau akan takut,” suara itu kembali terdengar.


“Tidak, aku tidak takut padamu,” kini suara Monalisa lebih lantang. Dia sangat berani. Walau, keberanian itu seharusnya tak datang. Dia tidak tahu siapa yang dia hadapi.


Suara tawa kembali terdengar. Mengerikan. “Wow, aku salut dengan keberanianmu. Tapi, apa daya keberanian itu, tak akan bisa melawanku.”


“Apa maksudmu?” Monalisa bertanya.


“Kalau kau mau tahu, aku di sini agar kau bisa menyusul temanmu itu,” suara itu lalu terkekeh.


“Apa?” Monalisa terkejut. “Apakah… apakah kamu yang melakukan hal itu kepada temanku? Kenapa? Kenapa kamu melakukannya? KENAPA??!!” Monalisa beteriak lebih lantang.


“KARENA DIA TELAH MELAKUKAN HAL YANG TIDAK KU SUKAI!!” suara itu lebih lantang dari suara Monalisa. Sampai-sampai Monalisa menutup kedua telinganya.


“Apa? Apa yang telah dia lakukan?” tanya Monalisa. Kali ini, suaranya lebih pelan.


“Kau tak perlu tahu,” suara itu berhenti sekejap. “Intinya sekarang, KAU AKAN MENYUSULNYA!!” suara itu berhenti. Tiba-tiba, tubuh Monalisa seperti diangkat oleh tangan raksasa tak terlihat. Wajah Monalisa tampak panik. Tiba tubuh Monalisa di atas, tubuhnya mulai mengeluarkan asap ungu pekat.


“AAARRRGGGGHHHHH!!!” Monalisa berseru kesakitan.


Terdengar suara tawa. “Aku suka suara ini.”


Brak! Brak! Brak!


Terdengar suara gedoran pintu. Karena gedoran pintu itu, suara di ruangan kelas yang sedari tadi tertawa dan terkekeh, berhenti.


“Sepertinya temanmu datang. Dia memang anak yang hebat. Tidak bisa dipandang sebelah mata. Tapi, dia tidak bisa menyelamatkanmu, MONALISAA!!” suara itu berteriak lantang.


“AAAAARRRGHHH!!!” Monalisa berseru kesakitan. Sangat kesakitan. Lama-kelamaan, teriakkan Monalisa memudar. Keadaannya sudah seperti saat aku menemukannya.


Suara itu tertawa. Perlahan, tubuh Monalisa turun dan berada di saat aku pertama kali menemukannya. Berdiri di atas meja dengan kepala menunduk di paling belakang ruangan. Tawa itu perlahan memudar. Dan…


GUBRAK!!


Pintu terbuka. Lalu muncul lah aku dan Alex.


***


Hah?


“Ada apa, Viollet?” tanya Alex.


Aku menoleh. Menggeleng sambil tersenyum. Tidak apa-apa.

__ADS_1


Aku melihat hal itu. kejadian yang terjadi pada Monalisa saat aku menatap matanya. Tapi, bagaimana aku bisa melakukannya? bagaimana bisa?


“Viollet,” panggil Alex.


“Ya?” sahutku.


“Ayo, kita ke kantin. Kita belum makan sejak tadi bukan?” ajak Alex.


“Oh ya, benar. Ayo!” kataku.


Kami pun berjalan menuju kantin bersama. Akhirnya, kami pun tiba di kantin. Aku harus mengisi perutku yang kosong.


“Kita berpisah di sini, Viollet. Aku akan bertemu dengan teman-temanku,” ujar Alex.


Aku mengangguk, dan melambaikan tangan. Alex membalas lambaian itu. Aku berjalan menuju tempat pengambilan makanan. Syukurlah, masih ada makanan. Setelah mangambil, aku melihat sekeliling. Ah, itu dia! Helen. Aku menuju ke arahnya.


“Helen,” panggilku.


Helen menoleh. “Mengapa kamu lama sekali, Viollet?”


“Oh itu, em… tadi, aku sudah ingin kemari. Tapi, aku ke asrama dulu. Lalu, ternyata ada barang yang tertinggal di kelas. Jadi, aku ke kelas dulu, ke asrama, dan terakhir ke kantin. Dan, di sinilah aku,” jelasku, mencari alasan. Aku sengaja tak memberi tahu Helen, tentang apa yang menimpa Monalisa. Aku takut dia khawatir.


Helen mengangguk.


“Maaf, ya menunggu lama.”


“Tak apa,” Helen tersenyum ramah.


Aku balas senyuman itu. Syukurlah, dia baik-baik saja di sini. Aku mulai menyuap sesendok nasi.


Teng, teng, teng, teng!


Suara lonceng terdengar. Kami semua, yang ada di kantin, menoleh. Terdapat pak guru di sana. Bapak itu mulai berbicara.


“Perhatian, terdapat kabar buruk. Hal yang terjadi pada Alicia, terjadi kembali. Kali ini kepada Monalisa. Bapak harap, mulai sekarang, kalian menjaga diri kalian dan berhati-hati. Demikian informasinya. Terima kasih.”


Mendengar itu, aku menepuk dahi. Payah, berita itu tidak muncul dariku, melainkan dari orang lain. Astaga, untuk apa bapak guru memberi tahu hal semacam itu? Buat orang lain gelisah saja.


Selepas berita itu disampaikan, keadaan riuh seketika. Sebenarnya sudah riuh sejak aku datang kemeri, tapi keadaan menjadi tambah riuh. Seperti orang ingin demo. Suara kegelisahan terdengar dimana-mana. Namun, bukan hal itu yang ku pedulikan. Melainkan, Helen. Aku melihat Helen. Dia tampak cemas. Bukan hanya Helen. Banyak yang terlihat cemas. Aku menatapnya prihatin.


