
Saat ini Widiya sudah berada didalam mobil dan bergegas pulang. Bara yang melihat wajah adiknya yang sedikit pucat pun khawatir dengan kondisi adiknya itu.
"Setelah kak Bara antar aku pulang kakak langsung kerumah sakit aja. Widiya gak papa kok kakak tinggal." Ucap Widiya.
"Kamu yakin gak apa-apa kakak tinggal?" Tanya Bara.
"Iya kak. Lagi pula dirumah juga kan ada pelayan. Jadi kaka gak usah khawatir." Jawab Widiya.
"Tapi wajah kamu pucat banget loh Wid, kau yakin gak mau kakak panggilkan dokter dulu?" tanya Bara lagi.
"Gak usah kak. Mungkin Widiya cuman kecapean aja, karena beberapa hari ini kan Widiya selalu pulang telat dari sekolah, dan lagi Widiya sering lupa untuk minum vitaminnya." Jelas Widiya.
"Ya sudah kalau begitu." Ucap Bara yang masih sedikit khawatir.
Bara hanya bisa pasrah dengan permintaan adiknya itu. Karena Bara tahu, jika dirinya memaksa Widiya pasti akan marah. Sedangkan Widiya dirinya mulai merasakan pusing di kepalanya. Dia sudah tau ini akibat dari driirnya tidak pernah meminum vitamin yang diberikan oleh Mamahnya dan juga sering telat makan.
45 menit kemudian Widiya dan juga Bara sudah sampai dirumah. Widiya langsung bergegas turun dan langsung menujur kamarnya. Bara yang khawatir dengan keadaan Widiyapun langsung segera menyusul menuju kamar adiknya seraya meminta pelayan membuatkan bubur dan juga menelfon dokter keluarga untuk mengantisipasi.
"Mbak tolong buatkan bubur untuk Wiidya dan bawa ke kamarnya, dan untuk mengantisipasi tolong telfon kan dokter keluarga untuk memeriksa Widiya." Ucap Bara.
"Baik Den." Jawab pelayan itu.
Pelayan itu pun langsung menuju dapur membuat bubur untuk Widiya dan Bara pun langsung menuju kamar Widiya sembari menelfon adiknya Cindy untuk segera pulang setelah jam perkuliahannya selesai.
"Halo Cin, kamu dimana?" tanya Bara melalui telfon.
"Iya kak ada apa. Aku masih dikampus kak." Jawan Cindy dari sebrang telfon
"Habis kuliah kamu langsung pulang ya, soalnya Widiya lagi sakit. Kakak harus ke rumah sakit sekarang." Ucap Bara.
"Widiya sakit apa kak?" tanya Cindy khawatir dari sebrang telfon.
"Kakak juga gak tahu. Mungkin dia kecapean itu. Pokoknya kamu setelah kuliah langsung pulang ya." Ucap Bara.
"Iya kak. Ya udah kalua gitu aku masih ada kelas lagi. Habis itu aku langsung pulang nanti Kak." Jawab Cindy.
"Ya udah kalau gitu. Kamu hati-hati nyetirnya."Ucap Bara.
"Iya kak."
Bara pun langsung mengakhiri panggilan tersebut dan bergegas menuju kamr Widiya untuk memeriksa keadaann adiknya itu. Saat Bara sudah beradad di depan kamar Widiya, Bara melihat adiknya tengah tertidur.
"Sebenarnya apa yang sedang mengganggu fikiran mu Wid, apakah semua ini ada hubungannya dengan kertas yang kakak rebut dari kamu?" Ucap Bara.
Bara hanya melihta adiknya yang sedang tidur itu. Tak selang berpa lama pelayan datang dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur untuk Widiya.
"De ini buburnya untuk Non Widiya." Ucap pelayan.
"Terima kasih ya Mbak." Jawab Bara.
"Kalau begitu saya permisi dulu Den." pamit pelayan tersebut.
"Hem." Jawan Bara.
Bara langusng membangunka Widiya untuk memakan buburnya terlebih dahulu.
"Wid. Ayo makan buburnya dulu, nanti keburu dingin." Ucap Bara.
__ADS_1
Widiya langsung bangun dari tidrunya dan mencoba untuk duduk bersandar di pinggir kasur.
"Maka dulu. Kakak suapin ya." Ucap Bara.
