Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version

Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version
Bagian 10


__ADS_3

    Keesokan harinya, Bara mengecek adiknya apakah sudah bangun atau belum sekaligus melihat kondisi adiknya apakah sudah mulai membaik.


    Saat masuk kekamar Widiya, Bara melihat adiknya hendak melepas infus yang ada ditangannya. Bara pun langsung mencegah adiknya itu.


"Wid, apa yang kamu lakukan." Ucap Bara.


"Eh kak, Aku.."


    Belum sempat Widiya melanjutkan ucapannya, Bara sudah memotong perkataannya.


"Kenapa kamu mau lepas infusnya. Kamu mau sakit mu tambah parah, Untung aja kakak datang tepat waktu kalau gak mungkin kamu sudah lepas infunsya iya kan." Ucap Bara.


"Kak, kakak jangan salah paham dulu. Apa yang kaka lihat itu gak seperti apa yang kakak tangkap. Memang benar Widiya mau lepas infusnya, tapi cuman selang infusnya aja." jelas Widiya.


"Maksud kamu apa?" tanya Bara bingung.


"Iya Widiya cuman mau lepas selang infusnya aja. Soalnya WIdiya mau mandi, Widiya gerah kak. Dari kemarin sore Widiya belum ada mandi. Tadinya Widiya mau manggil Kak Bara atau Kak Cindy, tapi pas Widiya lihat jam, Kak Bara sama Kak Cindy pasti belum bangun. Jadi ya udah Widiya mau lepas aja selang infusnya baru setelah mandi nanti Widiya pasang lagi."Jelas Widiya.


"Ya ampun. Kakak pikir kamu mau nekat berangkat sekolah dengan keadaan kamu yang belum pulih begini Wid." Ucap Bara.


"Ya gak lah kak, Widiya sadar tubuh Widiya perlu istirahat sekarang. Dan Widiya kali ini akan ngikutin apa yang dikatakan sama Dokter. Widiya selama ini terlalu cuek dengan kesehatan Widiya. Maafin Widiya ya kak, yang selalu bandel gak pernah dengerin omongan Kak Bara, Kak Cindy, Ayah dan juga Mamah. Widiya terlalu fokus dengan apa yang sudah menjadi tanggung jawab Widiya yang di berikan sekolah kepada Widiya." Ungkap Widiya.


    Bara yang mendengar kata-kata adiknya itu merasa senang karena adiknya kini sudah mulai tumbuh menjadi gadis remaja yang memiliki pola pikir yang sangat bijaksana. Padahal Bara merasa baru kemarin dirinya mengajak adiknya bermain bersama, tapi sekarang adiknya sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik dan juga sudah berpikir dewasa.


"Kakak senang akmu sudah mulai peduli dengan kesehatan kamu sendiri Wid. Ya sudah kalau begitu kakak lepasin sini selang infusnya. Tapi ingat jangan sampai tangan kirimu basah ok." Ucap Bara.


"Iya kak. Kalau gitu kakak keluar, nanti kalau Widiya udah selesai Widiya akan panggil kakak untuk masangin selang infus lagi." Ucap Widiya.


"Iya. Tapi sbelumnya kakak mau tanya kamu udah gak pusing ataupun mual lagi kan kayak tadi malam?" tanya Bara memastikan.


"Udah gak Kak." Ucap Widiya.


"Ya udah kalau gitu kakak keluar dulu sekalin minta pelayan buat kan bubur untuk kamu dan bawa obatnya sekalian ok."


"Ok."


    Bara sudah melepas selang infus yang ada ditangan kiri Widiya  dan setelah itu langsung keluar dari kamar Widiya dan menuju dapur untuk meminta salah satu pelayan membuatkan bubur untuk Widiya.


"Mbak tolong buatkan bubur dengan kaldu Jamur ya untuk Widiya dan jangan lupa bawakan obatnya juga." Pinta Bara,


"Baik Den." Ucap pelayan tersebut.


