
Di sekolah kini Arifin dan Farida sedang berad di kantin sekolah. Arifin sedang fokus dengan ponselnya, sedangkan Farida yang duduk di hadapan Arifin sedang menyantap sarapannya. Namun sesekali Farida melirik kearah Arifin. Arifin yang menyadari hal itu pun langsung bertanya kepada Farida.
"Kamu kenapa lihatnya ke aku terus Da?" Tanya Arifin penasaran.
Farida yang ketahuan pun kebingungan.
"S.. siapa yang lihatink kamu sih Fin, percaya diri banget kamu." Elak Arifin.
"Terus kalau kamu gak lihatin aku mau lihat siapa Da. Udahlah jujur aku kalau kamu tadi lihatin aku kan." Ucap Arifin.
Farida pun tidak bisa bisa berbohong memang benar bahwa dirinya menatap ke arah Arifi sesekali.
"Iya Deh iya, aku memang liatin kamu dari tadi. Kalau dilihatp-lihat kamu memang keren sih Fin."Ucap Farida
"Aku memang keren tahu Da." Ucap Arifin percaya diri.
"Ye dia malah kepedean sekarang." ucap Farida.
"Haruslah, percaya diri itu penting Da." Ucap Arifin.
"Ya tapi gak segitunya juga kali Fin. Kalau dilihat-lihat diantara semua teman-tema dan juga kakak kelas yang ada di sekolah ini semuanya jatuh hati sama kamu ya Fin." ucap Farida.
"Terus hubungannya dengan kamu natap aku apa?" tanya Arifin bingung.
"Tapi kenapa aku dan Widiya sama sekali tidak tertarik dengan hal itu."Ucap Farida yang merasa heran.
"Kalian aja yang belum menyadarinya. Lagian kalaupun kalian jatuh hati sama aku, bukannya itu malah justru jadi pemicu hancurnya persahabatan kita." Jelas Arifin.
"Kamu benar Fin. Aku berharap kita bertiga tidak ada yang saling jatuh cinta." Ucap Farida.
"Aku juga." sahut Arifin.
"Ya udah kita ke kelas yauk, bentar lagi masuk nih." Ajak Farida
"Iya kmu benar. Ya udah yuk." Jawab Arifin setelah melihat jam tangannya.
Arifin dan Farida langsung menuju kelas mereka, karena sebentar lagi akan bel. Sedangkan dirumah Widiya, saat ini Widiya sedang berada dikamarnya, bersama dengan Dokter dan juga kakaknya, Bara.
__ADS_1
"Bagaimana Dok dengan kondisi Widiya?" tanya Bara kedapa sang Dokter.
"Kondisi Non Widiya saat ini sudha benar-benar pulih dan dia sudah bisa beraktivitas lagi seperti sebelumnya." Jelas Dokter.
"Berarti besok saya sudah bisa masuk sekolah dong Dok." Tanya Widiya.
"Sudah Non, tapi masih harus mengonsumsi obat yang saya berikan kemarin, tapi tidak 3X melainkan hanya 2X saja." Jelas Dokter tersebut.
"Tuh dengerin kata Dokter. Harus tetap diminum obatnya. Oh ya bagaimana dengan viataminnya dok?" Tanya Bara lagi.
"Kelau untuk vitaminnya saya sudah siapkan resepnya, jadi bisa ditebus di apotik. Ini resepnya, dosis vitamininya juga saya berikan seperti biasanya dan tidak lebih." Ucap Dokter seraya memberikan catata resep kepada Bara.
"Terima kasih Dok. nanti bisa saya meminta supir untuk menebus vitaminnya di apotik sekaligus mengantar Dokter kembali kerumah sakit." ucap Bara.
"Kalau begitu saya permisi dulu Den." pamit dokter tersebut.
"Mari saya antar kedepan Dok." Ucap Bara.
Bara pun langsung mengantar dokter kedepan dan tidak lupa meminta supir untuk menebus vitamin sesuai resep yang diberikan dokter tadi. Sedangkan Widiya yang berada di dalam kamar, mulai merasa jenuh dan dirinya memutuskan untuk menuju raung baca miliknya.
"Ah lebih baik aku keruang baca aja, jenuh kalau di kamar terus." Ucap Widiya pada dirinya sendiri.
"Mbak tolong buatkan Jus kesukaan Widiya dan juga kupasn sekaligus potong buah kesukaan Widiya. Saya buatkan jus Apel dan cemilan saja. Jus Apel dan cemilannya langsung antar saja ke kamar saya. Dan untuk jus dan buah untuk Wiidya tadi langsung anatr saja keruang baca Widiya."Ucap Bara
"Baik Den." Jawab pelayan tersebut.
