
Keeseokan harinya Widiya berangkat sekolah seperti biasa. Namun hari ini dirinya tidak di antar supir melainan bersama kakak pertamanya Bara.
"Kamu udah siap WId?" tanya Bara.
"Udah kak, Ya udah berangkat yuk." Ucap Widiya.
"Ayok."
Widiya dan Barapun langsung berangkat menggunakan mobil Bara. Selama perjalanan WIdiya fokus dengan ponselnya. Bara yang melihat adiknya fokus dengan ponselnya itu pun langsung menggodanya.
"Kayaknya adik kakak yang satu ini sudah muali ada gebetan nih." goda Bara.
"Ih mana ada. Jangan asal ngomong deh kak. Siapa juga yang punya gebetan. Widiya tuh mau fokus dulu sama sekolah Widiya." Ucap Widiya.
"Oh begitu. Masak iya disekolah keren kayak kamu gak ada satu laki-laki pun yang kamu suka Wid?" Tanya Bara.
"Kalau saat ini gak, tapi gak tahu nanti." ucap Widiya.
"Maksudnya gak tahu nanti?"Tanya Bara.
"Iya gak tahu nantoi. Soalnya kemarin ada siswa baru di sekolah Widiya, dan satu kelas dengan Widiya. Anaknya biasa dibilang keren sih." Jelas Widiya.
"Wah ternyata aduik kakak yang satu ini sudah mulai jatuh cinta." Goda Bara.
"Ih Kak Bara apaan sih. Tapi Widiya juga sedikit khawatir dengan satu hal kak. Beberapa hari yang lalu kak Leo ada chat Widiya." Ucap Widiya.
"Leo yang satu kelas dengan Aji itu. Memangnya si Leo chat apa ke kamu?" Tanya Bara penasaran.
"Cuma tanya kabar aja sih Kak. Tapi kan kakak tahu sendiri kalau aku sama kakak Leo gak lebih sebatas teman doang." Ucap Widiya.
"Ya kalau cuma tanya kabar balas aja dek, kok pusing tuh nah. Gini ya Wid, kalau ada orang yang mau dekat atau kenal sama kamu, kamu terima aja. Urusan dia suka atau gak di fikir nanti aja, yang penting kamu bukan hati aja dulu. Selama ini kakak itu mantau kamu terus. Ayah sama Mamah juga pernah tanya sama kakak dan juga Cindy tentang kamu. Mereka tanya soal asmara kamu. Tapi kakak sama Cindy gak bisa jawab apa-apa karena kamu gak pernah cerita hal seperti itu sama kami." Jelas Bara panjang lebar.
"Beneran Mamah sama Ayah sempat tanya sama Kak Bara dan juga Kak Cindy?" tanya Bara.
"Iya, makanya mumpung kakak yang antar kamu kakak sampaikan hal ini. Jadi mulai sekarang tolonglah kamu buka hati untuk orang lain. Kamu udah saatnya mengenal apa arti dari sebuah kata cinta di umur kamu yang ke 17 tahun ini." Ucap Bara.
Widiya hanya bisa diam mendengar ucapan kakaknya itu. Karena memang benar selama ini dirinya tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali Kak Aji. Karena mereka berteman sejak kecil dan laki-laki yang dirinya kenal selain keluarganya Kak Aji.
Widiya mulai berfikir yang dikatakan kakakya benar, mungkin kini saatnya dia membuka hati untuk orang lain. Namun tiba-tiba saja terbesit perasaan takut di hati Widiya, dirinya takut jika sutau saat nanti dia akan patah hati hanya karena ingin mengenal cinta. Akhirnya pun Widiya mengutarakan ketakutannya kepada Kakaknya itu.
"Tapi kak Widiya takut jika suatu hari nanti Widiya sakit hati. Widiya gak bisa bayangkan hal itu dan bahkan mungkin Widiya gak akan sanggup menerima hal itu." Jelas Widiya.
"Wid, dengerin kakak ya. Patah hati ataupun sakit hati, semua orang juga mangalami hal itu. Jika suatu saat nanti kamu meraksan hal itu, Ayah, Mamah, Kakak dan Cindu akan selalu ada untuk kamu, dan kakak yang akan menjadi orang pertama merasakan sakit hatimu itu." Jelas Bara.
__ADS_1
Saat mendengar kata terakhir kakaknya itu, Widiya sedikit tersenyum. Dirinya beruntung memiliki seorang kakak laki-laki seperti Bara. Kini mereka sudah sampai disekolah Widiya, yang sebenarnya juga SMA kedua kakanya itu.
Tapi Bara tidak menurunkan Widiya didepan gerbang, melainkan Bara langsung memarikirkan mobilnya di area parkir yang disediakan. Widiya pun bingung kenapa malah kakaknya memarkirkan mobilnya.
"Loh kok kakak malah parkir mobil. Memangnya kakak gak kuliha hari ini?" Tanya Widiya penasaran.
"Hari ini kakak izin, soalnya siang nanti kakak mau kerumah sakit." Jawab Bara.
"Terus kenapa kakak malah parkir mobil disini?" Tanya Widiya lagi.
"Kakak mau main kesini. Sekalian mau nyapa para guru-guru di kantor." Ucap Bara.
"Sendirian?"