Aku menyentuh tangan Helen yang ada di meja.


Helen tersenyum. Mengangguk. Lalu, aku mulai menyuap sesendok nasi. Kami melanjutkan memakan makanan kami.


Hari menjelang sore. Kami sedang berjalan-jalan, menikmati indahnya sore hari.


“Viollet, bolehkah kamu menemanike ke toilet?” tanya Helen.


Aku tersenyum mengangguk.


Kami pun pergi ke toilet terdekat. Tiba di sana.


“Kamu tunggu di sini, ya,” ucap Helen.


Aku mengangguk. ingin kukatakan “Tentu saja, tidak mungkin aku pergi meninggalkanmu” namun, situasi kali ini berbeda. Aku tahu keadaan Helen. Jadi, ku batalkan.


Tak lama menunggu, aduh! Kenapa tiba-tiba aku ingin ke toilet?


“Em, Helen,” panggilku.


“Ya?” sahut Helen.


“Aku juga ingin masuk toilet ya,” kataku.


“Baiklah,” ujar Helen.


Flash! Byuurr!


Terdengar suara flash-an toilet.


Cetek!


Suara kunci pintu tolet terbuka.


“Viollet, aku sudah selesai. Kamu sudah selesai?” tanya Helen.

__ADS_1


“Ya, sedikit lagi,” ujarku.


“Baiklah.”


Tak lama...


Tek!


Hah? Aku mendongak. Tiba-tiba saja lampu toilet mati dengan sendirinya. Keadaan menjadi gelap gulita.


“AARGHH,” terdengar teriakan Helen.


Mendengar hal itu, aku langsung menenangkannya.


“Tenang, Helen. Perlahan, kamu pergi ke tempat saklar lampu toilet berada, dan nyalakan lampu nya. Mungkin saja saklar nya turun,” kataku yang masih di dalam toilet.


“Baiklah.”


Aku tak tahu apa Helen mulai melangkah. Mungkin iya. Beberapa lama kemudian.


Tek!


Terdengar suara cetekan saklar lampu toilet. Namun, ruangan tak kembali terang. Masih gelap gulita.


“Apa? Lampunya tak mau nyala,” ujar Helen. Sambil terus mencetek-cetekan saklar lampu. Suara cetakan terdengar jelas.


“Benarkah? Mungkin sambungannya terputus atau paling tidak mati lampu,” kataku di dalam toilet. Berusaha untuk tetap tenang. “Helen, coba kamu keluar. Atau, kamu panggil salah satu guru yang berjaga di luar.”


“Apa? Tidak, aku tak mau. Kita bersama-sama saja,” katanya. Suaranya mulai terdengar ketakutan.


“Baiklah, aku akan segera keluar,” ujarku.


“Baiklah, aku menunggu,” ucap Helen, masih dengan nada takut.


Setelah selesai, aku mengflash toilet.


Flash! Byur!


“Viollet, kamu sudah selesai?” tanya Helen.


“Sudah,” kataku.


Aku membuka kunci pintu toilet. Tunggu! Kenapa tidak bisa? Kenapa tidak bisa bergerak?


“Viollet, kenapa kamu tidak keluar?” tanya Helen.


“Kunci pintunya tidak mau bergerak!" Aku mulai panik.


"Benarkah? Apakah..." Suara Helen mendadak berhenti.


Ada apa? Kenapa ia berhenti berkata-kata? Dalam kalbu ku berkata.


“Viollet,” Helen memanggilku dengan nada ketakutan.


Aku melihat ke bawah. Muncul kabut asap berwarna ungu pekat dari bawah pintu. Hah? Aku menggedor-gedor pintu toilet.


“Helen! Helen!" aku terus menggedor-gedor pintu. "Siapapun di sana, ku mohon, tolong jangan sakiti Helen,” pintaku.


“AAAAAAARRRRGGGHHHH,” terdengar suara teriakkan Helen.


Aku mendengar hal itu, Air mulai membasahi mata.


“TIDAAKK!! JANGAN SAKITI HELEENN!!!” aku berteriak selantang yang aku bisa.


Entah apa makhluk itu peduli atau tidak. Yang jelas, seruan Helen semakin kencang, dan perlahan menghilang.


"Helen? Helen?" panggilku yang masih menggedor-gedor pintu toilet.


Cetek!


Suara kunci pintu toilet terbuka. Aku segera membuka pintu. Gelap. Aku tak melihat apapun.


Tek!


Lampu toilet menyala akan sendirinya. Masih terdapat kabut asap ungu pekat di sekeliling. Perlahan kabut asap ungu pekat itu menghilang. Aku terduduk. Tidak! Aku terlambat. Aku melihat Helen tergeletak di lantai toilet. Dengan kondisi yang sama seperti Monalisa dan Alicia. Matanya terbuka, tak berkedip. Bola matanya warna ungu pekat. Sekeliling bola matanya, berwarna ungu bercampur putih. Wajahnya pucat dan tirus, sampai terlihat tulang pipinya.

__ADS_1


Aku menangis tersedu-sedu. Untuk kesekian kalinya, aku gagal kembali. GAGAL!! Aku tak bisa menyelamatkan Helen. Aku menyeka air mata di pipiku. Tak ada waktu menangis aku harus segera membawa Helen ke UKS. Aku menggendongnya seperti menggendong anak bayi. Saat siap membawanya ke UKS, tiba-tiba… Hah? Terdapat kabut asap ungu pekat mengelilingi sekitarku. Berputar-putar seperti angin ****** beliung. Apa yang terjadi?


-Bersambung


__ADS_2