"Apakah sarapan untuk saya dan Cindy sudah siap?" tanya Bara.


"Sebentar lagi Den." Jawab pelayan tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau sudah siap panggil Saya dan juga Cindy. Saya mau kekamar Widiya dulu, dan ya untuk buburnya langsung antar saja ke atas ya." Ucap Bara.


"Baik Den." jawab pelayan tersebut.

__ADS_1


    Para pelayan itupun bergegas memasakkan bubur dengan kaldu jamur untuk Widiya dan juga sarapan untuk Bara dan juga Cindy. Sambil menunggu bubur dan juga sarapan untuk dirinya dan Cindy siapa, Bara kembali menuju kamar Widiya. Namun saat sampai di kamar Widiya, Widiya belum selesai akhirnya Bara memutuskan untuk menunggu Widiya diruang baca milik adiknya itu.


    20 menit kemudian Widiya sudah selesai mandi dan juga berganti pakaian, Widiya hendak memanggil kedua kakaknya untuk kembali memasangkan selang infus nya lagi, Belum sempat Widiya keluar kamar untuk memanggil kakaknya, pelayan sudah datang untuk ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisi bubu dengan kaldu jamur dan juga obat milknya.


"Non ini sarapannya dan juga obatanya." Ucap pelayan.


"Makasih ya Mbak. Oh ya dimana Kak Bara?" tanya Widiya.'


"Tadi kata Den Bara ke kamar Non." Jawab pelayan tersebut.


"Ke kamar Saya." Ucap Widiya.


"Iya Non, sarapan juga sudah siapa dan Non Cindy juga sudah ada di meja makan." Jelas pelayan tersebut.


"Oh begitu, mungkin Kak Bara sedang berada diruang baca. Tolong Mbak periksa ya dan kasih tahu untuk memasangkan kembali selang infus saya." Ucap Widiya.


"Baik Non." Jawab pelayan tersebut.


    Pelayan itu langsung keluar dari kamar Widiya dan memanggil Bara diruang baca Widiya yang terletak di sebelah kamar Widiyan. Saat bera didepan ruang baca Widiya, pelayan itu langsung mengetuk pintu yang ada di hadapannya.


"(tok tok tok) Permisi Den."


    Bara yang mendengar suara pintu diketuk langsung beranjak dari duduknya dan langsung beranjak ke arah pintu.


"Iya sebentar. (Sembari membuka pintu.) Ada apa Mbak?" tanya Bara.


"Sarapan sudah siap Den. Non CIndy sudah menunggu di meja makan." Ucap pelayan tersebut.


"Sudah Den, dan tadi Non Widiya meminta Den Bara ke kamar Non Widiya terlebih dahulu katanya untuk memasang selang infun Den." Jelas pelayan tersebut.


"Oh baiklah. Saya akan ke kamar Widiya telebih dahulu dan setelah itu akan ikut bergabung sarapan dengan Cindy, dan kasih tahu Cindy untuk sarapan duluan." Ucap Bara.


"Biak Den. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit pelayan tersebut.


"Hem."


    Pelayan itu langsung keluar dari ruang baca itu dan segera turun menuju dapur, sekaligus memberitahukan Cindy untuk menyantap sarapannya terlebih dahulu. Sedangkan Bara dirinya langsung menuju kamar Widiya untuk kembali memasangkan selang infus ketangan adiknya itu. Saat Bara masuk ke dalam kamar Widiya, Widiya tengah menyantap bubur yang dibuat untuknya.


"Kamu masih makan bubunya Dek." tanya Bara sembari mendekati adikya itu.


"Kak Bara. Iya kak tapi tinggal setengah." Jawab Widiya.


"Baguslah. Kalau begitu kakak gak akan kasih vitamin cair lagi sama kamu cukup habiskan infus ini aja." Jelas Bara.


"Kakak gak sarapan?" tanya Widiya.


