Dendam Arwah Si Buta

Dendam Arwah Si Buta
Bab 6 Belum Siap


__ADS_3

Seperti biasa, jika mendekati belokan menuju rumah Wanda, maka para Bodyguard Jerry akan berhenti mengikuti Tuan mereka. Motor sport itu terus melaju menuju rumah Wanda. Satu tahun ini Jerry sering mengantar Wanda, jika dia yang mengantar maka menaiki motornya. Jika pegawainya yang mengantar, maka akan menggunakan mobil kantor.


Wajah Jerry sudah tidak asing lagi di sekitar kediaman rumah Wanda. Pemuda tampan yang mirip anak orang terkaya di wilayah mereka, tanpa mereka sadari memang Jerry lah yang sering mereka lihat di tv, hanya saja Jerry dan Wanda menutupi identitas Jerry yang asli.


Para warga pun percaya, karena hal itu sering terjadi. Wajah mirip tapi tidak ada kaitan apa-apa. Contoh lumrah, banyak masyarakat biasa yang mirip artis papan atas.


Motor Jerry melaju pelan, karena rumah Wanda sudah dekat. Motor pun berhenti tepat di depan rumah Wanda. Kaki yang panjang itu sudah menyentuh tanah. Selesai menurunkan kaki pemyangga motornya, Jerry langsung melangkahkan kaki mamasuki teras rumah yang sangat sederhana itu.


"Mak …." Sapa Jerry, saat kedua bola matanya menangkap sosok wanita yang paling berjasa dalam hidup Wanda. Wanita yang bertaruh nyawa melahirkan wanita cantik seperti Wanda.


"Nak Jerry." Winarti tersenyum menyambut kedatangan calon menantunya. Namun dia langsung menoleh ke arah bagian dalam rumahnya. "Wanda … nak Jerry sudah datang." 


Tidak berselang lama, muncul sosok yang selalu menghiasi relung hati Jerry dari arah dalam rumah tersebut. "Iya mak."


"Jerry sudah datang." Winarti mengulangi perkataannya.


"Kalau begitu Wanda langsung berangkat ya mak." Wanda langsung mencium pipi kanan dan kiri Winarti.


"Eh, kenapa pelipismu?" Jerry langsung menangkap lengan Wanda dan menarik wanita itu agar mendekat padanya, supaya lebih jelas bisa memeriksa area yang cedera itu.


"Oh, tadi malam ada sedikit insiden, aku naik motor lupa pakai helm, nah kayaknya aku menabrak sesuatu yang terbang, tapi sudah gak sakit kok." Wanda berusaha membuat Jerry tidak khawatir.


Jerry menyentuh area yang lebam itu, Wanda sudah tau itu akan terjadi, saat jemari Jerry menyentuh lukanya, Wanda berusaha menahan rasa sakit, agar Jerry percaya kalau dirinya baik-baik saja.


"Sudah ku bilang aku baik-baik saja." Wanda menepis tangan Jerry yang masih ingin memeriksa bagian pelipisnya.


"Ya sudah, eh … 


kata Rendi, dokumen warna kuning keselip di tas kerja kamu, kamu bisa ambil?" Sela Jerry.


"Dokumen kuning?" Wanda terlihat berpikir, perasaannya, dirinya tidak membawa dokumen penting pulang ke rumahnya.


"Periksa dulu Wanda," usul Winarti.


Wanda menganggukkan kepalanya, menyetujui usul ibunya. "Aku kedalam dulu ya," pamit Wanda.


Setelah punggung Wanda menghilang di balik pintu yang ada dalam rumah itu, Jerry langsung mendekati Winarti dan berbisik di sisi telinga Winarti.


Kedua bola mata Winarti membulat sempurna, saat mendengar bisikkan Jerry.


"Apa langsung tuna-"


"Sstttt …." Jerry menaruh telunjuk jari tangan di depan mulutnya, meminta Winarti tidak mengucapkan apa yang dia bisikkan barusan.


"Tapi, apa kedua orang tua nak Jerry bisa menerima Wanda?" Winarti menahan suaranya, hingga terdengar sangat pelan, memastikan Wanda tidak mendengar obrolan mereka.

__ADS_1


"Kedua orang tua saya merestui apapun yang saya mau." Senyuman menghiasi wajah tampan Jerry. "Kata mama papa, pernikahan itu saya yang jalanin, jadi saya juga yang menentukan."


Air mata haru menetes dari mata Winarti. Tangan keriputnya menjadi lancang, berani menyentuh wajah tampan Jerry. "Terima kasih, karena mencintai anak emak sebesar ini."


"Terima kasih juga, karena emak melahirkan anak secantik, dan sebaik Wanda, jujur saat pertama kali melihat Wanda, dia berbeda dari kebanyakan wanita lain, cerdas, telaten, ulet, pokoknya hampir sempurna, bagi saya sempurna, tapi kata orang nggak boleh, karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan."


"Apapun rencana kalian, emak dukung," ucap Winarti.


Jerry mulai menceritakan rencananya untuk Winarti. Karena ini pesta pertunangan, kehadiran keluarga Wanda juga dibutuhkan. Winarti pun meminta izin Jerry, untuk mengajak serta 2 keluarga lain, dia tidak menyebutkan siapa. Tapi, Jerry menyetujui permintaan Winarti.


Sedang keadaan di dalam kamar, Wanda masih sibuk membuka satu per satu map yang ada dalam tas nya.


"Mencari apa dek?" 