"Gak nanti ada teman-teman kakak yang lain nyusul." Ucap Bara.
"Oh. Ya udah kalau gitu Widiya masuk ke kelas dulu ya."Ucap Widiya.
"Bareng sama kakak aja, kakak juga mau lihat kelas mu."
Widiya hanya bisa pasrah. Mereka berdua langsung turun dari mobil. Dan saat turun dari mobil ternyata Arifin dan Kak Aji juga baru datang. Arifin yang sedang berjalan dengan Kak Aji pun langsung menghampiri Widiya yang juga baru turun dari mobil.
"Wid." Panggil Airifn.
"Eh Arifin, Kak Aji.Kalian baru nyampek?" tanya Widiya.
"Iya. Kamu juga." Ucap Arifin balik bertanya kepada Widiya.
"Iya." Jawab Widiya.
"Kakak apa kabar?"Tanya Kak Aji kepada Bara sembari berjalan kesamping Bara.
"Baik Ji, kamu sendiri gimana?" Tanya balik Bara.
"Baik kak. Oh ya tumben banget kakak kesekolah?"
"Iya tadi ngantar Widiya jadi sekalian aja mau lihat-lihat. Dan siswa laki-laki ini siapa?"
"Oh iya kak kenalin ini Arifin dia siswa baru disekolah satu kelas sama aku. Fin kenalin ini kak Bara kaka aku." ucap Arifin.
"Bara." Seraya mengulur tangannya.
"Arifin kak. Salam kenal." Balas Arifin.
__ADS_1
Saat Arifin memperkenalkan namanya, Bara seperti tidak asing dengan nama itu. Bara pun mencoba mengingat-ingat sesuatu. Widiya yang melihat ekspresi kakanya seperti mengingat-ingat sesuatu pun langsung bertanya kepada kakaknya.
"Ada apa kak?" Tanya Widiya penasaran.
"Gak, kakak kayak gak asing aja sama nama itu. Arifin sebentar kamu pindahan dari Jakarta bukan?" Tanya Bara kepada Arifin.
"Iya kak, Kok kakak tahu, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Arfin balik bertanya.
"Benar dugaanku, Kamu anaknya Om Lukman sama Tante Kirana kan?" Ucap Bara.
"Kok kakak bisa tahu nama orang tua Saya?"
"Ya ampun ternyata kamu sudah kelas 2 SMA ya Fin. Wajar kalau kau lupa sama kakak, karena orang tuamu pindah ke Jakartakamu masih TK." Ucap Bara.
Widiya hanya bisa diam saja karena dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Arifin mencoba mengingat-ingat tentang kakak Widiya itu, dan Arifin pun mulai ingat.
"Ah aku ingat sekarang Kak Bara Spiderman kan?" Tanya Arifin
"Iya. Wah ternyata kamu masih ingat tentang hal itu."Ucap Bara.
"Wah gak nyangka aku bisa ketemu kakak disini." Ucap Arifin.
Widiya pun tidak bisa berdiam diri lagi. Widiya langsung bertanya kepada kakaknya itu.
"Bentar-bentar jadi kakak kenal sama Arifin?" Tanya Widiya yang merasa bingung.
"Iya. Jadi Arifin ini anaknya Tante Kirana sama Om Lukman. Nah Om Lukman itu teman baiknya Ayah. Dulu waktu masih satu dinas sama Ayah, Om Lukman sering main kerumah. Kalau kamu gak kenal Arifin wajar Wid, Karena dulu kamu sering nginep dirumah nenek sama kakek kalau liburan sekolah." Jelas Bara.
"Oh gitu. Tapi ngomong-ngomong kita ke kelas deh kasian tuh kak Aji nungguin dan aku juga udah pegel." Ucap Widiya.
"Ya udah yuk, kalau gitu." Ucap Arifin.
Mereka pun langsug menuju kelas Widiya, sedangkan Kak Aji dirinya langsung menuju kelasnya mereka berpisah di lorong koridor sekolah. Saat Widiya, Arifin dan juga Kak Bara jalan di lorong koridor sekolah, suasana koridor sekolah menjadi berubah. Semua siswa yang ada di sekolah itu ada yang bingung dan juga terkejut.
Widiya yang mengetahui situasi apa itu sekarag, dirinya pun langsung mengeluarkn MP3 miliknya dari dalam tas dan langsun mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Sedangkan Bara yang melihat tingkah adiknya itu hanya tersenyum.
Kini mereka sudah sampai di depan kelas Widiya, Widiya langsung masuk dan meletakkan tasnya di tempat duduknya dan diikuti oleh Arifin. Sedangkan Bara saat hendak masuk kelas Widiya, dirinya mendapat telfon dari teman-temannya.
Baru pun lansgung mengangkat telfon tersebut. 10 menit kemudian panggilan itu berakhir. Setelah seleasi menerima telfon, Bara menghampiri Widiya dan memberitahukan bahwa dia akn menemui teman-temannya yang sudah berada di parkiran Sekolah.
"Wid. Kakak ke parkiran sekolah dulu ya, Soalnya teman-teman kakak udah pada datang semua." Ucap Bara kepada Widiya.
Widiya hanya membalas dengan anggukan saja. Bara pun langsung menuju parkiran untuk menghampiri teman-temannya.
__ADS_1