"Setelah masang selang infus ini ditanganmu kaka akan turun untuk sarapan. Hari ini Kakak dan Cindy kemungkinan akan pulang malam. Jadi untuk sementara ini setelah kakak selesai sarapan kamu pindah ke kemar bawah biar para pelayan bisa melihat kondisi kamu dan jika kamu perlu apa-apa mudah." Jelas Widiya.


"Baiklah kak." Ucap Widiya.

__ADS_1


"Tapi sebelum itu kakak ingin memastikan lagi, kamu suhda gak merasa mual ataupun pusing lagi kan?" tanya Bara kembali memastikan.


"Iya kak. Kalau pun memang aku merasa pusing ataupun mual aku gak akan mandi pagi ini kak." Ucap Widiya.


"Iya juga sih. Sudah selang infusnya sudah kakak pasang. Kalau begitu kakak pergi sarapan dulu jangan lupa kamu minum obatmu." Perintah Bara.


"Ok."Jawab Widiya.


    Bara langsung beranjak dari kamar adiknya untuk sarapan bersama adiknya yang lain yaitu Cindy. Kini Bara sudah berada di meja makan dirinya langsung ikut bergabung dengan Cindy yang tengah menyantap sarapannya.


"Selamat pagi dek." Sapa Bara.


"Pagi Kak. Kakak dari kamar Widiya ya?" tanya Cindy.


"Iya. Setelah kuliah kamu langsung ke rumah sakit ya, untuk bantu kakak menangani beberapa operasi." Ucap Bara.


"Tapi kak aku belum dapat surat izin magang di rumah sakit, apa lagi menangani operasi kak." Ucap Cindy


"Bukannya kamu seharusnya sudah dapat izin untuk mangang dirumah sakit semester ini?" tanya Bara.


"Itu juga yang aku heran kak. Teman-teman ku yang lain sudah dari minggu lalu sudah dapat surah izin magangnya. Tapi beberapa juga belum ada yang dapat, makanya aku jadi bingung." Jelas Cindy.


"Kamu sudah tanya belum sama pihak akademik untuk hal itu?" Tanya Bara lagi.


"Udah, tapi katanya masih dalam proses kak." Jawab Cindy.


"Ya udah sabar aja. Selagi menunggu surat izin mu,kamu bisa bantu kakak dirumah sakit sebagai asisten kakak. Nanti kakak yang akan minta surat rekomendasi dari dosen kakak." Ucap Bara.


"Kakak mah enak udah mau wisuda tinggal nunggu surat izin buka praktek, dan bahka kakak sudah mendapatkan izin untuk ikut menangani operasi." Ucap Cindy.


"Kakak juga gak mudah kali Cin, bisa jadi sekarang ini. Kakak juga pernah ada di posisi kamu." Jelas Bara.


"Aku sudah selesai Kak. Aku berangkat duluan." Ucap Cindy.


"Iya hati-hati di jalan." Ucap Bara mengingatkan.


"Ok." Ucap Cindy.


    Cindy pun langsung keluar karena mobilnya sudah siap dan Cindy langsung mengarahkan mobilnya keluar dari halaman rumah dan menuju ke kampusnya. Sedangkan Bara masih menyantap makanannya. Saat akan selesai Bara meminta pelayan untuk membersihkan kamar yang dekat dengan ruang tengah untuk dibersihkan.


"Mbak." Panggil Bara.


"Iya Dan." Jawab salah seorang pelayan sembari mengahampiri Bara.


"Tolong bersihkan kamar yang dekat dengan ruang tengah Mbak, yang bekas kamar Widiya waktu SMP dulu. Soalnya saya dan Cindy dan hari ini akan pulang malam, dan takutnya kalau Widiya perlu apa-apa jadi lebih mudah." Ucap Bara.


"Baik Den."


"Sekalin tolong ini dibersihkan ya." Ucap Bara.

__ADS_1


"Baik Den." Jawan pelayan tersebut.


__ADS_2