Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version

Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version
Bagian 2


__ADS_3

"Em Fin." Panggil Widiya.


"Iya ada apa Wid?" tanya Arifin kepada WIdiya.


"Maaf kalau pertanyaan ku terkesan lancang atau mengejutkan kamu." Ucap Widiya


"Memangnya kamu mau tanya apa?" tanya Arifin lagi.


"Em kamu kok bisa masuk club Drumband sekolah, padahal kamu kan baru masuk sekolah hari ini?" tanya Widiya penasaran.


"Oh perihal itu di berkas surat pindah ku, aku menyelipkan surat keanggotaan Drumband dari sekolah sebelumnya. Ya maka dari itu aku bisa bergabung dengan Club drumband kalian." Jelas Arifin.


"Oh begitu. Ya udah kita langsung kelapangan basket aja sekarang bersamaan sekalian aku akan tunjukkan beberapa ruangan yang ada di sekolah." Ucap Widiya.


"Gak masalah nih kalau kita kesana barengan?" tanya Arifin


"Gak masalah. Kalau begitu ayo kasian teman-teman yang lain udah pada nungguin." Ajak Widiya.


"Ok." jawab Arifin.


    Widiya dan Arifin pun langsung menuju lapangan basket dimana tempat biasanya mereka latihan Drumband. saat sampai di lapangan basket, ternyata teman-teman anggota Drumband yang lian sudah menunggu mereka berdua. Widiya dan Arifin pun langsung ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tapi Farida merasa heran, padahal Widiya lebih dulu keluar dari kelas dari pada dirinya dan Arifin.


"Wid, bukannya kamu tadi keluar duluan ya dari kelas, tapi kok bisa barengan sama Arifin?" Tanya Farida.


"Oh aku tadi memang keluar duluan dari kelas, tapi aku ke toilet dulu. Kalau masalah bisa barengan sama Arifin, waktu aku dari toilet mau kesini gak sengaja lihat Arifin ya udah aku ajak bareng aja kesini." Jelas Widiya.


"Oh gitu."


"Iya, dia kan murid baru jadi pasti masih bingung dimana lapangan basketnya." Ucap Widiya.


"Iya juga ya."


"Udah aku mau langsung ke posisi ku, kamu gabung sana sama Silvia."


"Iya iya."


    Widiya dan Farida pun langsung mengambil posisi mereka masing-masing dan Arifin dirinya sdah di posisinya sejak tadi. Sedangka Kak Aji hanya memandang Widiya dan Farida dari posisinya, karena posisinya saat ini bersebelahan dengan Arifin.


    1 jam kemudian mereka sudah selesai latiham dan sekarang waktunya istirahat. Farida dan Widiya langsung menuju ke kantin untuk membeli makanan ringan dan juga minuman. Saat hendak menuju kantin, tiba-tiba saja Arifin memanggil mereka.


"Wid, Da tunggu." Panggil Arifin.


"Iya Fin, ada apa?" tanya Widiya.


"Kalian berdua mau kekantin ya?" tanya balik Arifin.

__ADS_1


"Iya, aku sama Farida mu ke kantin. Kamu mau nitip sesuatu?"


"Ok gak. Justru aku mau barengan sama kalian ke kantinnya boleh kan?"


"Boleh kok, malah kami pikir tadi kamu kana ke kantin bareng sama teman-teman yang lain." ucap Farida.


"Tadinya, tapi kayaknya mereka masih lama.Jadi aku bareng kalian aja." jelas Arifin.


"Ya udah yuk buruan ke kantin. Soalanya ini jam istirahat takutnya nanti kita gak kebagian tempat duduk karena penuh." Ucap Widiya.


"Ya uda yuk kalau gitu." Ajak Farida.


    Mereka bertig pun langsung menuju kantin. Setelah sampai di kantin, apa yang dikatan Widiya benar. tidak ada kursi yang kosong semuanya penuh.


"Yah Wid gak ada kusi kosong, terus gimana dong?"


"Ya mau gimana lagi kita gabung aka sama adik kelas yang ada disebalah sana itu, karena cuman di sebelah sana yang masih kosong." Ucap Widiya sambil menunjuk kearah meja yang di maksud.


"Aku sih gak masalah tapi gimana dengan Arifin, kamu gimana Fin?" Tanya Farida kepada Arifin.


"Aku ngikut aja, selagi kita masih dapat tempat duduk." Jawab Arifin.


"Ya udah kalau gitu kita gabung sama dua orang adik kelas yang ada disana itu ya." Ucap Widiya.


"Ok."


"Permisi apakah kami bisa bergabung dengan kalian, soalnya meja yang lain penuh?" tanya Widiya kepada kedua adik kelas tersebut.


"Oh Kak Widiya, boleh kak dengan senang hati." Jawab salah satu adik kelas tersebut.


"Terima kasih ya." Ucap Widiya.


    Widiya langsung duduk, begitu juga dengan Arifin dan Farida. Farida  dan Arifin langsung menyantap makanan yang mereka bawa tadi. Sedangkan Widiya dirinya hanya membeli air mineral dan roti isi kesukaannya.


