Dendam Arwah Si Buta

Dendam Arwah Si Buta
Bab 1 Wenda dan Wanda


__ADS_3

Wenda menyusuri jalanan yang dia lewati, tangan kanannya memegang tongkat yang selalu setia membimbingnya. Sedang tangan kirinya, memegang erat tangan sang mama. Sebelumnya Wenda dan Bu Winarti tengah menghadiri pesta pernikahan yang berada tidak jauh dari rumahnya.


"Wanda pulang malam ya mak?" Terlepas pertanyaan untuk ibunya dari bibir indah milik Wenda.


"Tadi sore Wanda sudah telepon ibu, malam ini katanya pulang rada malam, karena Pak Jimmy mau mengajaknya ke butik temannya, maklum lah, kita orang tak punya, untuk perkenalan dengan keluarga Pak Jimmy, laki-laki itu ingin adikmu terlihat cantik, jadi setelah selesai bekerja, Pak Jimmy membawa Wanda ke butik."


"Owh ...."


"Adikmu dan atasannya itu sangat sibuk, ke butik saja menunggu meeting mereka selesai." Tangan tua yang mulai dihiasi keriput itu menepuk lembut tangan putih nan mulus yang selalu dia pegang.


"Ternyata ... Pak Jimmy benar-benar mencintai Wanda, aku senang mak." Wajah cantik itu semakin terlihat cantik karena dihiasi oleh senyuman manisnya.


"Tapi ... Pak Jimmy, dan Wanda memiliki latar belakang yang berbeda, jujur ... emak takut, adikmu malah tidak diterima oleh keluarga Pak Jimmy."


Wenda tidak bisa melihat bagaimana ke khawatiran ibunya, tapi dia bisa merasakan rasa takut, cemas yang ibunya rasa. "Lihat besok mak, setelah perkenalan nanti, kita bisa tau, apa Wanda di terima oleh keluarga Pak Jimmy, atau tidak. Kalau tidak diterima, kita minta Wanda mundur dari kehidupan Pak Jimmy, seperti nasehat emak, menikah itu bukan hanya menyatukan dua jiwa, tapi menyatukan dua keluarga."


"Cinta Pak Jimmy tidak bisa kita ragukan, 3 tahun ini, dia selalu datang ke rumah, berusaha mendekati dan meyakinkan Wanda lewat ibu."


Wenda tersenyum, dia sangat kagum dengan kesabaran seorang Jimmy untuk meluluhkan hati seorang Wanda.


"Semoga suatu saat ada laki-laki yang mencintai kamu seperti Pak Jimmy mencintai adikmu."


"Aku tidak berharap ke sana mak, apa yang bisa didapat dari gadis buta sepertiku. Mak selalu sehat, Wanda selalu bahagia, itu sudah cukup mak."


"Kapan kamu siap memperkenalkan diri pada calon adik iparmu?" Bu Winarti berusaha merubah arah pembicaraan mereka.


"Setelah Wanda resmi diterima keluarga Pak Jimmy, baru aku akan memperkenalkan diri pada calon adik iparku. Biar dia terkejut, kalau memiliki kakak ipar yang sama persis dengan istrinya."

__ADS_1


"Kejutan yang indah ...." Bu Winarti melingkarkan tangannya di bahu Wenda.


Mengurus dua anak kembar seorang diri bukan perjuangan yang mudah. Tapi, Winarti selalu bersemangat mencari pundi-pundi rupiah untuk membesarkan kedua anak kembarnya. Kecelakaan tabrak lari yang menimpa suaminya saat Wenda berumur 8 tahun, bukan hanya membuatnya menyandang status janda, tapi tabrak lari itu juga merenggut penglihatan Wenda. Andai dirinya memiliki uang, penglihatan Wenda bisa kembali, tapi apa ada daya, makan saja susah.


Semenjak kejadian itu, Wenda yang penuh semangat menjadi pendiam. Tapi, Wanda tidak membiarkan begitu saja saudari kembarnya dalam kesuraman, dia selalu berusaha memberi warna dalam kehidupan Wenda, walau dirinya tidak mampu membuat Wenda melihat segala warna yang ada di dunia ini.


Berkat dukungan ibunya dan saudari kembarnya, Wenda menjadi periang lagi, walau hanya kegelapan yang dia rasa. Wenda dan Wanda anak yang penuh semangat, walau hidup dalam kekurangan keduanya saling dukung.


