Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version

Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version
Bagian 15


__ADS_3

    Saat ini Widiya sudah berada di kamarbawah yang merupakan kamarnya dulu waktu SMP sebelum dirinya pindah ke kamar atas. Widiya tengah memainkan ponselnya, saat ini sudah waktunya makan siang. Pelayan pun datang membawakan makanan dan juga obat untuk Widiya.


"(Tok, tok, tok) permisi Non ini Saya." Ucap pelayan terebut.


"Oh masuk saja mbak pintunya tidak saya kunci." Jawab Widiya.


"Ini Non, makan siang dan juga obatnya." Ucap pelayan dengan membawa nampan di tangannya berisi bubur dan juga obat untuk Widiya.


"Oh letakkan di atas nakas saya mbak." Ucap Widiya kepada pelayan tersebut.


    Pelayan itu pun langsug meletakkan nampan tersebut diatas naka yang ada di dekat Widiya.


"Saya permisi dulu Non." Ucap pelayan tersebut setelag meletakkan nampan yang di bawanya diatas nakas.


"Em,Mbak masih ada  buh segar tidak didalam kulkas?" tany Widiya kepada pelayan tersebut.


"Masih ada Non." Jawab pelayan tersebut.


"Tolong potongkan dan bawakan kemari ya Mbak." ucap Widiya.


"Baik Non." Jawab pelayan tersebut.


    Pelyan itu pun pergi dan menuju dapur untuk memotong buah kesukaan Widiya dan setelah itu mengantarnya kembali ke kamar Widiya. Sedangkan Widiya masih fokus dengan ponselnya dan belum menyantap makan siangnya.


    Widiya sedang asik membalas pesan dari sahabatnya, Farida. Tak selang berapa lama pleyan itu pun masuk lagi dengan membawa potongan buah untuk Widiya.


"Non ini buahnya."Ucap pelayan tersebut.


"Makasih ya Mbak." Jawab Widiya.


    Pelayan itu langsung keluar dari kamar Widiya dan kembali ke dapur. Saat pelayan itu sudah keluar, Widiya langsung menyantap makan siangnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Infus Widiya pun sudah mau habis dan dirinya sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


    15 menit kemudian Widiya sudah selesai menyantap makanannya. Widiya pun saat ini tengah menikmati buah kesukaannya. Karena sudah merasa benar-benar kenyang dan juga sudah meminum obatnya, Widiya langsung membaringkan tubuh nya lagi.


    Di tempat lain, di sekolah Farida dan Arifin sedang mengikuti pelajarna terkahir. Farida pun mengirim pesan kepada Arifin bahwa setelah pulang sekolah nanti dirinya berniat akan mengunjungi Widiya dirumahnya dan berniat ingin mengajak Arifin.


"Fin setelah pulang sekolah nanti aku mau jenguk Widiya, kamu amu ikut tidak?"  Tanya Widiya kepada Arifin.


    Farida langsung mengirim pesan tersebut kepada Arifin. Arifin pun langsug membalas pesan dari Farida dan akan ikut menjenguk Widiya.


"Ok aku ikut. Kita kerumah naik Mobil ku saja." Balas Arifin.


    Arifin dengan cepat mengirim balasa pesan tersebut dan kembali Fokus dengn penjelasan gudu di depan. Kini tiba waktunya pulang sekolah,Faridan dan Arifi hendak pulang dan menjenguk Widiya dirumahnya, Namun sebelum itu, Arifin berhenti disalah satu toko buah untuk membeli beberapa buah untuk Widiya. Namun Arifin bingung, karena dirinya tidak tahu apa buah yang kesukaan Widiya. Akhirnya Arifin pun bertanya kepada Farida.


"Da, Widiya suka buah apa?" tanya Arifin.


"Oh Widiya suka buah apa aja Fin kecuali Alpukat dan Anggur Hijau. Karena Widiya tidak suka dengan kedua buah itu. Tapi sebenarnya Widiya lebih suka dengan buah Pear dan Strawberry." Jelas Farida.


"Oh gitu. Ya sudah kita beli dua buah itu dan buah yang lainnya." Ucap Arifin.


    Arifin pun langsung memberitahukan kepada karyawan toko buah tersebut untuk menyiapkan buah-buahannya dan dikemas menjadi parsel. Setelah selesai membeli buah, Arifin dan Farida pun langsung bergegas menuju rumah Widiya.

__ADS_1


    30 menit kemudian mereak sudah sampai di depan pagar rumah Widiya, Farida pun turun dari mobil Arifin untuk menekan bel.


"Kamu tunggu sebentar biar aku kasih tahu satpam dulu." Ucap Farida.


"Oh ok." Jawab Arifin.


    Arifin pun kagum dengan rumah Widiya yang besar, bahkan bisa dibilang lebih besar rumah Widiya dari pada rumahnya. Bayangan Arifin rumah Widiya akan banyak tanaman hijau, wastafel dimana-mana dan mungkin pasukan tentara yang akan menjada rumah Widiya, ternyata tidak. Rumah Widiya sama seperti rumah yang lainnya walaupun ukurannya jauh lebih besar.


"Pak ini Saya Farida." Ucap Farida.


"Eh Non Farida. Mau jenguk Non Widiya ya?" Tanya satpam tersebut.


"Iya Pak, tapi saya datang bersama teman, jadi apakah bisa pagarnya dibuka?" tanya Farida kepada Satpam.


"Baik Non." Jawab satpam tersebut.


    Satpam langsung membuka pagar, dan Farida pun memberikan kode kepada Arifin untuk masuk. Arifin pun langsung masuk ke halaman rumah Widiya, dan lagi-lagi Arifin tertegun setelah melihat halam rumah Widiya yang bisa dikatakan sangat luas. Farida langsung menghampiri mobil Arifin yang sudah teparkir di halaman rumah Widiya.


