
Melihat Tuan mereka membonceng wanitanya, mobil sedan mewah yang sedari tadi menunggu, segera mengikuti laju motor sport yang barusan lewat. Mobil sedan itu terus mengikuti motor sport yang ada di depan mereka dengan jarak aman. Hingga mereka sampai di kediaman Tuan muda mereka.
Sepanjang perjalanan, kedua tangan Wanda melingkar di perut Jerry, hingga membuat pria itu susah berhenti untuk tersenyum. Motor yang Jerry kemudikan perlahan memasuki gerbang yang menjulang tinggi, membuat mata Wanda terbelalak melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
Apakah takdir yang ku jalani saat ini benar Tuhan?
Dalam mimpi pun, Wanda tidak berani bermimpi menjadi seorang cinderella. Lamunan Wanda buyar saat motor yang dia naiki berhenti tepat di depan sebuah pintu utama. Wanda segera turun dari motor Jerry.
Sedang mobil sedan yang sedari tadi membuntuti mereka langsung menuju tempat parkir.
Wanda perlahan mulai melepas helmnya. Pandangan mata Jerry terus memandangi Wanda, entah kenapa rasanya Wanda terlihat begitu bahagia, niatnya ingin melihat Wanda gugup, malah aura kebahagiaan yang jelas terpancar dari wajah cantik itu.
"Kau terlihat berbeda," ungkap Jerry.
"Berbeda?" Wanda balik bertanya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
"Rasanya kamu terlihat begitu bahagia." Jerry turun dari motornya, dia menarik Wanda agar berdiri tepat di depannya. "Dan aku sangat suka melihatmu bahagia seperti ini."
"Aku juga tidak tau, kenapa aku merasa lepas seperti ini, biasanya perasaan bahagia seperti ini, jika emak dan--" Wanda menghentikan ucapannya, dia belum izin pada Wenda untuk menyebut siapa Wenda.
"Dan …." Jerry menunggu Wanda melanjutkan ceritanya.
"Wanda?"
Pertanyaan seseorang membuat perhatian Jerry dan Wanda buyar, keduanya kompak menoleh ke arah suara itu berasal.
"Kenapa kamu kaget seperti itu melihat Wandaku, seperti dia hantu saja," protes Jerry. Ketika kedua matanya melihat raut keterkejutan dan ketakutan yang terpancar dari wajah Setto.
"Kenapa To?" Tanya Wanda.
__ADS_1
Setto tidak mampu menggerakkan lidahnya, seketika tenggorokannya tercekat, dan lidahnya menjadi kelu.
Wajah yang sama, bahkan memar jelas terlihat di pelipis Wanda. Seketika keringat dingin keluar dari pori-pori tubuh Setto.
Di sisi lain ….
Sedari tadi Arwah Wenda terus tersenyum melihat kebahagiaan Wanda dan Jerry, walau alam yang berbeda, Wenda sangat bahagia melihat cinta Jerry yang luar biasa untuk adik kembarnya.
Senyuman Wenda seketika lenyap, saat mendengar warna suara yang sama dengan pelaku yang melecehkan dirinya di akhir hayatnya. Aura ketakutan orang tersebut semakin membuat jiwa Wenda semakin kuat.
"Setto!" Panggil Jerry.
"Ma-ma-maaf, hanya saja aku kaget lihat wajah Wanda." Setto menyentuh pelipisnya sendiri sebagai isyarat kalau memar Wanda di bagian itu.
"Ku kira kamu mengagumi calon istriku." Wajah Jerry terlihat sebal, dia paling tidak suka jika ada laki-laki yang berlama-lama memandangi wajah Wanda.
Jerry segera menarik Wanda memasuki rumahnya, dan meninggalkan Setto yang diselimuti rasa bingung, sorot matanya terus tertuju pada punggung dua orang yang terus melangkahkan kaki mereka memasuki pintu yang terbuka, yang ada di depan sana.
Setto merasakan bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, merasa ada yang yang aneh dan berbeda di sekitarnya. Setto menoleh kearah kanan dan kiri, tidak ada yang aneh.
