Dendam Arwah Si Buta

Dendam Arwah Si Buta
Bab 2 Hancur


__ADS_3

Wanda pulang ke rumahnya, karena ada pekerjaan mendadak yang lain, niatnya dan Jerry untuk ke butik gagal. Wanda memilih pulang, perasaannya sangat tidak nyaman. Keadaan rumah terlihat sepi, tetangga kiri-kanan rumah Wanda juga tidak terlihat.


"Oh iya, pasti mereka menghadiri resepsi malam ini," gumam Wanda, tangan indahnya membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan yang dia miliki.


Wanda merasakan perasaan aneh yang sangat menyesakkan dadanya. Berulang kali dirinya mengusap dadanya, berharap dirinya bisa tenang.


"Ya Tuhan ... apa yang terjadi? Kenapa aku seperti ini?"


Prank!


Suara pecahan membuat tubuh cantik itu terperanjat, Wanda berlari mendatangi sumber suara yang terdengar dari arah kamarnya dan Wenda. Terlihat di lantai, foto dirinya dan Wenda jatuh ke lantai.


Dengan perasaan hancur, Wanda memungut foto tersebut. "Apa yang terjadi? Lindungi selalu kakak dan ibuku, Tuhan." Wanda mencium foto kembarannya.


"Ibu, kakak ... tolong pulanglah, aku tidak mengerti keadaan ini."


Wanda segera menyimpan foto tersebut keatas nakas, dan dia segera membersihkan pecahan kaca yang berserakan, dia takut hal itu melukai saudari kembarnya nanti.


Saat yang sama, di tempat yang berbeda.


Laki-laki itu menatap sayu wajah gadis pujaan hatinya. Dia menyentuh lembut wajah gadis itu.


"Wanda sayang ... bekerja samalah denganku, agar kita bisa sama-sama menikmati, kalau kau berontak seperti ini, kau hanya semakin menderita ...." bisiknya.


Sentuhan tangan itu di kulit pipinya semakin membuat Wenda ketakutan. Berteriak juga dirinya tidak bisa. Wenda merasakan kalau tangan laki-laki itu mulai menyentuh bagian-bagian indah tubuhnya.


Aliran darah Wenda seakan mengalir deras, menimbulkan rasa hangat kesekujur tubuhnya. Walau laki-laki ini lembut padanya, Wenda tidak mau menyerahkan dirinya. Dia berusaha berusaha berontak dan pergi dari laki-laki itu. Usahanya gagal, kedua tangannya terikat.


"Kau ingin kabur? tidak bisa sayangku." Laki-laki itu tersenyum, dia melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Wenda. "Kalau kamu tidak percaya, silakan kabur sayang."


Tentu saja Wenda berusaha kabur, ketakutan yang menyelimuti hatinya, tidak menyurutkan semangatnya untuk berusaha pergi dari sana.


Buggg!


Kepala Wenda terbentur sesuatu. Wenda mengusap bagian yang sakit itu.


"Kenapa tidak kau buka saja ikatan matamu, sayang ...." Laki-laki itu menertawakan Wenda.


"Lebih baik tertutup, aku tidak mau melihat wajahmu!" kilah Wenda, kalau dirinya membuka ikatan mata, maka laki-laki itu sadar kalau dirinya buta. Kalau laki-laki itu tau dirinya buta, maka dia juga akan menyadari kalau ini bukan Wanda.


"Kau semakin membuatku gemas!" Laki-laki itu menggendong tubuh Wenda menuju lantai dua rumahnya.

__ADS_1


Brukkkk!


Tubuh kecil itu dihempaskan begitu saja keatas tempat tidur oleh laki-laki itu. Dia ingin segera menuntaskan hasratnya pada wanita impiannya itu. Tangannya dengan kasar melepaskan pakaian yang membalut tubuh Wenda. Hingga membuat kancing atasan Wenda terbang tak tentu arah.


Mata laki-laki itu berbinar, saat matanya disambut pemandangan indah yang selama ini dia kagumi dan tersembunyi dibalik blus kerja yang digunakan Wanda selama ini. Kekagumannya buyar, karena wanitanya berontak dan berusaha pergi dari sana. Kesabaran pemuda itu habis.


"Wanda! Sudah ku katakan bukan, kalau kau penurut aku tidak akan kasar!"


Wenda hanya menangis dan berusaha untuk pergi.


"Baiklah, kau yang memaksaku melakukan semua ini dengan cara kasar." Laki-laki itu mulai melakukan keinginannya pada tubuh Wenda yang dia kira Wanda.


Sekuat yang dia bisa Wenda terus berusaha melawan.


Plakk!


Tamparan laki-laki itu mendarat tepat di pipi Wenda.