Pelayan itu langsung mengerjaka apa yang pinta oleh Bara dan Bara sendiri langsung menuju kamarnya.
Sedangkan diruang bacanya, Saat ini Widiya sedang fokus mengetik didepan laptopnya. Tidak ada yang tahu bahwa saat ini Widiya sedang belajar menulis novel untuk cerita pertamanya. Saat Widiya sedang fokus mengetik di depan laptopnya, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruang bacanya. Widiya yang menyadari hal itu pun langsung menghentikan kegiantannya dan beranjak dari duduknya.
"(Tok tok tok) permisi Non, ini Saya." Ucap pelayan tersebut seraya mengetuk pintu ruang baca Widiya.
"Iya tunggu sebentar Mbak." Ucap Widiya seraya berjalan menuju arah pintu.
"Saya ingin mengantarkan ini Non." ucap Pelayan tersebut saat pintu sudah terbuka.
"Perasaan tadi saya gak pesan apa-apa." Ucap Widiya yang tidak meminta dibuatkan apapun.
__ADS_1
"Tadi Den Bara Non yang meminta saya untuk membuatkan ini untuk Non Widiya." Jelas pelayan tersebut.
"Oh gitu. Ya udah kalau gitu letakkan di meja sana aja Mbak, dan kemungkinan saya tidak akan makan siang." ucap Widiya.
"Baik Non." Jawab pelayan tersebut.
Pelayan itu langsung meletakkan jus dan juga buah potong yang dibawanya tadi di atas meja yang dimaksus oleh Widiya. Setelah selesai meletakkan semua itu, pelayan tersebut langsung keluar dari ruang baca Widiya dan kembali ke dapur.
"Kalau begitu saya permisi dulu Non." Ucap pelayan tersebut.
"Makasih ya Mbak." balas Widiya.
Setelah pelayan itu keluar dari ruang bacanya, Widiya duduk kembali di meja belajarnya dan kambali fokus mengetik di laptopnya. Sesekali Widiya meminum Jus dan juga memakan buah yang disiapkan. Widiya yang fokus di depan laptopnya tidak menyadari bahwa kini sudah tiba waktunya makan siang. Namun karena Widiya sudah memberi tahu pelayan bahwa dirinya tidak akan makan siang jadi Widiya tidak perlu beranjak dari tempat duduknya.
Sementara itu di sekolah saat ini Leo sedang menuju kelas Widiya untuk menemui Farida yang merupakan sahabat Widiya. Saat sudah berada didepan kelas Widiya, Leo langsung masuk dan menuju meja Farida.
"Da, WIdiya sakit apa?" tanya Leo kepada Farida.
"Kak Leo." Ucap Farida yang sedikit terkejut.
"Jawab, Widiya sakit apa?" tanya Leo sekali lagi.
"Widiya cuman demam biasa aja kak, karena kecapean aja." jawan Farida.
"Terus sekarang kondisinya gimana?" Tanya Leo lagi.
"Kemarin sih Widiya sudah mulai pulih, dan mungkin besok dia sudah masuk sekolah." ucap Farida.
"Widiya dirawat dirumah sakit mana?" Tanya Leo.
"Em itu do.."
Belum sempat Farida melanjutkan perkataannya, teman Leo sudah lebih dulu memotong ucapan Farida.
"Kamu lupa atau gimana sih. Kan orang tua Widiya punya rumah sakit sendiri, udah pasti Widiya dirawat disana." Ucap salah satu teman Leo.
"Ah iya aku lupa. Orang tua Widiya kan punya rumah sakit sendiri. Udah pasti Widiya dirawat disana. Kalau gitu kakak permisi dulu ya Da." Ucap Leo yang berankak pergi dari kelas Farida.
__ADS_1
Leo pun langsung pergi dari kelas Widiya, dan kembali ke kelasnya. Sedang Farida yang menatap kepergian Leo pun hanya bisa diam. Karena Farida belum sempat menjelaskan semuanya kepada Kak Leo, bahwa sebenarnya Widiya tidak dirawat dirumah sakit keluarga ataupun di rumah sakit umum, melainkan dirumah.
"Hem dasar kak Leo. Padahal selalu ditolak sama Widiya masih juga ngejar-ngejar." Ucap Farida yang merasa heran dengan Leo.