"Mungkin rasa takutku yang berlebihan saja, malam itu kan … Wanda tidak membuka ikat matanya, mana mungkin dia tau siapa aku malam itu." Gumamnya.
Setto segera melangkahkan kakinya memasuki rumah itu, tujuannya saat ini adalah kantor Qiara, agar bisa melapor pada Magda dengan apa yang dia barusan.
Kemarahan Wenda semakin menguat, saat mengetahui memang pemuda ini yang menjadi sebab kematiannya. Tapi membunuh pemuda ini sekarang bukan hal yang baik, karena dia tidak tau siapa lagi yang terlibat selain pemuda itu.
Kedua mata Wenda melotot, dengan warna merah menyala menggambarkan kalau si pemilik mata dibakar api kemarahan. Dia terus mengikuti kemana Setto melangkah. Setto memasuki sebuah ruangan, jemarinya mulai menari diatas keyboard, setelah mengirim pesan, dia duduk di salah satu sofa tunggal, dan bersantai di sana.
Sedang di sisi lain kediaman Jerry.
__ADS_1
Sepasang mata milik Magda membulat sempurna, saat melihat sosok yang berjalan berdampingan bersama Jerry. Napasnya terasa sesak, rencana yang dia susun dari pagi tidak dapat terlaksana, karena sosok Wanda berhadir di sini.
Suara getaran handphone yang terasa membuatnya tersadar. Magda segera membuka handphone-nya dan membaca pesan yang ada. Ingin sekali pergi dari tempat ini, dan menanyakan semuanya. Tapi tidak bisa pergi saat ini juga, karena Jerry dan Wanda baru tiba. Magda berusaha memasang senyuman yang dipaksakan.
Sebuah ruang tamu besar nan megah menyambut kedua mata Wanda. Di sana terlihat banyak orang, beberapa Wenda kenal, seperti Qiara, Daisy, dan Rendy. Sedang yang lain, Wanda belum pernah bertemu.
Ada dua orang yang terus memandanginya, dua orang itu hanya pernah Wanda lihat fotonya di ruang kerja Jerry, mereka adalah kedua orang tua Jerry.
"Selamat datang sayang …." Kartika langsung menyambut Wanda.
Wanda berusaha santai, sebenarnya dirinya begitu gugup berada di tengah keluarga besar Jerry.
Semua wanita yang ada di sana satu per satu menyambut Wanda begitu hangat. Satu per satu juga mereka memperkenalkan diri pada Wanda. Acara perkenalan terasa begitu hangat, hingga Wanda bisa merasa santai dan berbaur dengan semua keluarga Jerry.
Khayalan Wanda, dirinya akan dihina, diusir, direndahkan, karena dirinya miskin, kenyataan lain jauh berbeda. Semua menerimanya dengan baik.
"Tante …." Daisy menyenggol pelan pergelangan tangan Magda. Seingatnya kata Magda, Wanda tidak akan datang, dan Daisy harus menggantikan posisi Wanda.
"Qiara sayang … bisa tolong Daisy? Antar dia ke kamarmu, katanya dia kurang enak badan, dan temani dia sebentar." Magda berusaha menarik Daisy ketempat lain.
Qiara dan Daisy pun izin undur diri pada semua keluarga yang ada.
Perbincangan hangat antara Wanda dan Kartika sungguh sangat jelas terlihat nyaman. Keduanya terus larut dengan perbincangan santai mereka.
Merasa kalau ini saat yang tepat, Magda pamit undur diri pada semua keluarga. Setelah meninggalkan ruang tamu, Magda mempercepat langkah kakinya menuju ruang kerja Qiara, meminta kejelasan pada Setto, kenapa Wanda saat ini bisa berada di sini.
Brakkkk!
Magda membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Hingga tubuh seorang laki-laki yang sedari bersantai terperanjat, kaget karena suara pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Katamu Wanda mati! Mengapa sekarang dia bisa ada di bawah!" Bentakkan Magda menggema di ruangan itu.
Kemarahan Wenda pada pemuda itu belum padam, kemarahannya menjadi semakin berkobar saat mendengar dan melihat kejadian barusan.