
Daisy menghapus air matanya. Dia mendekati Kartika, dan memegang lengan wanita paruh baya itu. "Bagaimana ini om, tante?"
"Bagaimana apanya Des?"
"Tamu undangan sudah banyak yang hadir, kalau pernikahan batal, kalian pasti malu. Apalagi Wanda sudah mengirim pesan kalau dia tidak akan datang."
"Kalau Jerry setuju dan jika kalian setuju, aku bersedia menggantikan posisi Wanda."
"Apanya yang digantikan?" protes Jerry.
"Aku saja tidak yakin yang mengirim pesan itu Wanda. Sebentar aku telepon nomor itu." Jerry mengambil handphonenya di tangan Daisy.
Daisy merasa ini bahaya, dia lupa mematikan getar di hanphone itu. Daisy ingin mengambil tasnya, namun langkahnya tertahan, Jerry memegang erat pergelangan tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Jerry.
"Am ... Um ...."
Drtttt! Drtttt! Drtttt
Seseorang yang berada di dekat tas Daisy merasakan ada getaran dari dalam tas itu.
"Nona, handphone Anda bergetar," ucap salah satu tamu.
"Kenapa handphone kamu bergetar Des?" tanya Jerry. Jerry menoleh pada tamu itu. "Pak, tolong ambil handphone itu, terus Bapak tekan panggilan balik ke nomor yang barusan menelepon."
__ADS_1
Daisy semakin panik, namun dia tidak bisa pergi dari sini. Tamu di sana mulai membuka tasnya, saat dia menemukan handphone yang bergetar, Jerry juga memutuskan panggilannya.
"Panggil balik Pak," pinta Jerry.
Tamu itu mulai menekan panggilan balik, sesaat kemudian Handphone Jerry berdering.
"Aw! Aw! Aw! Aw ...." Jerry terlihat meledek Daisy. Jadi kamu pura-pura jadi Wenda untuk menggagalkan pernikahan kami."
Daisy ingin lari, namun dia tidak bisa lari.
"Ada apa? Kenapa kamu menyakiti Daisy?"
Semua tatapan seketika tertuju pada suara itu.
"Kenapa kaget?" ledek Jerry.
Jerry mendekati Wanda, dan berbisik. "Dia adalah otak penculikan itu, mau kamu apakan dia?"
Wanda teringat akan permintaan Wenda. "Biarkan hukum negara yang mengadilinya, aku tidak mau ada nyawa melayang hanya karena rasa cinta pada saudari kembarku."
"Pak, bawa wanita ini menyusul teman-temannya!" titah Jerry.
Seper sekian detik kemudian, banyak anggota kepolisian muncul di sana. Salah satunya langsung memborgol tangan Daisy.
"Kalian semua menjebakku!" teriak Daisy.
__ADS_1
"Tidak ada jebakan Daisy, hanya saja kamu terperangkap pada perangkap yang kamu pasang sendiri."
Daisy di seret oleh personil kepolisian, keadaan kembali tenang.
"Maaf ya Bapak-Bapak, Ibu-ibu, atas gangguan barusan," sesal Kartika.
Tidak mengulur waktu, akad nikah pun segera dilaksanakan, suasana semakin menenangkan, saat kata Sah keluar dari mulut kedua saksi.
Paman Lewo sangat bahagia melihat akad nikah keponakannya lancar. Saat dia menata Wanda, dia bisa melihat jelas Wenda berdirindi samping Wanda dengan raut bahagianya.
"Akhirnya kamu sah jadi anak kami, Wanda." Kartika memeluk dan menciumi menantunya itu.
"Bu titip Wanda, jika dia salah, bimbing dia," ucap Winarti.
"Enak saja titip, setelah ini, ibu harus tinggal di sini jaga Wanda," protes Kartika.
"Mana bisa bu ..., tidak ada besan tinggal di rumah besan," tolak Winarti.
"Siapa bilang ibu besan? Ibu tuh saudari kami." Kartika memeluk besannya itu.
Keluarga Mandala yang terkenal rendah hati, disaksikan langsung oleh semua tamu undangan. Mereka bisa menilai kalau menantu keluarga itu dari kalangan bawah, namun keluarga Mandala menerimanya dengan kehangatan.
"Mau resepsi kapan Jer?" tanya Katika.
"Nanti lah bu, nggak resepsi juga gak apa-apa."
__ADS_1