Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version

Demi Persahabatan Aku Merelakannya Novel Version
Bagian 13 / Episode Khusus


__ADS_3

    Kini Widiya sedang berada di kamarnya setelah pulang dari makan malam bersama di kediaman teman Ayahnya, Widiya baru saja selesai menggati pakaiannya dengan piyama dan hendak akan tidur, karena esok dirinya masih harus sekolah.


    Keesokan harinya Widiya sudah bangun seperti biasanya, dirinya sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan siap akan berangkat ke sekolah.  Saat ini dirinya tengah sarapan bersama dengan keluarganya.


"Morning Yah, Mah." Ucap Widiya sembari menuju meja makan.


"Morning Sayang." Balas Ayahnya.


"Morning, Sarapan dulu gih." Ucap Mamahnya.


"Kak Bara sama Kak Cindy belum bangun Mah?" Tanya Widiya sembari mengambil roti isi yang ada dihadapannya.


"kaka ada disini Win. (Ucap kakak tertuanya.) Pagi Mah, Yah." Ucap Bara.


"Ayo Bara sarapan bareng-bareng." Ucap Mamahnya.


"Gak Mah, Bara harus berangkat sekarang soalnya ada pratikum pagi. Bara nanti sarapan di kampus aja." Ucap Bara.


"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan ya." Ucap mamahnya.


    Bara pun langsung bergegas keluar karena hari itu dirinya ada pratikum pagi dikampusnya. Sedangkan Cindy hari itu dirinya tidak ada perkuliahan pagi. Dirinya baru kuliah siang nanti. Tak selang berapa lama Widiya sudah selesai menyantap sarapannya.


"Mah, Yah Widiya sudah selesai sarapan. Kalau begitu Widiya berangkat ke sekoloah dulu ya." Ucap Widiya sembari berannjak dari kursinya.


"Berangkatnya sama Ayah Wid. Mah, Ayah sama Widiya berangkat dulu." Ucap Ayah Widiya.


    Sambil menciu kening istrinya. Widiya yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum, karena merasa beruntung memili orang tua seperti Ayah dan juga Mamahnya.


"Widiya berangkat dulu ya Mah, Da Mamah." Pamit Widiya.


"Iya sayang, kamu belajar yang rajin di sekolah." Ucap Mamahnya.


"Ok Mah."


    Widiya langsung berngkat bersama dengan Ayahnya. Sedangkan Mamah Widiya juga bersiap-siap untuk berangkat kerumah sakit. Namun sebelum itu memberitahukan para pelayan untuk mengantarkan sarapan ke kemar Cindy.


"Mbak tolong sarapannya Cindy diantar saja kekamar nya ya. Soalnya saya mau siap-siap dulu sebelum berangkat ke rumah sakit." Ucap Mamah Widiya,


"Baik Nyonya." jawab pelayan tersebut.


    Mamah Widiya pun langsung muju kamar untuk bersiap. Dan pelayan tadi langsung menuju kamar Cindy dengan membawa nampan yang berisi sarapan untuk Cindy. Sedangkan di perjalanan sekolah, Wdiya yang saat ini sedang berada d dalam mobil Ayahnya sedang fokus dengan ponselnya karena ada beberapa pesan masuk di Group kelas.


    Ayah Widiya yang melihat putri kecilnya itu sedang fokus dengan ponselnya saja langsung bertanya kepada putrinya.


"Kayakya anak Ayah sibuk banget nih. Sampai Ayahnya sendiri dicukin." Ucap Ayah Widiya.


"Ah, maaf Yah. Tadi Widiya lagi balas pesan dari teman-teman yang ada di group kelas." Jawab Widiya.

__ADS_1


"Oh. Gimana dengan sekolah kamu?" tanya Ayahnya.


"Ya gitu-git aja sih Yah. Tapi sekarang Widiya udah masuk tim drumband di sekolah." Jawan Widiya.


"Wah bagus itu. Uang jajan kamu masih ada kan?"Tanya Ayah Widiya lagi.


"Masi ada kok Yah. Widiya juga kalau jajan di kantin gak banyak-banyak amat." Ucap Widiya.


"Ya udah kalau masih ada." Ucap Ayah Widiya.


"Em Yah, Widiya boelh tanya sesuatu gak?" tanya Widiya.


"Mau tanya apa?" Ucap Ayah Widiya balik bertanya.


"Widiya mau tanya tentang pendapat Ayah. Akhir-akhir ini ada kakak kelas yang dekat sama Widiya dan kakak kelas itu suka sama Widiya. Tapi Widiya gak suka sama kakak kelas itu, dan WIdiya hanya menganggapnya seperti kakak Widiya sendiri gak lebih." Ungkap Widiya.


"Ternyata anak Ayah sudah menegnal cinta ya." Goda Ayah Widiya.


"Ih Ayah apaan sih, malah ngejek Widiya. Tau gitu WIdiya gak usah tanya aja tadi." Ucaop Widiya yang sedikit merjuk.


    Ayah Widiya yang melihat putri bungsunya itu meraju hanya bisa tersenyum.


"Iya deh iya, Ayah minta maaf. Ya kalau menurut Ayah sih kamu katakan aja yang sebenarnya sama kakak kelas mu itu. Biar dia bisa membuka hati untuk orang lain." Ucap Ayahnya.