"Kamu gak makan Wid?" Tanya Arifin kepada Widiya.


    Belum sempat Widiya menjawab pertanyaan dari Arifin, Farida sudah menimpali perkataannya.


"Widiya itu kalau jam segini dia gak akan makan berat kayak kita Fin. Dia jam segini itu pasti air mineral sama roti isi kesukaannya. Dia baru makan berat atau nasi siang nanti saat nya jam makan siang." Jelas Farida kepada Arifin.


"Oh berarti kamu lagi diet ya Wid?" tanya Arifin kepada Widiya.


"Bukan diet hanya saja kebiasaan Fin. Aku dari dulu sudah diajarin mamah ku pola seperti ini. Jadi pagi aku makan roti panggang, susu, dan buah. Siang baru makan berat. Pas jamnya makan malam aku cuman mium susu sama salad buah atau sayur aja." Jelas Widiya kepada Arifin.


"Wah pola hidup sehat banget dong keluargmu Wid."Ucap Arifin.

__ADS_1


"Buka sehat lagi tapi kelewat sehat Fin. Maklamu lah Mamahnya Widiya seorang Dokter bedah dan juga pemilik salah satu rumah sakit di kota ini, sedangkan Papahnya sendiri Jedral bintang 3 TNI Angkatan Laut." Jelas Farida.


    Dua siswi adik kelas yang duduk satu meja dengan mereka hanya mendengarkan percakapan mereka dengan rasa kagum.


"Oh Papah kamu TNI Wid, dinas dimana sekarang?" tanya Arifin.


"Kalau untuk sekarang Ayah masih dinas disini. Tapi kalau harus pindah dinas mau gak mau Auah harus pindah dan Mamahku juga harus ikut." Jawab Widiya.


"Berarti kamu juga bakalan ikut pindah dong Wid?"


"Kayaknya, aku gak ikut pindah Da. mungkin aku akan bertahan disini. Lagian juga kan masiha ada kedua kakak ku yang kuliah disini." Jelas Widiya.


"Iya juga ya kan masih ada kedua kakak mu." Ucap Farida.


"Nah makanya itu. Orang taumu sendiri pekerjaannya apa Fin?" tanya Widiya.


"Oh Mamah ku CEO di perusahaan keluarga, sedangkan Papah ku sama kayak Papahmu TNI Angkatan Laut juga. ( jelas Arifin). Kalau kamu Da?"


"Mamah ku Dosen di kampus di Universtas tempat kedua kakak Widiya kuliah. Kalau Papah polisi sebagai inspektur." Ucap Farida.


"Oh. Tapi sepertinya mayoritas yang  bersekolah di SMA ini rata-rata orang tuanya kalau gak dari kalangan kepolosian pasti TNI." Ucap Arifin.


"Gak semu Fin, disini ada juga mereka masuk kareja prestasi dan bisa dibilang dari keluarga biasa-biasa saja." Jelas Widiya.


"Benar yang dibilang Widiya. Tapi aku dan Widiya sama sekali gak pernah membeda-bedakan mereka. Bagi kami berdua kita semua sama aja Fin." Ucap Farida.


    Arifin yang mendegar ucapan Farida benar-benar salut dengan pola fikir Widiya dan juga Farida mereka sama sekali tidak memikirkan status setipa siswa yang sekolah disekolah ini. Arifin benar-benar merasa takjub dengan hal itu. Karena saat ini sudah jarang ada anak muda yang berfikir seperti itu. Mereka bertigupun melanjutkan menyantap makanan mereka sambil berbincang-bincang. Hingga waktu istirahat pun berakhir dan mereka bertiga harus kembali kelapangan basket.


    Mereka kembali kelapangan basket untuk latiha sekali lagi larema minggu dean meraka akan ada perlombaan Drumband tingkat SMA. 1 jam kemudian mereka selesai latihan. Setelah selsai latihan Drumband, Widiya dan teman-temannya yang lain langsung menuju kelas, untuk kembali mengikuti pelajaran seperti biasanya.


    Namun saat hendak masuk kelas, ponsel Widiya berdering, ternyata ada telfon masuk dari supir yang mengntarnya tadi pagi.


"Halo, Iya mang ada apa?" tanya Widiya kepada supirnya.


"Halo Non. Mohon maaf saya harus pulang sekarang karean Nonya telfon, agar bisa mengantar Nyonya dan Tuan ke Bandara." Jelas supir Widiya.


"Memang nya Mamah sama Ayah mau kemana Mang?" tanya Widiya lagi.


"Kalau untuk itu saya kurang paham Non. Tapi sepertinya Tuan dan Nyinya akan tugas di kluar kota Non." Ucap supir Widiya.


"Oh ya sudah kalau begitu Mang Adi pulang aja. Nanti saya pulangnya biar pesan taksi atau minta jemput Kak Bara." Ucap Widiya.


"Baik Non." Jawab Mang Adi.


    Panggilan itu pun berakhir. Widiya langsung segera masuk kelas, karena sebentar lagi akan ada guri masuk setelah bel pergantian jam pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2