Wanda bisa menyelesaikan pendidikan S1 nya, dengan bantuan beasiswa, karena dia anak yang pintar. Lulus kuliah dia bekerja di sebuah perusahaan besar. Sedang Wenda, hanya mencukupkan pendidikannya selesai tamat SMA. Tamat di Sekolah Luar Biasa itu, bagi Wenda sudah cukup.


Tubuh yang indah, dan paras begitu cantik di anugrahkan Tuhan pada si kembar Wenda dan Wanda. Tapi Wenda suka bersembunyi, teman-teman Wanda banyak yang tidak mengetahui, kalau Wanda memiliki sodara kembar. Wanda pun tidak bisa berbuat banyak, karena itu permintaan Wenda.


Wanda sangat ingin memberitahu dunia ini, kalau dirinya punya saudari kembar, walaupun saudarinya buta, Wanda tidak malu, tetap saja permintaan Wenda yang menang.


Langkah kaki wanita beda generasi itu terus menapaki jalanan yang mereka lewati. Candaan diselingi tawa mewarnai langkah kaki mereka, agar tidak merasa lelah berjalan.


Suttttt!


Winarti ingin menarik Wenda agar berlari dari tempat ini, namun terlambat, orang-orang itu sudah menangkap mereka.


Wenda ketakutan, dia tidak bisa melihat tapi dia yakin, dia dalam bahaya. "Makkk! ada apa ini?" Hanya ibunya harapannya.


"Mau apa kalian?! Lepaskan anakku!" jerit Winarti.


"Mak ... kenapa Makkk ...." Wenda semakin ketakutan.


Belum sempat Winarti menjawab pertanyaan Wenda, salah satu dari preman itu memukul tengkuk Winarti, hingga wanita paruh baya itu pingsan, dan mendorong tubuh Winarti ke tepi jalan raya, sedang yang lainnya menyeret Wenda dan memaksanya masuk mobil Van. Wenda berusaha melawan, apa daya dirinya buta dan kalah tenaga dengan orang-orang itu.

__ADS_1


"Makkkk!" Hanya Jeritan itu yang lolos dari mulut Wenda, tapi dia tidak mengetahui, kalau ibunya sudah tergeletak di semak yang ada di tepi jalanan desa tersebut.


Mobil tersebut langsung melaju cepat meninggalkan tempat itu, target mereka seperti yang ada pada foto sudah mereka dapatkan.


"Pak ... saya orang susah, kenapa kalian culik saya?" Ucapan Wenda terdengar bergetar, dia sangat ketakutan. Air mata mulai menganak sungai di pipinya, percuma orang yang berada di dekatnya tidak perduli dengan tangisannya.


Mobil itu terus melaju, para preman itu menutup mata dan mulut Wenda. Karena tujuan mereka sudah sampai. Mobil itu masuk ke pekarangan sebuah rumah yang berada di pinggir hutan. Setelah mobil itu terparkir sempurna, mereka menyeret Wenda masuk kedalam rumah itu.


Wajah Wanda yang putih menjadi semakin putih, rasa takut yang menyelimutinya membuat wajahnya memucat.


"Waw, tugas kalian cepat juga." Suara tak asing terdengar oleh telinga Wenda. Rasanya suara itu sering dia dengar. Tapi dia lupa itu milik siapa. Wenda terus memaksa otaknya bekerja untuk mengingat pemilik suara itu.


"Ini jasa kalian dan bonusnya, tapi tolong, ikat dulu wanita itu di sana." Laki-laki itu menunjuk kearah tangga.


4 laki-laki itu pun segera menyeret Wanda dan mengikatnya di sana.


"Emmmmpp!" Wanda tidak mampu berteriak, mulutnya masih terpasang lakban.


"Selesai bos," ucap salah satunya.


"Silakan kalian pergi, aku ingin menghabiskan malam indah ini bersama pujaan hatiku."


Wenda mendengar beberapa suara langkah kaki yang semakin menjauh, namun ada juga suara langkah kaki yang mendekat padanya.


"Kamu cantik banget malam ini Wan ...." ucapnya.


Wenda terperanjat saat rasa hangat mendarat dipermukaan pipinya. Dia mundur, tapi malah terjatuh dan terduduk di tangga.

__ADS_1


"Jangan berontak Wanda sayang, kalau kamu bisa bersikap manis, maka kita bisa sama-sama menikmati malam ini."


Suara laki-laki itu begitu halus dan menggetarkan. Tapi getaran rasa takut yang terus bergolak dalam diri Wenda lebih besar dari itu. Wenda mulai faham, kalau target laki-laki misterius ini adalah adiknya Wanda.


__ADS_2