"Em baiklah nanti akan Widiya coba." Jawan Widiya.


"Baik Ya." Jawab Widiya.


"Bagus." Ucap Ayah Widiya sembari mengelus pucuk kepala putri bungsu nya itu.


    Tak selang berapa lama mereka sudah sampai di sekolah Widiya.


"Nah kita sudah sampai nih." Ucap Ayah Widiya.


"Makaih ya Yah, udah nganterin Widiya hari ini." Ungkap Widiya.


"Iya Sayang. Ya udah kamu buruan masuk nanti keburu bel lagi." Ucap Ayah Widiya.


"Iya yah, kalau begitu Widiya masuk dulu. Dah Ayah." jawab Widiya.


"Belajar yang rajin ya sayang." Ucap Ayah Widiya.


"Ok."


    Widiya langsung turun dari mobil Ayahnya dan bergegas menuju kelasnya. Selama berjalan dikoridor sekolah Widiya merasa bingung kenapa seluruh siswa menatap kearahnya dan bahkan ada yang mengucapkan selamat kepadanya.


"Selamat ya WId." Ucap kakak kelas kepada Widiya.

__ADS_1


"Eh selamat untuk apa kak?" Ucap Widiya bingung.


"Kamu belum lihat di website sekolah ya sama mading  sekolah juga?" Ucap kaka kelas tersebut.


"Memannya ada apaan sih kak?"


"Lebih baik kamu lihat di website sekolah dan mading sekolah aja ya." Ucap kaka kelas tersebut.


"Oh ok. Makasih ya kak." Ucap Widiya.


    Widiyapun langsung memeriksa website sekolah, dan ternyata dirinya terpilih menjadi salah satau perwakilan untuk study banding dan juga peserta olimpiade mewakili sekolahnya. Widiya sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan terpilih ikut study banding tahun depan dan mewakili sekolah dalam Olimpiade tahun ini.


"Ini pasti mimpikan." Ucap Widiya lirih.


    Widiya pun akhirnya menuju mading sekolah untuk memastikan lagi. Dan saat sampai didepan mading Widiya terkejut bukan kepalang. Karena selian pengumuman yang ada diwesite sekolah juga ada tulisan yang mengatakan bahwa dirinya berpacaran dengan Leo.


    Widiya yang melihat tulisan itu langsung mengambilnya dari mading sekolah dan juga bertanya siapa yang menempel tulisan tersebut kepada seorang siswi yang satu angkatan dengan dirinya.


"Apa-apaan sih. Siapa juag yang pacaran sama Kak Leo. Bikin mood ancur aja pagi-pagi kayak begini. (Ucap Widiya sembari merobek tulisan tersbut dari mading sekolah.) Em maaf ada yang tahu gak siapa yang nempel kertas ini?" Tanya Widiya.


"Wah gak tahu tuh Wid." Jawab SIswi tersebut.


"Oh makasih ya." Ucap Widiya.


    Widiya langsung beranjak dari depan mading sekolah itu, dan bergegas menuju kelasnya. Kini Widiya berjalan dengan perasaan kesal dan juga marah. Siapa yang sudah membuat tulisan bahwa dirinya dan Kak Leo berpacaran. Saat sampai di kelas Widiya langsung duduk di bangkunya tanpa memperdulikan teman-temannya yang menyapanya di depan pintu tadi.


"Kamu kenapa Wid, kok kayak orang kesal begitu." Tanya Farida.


"Giman gak mau kelas, sih Da kalau pagi-pagi udah ngelihat beginian di mading sekolah." Ucap Widiya sambil menunjukkan tulisan yang diambilnya dari mading sekolah tadi kepada Farida.


    Farida yang membaca tulisan itu pun terkejut dan langsung bertanya hal yang sebenarnya terjadi seperti apa.


"Wid kamu seriusan sama Kak Leo." tanya Farida meyakinkan.


"Gak Da. Aku kan udah bilang kemarin kalau aku hanya menganggap Kak Leo itu kakak gak lebih. Dan gak masuk akal kalau semalam aku jadian sama Kak Leo. Semalam itu aku lagi makan malam sama keluargaku di ruamh teman Ayah. Darimana coba aku jalan sama Kak Leodan bisa jadian sama dia. Telfon ataupun ngirim chat ajagak ada." Jelas Widiya.


"Terus hal ini apaan dong. Wah kayaknya ada yang ngerjain kamu tuh Wid." Ucap Farida.


"Gak lucu tahu kalau ngerjainnya dengan hal kayak gini. Kak Leo mungkin senang aku nya yang gak senang." Ucap Widiya.


"Kalau sudah kayak gini lebih baik kamu tanya langsung aja sama Kak Leo Wid."Ucap Farida memberi saran.


"Aku lagi gak mau ketemu sama Kak Leo hari ini Da. Mood ku jelek banget hari ini. Aku gak mau ketemu sama Kak Leo dulu." Jawab Widiya.


"Ya udah kalau begitu." Ucap Farida.


    Tak selang berapa lama bel masuk pun berbunyi, yang menandakan waktu pelajaran akan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2