Widiya hanya mengangguk. Bara langsung menyuapi adiknya itu. Bara tahu saat ini kondisi tubuh Widiya sedang tidak fit, dan juga pati adiknya itu terlalu banyak fikiran yang di pendam hingga mengakibatkan badannya yang bereaksi seperti ini. 10 menit kemudian Bara sudah selesai menyuapi Widiya.
"Sudah kamu istiraha aja lagi gih. 1 jam lagi dokter akan kemari untuk memeriksa keadaan kamu bersamaan dengan Cindy pulang dari kuliahnya. Jadi kamu istrihat aja sekarang, kakak mau berangkat kerumah sakit dulu."Ucap Bara.
Widiya hanya membalasnya dengan anggukan saja dan kemudian dirinya langsung berbaring kembali. Bara pun juga keluar dari kamar Widiya dengan membawa nampan yang berisi mangkok kotor.
"Mbak ini tolong letakkan di dapur, saya mau kerumah sakit dulu. 1 jam lagi Cindy dan Dokter akan datang, nanti langsung saja bawa Cindy dan dokter ke kamar Widiya." Ucap Bara.
"Baik Den." Jawab pelayan itu.
Bara langsung berangkat menuju rumah sakit karena banyak yang harus dirinya urus selama Mamahnya pergi menjad sukarelawan. 1 jam kemudian, Cindy sudha pulang bersamaan dengan Dokter keluarga yang juga baru datang.
"Mbak dimana Kak Bara?" Tanya Cindy kepada salah satu pelayan.
"Den Bara sudah berangkat kerumah sakit 1 jam yang lalu Non." Jawab pelayan tersebut.
"Oh ya sudah. Mari Dok saya antar ke kamar Widiya." Ajak Cindy.
Cindy dan Dokter pun langsung menuju kamar Widiya untuk memeriksa keadannya. Cindy masuk kamar Widiya terlebih dahulu dan diikiuti Dokter untuk membangunkan Widiya yang masih tertidur.
"Dek, Wid bangun biar dokter bisa meriksa keadaanmu." Ucap Cindy.
Widiya pun langsung perlahan bangun dan membuka matanya.
"Kak Cindy." Ucap Widiya yang perlahan membuka matanya.
"Iya, Bangun dulu ya sebentar biar dokter bisa periksa keadaan mu." Jelas Cindy.
"Hem."
Widiya hanya membalasnya dengan senyuman. Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan Widiya. Setelah dokter selesai memeriksa adiknya, Cindy langsung bertanya kepada Dokter tentang keadaan adiknya itu.
"Gimana kondisinya Dok?" tanya Cindy.
"Seperti dugaan saya Non Cindy, bahwa hal in pasti akan terjadi Non. Tekanan darah Non Widiya turun drastis dan juga asam lambung Non Widiya naik. Di tambah Non Widiya jarang sekali mengonsumsi vitami untuk nutrisi tambahan tubuhnya." jelas Dokter.
Cindy yang mendengar penjelasan dokter pribadi mereka langsung memeriksa botol vitamin yang ada di kamar Widiya, dan ternyata benar jumlah kapsul vitaminnya masih sama sekali tidak berkurang.
"Wid sebenarnya kamu ini kenapa. Apa yang membuatmu tidak pernah meminum vitamin ini. (Ucap Cindy dalam hati.) Kalau sekarang bagaimana Dok?"
"Non Widiya harus beristirhat dulu dalam beberapa hari Non. Dan lusa saya akan kembali lagi untuk memeriksa keadaan Non Widiya dan juga tolong jangan biarkan Non Widiya terlalu stress." Jelas Dokter.
"Baik Dok." Ucap Cindy.
"Dan ini adalah resep obat untuk Non Widiya." Ucap Dokter sembari memberikan kertas yang bertuliskan resep dokter.
"Terima kasih Dok, biar nanti saya minta supir untuk mengantar Dokter." Ucap Cindy sembari menerima resep dari dokter.
"Terima kasih Non, kalau begitu saya permisi dulu Non." Ucap Dokter.
"Mari Dok saya antar kedepan. Wid kamu istirahat aja dulu kakak antar Dokter dulu ke depan." Ucap Cindy.
"Hem iya kak." Jawab Cindy.
__ADS_1
Widiya hanya bisa mengikuti apa kata kakaknya saat ini. Karena semua juga adalah kesalahannya yang sellau lupa minum vitamin dan tidak fokus dengan kesehatannya. Widiypun kembali istirahat dan mulai memejamkan matanya lagi.