Hal itu tidak membuat Wenda menyerah, dia menggunakan kedua kakinya untuk menjauhkan laki-laki itu dari tubuhnya, hal itu berhasil, Wenda merasa laki-laki itu tidak berada di dekatnya. Dia segera bangkit dan berusaha kabur kearah mana kakinya melangkah.


"Kau menghabiskan kesabaranku Wanda!" Laki-laki itu terdengar sangat kesal.


Brukkkkk!


Kepala Wenda terasa berdenyut. Telinganya juga berdengung.


Tidak buang waktu lagi, laki-laki itu menggendong tubuh Wenda dan melemparkannya kembali keatas tempat tidur. Tidak perduli dengan cairan merah yang keluar dari bagian kepala Wenda.


Sesuatu melesak masuk kedalam area yang begitu berharga bagi Wenda, merobek pertahanannya, dan juga merobek harga dirinya. Sakit dan bermacam rasa meledak dalam Wenda, seiring pecah dan hancurnya perasaannya. Laki-laki ini bukan hanya merenggut paksa mahkotanya, namun juga menghancurkan hati dan hidupnya. Air mata terus mengalir dari mata indah yang tak bisa melihat itu.


Andai ini akhir hidupku, aku berharap aku diberi kesempatan untuk bangkit lagi, memberi pelajaran bagi laki-laki ini, dan juga melindungi adikku. Batin Wenda


Laki-laki itu terus menuntaskan hasratnya, hingga dia melepaskan cairan hangat kedalam tubuh Wenda. Senyuman menghiasi wajahnya, akhirnya dia bisa mendapatkan tubuh indah yang selama ini dia lihat. Dia tidak melewatkan se senti juapun setiap lekukan tubuh Wenda.


Wenda terlihat semakin lemah, pemuda itu pun membaringkan tubuhnya di samping Wenda, tangannya mengusap pelipis Wenda yang biru karena benturan di tangga sebelumnya.


"Kau yang menginginkan semua ini, andai kau penurut, maka aku akan melakukannya dengan--" ucapannya terpotong, saat melihat area yang memerah semakin luas mewarnai sprai.


"Wanda!" jeritnya. Dia mengguncang tubuh Wenda, namun pemilik tubuh itu tidak merespon.


Pemuda itu mulai putus asa, dia melakukan pembunuhan pada wanita pujaannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau masuk penjara ...." gumamnya.


Dengan sisa kesadaran yang ada, dia membalut tubuh Wenda dengan selimut, membopong tubuh yang tak berdaya itu menuju hutan. Otaknya tidak bisa bekerja lagi, dengan mudahnya dia membuang jasad Wenda di tengah hutan. Dia segera pergi dari sana.


***


Sedang di tempat lain ....


Winarti perlahan membuka matanya, ternyata dia sudah berada di rumahnya. Banyak warga yang berkumpul di sana.


"Mak ...." Wanda sangat bahagia, akhirny ibunya sadar.


"Wenda mana?" jerit Winarti.


"Kami hanya menemukan ibu yang tak sadarkan diri di tepi jalan," sahut salah satu warga.


"Wenda di culik ...." Winarti menangis mengingat kejadian itu.


Wanda mengusap punggung ibunya, menenangkan sang ibu. "Mak ... mak bisa ceritakan?" bujuk Wanda.


Winarti mulai menceritakan kejadian sebelumnya, saat Wenda dibawa paksa oleh 4 laki-laki bertopeng.


"Kita lapor polisi!" seru salah satu warga.


"Aku pulang ...."


Suara khas itu memecahkan ketegangan yang terjadi. Terlihat seorang gadis cantik memakai tongkat dari kayu berbalutkan selimut tepat di tengah pintu yang terbuka. Di sampingnya ada wanita tua yang membimbingnya.


"Wenda ...." Winarti berlari mendekati putrinya dan langsung memeluknya. Winarti merasa heran, karena tubuh Wenda begitu dingin.


"Aku menemukan dia di pinggir hutan, sepertinya dia korban kejahatan," ucap wanita tua itu.


Semua merasa hancur melihat keadaan Wenda. Mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi pada wanita malang tersebut.


"Terima kasih nek, sudah membantu saudari kembar saya," ucap Wanda.


Wanita tua itu memandangi wajah Wanda. "Sama-sama," ucapnya.


"Karena nenek sudah membantu kakak saya, bolehkan saya mengantar nenek pulang?" tawar Wanda.


Wanita tua itu meng-iyakan tawaran Wanda dengan anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mak, bawa kak Wenda masuk ke dalam, aku izin antar nenek dulu," pamit Wenda.


Melihat Wenda sudah kembali, para warga lega, walau kasihan dengan keadaan Wenda. Sudah buta, masih saja ada yang tega berbuat jahat padanya. Sedang Winarti, langsung membawa masuk Wenda menuju kamar yang biasa Wenda tempati.


__ADS_2