Pertanyaan Wenda membuat Wanda harus menghentikan kegiatan pencariannya. "Mencari dokumen kak, kata Jerry keselip di tas aku." 


"Itu bisa-bisanya Jerry saja, supaya dia punya waktu bicara sama emak," sahut Wenda.


Wenda tersenyum, dia mengetahui pembicaraan di luar, tapi tidak mungkin dia mengatakan semuanya pada Wanda. "Sudah, keluar saja, bilang kalau tidak ada." 


"Ya sudah kak, aku berangkat ya."


Wenda hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Wanda.


Langkah kaki Wanda sudah sampai di depan pintu, namun melihat Wenda tidak beranjak dari tempat tidur, membuat Wanda khawatir. "Kakak sakit?" Dia memastikan.


"Ya sudah, aku pergi." Wanda melangkahkan kakinya mendekati Jerry dan ibunya. Terlihat dua orang itu sangat asyik bicara, ini salah satu hal kenapa Wanda menerima Jerry, karena Jerry begitu santun dan menghargai ibunya. "Pak, dokumen yang Anda minta tidak ada," sela Wanda.


"Oh, mungkin Rendi salah info, maaf ya sudah membuat kamu mencari."


Melihat wajah Jerry yang begitu datar, Wanda berpikir  ucapan kakaknya sepertinya benar.


"Anda mengerjai saya?" Tatapan penuh selidik yang tersorot dari mata Wenda tertuju pada Jerry.


"Kapan kalian berangkat? Ini semakin siang loh," sela Winarti. Dia tidak ingin rencana indah Jerry gagal karena kecerdasan Wanda yang selalu berhasil menebak sesuatu.


"Ya sudah ma, saya izin menculik permata hati mama." Pamit Jerry.


Setelah berpamitan pada Winarti, Jerry dan Wanda segera menaiki motor Jerry, perlahan motor itu meninggalkan pekarangan rumah Wanda.


Melihat motor Jerry semakin hilang dari pandangan matanya, Winarti segera masuk ke dalam rumah. Tujuannya langsung menceritakan rencana Jerry pada Wenda. Setelah memasuki kamar Wenda dan Wanda, enyah kenapa bulu kuduk Winarti langsung berdiri. Winarti mengatur napasnya, agar rasa takutnya berkurang.


"Nak …." Winarti langsung mendekati Wenda yang masih betah berbaring di tempat tidur.


"Iya mak," sahutnya.

__ADS_1


"Hari ini hari pertunangan adikmu, nanti utusan Jerry akan datang menjemput kita," terang Winarti.


"Apa bisa emak saja dan paman Lewo?" 


Penolakan, selalu itu yang Winarti dapat jika mengajak Wenda ke manapun.


"Ini hari bahagia adikmu, ayolah nak, tidak selamanya kamu bersembunyi seperti ini," bujuk Winarti.


Wenda bingung, dirinya harus menampakkan wujud palsunya ini ke tengah orang banyak.


"Mak, kasih Wenda waktu, saat ini Wenda belum siap, kalau Wenda sudah siap, Wenda janji, akan menampakkan identitas Wenda."


Winarti tidak bisa berbuat banyak, dia terpaksa menyetujui permintaan Wenda. "Ya sudah kalau begitu, emak mau ketempat paman Lewo dulu. Mengajaknya menghadiri pertunangan Wanda."


"Iya mak, maafkan Wenda, bukan maksud Wenda buat emak sedih," sesalnya.


Winarti segera menuju kediaman adik dari ayah Wenda dan Wanda, mengajak laki-laki itu menjadi bagian hari bahagia Wanda yang sangat mendadak.


Sesampai di rumah Lewo, Winarti di sambut oleh Juma istri Lewo. "Kak Win, ada apa buru-buru ke sini?" Sambutnya.


"Ini si Jerry, adain pertunangan dadakan, kalau kalian tidak sibuk, bisakah hadir di acara pertunangan Wanda dan Jerry?" Winarti langsung saja menyampaikan maksudnya.


"Kapan Win?"


Perhatian Winarti tertuju pada laki-laki yang seumuran dengannya yang mengenakan sarung. "Dua jam lagi Wo."


"Pasti bisa atuh kak, gimana kita berangkat ke sana?" Tanya Juma.


"Nanti ada orangnya Jerry yang menjemput kita, jadi 2 jam lagi, kalian datang saja ke rumah, kita berkumpul di sana," ucap Winarti.


"Iya Win." Sahut Lewo dan istrinya.


"Kala begitu, aku pulang dulu," pamit Winarti. Dia segera berbalik meninggalkan rumah adik iparnya.


"Win, bagaimana keadaan Wenda?" Tanya Lewo.


"Begitulah Wo, dia jadi semakin pendiam."


"Semoga saja dia tidak hamil," gumam Juma.


"Maafkan aku Win, tadi malam aku ke kota anter sayuran, nanti aku tengok Wenda saat aku ke rumahmu," ucap Lewo.


Sebenarnya ada perasaan mengganjal bagi Lewo, tapi baginya melihat langsung keadaan Wenda itu lebih baik dan akan menjawab segala pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.


"Aku pamit ya Wo," ucap Winarti.

__ADS_1


Lewo dan istrinya menganggukkan kepala mereka.


Lewo terus memandangi punggung Winarti yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Hatinya terus mengatakan ada yang tidak beres terjadi pada kehidupan kaka ipar dan dua keponakannya itu. Lewo sendiri mempunyai kelebihan, bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.


__ADS_2