Hari sudah malam. Bara baru saja sampai dirumah setelah dari rumah sakit. Kini dirinya dan Cindy sedang menyantap makan makam mereka. Namun kali ini tidak dengan Widiya, karena Widiya hanya beristirahat di kamar.
"Gimana kondisi Widiya Cin?" tanya Bara.
"Yah seperti kata Doker kak. Asam lambung nya naik dan dia sama sekali gak ada minum vitamin itu, dan dia juga gak boleh terlalu stress. Ini untuk pertama kalinya badan Widiya sampai drop seperti ini." Ucap Cindy.
"Benarkah?" Tanya Bara lagi.
"Iya kak, dan kata Dokte rjuga dalam beberapa hari ini Widiya harus benar-benar istirahat total." Ucap Cindy.
"Baiklah kalau begitu. Besok biar kaka saja yang meminta izin kepada sekolah Widiya sekaligus memberikan surat keterangan dari rumah sakit dan juga dokternya." Ucap Bara.
"Kak, Aku jadi khawatir dengan keadaan Widiya, apa ada yang tidak ketahui ya tentang kehidupan Widiya di sekolah." Ungkap Cindy.
"Kamu benar Cin, kakak juga merasa seperti itu. Jika WIdiya stress karena tugas dari sekolah rasanya tidak mungkin, atai dari organisasi yang dia ikuti disekolah juga rasanya tidak mungkin. Kakak juga penasaran dengan hal itu." Ucap Bara.
"Apa perlu Cindy minta seseorang untuk selidiki hal ini kak?" tanya Cindy kepada kakaknya.
"Gak perlu Cin, malah nanti Widiya yang curiga dengan hal itu. Tapi kakak sudah menemukan orang yang tepat untuk menjaga Widiya di sekolah selain Aji." Jelas Bara.
"Maksud kakak apa?" tanya Cindy penasaran.
"Kamu masih ingat gak dengan Arifin?" tanya Bara kepada Cindy.
"Arifin yang mana ini kaka?" Tanya Cindy semakin bingung.
"Arifin anaknya teman Ayaha. Om Lukman." Ucap Bara.
"Oh iya, Cindy ingat. Ada apa sama dia?" tanya Cindy.
"Dia sekarang udah ada disini lagi, satu sekolah dengan Widiya dan satu kelas dengan Widiya. Jadi mungkin besok setelah mengantar surat keterangan sakit Widiya, kakak akan mencoba bicara dengan dia untuk jaga Widiya disekolah." jelas Bara.
"Itu lebih baik kak. Kalau seperti itu Cindy seteuju. Cindy gak mau sampai Widiya kenapa-kenapa seperti hari ini, rasanya sepi gak ada Widiya kak." Ungkap Cindy.
"Kakak tahu perasaan kamu. Ya sudah kita habisin dulu makanan ini baru kita ke kamar Widiya." Ucap Bara
"Iya kak." Jawab Cindy.
Mereka berdua kembali menyantap makanan mereka. 15 menit kemudian Bara dan Cindy sudah selesai makan malam.
"Kakak sudah selesai. kakak duluan kekamar Widiya ya. (Ucap Bara kepada Cindy) . Mbak tolong buatkan bubur untuk Widiya ya, dan beberapa dari kalian ikut saya ke kamar Widiya untuk mengganti pakaiannya." Ucap Bara.
"Baik Den." Jawab para pelayan.
Para pelayan itu pun langsung melaksanakan perintah Bara. Sedangakan Cindy dirinya masih menyantap makan mlamnya. Bara langsung menuju kamar adiknya itu, dan meminta para pelayan itu mengganti pakaian adiknya.
"Kalian masuklah gantikan pakaian Widiya, dan jika sudah selesai beri tahu saya." Ucap Bara.
"Baik Den."
Beberapa pelayan itupun langsung masuk dan mengganti pakian Widiya. 15 menit kemudian pelayan itu keluar dengan membawa baju kotor milik Widiya, dan juga pelayan yang membawa bubur tadi pun sudah ada didepan kamar Widiya dan Cindy juga.
"Mbak bawa sini buburnya biar saya aja yang nyuapin Widiya dan dia biar sekalian minum obat juga." Ucap Bara.
"Ini Den.(Sembari memberikan nampan berisi mangkok bubur dan juga segelas air). Kalau begitu kami permisi dulu Den, Non." Pamit para pelayan.
__ADS_1
"Oh iya mbak." Jawab Cindy.