"Ya udah masuk yuk." Ajak Farida kepada Arifin.


"Oh ok." Jawab Arifin.


    Arifin langsung keluar dari mobil dan mengikuti Farida dari belakang dengan membawa parsel buah untuk Widiya. Farida pun menekan bel lagi, yang kali ini berada di dekat pintu utama. Dan tak perlu menunggu lama, seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka.


"Eh Non Farida, silahkan masuk Non." Ucap pelayan tersebut.


"Makasih ya Mbak. Ayo Fin." Ucap Farida.


"Widiya ya ada mbak?" Tanya Farida kepada pelayan tersebut.


"Ada Non. Non Widiya sedang istirahat di kamar lama." Jawab pelayan tersebut.


"Oh begitu. Makasih ya Mbak. Kalau saya jengug Widiya dulu." Ucap Widiya.


"Baik Non." Jawab pelayan tersebut.


    Farida dan Arifin pun langsung menuju kamar yang di maksud pelayan tadi. Farida tahu kamar mana yang di maksud pelayan tadi. Farida langsung masuk kedalam, kamar tersebut dan melihat sahabatnya tengah tertidur denga infus yang terpasang di tangan kiri yang hampir habis.


     Farida yang melihat kondiri sahabatnya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena Farida tahu Widiya jarang sekali sakit seperti apa yang di lihat saat ini.


"Kamu letakkan buahnya diatas nakas itu saja Fin." Ucap Farida.


"Oh ok." jawab Arifin.


    Arifin langsung meletakkn parsel buah yang dibawanya tadi di atas nakas yang ditunjuk oleh Farida.


"Sebenarnya Widiya sakit apa Da?" Tanya Arifin kepada Farida.


"Di kecapean Fin. Widiya ini berbeda sama kita, kalau dia kecapean dia akan banyak kehilangan cairan, dan ya akibatnya harus di infus seperti ini, dan memerlukan istirahat beberapa hari." Jelas Farida.


"Oh begitu, tapi Widiya kemarin terlihat baik-bik saja di sekolah." Ucap Arifin.

__ADS_1


"Memang benar Widiya terlihat baik-baik saja, tapi tidak ada yang tahu bahwa wajah Widiya itu pucat banget kemarin setelah selesai rapat. Dan itu menandakan badan Widiya harus sudah benar-benar istirahat." Jelas Farida.


"Apakah hal ini pernah terjadi sebelumnya Da?" tanya Arifin.


"Pernah, tapi sudah sangat lama Fin. Aku juga udah lupa kapan Fin, tapi kondisinya kurang lebih seperti sekarang ini." Ucap Farida.


    Tak selang berapa lama Widia terbangun karena mendengar suara Arifin dan Farida.


"Oh kamu sudah bangun Wid." Ucap Farida saat melihat sahabatnya mulai bangun.


"Maaf Wid kalau suara kami membangunkan tidurmu." Ucap Arifin sedikit merasa bersalah.


"Oh gak kok. Kalian sejak kapan datang?" tanya Widiya serak khas seperti orang bangun tidur.


"Baru aja Kok. Oh ya itu ada buah dari Arifin." Ucap Farida kepada Widiya.


"Oh makasih ya Fin, sampai repot-repot bawak buah segala." Ucap Widiya.


"Iya sama-sama. Gimana kondisimu sekarang?" Tanya Arifin.


"Ya uda lebih bak dair pada tadi malam." Jawab Widiya.


"Kok bisa sampai di kondisi ini lagi, gimana ceritanya Wid?" tanya Farida penasaran.


"Ya kamu tahu lah aku yang selalu lupa mengonsumsi Vitamin dair Mamah ku dan juga makan yang terkadang suka telat, ya akhirnya kondisi ini lagi." Jawab Farida.


"Ya ampun, kamu memang bandel kalau dikasih tahu." Ucap Widiya.


"Em Wid, itu infus kamu sudah habis, apa aku poanggikan dokter intuk memasang infus lagi untuk kamu?" tanya Arifin.


"Oh gak perlu Fin. Aku udah gak perlu di infus lagi kondisi ku juga sudah baik-baiki aja kok. Ini tinggal di lepas aja, jadi gak perlu memanggil dokter." Ucap Widiya sembari membuka infus yang ada ditangannya.


"Oh ya rumah kok sepi. Om sama Tante kemana, belum pulang?" Tanya Farida.


"Ayah sama Mamah ada dinas luar kota Da. Kak Bara dan Kak Cindy kemungkinan akan pulang malam karena harus kerumah sakit dulu." Jelas Widiya.


"Oh gitu, berarti kamu dirumah sendirian aja dari tadi." Ucap Farida.


"Ya begitulah. Gimana di sekolah?" tanya Widiya.


"Ya begitulah. minggu depan kita ada ulangan hariasn mata pelajaran Pak Ahmad." Ucap Farida.


"Oh gitu. Hem kayaknya setelah masuksekolah lagi aku akan merepotlan kalian dengan meminjam catatan kalian berdua nih." Ucap Widiya.


"Santai aja, kalau kamu perku catatan, aku sam Arifin siap bantu kok." Jawab Farida.


"Iya benar yang dibilang Farida. kalau kamu memng perlu catatan pelajaran yang tertinggal kamu bisa pinjam sama kami berdua."Sahut Arifin.


"Sekali lagi makasih ya Fin Da." Ucap Widiya.


    Mereka pun berbincang-bincang banyak hal.

__ADS_1


__ADS_2